
♦ MISFORTUNE ♦ Musibah ( Part 1 – Bagian 1 )
***
Selamat membaca...
Dua bulan kemudian
Frognal, London, Inggris
Reno mencium lembut bibir Ara setelah mereka melakukan olahraga yang membuat melayang ke awang – awang.
Seperti halnya kehamilan Ara yang pertama. Bagi Reno istrinya itu akan semakin nampak seksi saat tubuh rampingnya kian terus berisi. Selain bahagia yang tak perlu ditanya atas kehamilan kedua Ara, tubuh berisi Ara selalunya membuat hasrat si kakak ganteng menjadi lebih besar.
Tak sabar juga Reno menanti kelahiran anak keduanya dan Ara yang sampai hari ini, seperti halnya saat hamil
Varen, Ara dan Reno tidak ingin mengetahui jenis kelamin anak kedua mereka sebelum anak itu lahir.
Bagi Reno, Ara adalah segalanya selain Varen dan keluarganya. Begitupun sebaliknya Reno bagi Ara.
Dulu Ara hanya bisa mengagumi Reno dari jauh, tapi tak sangka kalau pria yang ia kagumi hingga akhirnya
membuat Ara jatuh cinta, ternyata lebih dulu mencintainya.
Curahan cinta yang Ara dapat dari Reno membuat wanita itu begitu merasa spesial dan tak pernah sedikitpun
mempermasalahkan sisi posesif suaminya itu. Terlebih lagi, Dad dan Mom serta almarhumah Bundanya Reno begitu menyayangi dan mengasihinya. “Aku wanita beruntung yang bisa mendapatkan cinta kamu, Hon.”
“Aku jauh lebih beruntung.” Reno memegang tangan Ara yang barusan membelai pelan pipinya yang ditumbuhi
brewok itu.
“Apa aku mengganggu tidur kamu?.”
“Bagaimana aku tidak merasa terusik kalau seorang Ibu Peri yang cantik jelita menatapku terus – terusan sambil membelai lembut pipi aku ini, hem?.”
Reno membuka matanya perlahan sembari tersenyum.
“Apa kamu ingin sesuatu?.” Tanya Reno yang kemudian sedikit bangkit dan menopang kepalanya dengan satu tangan.
“Engga, hanya sedikit haus.”
“Mau aku buatkan susu?.”
“Engga Hon.” Ara membelai lagi pipi suaminya itu. “Lebih baik kamu lanjutkan tidur kamu. Besok kan jadwal kamu padat dan besok kamu jadi berangkat ke Korsel juga kan?.” Ucap Ara dan Reno mengangguk. “Ya sudah lanjutkan tidur kamu, Hon.”
“Nanti aku minta tolong Little F untuk menemani kamu check up lusa.”
“Iya....”
“Ya sudah kamu juga lanjut tidur.” Ucap Reno. “Sini.” Menepuk – nepuk dadanya agar Ara bersandar disana.
Ara pun menyelusup ke dalam pelukan suaminya.
Dan mereka kembali melanjutkan istirahat mereka.
**
Mansion Adjieran Smith, Regent’s Park, London, Inggris
“Little F, gue titip Ibu Peri ya.”
“Siap Tuan Reno!.” Sahut Fania pada kakak gantengnya yang pagi itu mengantarkan Ara ke Mansion, sebelum dirinya berangkat ke Perusahaan.
“Dad, Mom, R berangkat dulu.” Reno langsung berpamitan pada kedua orang tua angkatnya itu. “Titip menantu kalian, kalau susah dibilangin marahin aja.”
“Sebelum berangkat ke Korea kamu kembali lagi kesini ga?.”
“Sepertinya engga Mom, R langsung dari Perusahaan setelah urusan pekerjaan disana selesai.”
“Nanti Andrew yang antar dia ke Bandara Mom.” Ucap Andrew yang juga ikut sekalian berpamitan untuk ke kantor. “Sekaligus jemput Varen dari sekolah.”
“Ya sudah. Hati – hati.”
“Iya Mom.” Sahut Andrew dan Reno.
“Hari ini kamu ga usah ke butik, Babe. Kamu sepertinya sedikit pucat.” Reno berkata pada Ara yang mengantarnya ke pintu depan.
Ara mengangguk patuh sembari tersenyum.
“Ya sudah aku berangkat ya. Little F, gue berangkat dulu.” Reno berpamitan pada Ara dan Fania kemudian
mengecup bibir Ara. “Kalian mau titip apa dari Korsel?.”
“Titip salam aja buat AA Min – Ho.” Celetuk Fania sambil cekikikan dan Andrew memandang sinis padanya. “Tapi
cinta aku Cuma buat Poppa seorang. Sarangheyo..” Ucap Fania sambil mengecup bibir Andrew dan membuat simbol cinta ala korea dengan dua jarinya.
__ADS_1
“Heran, cewe – cewe ini kenapa suka sekali sama para artis korea.” Andrew bergumam sekaligus menggerutu. “Awas aja, nanti aku ikat di ranjang selama seminggu tahu rasa. Berani titip salam untuk pria lain.”
“Ca ilah, gitu aja ngambek.” Celetuk Fania lagi. “Ya udah sana, 🎵berangkatlah sayaaang, hati – hati dijalaaaann..🎵” Nyanyi dah si Kajol.
Ara dan Reno cekikikan.
‘Gara – gara AA Min – Ho bisa kaga jadi ngantor ini si Donald Bebek.’
“Ya sudah aku berangkat dulu, Heart.”
“Iya D..”
“Hati – hati kalian!..” Ucap Ara dan Fania pada Reno dan Andrew yang masuk ke dalam mobil yang sama dengan
di supiri oleh Ben.
**
Esok hari di Mansion London
Ara dan Fania sedang bersiap untuk pergi menemui Judith untuk memeriksa kehamilan Ara.
“Nanti setelah dari Rumah Sakit, kamu temani Kak Ara sebentar ke Butik ya, Sweety?.”
Fania seolah memberikan hormat pada Ara. “Siap Bu Bos.”
Ara terkekeh. Lalu ia dan Fania menaiki mobil yang dikendarai supir untuk menuju ke Rumah Sakit.
****
St. Thomas’ Hospital
“Your baby is in a good condition Ara. ( Bayimu sehat, Ara ).”
Judith berbicara setelah selesai memeriksa kandungan Ara.
“Alhamdulillah.”
“Is there anything else?. ( Apa ada yang lain lagi? ).”
“No, I think that will be enough, Judith ( Engga, rasanya sudah cukup, Judith ). Thank you.” Sahut Ara. “Ada yang mau kamu tanyakan pada Judith, Sweety?.”
Ara dan Judith menatap Fania yang nampak sedang melamun itu.
"Sweety? ...."
"Eh, iya apa Kak?."
Fania menggeleng pada Ara. “Engga Kak. Waktu itu udah konsultasi sama Judith sama Andrew.”
Ara tersenyum dan mengangguk pada Fania.
'Perasaan gue rada gelisah, kenapa ya?.' Batin Fania.
“Be patience, okay Fania?. ( Sabar ya Fania? ).”
“I will, Judith. ( Pasti, Judith ).”
“Say my greeting to all. ( Sampaikan salamku pada semua ).” Ucap Judith. Lalu Fania dan Ara berpamitan pada Dokter mereka itu.
***
“Jenis kelamin tetep jadi kejutan nih, Kak?.”
Fania bertanya saat ia dan Ara sudah berada di Butik milik Ara dan Ara pun mengangguk sembari mengecek meja kerjanya di Butik.
“Oh iya Sweety, besok kamu ikut ke Yayasan?.” Ara menoleh pada Fania. "Sweety?."
"Hah?. Apaan?."
"Kamu kenapa sih, Sweety. dari tadi bengong terus perasaan aku." Ucap Ara. "Apa kamu memikirkan soal kehamilan kamu?."
"Oh engga kok Kak. I'm okay." Sahut Fania. "Gue akan ikutin sarannya Judith." Sambungnya. 'Cuman ini perasaan rada ga enak. Kenapa tau.' Batinnya.
Sambil Fania melihat – lihat rancangan terbaru Ara dan Ara juga sedang mengecek beberapa berkas dimeja
kerjanya, Ara dan Fania mengobrol santai. “Ada yang kamu suka, Sweety?.”
“Suka semua!.”
“Pilihlah. Bawa aja semua juga boleh.”
“Wa elah. Maruk amat kesannya gue.”
Ara terkekeh.
“Ya kamu bilang suka semua.”
__ADS_1
“Gue mau sendal ini deh Kak. Lucu. Ada size gue ga?. Apa belum dibuat untuk koleksi yang ini?.”
“Sudah. Sebentar Kak Ara minta Danish ambilkan size kamu.”
“Ma acih, Ibu Periii ....”
***
“Sweety, kita mampir ke L'Elysee dulu ya?. Lagi pengen Chicken Escalope disana.”
Fania mengangkat jempolnya, lalu mengatakan pada supir mereka untuk mampir ke tempat yang diminta Ara.
“Mau duduk – duduk dulu disini atau mau take away?.”
Fania bertanya pada Ara saat mereka sudah sampai di sebuah kafe yang menjual berbagai macam Pastry, yang
lumayan terkenal dan direkomendasikan di Soho, London itu.
“Duduk – duduk disini aja deh dulu. Bosen juga dirumah. Dad sama Mom juga pasti belum kembali ini.” Sahut Ara. “Varen juga ada Les tambahan disekolah hari ini.”
“Okeh!.” Sahut Fania. “Ya udah yuk.”
“Kamu duluan aja kedalam. Kak Ara mau telpon sekolahnya Varen dulu. Soalnya berubah jam les, katanya hari
ini.”
“Sip. Emba kedalem dulu. Mau gue pesenin sekalian?.”
“Yes, please. Sweety. ( Iya, tolong ya, Sweety ).”
“Yang kayak biasa?.”
“Iya.”
Fania mengangkat jempolnya pada Ara, dan masuk duluan ke dalam kafe tersebut.
****
“I see. ( Oh begitu ).”
Ara sedang berbicara melalui ponselnya.
“So, I’m going to pick up my son about an a hour ahead. ( Jadi, aku akan menjemput putraku sekitar satu jam lagi ).”
Ara melihat arloji ditangannya.
Setelah selesai ia langsung memasukkan ponsel ke saku coat nya dan hendak masuk menyusul Fania ke dalam Kafe.
“Ara ...” Suara seseorang yang memanggil dirinya membuat Ara berbalik.
“Mi – Mira???? ....”
“Long time no see, huh?. ( Lama ga ketemu, ya? ).”
“How are you Mira?. ( Apa kabarmu Mira? ).”
“Still same ... ( Masih sama ).” Sahut wanita yang menegur Ara itu. Tersenyum miring. “Feel feud to you ( Masih dendam padamu ).”
****
“Chicken Escalope, zingy tomato salsa. Ice cream caramello ...” Fania sedang memesan makanan untuknya dan Ara didalam kafe yang sudah ia masuki pada seorang pelayan kafe yang kini sedang melayaninya.
“Oke Ma’am. Please be waited ( Baik Nyonya. Silahkan menunggu ), while we prepare your orders ( selagi kami
menyiapkan pesanan anda ). Dine in right?. ( Makan disini, kan? ).” Ucap pelayan kafe itu dengan ramah pada Fania.
“Serve the Ice Cream at the last, would you?. ( Es krimnya terakhir aja ya? ).”
“Yes, Ma’am. ( Baik, Nyonya ).”
“Thank you.”
Fania mengedarkan pandangannya pada Ara yang masih berada di luar kafe sebelum ia melangkah menuju meja tempatnya dan Ara biasa duduk jika mereka mampir ke kafe tersebut.
‘Kak Ara lagi ngomong sama siapa itu?.’
Fania membatin saat Ara nampak sedang berbicara dengan seorang wanita di luar kafe.
‘Eh?.’
Mata Fania membola sambil berlari cepat ke arah luar kafe, ke tempat Ara berada.
“KAK – ARA!!!!!!.”
****
To be continue ...
__ADS_1
Ritual Jangan Lupa.
Loph Loph