THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 289


__ADS_3

ANTISISAPI eh, ANTISIPASI


*********************************


Selamat membaca...


************************


“Niki” Panggil Andrea pada salah satu pengawal pribadinya itu setelah ia dan Kevia menyudahi kunjungan mereka di panti, namun Varen dan Nathan belum kembali. Andrea dan Kevia sudah berada didalam mobil yang disupiri Niki kini.


Andrea dan Kevia akan menyusul Varen dan Nathan yang masih berada di pabrik milik keluarga mereka yang berada di Bogor itu. “Ya Nona?” Sahut Niki setelah Andrea dan Kevia sudah duduk manis di kursi penumpang belakang.


“Apa kamu melihat wanita paruh baya yang tadi keluar dari panti ini?”


“Lihat, Nona”


“Kamu tahu siapa dia?” Tanya Andrea lagi.


“Tidak, Nona” Sahut Niki yang sudah menyalakan mesin mobil, namun belum membebaskan rem tangan dan


menjalankan mobil yang ia supiri itu.


“Kamu Meissa?. Kamu lihat dan memperhatikan juga ibu yang tadi?”


Andrea beralih ke si pengawal wanita.


“Lihat, tetapi tidak terlalu memperhatikan Nona. Saya rasa dia hanya tamu panti, jadi saya dan Niki hanya


sekedar memperhatikan. Tapi dari gerak – geriknya saat masuk kedalam mobilnya tadi tidak nampak mencurigakan” Jawab Meissa cukup detail.


Kevia diam saja sementara Andrea berbicara dengan dua pengawal pribadi mereka itu. Ia masih belum begitu


mengenal keduanya dan masih agak canggung dengan keberadaan pengawal pribadi dua pengawal pribadi itu.


“Apa wajahnya familiar untuk kalian?”


“Tidak, Nona”


“Tapi kalau lihat penampilan dan mobil serta satu orang yang bersamanya, bisa jadi dia salah seorang anggota


Dewan”


“Humm...”


“Apa ada masalah, Nona?” Tanya Niki dan Meissa berbarengan.


“Engga sih”


“Apa kita mau jalan sekarang?” Tanya Niki dan Andrea mengiyakan. Kemudian Niki mengendarai mobilnya menuju pabrik Keluarga Adjieran Smith yang berada di Bogor dimana kedua Tuan Mudanya masih berada disana.


**


Kevia dan Andrea sudah menyambangi Varen dan Nathan di pabrik keluarga mereka.


Kini Andrea dan Kevia sudah berada dalam mobil Varen yang sekarang gantian dikemudikan oleh Nathan.


“Mau mampir makan?” Tanya Nathan.


“Rumah Cup Cake, Tan ...”


“Okay!!”


****


Abang, Drea, Tan – Tan dan Via sudah berada di sebuah tempat nongkrong di daerah Bogor yang menyediakan


aneka cup cake enak.


Jangan tanya bagaimana Andrea tahu. Dia dan Nathan tukang jajan dan sejak pindah untuk bersekolah ke Jakarta, dia dan Nathan sering menghabiskan waktu untuk berburu tempat – tempat makan atau kafe nongkrong untuk sekedar kulineran atau sebagai bahan konten di medsosnya Andrea.


“Gimana panti?” Nathan membuka obrolan saat mereka sudah duduk di kafe tersebut dan memesan.


“Alhamdulillah secara keseluruhan baik” Jawab Kevia. “Ada beberapa yang sudah mulai membaik bahkan sangat baik seperti aku” Sambung Kevia.


“Syukurlah” Jawab Nathan sambil mengusap lembut kepala Kevia yang duduk disisinya.


“Tapi prihatin juga” Ucap Kevia.


“Kenapa?”


“Yah selain ada yang sudah membaik atau sembuh tapi ada juga yang baru masuk bergabung. Dan bangunan baru


untuk untuk anak – anak cowok itu malah langsung terpakai, karena sudah ada beberapa dari mereka yang punya masalah sebagaimana anak – anak cewe di panti”


“Namanya hidup, Vi”


“Iya, Kak” Kevia mengangguk dan tersenyum pada si Abang yang barusan nyeletuk.


Lalu Varen melirik Andrea yang nampak tidak banyak bicara sedari dia dan Kevia menyambangi dirinya dan Nathan di pabrik.


“Ini istri kecil Abang, perasaan banyak diamnya dari tadi?. Apakah anda kelaparan Nyonya Alvarend yang cantik luar biasa, makanya banyak diamnya, hem?”


Andrea yang sudah menoleh karena Varen menariknya untuk lebih dekat itu pun terkekeh kecil, begitupun Nathan dan Kevia.


“Mikirin apa, hem?” Tanya Varen sambil mencubit gemas hidung Andrea, lalu mengecup pipi Andrea tanpa ada risih - risih nya.


“Aku sama Via ketemu orang aneh” Jawab Andrea.


“Aneh bagaimana?


“Aneh, mencurigakan”


“Coba bicara yang jelas”


“Jadi tadi itu ada ibu – ibu.. bla .. bla .. bla .. terus sebelumnya ada anak panti yang bilang.. bla.. bla.. bla.. Nah pas Drea mau ke kamar mandi, Drea denger itu ibu bicara dengan pengurus panti kepercayaan Kak Marsha, kayaknya mereka bicara soal rahasia gitu. Terus kalau Drea ga salah dengar ibu itu sebut nama Kevia sama Drea”


“Benar itu, Vi?”

__ADS_1


“Kalau soal si ibu yang buat aku sama Andrea ga sreg sih iya. Tapi kalau pembicaraannya dengan Mba Emali saat dia sudah pamitan dari kami terus keluar dan manggil Mba Emali lagi aku ga tau. Kalau soal yang dibilang Lala, iya dia bilang begitu seperti yang tadi Andrea ceritain”


“Lalu pembicaraan mereka yang kamu dengar apa?”


“Waktu Drea mau lebih mendekat supaya lebih jelas mendengar, keburu kepergok sama salah satu orangnya itu ibu”


“Dia mengancam kamu?!” Tanya Varen sedikit gusar. Andrea menggeleng.


“Engga sih, tapi cara dia melihat Andrea itu ya sama mencurigakannya dengan bosnya” Jawab Andrea.


“Niki sama Meissa kerjanya apa?!” Abang nampak sebal. “Niki! Meissa!” Langsung memanggil dua pengawal pribadi yang tadi ditugaskan untuk menjaga Andrea dan Kevia.


Untung saja restoran tersebut sedang sepi pengunjung jadi keberadaan empat orang yang disertai pengawal pribadi itu tidak nampak mencolok sama sekali. Hanya para pelayan kafe yang memperhatikan itupun ga berani lama – lama, karena dapat pelototan tajam dari Ammar.


“Ih Abang, ngapain panggil mereka coba?”


“Ya mereka ga beres kerjanya!” Wajah Abang nampak tidak senang. Lalu menoleh pada Niki dan Meissa yang sudah mendekat termasuk juga Ammar.


“Iya, Tuan Muda” Niki dan Meissa bersuara.


“Ada apa, Tuan Varend?” Ammar memberanikan diri untuk bertanya. Namun Varen abaikan dan ia langsung


mendelik pada Niki dan Meissa.


“Kalian saya gaji buat apa?! Saya suruh kalian menjaga mereka berdua kan?. Kenapa istri saya bisa mendapat


ancaman didalam panti? Sudah bosan kerja?!”


“Abang ih, dengerin Drea dulu!”


“Ck!”


“Drea yang minta mereka suruh tunggu di mobil. Jadi Niki sama Meissa ga salah. Mana Drea tahu kalau ada orang mencurigakan didalam?”


“Ya tetap saja mereka salah!” Sergah Varen.


“Maaf, Tuan” Ucap Niki dan Meissa bersamaan.


“Maaf Maaf! Kan saya bilang apa? Selalu dekat sama mereka apapun yang terjadi!”


“Salah kami, Tuan” Niki dan Meissa pasrah. Ammar memilih diam kalau si Tuan Muda utama sedang begini adanya.


Cari aman.


“Tapi memang Nona Muda Andrea yang melarang kami ikut masuk kedalam Panti”


“Kalian harusnya tetap mengikuti kata – kata saya! Coba lihat apa akibatnya?! Nona Muda kalian mendapat ancaman didalam tanpa ada pembelaan kan?. Masih mau membela diri?!”


“Tidak, Tuan Muda. Maafkan kami” Sahut Niki.


‘Sabar...’ Batin Niki dan Meissa serba salah dan pasrah, nasib karyawan. Bos selalu benar.


“Abang sudah ih! Bukan salah mereka. Memang Drea kok yang suruh mereka tetap tinggal didalam mobil”


“Mereka tetap salah!”


“Ya udah sih, jangan marah – marah dong. Ini kita itu di tempat orang Abang...”


Andrea menggaruk belakang kepalanya dengan cepat saking gemas dengan si Abang kalau sedang seperti ini.


Sementara Nathan nampak mesam – mesem meski ia menutup mulutnya dengan satu tangan yang sikunya tertopang diatas meja.


“Bebeb Abang, kesayangan  Drea. Udah ya? Jangan marah – marah. Nanti sampai rumah boleh langsung menyapa nunu dan nana, gimana?”


“Benar ya?” Pengalihan yang seringnya berhasil dari Andrea untuk menenangkan si Abang sejak berkenalan dengan nunu dan nana.


“Hahaha...”


Tan – Tan tak dapat menahan tawanya karena ia tahu siapa itu, - eh apa itu nunu dan nana.


“Apa sih?” Kevia bertanya tanpa suara setelah menepuk lengan Nathan yang sedang tergelak itu.


“Nanti aku kasih tahu kalau sudah di rumah”


Nathan berbisik di telinga Kevia. Masih cekikikan.


“Eh di kamar maksudnya” Tambah Nathan.


“Ya sudah sana!”


“Baik, Tuan”


“Jangan sampai terjadi lagi. Jangan kalian lakukan kesalahan macam ini lagi. Awas saja!”


“Baik, Tuan. Kami mengerti” Sahut Niki dan Meissa.


“Camkan baik – baik, jika sesuatu yang buruk terjadi pada istriku dibawah pengawasan kalian. Kalian akan


membayarnya dengan kepala kalian!”


Andrea hanya bisa memijat pelipisnya. Sementara Nathan sudah berhenti tergelak namun masih mesam – mesem.


Dan Kevia sedikit merasa ngeri pada Varen yang bisa dibilang adalah kakak iparnya saat mengucapkan kalimatnya pada dua pengawal pribadi mereka barusan. Nathan yang sadar kalau Kevia yang sedang merasa ngeri pada si Abang itu menenangkan dengan menggenggam tangan Kevia lalu tersenyum padanya.


“It’s okay”


Nathan berucap tanpa suara. Kevia mengangguk pelan.


“Sudah sana!” Varen mengibaskan tangannya pada Niki dan Meissa. “Dan kau Ammar!. Mereka adalah tanggung jawabmu, jadi jika mereka melakukan kesalahan kau juga akan menanggung hukuman”


Ammar pun mengangguk pasrah. "Apapun perintah anda, Tuan" Ucap Ammar. “Aku milikmu dari ujung rambut sampai ujung kaki Tuan Muda”


“Apa kau ingin aku kebiri?”


***


Kediaman Utama Keluarga Adjieran Smith, Jakarta, Indonesia

__ADS_1


Andrea dan Kevia sudah kembali ke kamarnya masing – masing. Sementara Varen dan Nathan memisahkan diri


ke ruang kerja utama bersama Ammar, Niki dan Meissa saat mereka semua sudah sampai di Kediaman.


“Ceritakan padaku tentang apa yang dicurigai istriku” Ucap Varen pada Niki dan Meissa.


“Kami tidak tahu pasti Tuan, hanya saat Nona Muda Andrea dan Kevia masuk ke mobil, Nona Muda Andrea bertanya tentang seorang wanita paruh baya yang keluar dari panti. Dan bertanya apa kami familiar dengan wajahnya”


“Lalu?”


“Iya kami memang melihat seorang wanita paruh baya. Tapi kami tidak familiar dengan wajahnya” Jawab Niki lagi. “Namun dari penampilan wanita itu sepertinya dia juga bukan dari kalangan biasa. Karena mobil yang ia gunakan cukup bagus. Dan ada satu orang yang tampak seperti bodyguard selain supirnya”


“Nomor polisi?”


“Maaf, kami tidak memperhatikannya Tuan”


“Kalian terlalu santai rupanya, hem?”


“Mohon maaf atas kelalaian kami Tuan Muda”


“....”


“Tapi gelagat wanita itu tidak mencurigakan jadi saya dan Meissa fikir dia hanya tamu panti” Ucap Niki lagi dan Varen kemudian terdiam sejenak, lalu memandang Nathan.


“Kevia ada bilang nama wanita itu Than?”


“Dilara”


“Dilara siapa?”


“Via hanya tahu itu ibu namanya Dilara sesuai dengan yang pengurus panti kepercayaan Kak Marsha bilang”


Varen nampak berpikir. “Lo minta data si Ibu itu aja dari Kak Marsha” Nathan mengusulkan.


Varen manggut – manggut.


“Mar” Varen berbicara pada Ammar.


“Ya, Tuan” Sahut Ammar sigap.


“Kau cari tahu juga data tentang pengurus panti milik Marsha. Sekaligus transaksi finansialnya dalam enam bulan terakhir” Titah Varen.


“Baik, Tuan”


“Kau, Niki. Kirim seseorang untuk mengawasi panti milik Marsha, siapa saja yang keluar masuk kesana, tanpa


terkecuali”


Niki mengangguk sigap. “Baik, Tuan”


“Sa”


“Ya, Tuan”


“Carikan seseorang, perempuan. Yang usianya kira – kira rata – rata mereka yang tinggal di panti, yang mampu berakting seperti mereka yang memiliki masalah disana, lalu bawa padaku.”


“Baik, Tuan” Sahut Meissa sama sigapnya dengan Ammar dan Niki.


“Sanggup?” Tanya Varen pada Meissa. “Kau tau orang seperti apa yang aku inginkan bukan? Atau kau terlalu bodoh untuk memahaminya?”


‘Buset deh si Abang’


“Sanggup, Tuan. Iya saya paham” Sahut Meissa lagi dengan cepat. “Selain itu, Tuan?”


“Itu saja. Lakukan dan berikan apa yang kuminta dengan cepat. Jika istriku punya kecurigaannya sendiri, aku tidak ingin mengambil resiko sedikitpun”


“Baik, Tuan”


“Sudah. Itu saja sementara ini. Kalian silahkan beristirahat”


Ucap babang tamvan yang sedang diperhatikan Nathan setelah si Abang selesai berbicara dan memberi tugas pada ketiga pengawal pribadi mereka itu.


“Menurut lo ada lagi yang kurang, yang tadi gue minta mereka lakukan?”


“Kayaknya engga sih Bang” Jawab Nathan pada pertanyaan Varen.


“Sebenarnya saat si Via bilang merasa ada yang aneh soal kepergian anak – anak di panti milik Marsha, gue sedikit memikirkan. Tapi berhubung Rendy dan Marsha bilang sama gue waktu itu kalau hal itu sudah biasa dan dianggap selesai karena sudah pernah ada yang pergi tapi kembali lagi kemudian hari, jadi gue sudah ga pikirkan lagi”


“.....”


“Tapi berhubung Little Star punya kecurigaan. Sepertinya patut diselidiki ulang. Lo tau kan dia kalau dari awal sudah punya kesan ga suka sama orang, biasanya orang – orang yang dia ga sukai sejak awal itu pasti orang yang menyebalkan”


“Contohnya .... Danita?”


“Mau gue buat pisah kamar sama Kevia?” Ancam Abang sembari menatap sinis pada Nathan yang menyebut nama


seseorang yang sudah diberi peringatan keras oleh si Abang untuk enyah dari hidupnya dan Andrea, bahkan dari pandangan matanya.


“Hahahahaha” Si Tan – Tan pun tergelak.


Varen melempar pulpen yang ada dimeja kerja. Lalu Nathan mencoba menghentikan gelakannya dan bertanya


kemudian.


“Nah terus tadi lo suruh si Meissa cari anak cewe yang bisa akting seperti anak – anak yang bermasalah di pantinya Kak Marsha buat apa?”


“Mau gue tempatkan disana. Untuk jadi mata dan telinga kita. Lebih akurat kan?. Menempatkan seseorang yang bisa berbaur di sana, dengan begitu informasi yang lebih jelas siapa tahu bisa kita dapatkan. Sambil jalan”


‘Wow. Pikiran si Abang bisa sampai sedetail itu ya?’ Batin Nathan kagum.


**


To be continue...


Ditambahin satu episode dah.


Enjoyyy...

__ADS_1


Jempol goyangin jangan lupa


Loph Loph


__ADS_2