THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 72


__ADS_3

🍁HAYANG KAWIN 🍁


****


Selamat membaca ....****


Rumah Keluarga Cemara, Bekasi, Jawa – Barat, Indonesia


Fania dan yang lainnya sudah bangun, begitu juga yang lainnya. Setelah melaksanakan Shubuh berjamaah dan merekapun sudah menyelesaikan sarapan, kini mereka semua duduk – duduk di area kolam renang sambil menikmati minuman panas dan hangat beserta camilan buatan mama Bela, serta menemani Varen dan Andrea yang sedang berenang.


“Pa, Ma, Ndrew, Fania, Prita.” John buka suara. “Ada yang ingin John bicarakan. Soal pernikahan.”


“Kenapa Kak?.” Tanya Prita. “Mau diundur?.” Tanyanya lagi. ‘Alhamdulillah sih kalau mau diundur.’


“Justru itu.”


John menatap satu – satu orang – orang yang berada didekatnya.


“John dan Jeff sudah bicara semalam.”


‘Jangan bilang malah dicepetin nih ya.’ Batin Prita.


“Sepertinya kami akan merubah jadwalnya.”


‘Alhamdulillah.’ Prita membatin lagi, bersyukur dalam hati.


“Jadinya mau diundur?.” Sahut papa Herman. “Ga masalah sih Papah sama Mamah.”


“Bukan Pa. Justru mau John dan Jeff percepat.”


“Uhuk, uhuk!.” Si Priwitan tersedak.


Fania menepuk – nepuk punggung adiknya itu. “Segitunya kaget yang mau dikawinin cepet – cepet.” Ucap Fania setengah terkekeh.


‘Pasti gara – gara goyangan ini.’ Andrew membatin.


“Ga apa – apa, kan, Pa, Ma, Jol?.”


"Bebas aja gue sih." Sahut Fania santai. "Elo yang pada mau nikah."


“Ga apa – apa gimana?. Ga mau ah Prita dipercepat. Dua bulan aja kayaknya grabag – grubug itu.”


“Ada bagusnya Prita, jadi kemungkinan bikin dosa khilap lebih kecil.” Sahut papa Herman.


“Betul itu.” Timpal mama Bela. “Emang mau dipercepat nye kapan jadinya?.” Tanyanya.


“Yang jelas kurang dari dua bulan.” Jawab John. “Gimana menurut lo berdua?.” Bertanya pada Fania dan Andrew.


“Gue sih terserah.” Sahut Andrew dan Fania mengangguk. "Toh, kita sudah punya orang - orang yang bisa diandalkan untuk mengurusnya."


“Ah, Prita ga mau ah buru – buru.” Protes calon penganten wanita.


“Kakak kamu sama Andrew aja seminggu persiapan, Prita.” Timpal John. “Lagipula betul itu yang papa bilang, nanti kalau aku keburu khilap gimana?.” Goda John sambil memainkan alisnya. Prita mencebik sebal.


“Papah sama mamah si ikut aje pegimane bae nye.”


“Iye bener, cuman diomongin juga sama yang lainnya John, termasuk sama Tuan Anthony dan Nyonya Erna.”


“Iya Ma.”


“Udeh ga sabar lo ye, ngerasain goyang vibrator ade gue?.” Celetuk si Kajol iseng membuat yang lainnya terkekeh kecuali si Priwitan.


“Paham banget calon kakak ipar.”


Dan mereka berdua cekikikan.


****


Rumah Jihan, Jakarta, Indonesia


“Bu, Ji ada yang ingin aku bicarakan soal pernikahan.” Ucap Jeff setelah ia dan Jihan, Nathan beserta calon mertuanya menyelesaikan sarapan.


“Kenapa?.” Tanya Jihan. “Apa mau diundur?.”


“Memang kamu maunya diundur?.” Tanya Jeff balik.


“Yah kalau bisa sih.” Jawab Jihan cepat.


“Kenapa memangnya?.”


“Dua bulan rasanya buru – buru banget. Belum lagi kita kan barengan acaranya dengan John dan Prita.” Sahut Jihan.


“Kamu mau melaksanakan terpisah?.” Jeff bertanya lagi. "Tapi kan resepsi aja kita yang barengan. Akad nikah tetap terpisah."


“Engga juga sih. Justru aku seneng kalo bareng dengan mereka. Jadi capenya sekali aja. Meski akad nikah tetap terpisah.” Jawab Jeff. ‘Kemarin lamaran aja perasaan udah cape banget dua tempat begitu.’ Batinnya.


“Iya benar. Ga apa – apa barengan dengan John dan Prita. Justru bagus jadi persiapan resepsinya ga dua kali.”


Ibunya Jihan menyampaikan pendapat.


“Ya sudah, kalau memang maunya kamu dan ibu kita tetap bareng dengan John dan Prita untuk resepsi.”


“Lalu yang ingin kamu bicarakan apa?.” Tanya Jihan.


“Waktu pernikahan.”


“Mau diundur kah?.”


“Tidak. Justru ingin aku percepat.”


“Uhuk, uhuk.” Jihan tersedak. “Apa?!.”


‘Kayaknya goyang jaipong si Jihan, bikin nak Jeff ga sabar.’


Ibunya Jihan membatin sambil senyam – senyum.


“Kalo Ibu sih, terserah Nak Jeff dan keluarga aja. Bagaimana baiknya.”


“Iya Bu, terima kasih.” Sahut Jeff sembari tersenyum.


“Memang kenapa harus dipercepat sih?. Dua bulan aja itu udah buru – buru banget loh Jeff. Dua pernikahan lagi!. Apa ga tambah repot kalau malah dipercepat?.” Cerocos Jihan. “Lagian apa John dan Prita setuju?.”


“Aku sudah bicara dengan John semalam. Dan dia juga punya keinginan yang sama dengan aku untuk mempercepat pernikahan.”

__ADS_1


“Kasihan keluarga kamu dong Jeff kalau malah dipercepat, aku ga enak nantinya jadi semakin merepotkan mereka.” Ucap Jihan.


Jeff tersenyum. “Kamu jangan khawatir soal itu.” Ucapnya. “Kami punya orang – orang yang sangat dapat diandalkan untuk mengurus setiap detail untuk pernikahan kita berempat.”


“Ya tapi kan ..”


“Tenang saja, keluargaku sudah terbiasa dengan segala hal yang mendadak.”


“Maksudnya?.” Jihan sedikit tak paham.


“Persiapan pernikahan R dan Ara dulu itu hanya dua minggu. Michelle dan Dewa sebulan.” Jeff menjelaskan. “Yang


paling the best Andrew dan Fania. Seminggu!.” Ucapnya lagi.


“Haaah?.”


Jeff manggut – manggut. “Yap. Dan semuanya berjalan dengan sangat lancar tanpa ada kekurangan suatu apapun.


Orang – orang kami yang mengurusnya. Jadi kamu dan ibu tidak perlu khawatir.” Ucapnya. ‘Persiapkan aja itu goyangan untuk malam pengantin.’ Batin Jeff menyeringai.


****


Kediaman Utama Keluarga Adjieran Smith, Jakarta, Indonesia


Dua J berikut Andrew dan Fania berikut juga Prita yang ikut, sudah berada di kediaman utama rumah keluarga mereka yang berada di Jakarta. Dua J juga sudah menyampaikan keinginan mereka untuk mempercepat pernikahan.


Namun keluarga mereka tidak kaget dengan permintaan dua J yang ingin mempercepat pernikahan mereka dari


rencana sebelumnya. Bahkan Mom sudah menduganya duluan sebelum dua J menyampaikan niatnya.


“Jadi, kapan?.” Reno melontarkan pertanyaan pada dua J. “Asal jangan seperi si Donald Bebek seminggu lagi.”


Dua J terkekeh.


“Engga lah. Kita ga akan breaking Andrew’s record (memecahkan rekornya Andrew) juga.”


“Yap, kami kan melangsungkan pernikahan bersamaan, ga mungkin juga menyiapkan nya selama seminggu. Meski hanya resepsinya aja yang barengan.”


“Baguslah kalau paham sih.” Celetuk Mom. “Jadi kapan?. Kami para wanita sudah harus gerak cepat kalau kalian mau pernikahannya dipercepat.”


“Dua minggu?.”


“Gila!.” Sahut yang lain berbarengan.


‘Ga si Donald Bebek, ga mereka, susah nahan kalo udah liat goyangan. Hayang kawin buru – buru aje bawaannya.’


Si Kajol membatin.


"Satu bulan aja deh, agak sedikit longgar." Ucap Ara.


"Oke."


****


“Kenapa hem?.” Tanya John pada Prita yang sedari tadi menatapnya.


“Kenapa sih pernikahan harus dipercepat?.”


“Ya ga apa – apa.” Sahut John yang sedang menyetir.


John tersenyum. “Ga ada yang ribet Prita.” Ucapnya. “Kita punya orang – orang yang sangat bisa diandalkan untuk mengurus itu semua.”


“Ya tetep aja ribet. Udahlah kita kan barengan sama Kak Jeff dan Kak Jihan juga kan resepsinya.” Sahut Prita.


“Mau buat acara terpisah dengan mereka?. Ga masalah.”


“Engga ah!.” Sambar Prita. “Makin ribet malahan. Kasian yang lain tau, Kak.”


John mengacak – acak rambut Prita. “Kamu saja yang yang terlalu khawatir, Sayang.”


Prita melirik pada John. Wajahnya sedikit bersemu mendengar sebutan sayang yang meluncur dari mulut John untuknya tadi.


Prita mengulum senyum tipis sambil melempar pandangannya ke arah luar jendela mobil.


John menoleh sebentar. “Kenapa, hem?. Ga boleh memang, kalau aku panggil kamu dengan sebutan sayang?.” Tanyanya sambil tersenyum.


Prita kemudian menoleh. “Engga sih, Cuma sedikit agak aneh aja.”


“Kok aneh sih?.”


“Ya asing aja dikuping Prita.”


“Biasakan kalau begitu.”


“Iya, iya.” Sahut Prita.


“Tapi aku akan cari panggilan lain sepertinya. Kalau sayang kan sudah pasaran.” Ucap John. “Kamu juga harus cari panggilan sayang buat aku deh sepertinya.” John tampak berpikir.


“Terserah Kak John aja deh.”


“Carikan ya?.”


“Iya nanti Prita pikirin panggilan untuk Kak John.” Sahut Prita. ‘ABG tua dasar.’ Batinnya. “Terus kita mau kemana ini?.”


“Melihat rumah.”


“Kan Prita bilang kita tinggal di apartemen aja?.”


“Ga apa, untuk investasi.”


“Oh.”


****


“Kita mau ke apartemen, Kak John?.” Tanya Prita saat memperhatikan jalanan yang mereka lalui setelah selesai melihat – lihat rumah yang ingin dibeli oleh John.


“Iya, janjian sama Andrew dan Fania juga.”


“Kok aku ga tau?.”


“Iya aku lupa bilang. Andrew dan Fania juga baru melihat apartemen yang ingin mereka beli disini. Kebetulan dekat


dengan apartemen aku, eh kita. Jadi mereka sekalian mampir.” Jelas John. “Kebetulan juga ada yang mau aku bahas soal kerjaan dengan Andrew.” Sambungnya. “Sudah sampai dari tadi sih sepertinya.”

__ADS_1


“Nah Kak Andrew sama Kak Fania gimana masuknya?. Kata Kak John kartu akses kan ada dua. Yang satu sama


Prita, yang punya Kak John ya, yang dikasih ke mereka?.”


John tersenyum. “Kamu lupa kakak ipar kamu siapa?. Pria yang punya kekuasaan hampir tanpa batas.”


“Oh iya ya.” Prita terkekeh.


“Lagipula gedung komplek apartemen yang aku tempati itu milik kakak ipar kamu juga. Jadi bebas aja untuk dia mau ngapain juga digedung itu.”


“Hah?!.”


“Biasa aja kali, sampai segitunya kaget.”


John terkekeh.


“Satu gedung itu Kak, punya Kak Andrew?. Komplek gedung apartemen mewah itu?.”


“Yap. Dan masih ada beberapa yang lainnya.”


“Wow.” Prita takjub. ‘Kaya beut kakak ipar gue romannya.’ Batinnya. "Terus ngapain mereka malah mau cari apartemen?."


"Untuk hide place mereka." Sahut John. "Mungkin sekalian juga sama gedungnya mau dibelikan Andrew untuk tambahan investasi dia dan Fania."


'Buseetttt!! ...'


****


“Sepi Kak. Katanya mereka udah sampai dari tadi?.” Ucap Prita saat dia dan John sudah sampai di Penthouse milik John. “Dikamar apa ya?.”


“Bisa jadi. Mengingat kakak ipar kamu itu ga nahan kalau berduaan sama si Kajol.”


Prita terkekeh dan langsung


melangkah ke kamar tamu dan mengetok kamar tersebut.


“Ga ada mereka.”


Prita mencoba membuka pintu kamar yang ternyata tak terkunci dan kamar tamu pun kosong. Prita mengedarkan pandangannya dan mencoba mengecek kamar mandi dan Andrew serta Fania juga tak ada disana.


“Apa mereka udah pulang?.”


“Sepertinya belum. Itu tas kakak kamu masih ada.”


“Oh iya.” Sahut Prita saat John menunjuk tas Fania yang ada disofa.


“Mungkin mereka di kolam renang.”


“Kolam renang?.”


“Iya.”


“Memang penthouse Kak John ini ada kolam renangnya?.” Tanya Prita heran.


“Ada.” Jawab John. “Memang kamu tidak memperhatikan saat menginap disini?.”


Prita menggeleng.


“Ya udah yuk, kita kesana. Sekalian kamu lihat. Mereka pasti disana.”


Prita mengangguk dan John menggandeng tangannya.


****


“Ah D ..”


'Eh?.'


Suara misteri dari area kolam renang, membuat John menghentikan langkahnya. ‘Ck. Ini orang dua.....’ Batin John menggerutu.


“Kenapa, Kak?.”


John menatap Prita. “Um, lebih baik kita turun aja lagi ya?.” Ucap John sambil berbisik ditelinga Prita.


“Ohhhh Heart ... You always make me gone crazy .. Hhh .. (Ohhhh Sayang ... kamu selalu membuat aku gila


... Hhh .. ). ”


Prita meneguk salivanya.


“Mereka..” Wajah Prita susah dilukiskan.


“Ahhh D - .. Faster please .. (Ahhh D - .. lebih cepat tolong .....).”


‘Hish! Mereka nih benar – benar ..!.’


‘Itu Kak Andrew sama Kak Fania lagi syubiduppappaw???.’


“Udah ayo kita turun.” Ajak John pada Prita. “Emang ga ada akhlak itu mereka berdua.” Ucapnya masih setengah berbisik dan kesal. ‘Sialan emang, membuat kepala gue pusing.’


“Ohhhhh D.... it’s so good..... hh........ (Ohhhhh D.... enak banget .. hh........).”


‘Oh Tuhan.. seenak itu kah..????.’ Batin si Priwitan penasaran. Jiwa perawan sedikit mupeng.


‘Sialan!!!..’ Batin John kesal karena mupeng denger itu suara misteri bercampur desahan nikmat yang sampe ke ubun – ubun.


“Akh! Heart!!....”


“Akh! D!!....”


‘Ihhh, meni hayang kawin buru – buru.’


Si Priwitan ikutan mupeng. Dimana pria yang disebelahnya sudah mulai blingsatan.


😃😃😃😃


****


To be continue...


Ritual jangan lupa iye reader emak yang blaem – blaem .....


Mohon maap kalo upload rada lama ye, emak lagi lumayan tepar soale.

__ADS_1


Doa emak biar reader sehat semua. Aamiin


__ADS_2