
THREAT # Ancaman
Selamat membaca .....
Bandung, Jawa – Barat, Indonesia
“YOU DON’T DESERVE TO BE HAPPY!!! ( KAU TIDAK BERHAK BAHAGIA!!!!! ).”
Wajah Jeff nampak serius saat membaca tulisan diatas kertas putih didalam amplop coklat polos yang ia terima.
“What is this? ( Apa ini? ).” Jeff menggumam, lalu termangu sejenak. Lalu ia mengambil ponselnya dan memfoto kertas putih pembungkus dengan tulisan itu. Kemudian membuka merobek kertas putih yang bertuliskan kalimat seperti sebuah kalimat ancaman.
Jeff memicingkan matanya saat kertas putih tadi sudah ia robek.
“Apa – apaan?! ..” Jeff langsung berdiri sembari meraih ponselnya dan berjalan cepat keluar dari ruang kerja pribadinya di dalam gedung tempat ia berada sekarang.
**
Jakarta, Indonesia
“Dimana dia?.” Jeff sudah berada di rumah pribadinya dan Jihan.
“Nyonya Jihan ada didalam Tuan Jeff.”
Jeff mengangguk pada sekuriti yang berada di pos satpam dirumahnya dan Jihan.
Jeff pun langsung turun dari mobilnya saat supirnya sudah memberhentikan mobil dihalaman. “Nyonya Jihan ada
dimana?.”
Jeff bertanya pada salah seorang asisten rumah tangga yang menyambutnya setelah ia masuk. Asisten rumah tangganya itu sedikit terkejut karena Jeff yang ternyata pulang cepat, padahal menurut info sang Nyonya, suaminya itu akan pulang sangat malam hari ini.
“Nyonya Jihan ada dikamar Tuan.” Jawab asisten rumah tangga Jeff tersebut dengan sopan pada tuannya.
“Ya sudah.”
*****
“Mama Bear ..”
Jeff langsung memanggil Jihan saat ia sudah membuka pintu kamar mereka.
“Loh, kok sudah pulang sayang? Katanya kamu pulang larut malam ini?.” Tanya Jihan yang sedikit terkejut dengan kepulangan Jeff di hari yang hampir sore.
Ia segera menghampiri suaminya itu dan meraih tangan Jeff untuk salim.
“Ada apa, Papa Bear?. Kamu sakit?.” Jihan memeriksa kening Jeff.
“Aku ga apa – apa.” Sahut Jeff dengan tersenyum.
“Terus kamu kok pulang cepat begini?.” Tanya Jihan heran.
“Urusan aku sudah selesai ...”
“Mmm.. ya udah kalau begitu. Kamu udah makan?.” Tanya Jihan lagi.
“Belum. Tapi nanti saja. Nathan sama Ibu mana?.” Jeff balik bertanya.
“Nathan dan Ibu sedang melihat – lihat TK didekat sini.” Jawab Jihan dan Jeff manggut – manggut.
“Minta Liana dan Uni untuk merapihkan pakaian kita, Nathan dan Ibu.” Ucap Jeff.
“Loh, memang kita mau kemana?.”
“Untuk sementara waktu ini kita akan tinggal di Rumah Utama.”
“Ada apa Papa Bear?.” Jihan bertanya dengan raut wajah yang sedikit bingung. "Ada masalah apa?."
Jeff tersenyum tipis. “Tidak ada apa – apa.” Sahut Jeff.
“Jangan bohong, Papa Bear.”
Jeff menghela nafasnya. “Nantilah aku ceritakan saat kita sudah di Rumah Utama. Lebih baik sekarang kamu panggil Liana dan Uni untuk membantu kamu merapihkan pakaian yang mau dibawa. Tidak usah terlalu banyak, toh disana juga ada pakaian kita.”
“Ya udah, aku panggil Liana dan mba Uni dulu.”
Jeff mengangguk, lalu Jihan memanggil dua asisten rumah tangga mereka itu melalui interkom di kamarnya dan Jeff.
“Omar, temui saya di Rumah Utama satu jam lagi!.”
Jeff langsung menghubungi supir yang menemani Nathan dan Ibu mertuanya setelah ia menghubungi Omar. Agar
supir tersebut langsung mengantarkan Nathan dan Ibu Yuna ke Rumah Utama dengan segera.
__ADS_1
***
Rumah Utama Keluarga Adjieran Smith, Jakarta, Indonesia
“YOU DON’T DESERVE TO BE HAPPY!!! ( KAU TIDAK BERHAK BAHAGIA!!!!! ).”
Jeff menatap lagi gambar bertuliskan kalimat yang nampak seperti ancaman yang sempat ia abadikan sebelum ia merobek kertas putih tersebut dan melihat apa yang terbungkus oleh kertas tersebut.
“Apa kau sudah cara bekerja dengan baik, Omar?.” Jeff melempar beberapa lembar foto ke hadapan Omar berikut ponselnya yang langsung meraih foto – foto tersebut dan ponsel Jeff dari atas meja kerja.
“Maafkan saya, Tuan Jeff.” Ucap Omar.
“Bagaimana kau bisa tidak tahu jika ada seseorang yang diam – diam mengambil foto – foto istriku saat kalian di Mal kemarin?!.”
Wajah Jeff nampak sangat serius dan terlihat gusar sambil menatap tajam pada Omar.
“Sebaiknya kau segera cari tahu siapa orang yang berani – berani mengusikku ini.”
“Baik Tuan, akan segera saya lakukan.” Ucap Omar.
“Sekaligus kau cari tahu siapa orang yang mengantarkan foto – foto ini di kantorku yang berada di Bandung kemarin!.” Tambah Jeff. “Jika sampai terjadi sesuatu pada istriku, kau yang akan aku salahkan!.” Ancamnya pada Omar.
Omar mengangguk paham.
“Baik Tuan, saya akan langsung mencari tahu tentang semua yang Tuan sebutkan tadi.” Sahut Omar dengan sopan. “Sekali lagi saya mohon maaf atas kelalaian saya Tuan.”
“Pergilah! Dan saya ingin semua informasi tersebut saya dapatkan hari ini juga!.”
“Baik Tuan.” Sahut Omar yang kemudian menundukkan sedikit kepalanya lalu bergegas pergi untuk melakukan tugas yang diberikan oleh Jeff padanya. Jeff masih berada di ruang kerja setelah Omar meninggalkan ruangan tersebut. Dagunya ia topang kan diatas kedua tangannya yang berada diatas meja kerja.
“Siapa yang berani – berani mengancam gue?.” Otak Jeff sedang berpikir keras.
***
“Kak, tumben tiba – tiba dateng kesini ga bilang – bilang. Sama Ibu juga.” Tanya Prita saat keduanya sedang membuat kue di dapur Rumah Utama.
“Aku juga kurang tahu, Prita. Mendadak juga saat kakak kamu itu tau – tau pulang dari Bandung kayak buru – buru pas sampe, terus nyuruh aku merapihkan pakaian kami semua untuk nginep disini.”
Prita manggut – manggut. “Apa ada masalah ya, Kak?.”
Jihan mengendikkan bahunya.
“Tadi di rumah Jeff bilang nanti aja dia akan cerita pas sampe disini. Pas aku mau nanya Omar keburu dateng.”
“Tapi kalau ada masalah, masalah apa ya Kak?. Soalnya Kak John juga ga ada cerita. Biasa aja sikapnya juga.” Ucap Prita sembari membuat adonan.
“Minta tolong bi Cici atau siapa gitu yang ambilin Kak, daripada Kak Jihan bolak – balik.” Ucap Jihan.
“Ga apa – apa, sekalian aku mau cek Jeff dulu di ruang kerjanya. Sekalian aku mau tanya ada apa. Penasaran juga aku, sebenarnya ada apa. Sekaligus ada yang mau aku tanyakan.”
Prita mengangkat jempolnya lalu kembali mengaduk adonan kue yang sedang ia buat.
***
Tring
Sebuah nada notifikasi pesan masuk ke ponsel Jihan yang sudah ia pegang saat ini. Jihan langsung memeriksa pesan tersebut.
‘Pesan seperti ini lagi.’
Jihan menatap pada layar ponselnya lalu mencoba menghubungi nomor yang barusan mengirimkan pesan padanya itu.
Tidak tersambung.
Jihan mencoba menghubungi kembali nomor tadi.
Namun lagi – lagi tak tersambung.
Jihan menghela nafasnya, mencoba menenangkan dirinya yang sedikit gusar. Menarik nafas lalu menghembuskannya pelan. Kemudian berjalan untuk keluar dari kamarnya.
Nada notifikasi pesan terdengar lagi di ponsel Jihan saat ia seudah keluar kamar dan hendak menyambangi Jeff di ruang kerja utama. ‘Ya Allah, mudahan jangan pesan ancaman itu lagi.’ Batin Jihan yang ragu – ragu untuk melihat ponselnya.
Jihan ragu namun penasaran dan pada akhirnya ia kembali membuka pesan dari nomor yang tak dikenal lagi.
‘Nomornya beda lagi.’ Batin Jihan. ‘Pesan yang sama lagi.’
Jihan sontak memegang dadanya, saat ada pesan kedua dari nomor yang sama masuk ke ponselnya.
Pesan yang barusan Jihan terima membuatnya sedikit gemetar dan takut.
***
“Dad.” Jihan sudah bersama Jeff didalam kamar mereka di Rumah Utama.
__ADS_1
“Ya, Mama Bear?..”
“Bisa jelaskan sekarang kenapa kamu tiba – tiba langsung membawa aku, Nathan dan Ibu kesini?.” Tanya Jihan. “Lalu tadi aku lihat Omar sedikit tergesa saat datang. Ada masalah apa?.”
Jeff tersenyum tipis. Ia sedikit merapihkan anak rambut Jihan.
“Hanya ada sedikit masalah soal pekerjaan. Takutnya aku terlalu sibuk dan kamu serta Nathan terabaikan. Jadi aku rasa sampai masalahku selesai kalian ada baiknya disini. Ada Prita disini, Michelle juga akan segera kembali dari London.”
‘Apa pesan ancaman yang dikirim ke gue berhubungan dengan masalah pekerjaannya juga?.’ Batin Jihan. ‘Apa gue kasih tahu aja semua pesan ancaman yang gue terima sejak dua hari lalu?. Tapi nanti Jeff malah lebih kepikiran.’
Jihan sedang menimbang – nimbang dalam hatinya. “Hey.”
“Ah, eh ..” Cubitan kecil di hidungnya menyadarkan Jihan dari lamunannya. ‘Gue kasih tau aja deh mendingan. Daripada gue juga stress. Kasihan bayi kami nanti.’
“Kok bengong?.”
“Ah engga itu.”
“Istirahatlah, besok jadwal cek up kamu dan bayi kita kan?.”
Jihan mengangguk. “Iya.”
“Ya sudah kamu istirahat, ada sesuatu yang mau aku kerjakan sebentar nanti aku segera kembali.”
“Papa Bear..”
Tok ... Tok ... Tok ...
Ketukan dipintu kamar Jeff dan Jihan membuat Jihan tak jadi melanjutkan kalimatnya.
“Jeff ..”
“Ya! ..” Jeff segera menyahut karena suara John yang terdengar memanggilnya dari luar pintu. “Kamu mau bicara apa tadi, hem?.”
“Nanti aja. Itu kamu temui kak John dulu, siapa tahu ada yang penting.”
Jeff tersenyum dan menggangguk pada Jihan. “Ya sudah, kamu istirahat ya?.” Ucap Jeff lalu mencium pucuk kepala Jihan dan membantu istrinya itu untuk berbaring. Setelahnya Jeff langsung keluar dari kamar untuk menemui John.
***
“John!.” Ucap Jeff yang melihat John sedang berdiri dikamarnya.
“I heard from Omar ( Gue sudah dengar dari Omar ). Prita tadi bilang lihat Omar datang dengan tergesa, jadi gue langsung menghubungi dia. Gue juga sudah lihat beberapa foto Jihan yang yang dikirimkan ke elo saat gue ke ruang kerja utama tadi.” Ucap John. “Gue juga penasaran dengan orang yang mengancam lo itu.”
“Apalagi gue!. Dia menggunakan Jihan untuk mengancam gue, dan itu benar – benar menaikkan emosi gue!.” Jeff berkata dengan gusar. “Seharusnya Omar sudah memberikan laporan saat ini!. Kemana itu orang?!.”
“Tuan Jeff.” Seorang asisten rumah tangga menghampiri Jeff dan John yang sedang duduk di ruang santai lantai
dua.
“Ya?.”
“Ada Omar, Tuan.”
“Suruh dia segera kesini.”
***
“Saya sudah menemukan orang yang mengantar foto – foto Nyonya Jihan yang diambil secara sembunyi – sembunyi itu Tuan.” Omar mulai melapor pada Jeff dihadapan John yang juga sedang berada didekat mereka.
Omar menyerahkan amplop coklat ke tangan Jeff yang kemudian langsung dibuka oleh Jeff dengan tak sabar.
“Namun saya sudah menyelidiki, kalau ia hanya disuruh untuk mengantar foto – foto itu ke kantor anda yang di Bandung tadi, tanpa tahu isinya. Kami juga sudah menekannya dan ia tetap mengatakan hal yang sama. Itu semua data orang yang mengantarkan kan foto – foto itu.”
Jeff membaca dengan seksama berkas di dalam amplop.
“Tapi dari hasil penyelidikan saya, orang itu hanya dipilih secara tidak sengaja untuk mengantarkan foto –foto itu dengan imbalan uang.” Lanjut Omar. “Pria pengantar paket itu memang sama sekali tidak ada hubungannya dengan ancaman yang Tuan terima.”
"Lalu orang yang mengambil foto - foto Jihan kemarin?."
"Saya tidak menemukannya Tuan. Saya sudah mengecek kembali setiap perkiraan sudut dimana orang itu mengambil foto Nyonya Jihan namun tidak ada kamera cctv didekat sana. Saya juga sudah mengecek kamera dari setiap toko yang sudah disambangi Nyonya Jihan dan Nyonya Prita, namun tidak ada yang mencurigakan Tuan."
“Hanya itu informasi yang kau dapat?.”
“Satu lagi, Tuan. Tapi saya rasa ini ada hubungannya dengan ancaman yang sampai pada Tuan.”
“Apa?.”
“Cakra Isamu sudah kembali ke Indonesia saat ini.”
“Cakra .. siapa?.”
“Cakra Isamu, Tuan. Pria yang waktu itu meminta Tuan untuk menikahi anaknya, karena putrinya itu tergila – gila pada Tuan, lalu kemudian putrinya itu bunuh diri dengan meloncat dari apartemennya karena Tuan menolaknya mentah – mentah dan pria itu menuduh Tuan telah mencemari putrinya hingga putrinya itu bunuh diri.”
__ADS_1
***
To be continue......