
♦ THE SWEETNESS DREAM ♦ Mimpi Terindah
***********************************************************
Selamat membaca ....
*************************
‘Nothing is Impossible if My Aim Is You – Tak Ada yang Tak Mungkin Jika Tujuanku adalah Kamu’
***
Save House
‘Sudah enam hari.... Kami tak sanggup jika harus kehilangan lagi Tuhan.’ Ara termenung di dalam kamarnya.
Luka dan dukanya atas apa yang terjadi pada Reno dan para pria lain di keluarganya rasanya saja masih basah. Dan sekarang Fania dan Michelle pun sudah enam hari sejak kepergian mereka keluar dari Mansion untuk mencari tahu apa yang sudah terjadi sekaligus mengejar asa untuk bisa mendapatkan setidaknya kabar dari para pria pun hingga enam hari tak kunjung kembali.
Usaha Varen untuk mencari keberadaan Fania dan Michelle termasuk Vla yang bersama mereka pun hingga pagi
tadi belum membuahkan hasil. Seperti Reno dan yang lainnya, Fania dan Michelle bak menghilang ditelan bumi.
“Mengapa Kau membuat keluarga kami seperti ini, Tuhan?.”
Air mata Ara mulai turun, dadanya kembali terasa sesak. Tanggung jawab dipundaknya terasa begitu berat, tapi ia harus kuat.
‘Hon .. Dad R .. aku rindu ..’ Ara tak mampu menahan isakannya. ‘Bagaimana aku hidup tanpa kamu, Hon?....’ Bahu Ara sedikit bergetar.
Ara menghapus air matanya kala Mom datang menghampirinya di kamar bersama Varen. “Ara ....” Ucap Mom. “Boleh Mom masuk?.” Wanita paruh baya yang wajahnya tak pernah lagi disapu make up itu datang dengan tersenyum padanya.
“Silahkan Mom. Tak perlu minta ijin.” Sahut Ara dan Mom langsung duduk disampingnya bersama Varen yang
langsung memeluk sang Mommy. Bocah itu tahu kalau sang Mommy sedang bersedih.
Varen menghapus buliran air mata diwajah sang Mommy. “Jangan menangis Mommy. Ada aku yang akan selalu
menemani Mommy.”
“Terima kasih, My Prince. Mommy tahu itu. Mommy tahu kamu pasti selalu menemani dan menjaga Mommy serta
adik – adik, Gamma, juga Mommy yang lain.” Ara memeluk sayang putra pertamanya itu yang wajahnya lebih banyak kemiripan dengan dirinya, namun sifat dan sikapnya persis seperti sang Daddy.
“Ini semua memang berat, Sayang. Tapi bagaimanapun kita harus kuat dan bertahan. Demi anak – anak terutama.”
Ucap Mom yang matanya juga sudah berkaca – kaca.
“Iya Mom, Ara paham akan hal itu. Hanya saja Ara masih rasanya tak percaya, kalau keluarga kita menjadi seperti ini, hanya tersisa kita yang ada di Save House ini.... Ara.... tak sanggup melihat anak – anak yang sering bertanya tentang Daddy mereka yang tak kunjung pulang.” Ara menghapus air matanya yang sudah menetes. “Mika mungkin belum paham betul, tapi dada Ara selalu terasa sesak, jika Andrea yang bertanya ....”
Ara terisak dipelukan Mom.
“Ara ga kuat Mom .... Ga pernah juga Ara bayangkan, hidup Ara tanpa Reno..” Isakan Ara makin kencang, Mom membiarkannya meski ia juga ikut meneteskan air mata. Mom juga membawa Varen yang ikut menangis dalam pelukannya.
Sedikit banyak Varen sudah mengerti. Ia pun sama sedihnya dengan sang Mommy. Daddy yang menjadi idolanya
mungkin tak bisa ia temui lagi, termasuk juga dengan para Daddy nya yang lain. Dan kini ia juga kehilangan dua Mommy nya.
**
__ADS_1
‘Kamu apa kabar, Papa Bear? ....’
Seperti halnya Ara, perasaan Jihan pun kurang lebih sama. Ia terluka dan berduka. Tidak tahu bagaimana caranya ia akan menjalani kehidupannya tanpa seorang suami yang begitu dicintainya. Bagaimana membesarkan Nathan tanpa Daddynya, terlebih lagi ia pun tidak tahu bagaimana nasib Ibunya.
‘Aku kangen kamu, Papa Bear.... Kini Fania dan Michelle pun tak ada kabarnya....’
Jihan yang terduduk diranjang sambil memegangi foto Jeff dalam sebuah figura itu pun tertunduk dan menyandarkan kepalanya di kedua tangan yang tertopang diatas kedua lututnya yang ia tekuk. Jihan terisak lirih.
'Sampai hati kamu tinggalkan aku dan Nathan sendiri ..'
**
“Semua aku kembalikan pada kalian.”
Ara sudah berkumpul bersama dengan para wanita dewasa keluarganya yang tersisa di Save House.
Termasuk juga Ben, Theresa, serta tiga pengasuh anak – anak mereka yang terpaksa harus terjebak bersama dalam suatu tempat yang mereka tidak tahu dimana sebenarnya.
“Sesuai dengan apa yang aku bicarakan dengan Fania sebelum kami hilang kontak, aku sebaiknya membawa kalian semua keluar dari sini jika dalam jangka waktu satu minggu Fania dan Michelle tak lagi memberikan kabar.” Ucap Ara.
Ara memandangi satu – satu, semua orang yang bersamanya saat ini, kecuali anak – anak yang sedang dijaga oleh Varen diruang bermain.
“Aku tidak mau memutuskan sendiri, meskipun aku sudah berjanji pada Fania dan Michelle. Aku janji untuk menjaga kalian dengan sebaik – baiknya.”
Prita, Jihan, Mom dan lima asisten rumah tangga mereka memandangi Ara.
“Ben, Theresa, Hera, Lita, Amber, you all feel free to talk. All of you are also part of this family. ( kalian semua bebas untuk berbicara. Kalian juga bagian dari keluarga ini ).” Ucap Ara lagi. “But if we’re all decided to go out from here, then five of you can leave us and living your life. ( Tapi jika kita memutuskan untuk keluar dari sini, maka kalian berlima bisa meninggalkan kami dan jalani hidup kalian ).”
Ara mendekati kelima asisten rumah tangga mereka itu.
“Don’t worry, we will give you, your right as the way it is. ( Jangan khawatir, kami akan memberikan hak kalian dengan sepatutnya ). Those handsome men, leave enough money here, even more. ( Para pria tampan itu menaruh cukup uang disini, bahkan lebih ).”
“Ben, Theresa, Hera, Lita, Amber.. Me, behave on my husband’s name and also myself, I can’t say nothing than a very big thank you to all of you. ( Aku, atas nama suamiku dan diriku sendiri, Tidak ada lagi yang bisa kukatakan selain rasa terima kasihku yang sebesar – besarnya pada kalian semua ).”
Mom juga sudah mendekati kelima maid setianya itu.
“Very sorry.. to make all of you being trap with us here.. where you all supposed to have a normal life out there, you shouldn’t be here and stuck with us ... ( Aku benar – benar minta maaf .. membuat kalian terjebak disini bersama kami.... dimana seharusnya kalian memiliki kehidupan normal diluar sana.. kalian tidak seharusnya berada disini dan terjebak bersama kami ).” Ucap Mom dengan tulus.
“No, Mrs. Erna, you don’t need to say sorry .... really ( Tidak, Nyonya Erna, anda tidak perlu meminta maaf .... sungguh ). Same with Ben, I refused to leave this family also. ( Sama seperti Ben, aku juga menolak untuk meninggalkan keluarga ini ).” Ucap Theresa yang sependapat dengan Ben. “How can I leave my own family? ( Bagaimana mungkin aku meninggalkan keluargaku sendiri? )...”
“Oh, Ben... Theresa....”
“Ben and Theresa was right, Madams ( Ben dan Theresa Benar, Nyonya ). We won’t go anywhere ( Kami tidak
akan pergi kemana – mana ).” Lita yang memang juga sudah lama ikut dengan Keluarga Adjieran Smith ikut bersuara. “I will always be with all of you ( Aku akan selalu ikut kemanapun kalian pergi ).”
“So Am I, Madam ( Begitu juga aku, Nyonya ).” Hera pun turut mengiyakan ucapan Lita. “This family, treat me very well. Accept me, when outside not ( Keluarga ini memperlakukanku dengan sangat baik. Menerimaku saat orang lain tidak ). Especially Mrs. Fania and Mister Andrew ( Terutama Nyonya Fania dan Tuan Andrew ). Both of them are not here, so how can I leave Andrea....? ( Mereka berdua tidak disini, bagaimana bisa aku meninggalkan Andrea...? ).”
“I also choose to stay with all you, I’m not going to leave those angels. I can’t ... ( Aku juga memilih untuk tinggal bersama kalian semua, aku tidak akan meninggalkan para malaikat – malaikat itu. Aku tidak bisa... ) ..” Amber ikut juga bersuara.
Mom serta para wanita lain begitu terharu mendengar ucapan kelima orang tadi yang juga menitikkan air mata
mereka.
Rasanya mereka semua sangat bersyukur memiliki orang – orang yang masih setia pada mereka dalam keadaan apapun.
“But you all also have family out there .. ( Tapi kalian juga punya keluarga diluar sana .. ).” Ucap Prita.
__ADS_1
“Don’t you feel worry about that Mrs. Prita, if you all decided to go out from here, we can meet them and probably would ask them to live with us ( Anda tidak perlu khawatir tentang itu, Nyonya Prita, jika anda semua memutuskan untuk keluar dari sini, kami bisa menemui mereka dan mungkin akan mengajak mereka ikut serta untuk tinggal
bersama kita ).”
“What kind of goodness we have been done, to have all of you with us now ( Entah kebaikan apa yang sudah kami perbuat, hingga bisa memiliki kalian semua bersama kami sekarang ).”
Kelima maid itu tersenyum pada Mom, Ara, Prita dan Jihan. “We are all who lucky, to work and subserve our life for this family ( Kami semualah yang merasa beruntung, bisa bekerja dan mengabdi pada keluarga ini ).” Ucap Ben sembari tersenyum tulus pada para nyonyanya.
Theresa dan ketiga pengasuh pun turut mengangguk, mengiyakan ucapan Ben.
“Good people is not enough for every people in this family ( Orang – orang baik tidak cukup untuk semua yang ada di keluarga ini ).” Ucap Lita. “Because you all way more than just good ( Karena kalian lebih dari sekedar baik ).” Sambungnya.
“Oh, you all make me can’t stop my tears falling ( Oh, kalian membuat air mataku tak bisa berhenti jatuh ). Thank you .... ( Terima kasih ).. Thank you so much...... ( Terima kasih banyak )....”
Mom terisak haru, lalu memeluk satu – satu kelima orang yang begitu setia padanya dan keluarganya itu.
Ara, Prita dan Jihan juga ikut memberikan ucapan terima kasih dan pelukan pada Ben, Theresa, Lita, Hera dan Amber.
“No need to thank us, please.. ( Tolong, jangan berterima kasih pada kami ).” Ucap Theresa. “I believe other maids will choose to be here with all of you if they were asked and have a chance ( Aku percaya kalau para pelayan yang lain juga akan memilih untuk bersama kalian semua jika mereka ditanya dan punya kesempatan ).”
Lima wanita Adjieran Smith yang berada di Save House itu pun mengangguk seraya tersenyum dan kembali
memeluk lima pelayan setia mereka tersebut.
***
“Baiklah, lebih baik kita beristirahat. Just take everything that really need. ( Bawa saja apa yang benar – benar dibutuhkan ).” Ucap Ara. “Aku sudah merapihkan semua uang yang ada di brankas dalam Save House ini. Aku dan Mom sudah memisahkan uang untuk Ben, Theresa, Lita, Hera dan Amber. Sisanya sudah kami bagi menjadi lima bagian, jadi kita masing – masing akan membawa satu bagian.”
“Iya Kak.”
“Semoga kita semua bermimpi indah malam ini, dan semoga mimpi itu jadi kenyataan. Karena esok hari, jika ini memang kenyataan yang harus kita hadapi, tanpa melupakan kenangan tentang mereka, kita akan menjalani hidup yang baru. Kita.. hanya kita..” Ucap Ara dengan matanya yang sudah berkaca – kaca.
Mereka yang bersama Ara hanya mengangguk dan tersenyum tipis, yah sedikit getir. Namun bagaimanapun semua harus dihadapi, bukan?. Masih ada anak – anak yang lebih membutuhkan mereka saat ini. Meski luka dan duka masih terasa, namun hidup harus terus berjalan. Demi diri sendiri, anak – anak dan ‘mereka’ yang pernah ada didalamnya.
“Nitey nite all, sweet dreams and see you all tomorrow ( Selamat malam semua, mimpi indah dan sampai ketemu besok ).”
***
“Setiap hari berlalu dan setiap malam aku selalu menangis.”
Prita seperti melantur dalam tidurnya. Ia seolah mengigau karena menangis hingga sampai ia kian terlelap dengan memeluk gambar diri John dalam dekapannya, bersama dengan dua buah cintanya dan John.
“Kamu selalu bilang akan selalu ada bersamaku, tapi lihat sekarang?. Kamu tega meninggalkan aku sendirian, dalam duka dan rindu yang sudah tak lagi tertampung....”
Air mata Prita meluncur mulus dalam lelapnya.
“Jahat kamu, Pi..... Jahat ...” Prita terisak dalam lelapnya, hingga rasanya ia semakin dalam terlelap.
--
“Maaf ... Sugar...”
Prita tak lagi menangis dalam lelapnya.
Tersungging senyum disudut bibirnya. Mimpinya begitu indah, suara John begitu dekat, terasa nyata. Bahkan harum tubuh pria yang amat dicintainya itu pun sampai menguar ke hidung mungilnya. Diantara sekian malam yang ia lalui dengan sesak, rasanya malam ini terasa lebih indah karena rasanya ia bersandar didada bidang yang sudah amat lama tak ia rasakan dan dekapan itu terasa begitu nyaman.
Walau hanya satu malam, biarkanlah Prita berharap dalam khayal, dalam mimpi yang terasa indah karena seakan begitu nyata. Bisa tidur dengan nyenyaknya, setelah sekian malam bahkan matanya sulit terpejam.
__ADS_1
***
To be continue...