
Makasih untuk jawaban dari pertanyaan emak di episode sebelumnya. Ada salah dikit nanya yak, udeh pasti nemunya di ini aplikasi. Cuman maksud emak, dibagian mana nye gitu. Secara emak kalo ngeliat Cuma suka nongol di bagian kotak yang disarankan. Kaga pernah liat nongol di Beranda kek nopel – nopel nyang udeh ngehitz pada.
Tapi sekali lagi makasih yak, maaf kalo ga semua komen emak bales. Ma acih lah pokoknya buat kesetiaan kalian sampai disini.
****
ROMAN
Selamat membaca..
Acara resepsi besar – besaran Varen dan Andrea di salah satu Hotel Bintang Lima di daerah Jakarta itu berlangsung dengan sangat meriah, mewah dan megah.
Hingga tidak hanya Varen dan Andrea yang rasanya sudah letih menyambut dan menerima ucapan selamat dari para tamu undangan yang seolah tak habis – habis itu. Mereka yang masuk ke daftar undangan sebuah keluarga yang tak banyak orang tahu di Indonesia itu memiliki kebanggaan mereka sendiri mendapatkan undangan dari keluarga Adjieran Smith.
Terlepas dari keluarga, dan kerabat dekat mereka sendiri yang sudah pastinya terpampang di daftar undangan.
Selebihnya ada para kolega yang mungkin pernah bekerja sama dengan salah seorang anggota keluarga Smith atau Perusahaan – Perusahaan mereka yang tersebar di banyak tempat, serta bisnis yang lainnya.
Jadi rasanya adalah suatu kesempatan besar bisa bertemu dan melihat langsung jajaran para anggota keluarga yang namanya tersohor di kalangan tertentu, dan disegani tentunya.
Dari Gappa hingga anggota keluarga termuda, yakni Aina putri keduanya Papa dan Mama Bear jangan ditanya auranya. Tampan dan cantik jangan ditanya juga, selain nampak elegan dan bersahaja.
Para pria matang dari Poppa, Daddy R, Papi, Papa Bear, Daddy Dewa dan Papa Lucca, bak dewa – dewa dari mitologi Yunani yang berjajar dengan indahnya. Sinkronisasi wajah dan tubuh yang tanpa cela, membuat mata, terutama kaum hawa tak mungkin berpaling dari mereka. Sementara kaum Adam akan mendamba wanita seperti para bidadari keluarga Smith yang seolah nampak sempurna.
Jangan lupakan pembawaan dan cara bicara para wanita Smith jika sedang berada di acara seperti ini. Sedap dipandang, dengan suara yang terdengar syahdu ditelinga, padahal kalau di rumah mah. suka cekakak tanpa akhlak, dengan mulut yang terbuka lebar.
Dan para Daddies dengan wajah dingin yang didukung garis rahang mereka yang kokoh dan tegas, yang seolah minim senyum itu pastinya membuat para wanita penisirin setengah mati, sudah pasti.
Pencitraan yang tampak diluar, semata – mata hanya untuk menunjukkan kekuatan yang mereka punya hanya dari tatapan mata mereka. Agar mereka yang mau mencoba menjadi lawan, setidaknya berpikir satu juta kali.
Tegas, dingin, kaku, minim bicara. Padahal, hmmm ... super iseng dan gesrek ga ketulungan. Kalo di rumah, kalo bersama keluarganya, hanya dengan orang – orang terdekat mereka, barulah kelihatan sifat asli mereka, dibalik aura misterius para Daddies.
**
Acara resepsi Varen dan Andre akan dilangsungkan hingga larut malam.
“I think sudah waktunya kita semua beristirahat, biar yang muda saja yang melanjutkan” Ucap Poppa sambil memijat tengkuknya yang ia rasa pegal, setelah banyak tamu yang sudah berpamitan, hanya tersisa para kaum muda saja yang akan melanjutkan pesta ke acara yang lebih santai.
“Ya sudah ayo. Gue juga sudah letih, sekalian mau lihat si kembar dan yang lainnya, apa mereka sudah tidur atau belum” Timpal Papi.
Yang lain pun mengangguk.
“Ga apa ini kita tinggal sebelum si Abang sama Little Star kembali kesini setelah berganti baju?”
“Halah! Ga mungkin itu anak dua sekedar ganti baju. Udah hampir satu jam ga balik – balik!”
“Just let them enjoy their ‘moment’ ( Biarkan saja mereka menikmati ‘momen’ mereka )” Mama Fabi menimpali
sambil senyam – senyum. Papa Lucca juga memberikan senyumnya pada Mama Fabi yang membuat wanita itu memutar bola matanya malas.
“Heemm.. tuh si casper udah ngasih kode sama bininya tuh!” Celetuk Momma sambil cekikikan.
“Ayolah kita juga kalau begitu!”
Kalau sudah soal beginian sih, si Poppa cepet banget konek. Antena bukan 5G lagi tapi 10G.
“Kamu cape bukannya?” Goda Momma.
“Ya disini, dikamar kan beda lagi” Sahut Poppa.
“Inget umur......”
“Haahh Momma banyak bicara” Poppa langsung merangkul pundak Momma dan menggeret nya penuh semangat. “Cepat! Kita main pijat – pijatan!”
“Hahaha!..”
Pada akhirnya para Daddies pun menggeret para Mommies masing – masing pasangannya ke kamar mereka masing – masing didalam hotel. Ikutan malem penganten entah yang keberapa.
****
Well, seperti dugaan para senior, sang pemilik acara, bukan sekedar ganti baju atau merapihkan riasan. Yang ada Andrea sudah acak – acakan diatas ranjang super besar di kamarnya dan Varen.
“Abaaangggg!”
“Tadi yang menawarkan Nananina siapa?”
Andrea yang masih dalam kukungan Varen itu mencebik saja pada Varen yang sedang menggodanya setelah satu sesi main dengan nunu nana lanjut ke Nananina selesai. “Iya Drea memang, tapi udah ih, cabut dong”
“Tanggung sudah dikamar!..”
Varen makin mengukung tubuh Andrea sembari menyeringai jahil.
“Abaaanggg!” Seru Andrea yang mulai meronta.
“Non – stop nih?” Goda Varen.
“Abang ih mesum banget sekarang!”
“Nah ini goyang – goyang lagi?”
“Iihh.. Abaangggg .. please deh, pesta kita belum selesai kaann.. Nanti kan habis pesta bisa..”
Varen mendengus sebal. Iya memang benar sih, pesta resepsi mereka belum berakhir.
Dengan berat hati si Abang mengeluarkan Little Dragon dari gua yang hangat dan nyaman itu. Lalu mandi beneran dan bersiap berpakaian lagi untuk kembali ke pesta dengan pakaian yang semi formal, tak lagi menggunakan jas dan gaun pengantin.
Namun tetap terlihat mempesona dengan setelan kemeja berikut celana bahan dan pantofel yang dipakai Varen, serta gaun elegan berikut stiletto yang dikenakan Andrea. Setelah para MUA dan kru wardrobe mendandani lagi keduanya setelah menunggu satu jam lebih akibat selingan berkeringat yang dilakukan sepasang pengantin muda itu.
Biarlah, horang kayah mah bebas. Pelanggan adalah raja. Yang penting gede duit ekstra. – Pikiran para pendukung acara. Daripada protes, yang ada karir dan masa depan musnah sudah. Baiknya?. Pasrah ..
**
Andrea dan Varen sudah kembali ke Ballroom yang kini sudah disulap bak sebuah klub. Acara yang dikhususkan untuk para kawula muda seperti pasangan pengantin itu.
“Mika!”
Varen memanggil adiknya itu sembari memberi tatapan tajam padanya.
“Kenapa masih disini?! Kembali ke kamar! Belum cukup umur untuk bergabung disini!”
“Iya Abang, ini aku juga sudah mau kembali ke kamar ...” Sahut Mika pada sang Abang yang kemudian menatap sinis pada pemuda yang tadi seperti sedang mengobrol dengan Mika.
“Ha! Kan gue bilang bocil masuk kamar cepet – cepet. Cuci kaki, bobo! Jangan lupa minum susu biar cepet gede!”
“Diem lo sadboy!”
“Sembarangan lo!”
“Sadboy?” Varen menatap Mika.
“Nih kan, Bang. Dia tuh, sadboy. Tadi kan alay banget nyanyi lagu di panggung buat Kak Drea! Iyuuuhhh...” Sahut Mika.
__ADS_1
“Drea ...” Andrea menggelengkan kepalanya pada Mika. Merasa sikap Mika yang tak sopan pada Arya.
“Ya memang benar kan Kak, dia sadboy! Norak sekali! Mantan juga bukan! Segala nyanyi Harusnya Aku... Ih ngarep! Jauh sih kalau dibandingkan sama Abang gue nih, yang super ganteng! Sukses! Kaya jangan ditanya!”
Mika menunjukkan wajah sebalnya pada Arya dan Varen nampak terkekeh kecil.
“Udah sana masuk kamar, lo!” Seru Arya ketus pada Mika. Varen masih terkekeh dan Andrea hanya geleng – geleng saja.
“Siapa lo?! Sok – sok perintah adik gue?!” Varen mendelik pada Arya yang kemudian cengengesan.
“Nah iya, Marahi aja itu dia Bang! Usir kek!”
“Mika ...”
“Weee!!”
“Sudah sana kembali ke kamar”
“Iya Abang!” Mika mengangguk patuh dan menjulurkan lidahnya sekali lagi pada Arya.
“Sukur!”
“Diam lo!”
“Abang...”
“Apa tadi kamu bilang dia? Sadboy ya?”
“Iya sadboy! Sadboy yang menyedihkan”
“Hahahaha”
Varen tergelak.
“Besok Abang beri bonus uang jajan kalau begitu buat kamu! Sadboy... benar juga” Ucap Varen pada Mika seraya menggumam sambil cengengesan.
“Yeeee asiikkk”
“Sudah, kembali kekamar kamu sana ...”
“Okay Abang! Jangan lupa besok ya, transfer aja transfer nanti malam, okay?!”
“Hemm”
“Nite nite Abang... Kak Drea...”
“Hush! Hush!”
“Dan lo, ngapain masih disini?!”
“Abaangg...”
“Iyaaa gue juga sudah mau pamit balik! ...”
“Tak perlu pamit! Ga penting!” Ucap Varen ketus.
“Abang ih”
“Cemburu sama gue?”
“Heh?! Kurang kerjaan cemburu sama sadboy!”
“Heleh” Sahut Arya. “Drea...”
“Gue belum memberikan ucapan Selamaaat!”
“Bicara saja tak usah salaman segala!”
“Ck!” Arya berdecak.
“Selamat ya Drea, atas pernikahannya. Semoga kamu bahagia”
“Sudah pasti dia akan bahagia!” Timpal Varen cepat.
“Salaman biar afdol!”
“Gue bilang ga perlu!”
“Abang ih! Ga Drea kasih Nananina sama Nunu Nana nanti nih ya?! ...”
“Ck!”
‘Nananina, Nunu Nana?’ Batin Arya.
“Makasih ya Kak Arya. Semoga Kak Arya juga segera mendapat tambatan hati yang bisa buat Kak Arya bahagia”
“Makasih ya Drea”
“Sudah sana!”
“Iya iya!... Yah selamat juga deh buat lo Bang!” Arya mengulurkan tangannya pada Varen.
“Hem!...” Meski nampak malas, Varen menyambut uluran tangan Arya yang tersenyum padanya.
“Semoga kalian bahagia” Ucap Arya tulus pada Andrea dan Varen.
“Sudah gue bilang kami pasti bahagia!”
Varen menatap sebal pada Arya yang cengengesan. “Iya okelah, gue percaya lo bisa bahagiakan Andrea. Yuk gue pamit ya!” Pamit Arya.
“Beneran Kak Arya mau balik?. Ga gabung disini dulu?. Itu Kak Sony masih disini, ada teman – teman seangkatan Kak Arya juga deh kalau ga salah anak – anaknya teman – teman The Dads” Ucap Andrea. “Tuh”
“Gue mau balik ke Stanford, Ya. Pesawat gue pagi soalnya”
“Oooh...”
“Yuk ah!”
“Ya sudah, hati – hati Kak!”
Arya mengangguk sambil tersenyum lalu mulai berjalan menjauh dari Andrea dan Varen yang kemudian hendak menyambangi tamu – tamu yang lain.
“Eh iya Drea!...”
“Iya Kak?” Tanya Andrea seraya menoleh karena Arya memanggilnya. Varen juga ikut menoleh.
“Kalau ga bahagia telpon gue”
“Wah! Benar - benar cari mati!”
“Abang, sudah ah!”
__ADS_1
“Hahaha”
***
Sret!
Varen mengetatkan rangkulannya di pinggang Andrea saat pesta sudah hampir usai, tamu – tamu dari pihak Andrea dan Varen juga sudah banyak yang berpamitan, termasuk teman – teman Varen yang datang dari Massachussets yang sudah pamit untuk kembali ke kamar mereka yang disediakan oleh Varen di Hotel yang sama dengannya.
“Apa?”
“Nananina”
Andrea terkekeh geli sambil melengoskan wajah Varen yang sok polos sambil menatapnya itu. “Dulu aja sok – sok menahan! Sekarang ketagihan!”
“Enak! Wajar ketagihan”
Andrea spontan tergelak.
“Lagipula siapa yang sering menggoda duluan, hem? Yang mengajak untuk berkenalan dengan Nunu dan Nana siapa?”
Andrea terkekeh lagi.
“Sudah ayo! Jangan banyak basa – basi. Kamu juga sudah janji, janji harus ditepati!”
“Sabar sih! Tamu saja belum pulang semua”
“Masa bodoh! Nananina lebih penting!”
“Hahaha!!!”
Andrea tergelak lagi
‘Abang, Abang ... gaya aja sok cool, depan orang – orang. Taunya mah mesum banget ternyata’
"Ayo!"
"Nanti ah!"
***
Andrea hanya bisa pasrah saat Varen mengangkat dirinya dan meletakkan tubuhnya diatas pundak si Abang, karena menolak untuk meninggalkan pesta sebelum tamu – tamu mereka pulang semua. “Ya sudah, turunkan dong ah!”
“Tanggung sebentar lagi sampai kamar!” Sahut Varen, kala dia dan Andrea sudah berada di dalam lift yang memiliki akses khusus langsung ke suite mewah mereka.
“Abang ih!” Andrea mencebik. “Mesum dasar!”
***
“Bilang apa tadi, hemmmm?... Abang mesum? ...”
“Me ... memang iya...” Ucap Andrea tergagap saat tubuhnya sudah dibaringkan diatas kasur dan Varen sudah mengukungnya.
“Buka” Ucap Varen seraya memberikan perintah dengan menatap intens dan menyunggingkan tipis seringainya.
“Drea lelah Abaaangg...”
“Banyak bicara”
Varen tak mau menunggu sepertinya.
Bibir merah muda bak semangka itu sudah dalam kuasanya, dan sang pemilik sudah terbuai juga nampaknya, karena kedua tangannya sudah melingkar dileher Varen serta kakinya sudah melingkar juga di pinggang si Abang.
“Mengatai Abang mesum, ini sendirinya?” Varen mengkode pada Andrea yang sudah melingkarkan tangan dan kakinya dileher dan pinggang si Abang.
“Abang jual Drea boronglah!”
“Wah, tanda – tanda mau dibuat ga bisa bangun besok!”
“Lanjutkan!”
***
Suara ******* dan nafas yang memburu telah memenuhi kamar Andrea dan Varen dalam suite mereka. Dua insan
yang baru saja melangsungkan resepsinya itu kini sudah tenggelam dalam nikmatnya surga dunia. Tangan mereka sudah menggapai apa yang bisa mereka gapai ditubuh masing masing saat hentakan tiap hentakan seolah mengguncang ranjang dibawah Andrea dan Varen.
“Abaaaang ...” Andrea terdengar merengek dalam sengalannya.
“Apaa? ...” Varen sedang menggodanya.
“Kok berhenti sih?”
Andrea berkata malu – malu, namun wajahnya begitu mendamba karena Varen belum menuntaskan permainan mereka.
“Nanti Abang dibilang mesum lagi” Ucap Varen yang sengaja menjeda permainannya demi menggoda Andrea, namun tangannya bergerak perlahan mengelus paha Andrea yang orangnya nampak gelisah tak karuan.
“Abanggghh....”
“Apaa...”
“Terusiiiin...”
“Apa? Aku tidak dengar...”
Varen berbisik dan tangannya masih menggoda di kedua paha Andrea. Terasa menyenangkan bagi Varen melihat
Little Starnya merengek menginginkannya seperti ini. Wajah cantik yang mulai dihiasi peluh dikeningnya itu nampak semakin seksi dimata Varen. Tak tahan juga ingin meneruskan memang, namun rengekan seksi Andrea seperti seolah menjadi obat penambah gai**hnya.
“Terusiinnnhh...” Andrea menggigit bibir bawahnya sembari mengelus elus perut sixpack si Abang. “Jangan mempermainkan Drea, ih ...” Mohon nya.
“Apanya yang diterusin?” Varen masih menggoda Andrea.
“Abaanngghh...”
“Ini ...?” Varen mendorong perlahan yang membuat Andrea mendongak sambil memejamkan mata, lalu mengangguk pelan.
“Abaangghh please...”
“Seperti ini-hhh...” Varen sudah bergerak lagi. Perlahan namun pasti dan tak berjeda. Varen juga tak lagi ingin berhenti kala Andrea kembali ikut menggerakkan pinggulnya secara naluri.
‘Awas aja kalau berhenti lagi! Gue perkosa pokoknya!’
Ah, si Juleha yang sudah merem melek membatin.
Ekspresi Andrea membuat Varen meningkatkan tempo permainannya.
“Abaangg – hhhh!” Andrea sedikit menjerit kala hentakan Varen seolah kian menggila dari biasanya.
“Maa – aaff – hhh... Se ... dikit ... lagi ....hhh....” Varen makin mempercepat gerakan pinggulnya, hingga sampai dititik seolah semua melayang dan rasanya tulang lepas dari badan. Pelepasan yang begitu dahsyat dari permainan yang tak singkat.
Hhhh ... jadi aus ...
__ADS_1
***
To be continue ...