
Noted:
Nih biar agak lamaan baca, satu episode aje emak up tapi jumlahnya lebih dari tiga ribu tujuh ratus kata.
Semoga seneng dan terhibur
Loph Loph
*************
THE PSYCHO SIDE
( Sisi Psikopat )
PART 2
*************
Selamat membaca .....
“Aku titip Little Star”
“Abang!”
Varen melepaskan perlahan cekalan tangan Momma di lengannya lalu melanjutkan langkahnya.
Meninggalkan Momma dan Mommy Ara yang memandanginya dengan memelas, namun memang tak kuasa menahan si Abang yang sama persis dengan para Daddynya jika emosi sudah menaunginya terlebih soal Andrea.
Rendy dan Nathan mengekori si Abang dengan mengimbangi langkah cepat Abang dibelakangnya.
***
Kediaman Utama Keluarga Adjieran Smith, Jakarta, Indonesia
Poppa yang turun tergesa dari lantai dua dengan diikuti Daddy R menarik perhatian beberapa dari anggota keluarga yang sudah berada di lantai bawah untuk sarapan. Dua orang itu kemudian menyempatkan untuk menyapa mereka yang keduanya temui di lantai bawah. “Poppa mau kemana?”
“Poppa dan Dad R akan ke Rumah Sakit”
“Kak Drea baik – baik kan Pop?!”
“She’s woke up since last night. ( Dia sudah sadar sejak semalam )”
Poppa menjawab pertanyaan dari Rery dan Mika bergantian. “Itu aku sudah tahu, Gappa baru saja cerita kalau Kak Drea sudah siuman semalam”
“Dad, masih disana saat Drea siuman?” Tanya Daddy R dan Gappa mengangguk.
“But her condition still not stabil. ( Tetapi kondisinya masih tidak stabil )”
Poppa dan Daddy R manggut – manggut.
“Gappa said, Kak Drea teriak – teriak jadi diberi obat penenang lagi”
“Benar begitu Dad?”
“Yes”
“How bad, Dad?. ( Separah apa, Dad? )”
Poppa bertanya.
“Quite bad. ( Lumayan buruk ). Little Star histeris terus menerus jadi Alan harus menyuntikkan penenang padanya”
Gappa berucap lirih, sembari mengatakan kembali segala hal yang Dokter Alan jelaskan padanya saat di ruang
rawat Andrea di Rumah Sakit.
“Hh ... kenapa Fania baru menghubungiku pagi ini. Aku pun ketiduran. Tapi jika dia menelponku pasti aku akan langsung terbangun”
“Fania and Ara know that both of you, two J and Dewa was so tired. ( Fania dan Ara tahu kalau kalian berdua, dua J dan Dewa sangat lelah ). Mereka tidak ingin mengganggu istirahat kalian”
“Ya sudah, kalau begitu kami pamit dulu ke Rumah Sakit” Pamit Poppa pada mereka yang berada didekat dirinya
dan Daddy R.
“Kalian sarapan dulu” Ucap Gamma.
“Kami buru – buru Mom” Sahut Daddy R.
“Your Mom was right. You both better take your breakfast before leave. ( Mom kalian benar. Kalian sarapan dulu sebelum pergi ). Kalian akan menghabiskan banyak energy hari ini bukan?”
“Iyalah kalian makan dulu. Sekalian menunggu maid menyiapkan makanan untuk mereka yang menunggu Little
Star. Mereka pasti tidak sempat makan” Ucap Daddy Dewa. Poppa dan Daddy R langsung mengangguk.
“Aku ikut Poppa dan Dad R ke Rumah Sakit sekarang ya?”
“No. Nanti saja” Jawab Poppa pada Rery.
“Poppa benar, kamu nanti saja pergi ke Rumah Sakitnya bersama kami Rery”
“Aku rasa juga sebaiknya nanti saja kalian datang ke Rumah Sakit jika Drea sudah stabil”
“R was right.( R benar ). Mengingat kondisi Drea sekarang berdasarkan apa yang Dad katakan, sebaiknya jangan banyak orang yang datang saat ini. Jika pun mau, kalian datang bergantian saja”
“Tunggu kabar dari kami”
“Aku mau ikut Poppa dan Dad R sekarang”
Rery memaksa untuk ikut.
“Patuhlah Rery”
“Aku sudah patuh selama ini. Tapi sekarang tidak mau”
“Rery!” Poppa mendelik.
“Tidak! Kakakku sedang sakit, dan Momma sudah berada di Hospital semalaman. Aku tetap mau pergi sekalipun kalian melarangku”
“Hish! Bocah tengik nomor tiga ini .. kenapa kau begitu keras kepala, hem?”
“Karena aku putra Poppa”
“Wah, wah! sudah berani menjawabku, hem?”
Poppa mendelik lagi pada anak keduanya dan Fania itu.
Rery mengendikkan bahunya. “Pokoknya aku akan tetap pergi sekarang ke Rumah Sakit. Kalau Poppa dan Dad R
tetap tidak mau membawaku, aku akan pergi dengan supir”
“Hish!”
Poppa mendengus sebal.
“Bagaimana?”
“Ya sudah! Terserah kau lah bocah tengik!” Ucap Poppa sebal. “Cepat habiskan sarapanmu jika ingin ikut denganku dan Dad R sekarang” Titah Poppa pada Rery.
Rery mengangkat jempolnya pada sang Poppa yang geleng – geleng pada anak keduanya yang sama keras kepalanya dengan dirinya. Sementara yang lain mesam – mesem saja.
‘Nanti jika ku larang dengan keras, dia pasti mengadu yang bukan – bukan pada Mommanya tentangku. Haish!!!’
***
Rumah Sakit
Varen sudah mencapai lobi Rumah Sakit tempat Andrea dirawat, Rendy dan Nathan mengikuti langkahnya.
“Berikan padaku kunci mobil!” Tepat saat Varen sampai di lobi Rumah Sakit, Ammar juga baru saja sampai.
“Aku antar Tuan”
Nathan mendekat pada Abang bersama Rendy.
“Lo mau kemana Bang?!” Tanya Nathan sedikit gusar, namun ragu dan takut – takut juga karena aura Abang nampak sedikit menyeramkan.
Namun pertanyaan Nathan, Varen abaikan.
“Kunci mobil Amar!”
“Aku yang akan mengantarmu Tuan”
“Tidak perlu! Berikan saja kunci mobilmu”
“Va! Tenangin diri lo” Rendy ikut bersuara.
“KUNCI MOBILMU AMAR!” Suara Varen malah meninggi. Tak memperdulikan soal dirinya berada sekarang, hingga
membuat semua mata yang mendengar teriakannya Varen itu seketika menoleh, namun begitu tidak ada yang berani mendekat.
Melihat ada beberapa orang berbadan tegap yang berdiri dengan sigap tak jauh dari pria yang barusan bersuara keras itu
“Va ..”
Nathan mengkode mata dengan Rendy, mengisyaratkan agar lebih baik menutup mulut saat ini.
“KAU TULI AMAR?!”
“Iya Tuan. Saya tuli. Jadi saya akan mengantar kemanapun Tuan ingin pergi”
“HISH!”
Varen mendengus kesal pada Ammar.
“BERGERAK!”
“Baik Tuan!”
Dengan sigap Amar berlari menuju mobilnya namun ternyata Varen bukan menunggu di lobi tetapi mengikuti langkahnya. Tuan Mudanya itu begitu tak sabar.
Amar sudah paham betul dengan Tuan Mudanya ini. Wajah tak biasa yang Amar tangkap penuh amarah itu, adalah tanda jika sang Tuan Muda dalam mode seolah akan memakan orang.
Dan pasti, Dengan wajah Tuan Mudanya yang seperti ini semua berkenaan dengan sang Nyonya Muda yang sempat dalam bahaya. Entah hal buruk apa yang sudah menimpa Nyonya Mudanya saat ini hingga sang Tuan se-geram itu sekarang.
Nathan tetap mengikuti, Rendy pun sama.
Keduanya tersentak kaget saat Varen menghentikan langkahnya dengan tiba – tiba lalu berbalik menghadap pada Nathan dan Rendy.
“Kalian berdua tidak perlu ikut!”
“Gue tetep mau ikut!” Nathan menyahut cepat.
Varen menatap adiknya itu sebentar, kemudian menatap Rendy yang mengangguk pelan.
“Terserah!”
Varen kembali berbalik dan berjalan cepat menuju mobil Amar yang sudah diposisikan oleh orang kepercayaannya itu agar sang Tuan Muda bisa langsung masuk.
Varen masuk dengan cepat, menutup pintu mobil dengan sangat keras. Sudah cukup untuk Amar mengetahui
suasana hati Tuan Mudanya saat ini.
Amar langsung melajukan mobil setelah Nathan dan Rendy ikut masuk kedalamnya. Nathan ingin mendampingi
sang Abang yang nampak kacau karena amarahnya atas kondisi Drea.
Nathan memahaminya. Toh ia pun juga geram pada orang – orang yang sudah menculik Via dan Drea dan berniat
menjual dua orang yang ia sayangi dengan sangat itu. Yang satu istri tercinta, satunya adik yang meskipun sering menyebalkan namun Nathan sayangi dengan sangat.
Sementara Rendy, berpikir untuk mendampingi sahabatnya itu saat ini. Toh Alvarend juga sudah banyak membantunya dan mendukungnya selama ini.
Jadi gilirannya mendampingi Alvarend disaat kekacauan sedang melanda diri sahabatnya saat ini, dimana selama
Rendy mengenal Varen, sahabatnya itu tidak pernah terlihat se-kacau sekarang.
Ada tanda tanya di kepala Nathan dan Rendy mengingat kata – kata Varen pada Momma dan Mommy Ara di dalam
Rumah Sakit tadi. Namun apa yang akan Varen lakukan masih nampak abu – abu bagi keduanya.
Varen bilang ingin membuat mereka semua yang memiliki sangkut paut dengan kondisi Andrea membayar
__ADS_1
semuanya. Namun bayaran seperti apa, Nathan dan Rendy tak bisa menebaknya.
‘Entah apa yang ada di otak Abang sekarang. Tapi feeling gue bilang. Abang ga hanya akan sekedar memberi
pelajaran’
**
“Diantara ketiga orang itu, mana yang paling berpengaruh?” Varen melemparkan pertanyaan, namun wajahnya
tidak menghadap siapa – siapa melainkan Varen memandangi jalanan dari balik jendela mobil. “Diantara mereka, siapa yang paling berkuasa dalam bisnis terkutuk itu di negara ini?”
“Pria yang ditangani Tuan Reno, Tuan”
“Dimana dia?”
“Sarang Anaconda Tuan”
‘Sarang Anaconda?’
Nathan dan Rendy sama – sama bingung, namun tak ada keinginan untuk bertanya.
Untuk saat ini ikuti saja apa, bagaimana dan kemana kemauan Varen.
“Apa dia masih hidup?”
“Masih Tuan”
“Bawa aku kesana” Ujar Varen datar dan Amar pun menyahut sigap untuk mengiyakan. Dengan kondisi sang Tuan
Mudanya yang seperti ini, hanya ada satu peraturan saja,
Tidak boleh membantah.
Terlebih geram sang Tuan Muda, begitu kuat pancarannya. Dan baru ini Amar melihat amarah luar biasa di wajah dan mata sang Tuan Muda Alvarend meski saat ini orangnya kembali diam dan menatap jalanan.
“Apa yang sudah Dad lakukan padanya?”
Varen kembali bertanya, masih tidak menoleh pada Amar yang diajaknya bicara.
“Sementara ini baru menjatuhkan semua asetnya, orang itu kini tidak punya apa – apa. Beberapa anggota keluarganya juga sudah diamankan oleh anak buah Tuan Lingga sesuai perintah Tuan Andrew. Tetapi hanya
mereka yang tinggal bersamanya disini.”
Nathan dan Rendy masih tak bersuara saat ini.
“Siapa saja?”
“Istri dan dua cucunya yang masih bersekolah Tuan. Putra dan menantunya serta dua cucunya yang lain tinggal
di Malay”
“Dimana istri dan kedua cucunya itu?”
“Di sarang juga Tuan”
Kemudian Varen diam.
‘Kenapa Abang bertanya begitu?. Apa Abang mau menghabisi mereka?’
Nathan membatin gusar.
“Lo.. mau apa Bang?..”
Nathan memberanikan diri untuk bertanya.
Namun Varen lagi - lagi tak menjawab Nathan.
Tak sepatah kata pun yang keluar dari mulut Varen.
“Ba- ...” Nathan hendak bertanya kembali, karena pertanyaannya barusan tak mendapat jawaban dari Varen.
“Ehem ....”
Tapi deheman Amar membuat Nathan teralih dan spontan ia melirik spion tengah, dimana Amar juga sedang
melihat ke titik yang sama dan Amar menggeleng pelan.
Dan karena itu, Nathan pun mengurungkan niatnya untuk kembali bertanya dan ia juga kembali diam.
“Berikan aku ponselmu”
Varen menadahkan tangannya pada Ammar. Dan dengan cepat Ammar mengeluarkan ponsel miliknya dari saku
jaketnya, lalu langsung memberikannya pada Varen. Varen menempelkan ponsel di telinganya setelah ia menekan satu nomor kontak di ponsel Ammar.
“Baca pesan yang kukirimkan. Kau bawa semua itu ke sarang. Jangan membuatku menunggu lama, karena aku sudah dalam perjalanan”
Lalu Varen memutuskan panggilan dan melempar sembarang ponsel Ammar ke atas dashboard mobil.
**
Mobil yang dikemudikan Amar sampai ke sebuah tempat yang merupakan bangunan yang nampak usang dan letaknya cukup tersembunyi.
Kepala Nathan dan Rendy masih penuh tanda tanya tentang bangunan yang berada didepan mobil mereka dan
Amar berhenti didepan gerbang bangunan tersebut. Dan dibukakan kemudian oleh dua orang, setelah Amar membunyikan klakson yang terdengar seperti sebuah kode.
**
“Alva?!” Seorang pria berbadan tegap nampak sedikit terkejut melihat kedatangan Varen ke tempatnya itu.
Sementara Nathan dan Rendy sedang memandangi sekeliling tempat mereka berada sekarang, dimana suasana di
dalam gedung tua itu sungguh kontras dengan keadaan gedung yang nampak sangat tidak terawat dari luar, bahkan terkesan angker.
Varen menyambangi dan memeluk pria yang adalah Lingga, salah satu teman sang Daddy.
“Aku pikir Dad mu yang datang” Ucap Lingga.
“Apa kabar Uncle?” Sapa Varen dengan tersenyum tipis.
“Buruk!”
“Aku turut prihatin atas apa yang menimpa Drea”
Uncle Lingga menepuk – nepuk pundak Varen, lalu beralih pada Nathan dan Rendy.
Uncle Lingga mengenali Nathan dan Rendy. Tapi dua orang itu tidak mengenal Uncle Lingga sebelumnya.
“Tidak perlu bingung begitu. Kau putra si mantan Casanova gila itu. Kau putra sepasang Dokter hebat yang aku
kagumi”
Uncle Lingga menunjuk pada Nathan dan Rendy sembari tersenyum, dan Nathan serta Rendy membalas dengan
senyuman dan anggukan hormat pada Uncle Lingga setelah berjabat.
“Aku tahu siapa – siapa saja dalam lingkup keluarga Adjieran Smith dan kerabat dekat mereka”
Nathan dan Rendy manggut – manggut saja.
“Aku juga bagian dari kerabat kalian. Hanya saja pekerjaanku terlalu banyak, jadi kita baru bisa bertemu ya Jo?”
Uncle Lingga berbicara pada Nathan. “Iya Uncle, senang bisa berkenalan” Uncle Lingga membalas dengan anggukan ucapan Nathan.
“Aku tidak mendapat pemberitahuan kalau kamu akan datang Alva...” Ucap Uncle Lingga yang kembali berbicara pada Varen. “Dad mu tidak memberitahuku tentang kedatanganmu sekarang ini”
Varen tersenyum miring.
“Ini urusanku Uncle” Jawab Varen dengan wajahnya yang kini serius.
Uncle Lingga membaca raut wajah Varen.
“Kau ingin bertemu dengannya?”
“Ya”
**
“Apa Uncle menempatkan dia bersama keluarganya?”
“Ya. Sesuai perkataan Dad mu”
Varen mengangguk tipis lalu mengikuti langkah Uncle Lingga yang membawanya untuk menemui orang yang Varen
maksud.
‘Aku rasa anak naga ini datang melihat si Danang bukan hanya sekedar bertemu’
Uncle Lingga membatin sembari memperhatikan Varen dengan ekor matanya.
Anak dari kenalan baiknya itu sekilas nampak tenang, namun Uncle Lingga yang mata dan instingnya tajam itu menangkap aura kemarahan di wajah Alvarend saat ini.
“Kau membawa senjataku Amar?” Varen berucap pada Amar yang berjalan mengekori di belakang Nathan dan Rendy bersama dua anak buah Uncle Lingga.
‘Sudah aku duga’
Uncle Lingga membatin lagi. Hal yang sama juga dikatakan Nathan dalam hatinya.
“Ya Tuan” Amar menyahut sigap pada sang Tuan Muda sembari menghampirinya dengan segera.
“Berikan”
“Ini”
Amar serahkan sebuah senjata api pada Varen, membuat Rendy khawatir.
Hingga Rendy memberanikan diri untuk berbicara pada sahabatnya itu.
“Gue paham kemarahan lo saat ini Va, tapi gue harap lo sudah memikirkan baik – baik apa yang akan lo lakukan”
Namun Varen mengabaikannya lalu langsung masuk ke sebuah ruangan setelah anak buah Uncle Lingga membukakan pintu ruangan tersebut.
“Saranku, sebaiknya anda diam saja Tuan Rendy. Apa yang sudah ada di kepala Tuan Alva, tak ada siapapun yang bisa mengubahnya”
Ammar berbisik pada Rendy, kala sang Tuan Muda sudah mengayunkan kakinya untuk masuk pada ruangan di
hadapan mereka.
“Lebih baik anda tunggu disini saja, jangan masuk. Karena saat anda masuk, anda harus melihat apa yang mungkin tak pernah anda bayangkan sebelumnya, Tuan Rendy”
“Am!”
Seseorang menginterupsi sebelum Rendy menyahut pada orang kepercayaan Varen itu.
Ammar langsung menoleh pada orang yang memanggilnya. Rendy pun sama.
Namun kemudian dia melirik lagi ke arah ruangan karena mendengar suara teriakan kemarahan dan juga tangisan.
“Ayo masuk”
Amar berbicara pada orang yang menginterupsinya dan Rendy barusan.
“Saya duluan Tuan Rendy”
Ammar mengayunkan langkahnya menyusul dua Tuan Mudanya yang sudah memasuki ruangan yang ada di hadapan, di ikuti oleh seseorang yang baru muncul barusan.
“Jika anda ingin pergi, anda bisa mengatakan padanya dan dia akan mengantar anda”
Ammar menunjuk satu orang di dekat mereka, sebelum ia lanjut berjalan untuk masuk ke dalam ruangan menyusul
sang Tuan Muda.
****
Rendy menarik nafas dalam – dalam lalu menghembuskannya, kemudian dia mengayunkan kakinya untuk ikut masuk ke dalam ruangan yang sudah di masuki Varen dan Nathan.
Rendy ragu sebenarnya, tapi rasa penasarannya tidak dapat ia bendung. Terlebih lagi ia mendengar teriakan
seperti orang mengumpat dan juga suara tangisan perempuan.
__ADS_1
Rasa penasaran Rendy itu sudah mulai timbul sejak ia ikut ke Marina untuk menyelamatkan Andrea dan Kevia.
Tahu, kalau Alvarend dan keluarganya menggunakan pengawalan pribadi untuk setiap anggota keluarga mereka, meski di utamakan adalah para wanita dan anak – anak serta para kakek dan nenek.
Namun saat di Marina, ia sempat terperangah dengan banyaknya anak buah dari Varen dan dua Daddynya yang
kala itu ada, termasuk juga Nathan. Sempat memperhatikan Ammar, lalu senjata yang ada di dalam mobil yang mereka tumpangi kala itu.
Dan orang – orang yang Rendy terka sebagai anak buah dari keluarga Alvarend rasanya bukan pengawal - pengawal pribadi pada umumnya. Malah seolah seperti sebuah pasukan yang cukup terlatih.
Lalu sekarang, dia mengikuti Alvarend sampai ke tempat ini. sebuah bangunan usang tak terurus dan gelap gulita di luarnya.
Tetapi setelah masuk lebih dalam dan melewati sebuah pintu tarik otomatis, apa yang dilihat oleh Rendy sungguh tidak terbayangkan sebelumnya.
Tempat yang disebut sebagai ‘Sarang Anaconda’ oleh Varen itu, begitu kontras dalam dan luarnya. Di dalam begitu
terang dan sentuhan modern nampak jelas terlihat.
Hanya memang tempat itu begitu lowong, saat ia turun dari mobil yang ia tumpangi.
Namun ada beberapa ruangan di sana, dengan masing – masing nampak ada beberapa orang di dalamnya. Ada juga tangga lebar aluminium yang terbentang. Lalu beberapa mobil yang sekilas seperti mobil biasa, namun Rendy menangkap sedikit perbedaan dari mobil – mobil tersebut.
Hanya saja Rendy tidak bisa memastikan dengan jelas apa perbedaannya.
Kini, Rendy ada di bagian lebih dalam dari tempat yang disebut ‘Sarang’ tersebut. Cocok memang kalau dikatakan sebagai sarang, selain luas. Namun tempat itu begitu tertutup. Lumayan menyeramkan kalau dari luar.
Rendy berjalan menuju ruangan tempat Alvarend berada, setelah menggeleng saat orang yang ditunjuk Ammar tadi bertanya apakah ia ingin pergi.
***
Pemandangan yang tertangkap mata Rendy saat ia sudah berada dalam ruangan yang pintunya tadi berbahan besi
membuatnya tercengang.
Sama seperti Nathan, ia tercengang karena selain ruangan tersebut cukup luas, tetapi ada dua petak berjeruji besi berwarna perak, dengan dua tempat tidur di dalamnya.
Tidak hanya tercengang, rasanya Rendy pun kaget dengan keberadaan empat orang yang terdiri dari satu pria dan tiga wanita berbeda usia, sedang dipaksa bersimpuh di hadapan Alvarend yang berdiri dengan tatapan dinginnya pada si pria yang masih berteriak namun kemudian ia memohon.
Rendy sontak membulatkan matanya, karena ia mengenali pria tersebut yang berkali – kali bilang,
“KALIAN AKAN MEMBAYAR SEMUA INI!”
Lalu,
“BEBASKAN ISTRI DAN KEDUA CUCUKU!!”
Pasalnya pria itu Rendy kenal sebagai seseorang yang cukup berpengaruh dalam negeri yang ia tinggali ini.
Rendy sempat melempar tatapan pada Nathan, namun adik Alvarend itu hanya menggoyangkan pelan kepalanya saja. Dari raut wajah Nathan, ia sudah tahu kalau Nathan mungkin sama bingung dengan dirinya sekarang. Rendy sibuk dengan spekulasi dalam otaknya.
Sementara si pria masih berteriak dengan beberapa kalimat ancaman dan umpatan yang keluar dari mulutnya dan tiga wanita itu menangis sembari memohon.
Hanya suara empat orang itu saja yang terdengar dalam ruangan yang sepertinya kedap suara. Bangunan itu
juga sama. Kedap suara. Apa yang terjadi di dalam, tidak akan sampai terdengar keluar.
Varen juga berdiri saja di tempatnya. Wajahnya nampak kaku dan dingin, memandangi empat orang tersebut lalu berhenti memandangi pria yang berteriak sembari memaki dan mengancam itu. Sedari tadi ia sudah memegang senjata api di tangan kanannya.
Mungkin Alvarend atau Abang hendak menakut – nakuti pria bernama Danang Arsyad itu saja – Pikir Rendy dan
Nathan.
Lalu lamunan Nathan dan Rendy buyar karena pria bernama Danang itu berteriak lagi sambil menatap nyalang
pada Varen yang sudah memegang senjata dan memegang ujungnya dan membuat gerakan pelan seperti sedang mengelapnya.
“KAU!! KEPARAT!! JIKA KAU BERANI MENGGORESKU DAN ISTRI SERTA KEDUA CUCUKU MAKA ..”
DORR!!
Suara letusan kemudian terdengar nyaring dalam ruangan, bersamaan dengan tangan kanan Varen yang
merentang lurus kedepannya dengan sedikit rendah.
Teriakan kemudian sontak menggema dari tiga orang yang dipaksa bersimpuh di hadapan Varen.
Dan semua orang di kubu Varen spontan mematung di tempatnya sekarang. Mata mereka membola sempurna,
namun tak bersuara termasuk Uncle Lingga.
Nathan menutup mulutnya, lalu melirik cepat bergantian pada sang Abang yang nampak begitu dingin namun
matanya menyorot tajam dan pada seseorang yang sudah ambruk akibat tembakan tepat di kepala.
Nathan pikir, yang akan jadi sasaran Abang adalah pria yang bernama Danang Arsyad tapi nyatanya bukan.
“Aku menderita melihat keadaan istriku, dan kini giliranmu”
Varen bersuara dengan datarnya.
“MAAA!!!! ...”
“EYAAAAANNNGGG!! ...”
Rendy sendiri limbung.
Tak pernah ia bayangkan, sahabatnya itu sanggup melakukan apa yang barusan ia lakukan.
Wajah yang sama, namun dengan pribadi yang berbeda.
Alvarend yang sekarang dilihat Rendy seperti pembunuh berdarah dingin.
Yang wajahnya datar saja, setelah mengarahkan senjata apinya pada wanita yang merupakan istri dari Danang
Arsyad.
“KEPARAAATTT!!!!!...” Danang berteriak sekaligus dengan sangat kencang. Dengan wajahnya yang penuh amarah bercampur dengan air matanya, juga dengan tangannya yang terkepal kuat.
Hendak bangkit dan menyerang Varen namun dengan cepat dilumpuhkan oleh anak buah Uncle Lingga.
“Masih bagus aku membuat istrimu mati cepat tanpa lebih dulu menyiksanya seperti kalian yang sudah
menyebabkan penderitaan istriku”
Varen berkata datar saja. Tak ada juga yang menginterupsinya sekalipun Uncle Lingga yang sempat tergugu
melihat anak naga yang tanpa ekspresi didepannya itu sedang berbicara.
“KEPARAT!!!!” Danang masih histeris dan mengumpat serta memandang dengan sangat geram pada Varen.
Namun Varen tetap dengan sikapnya. Tenang dan datar. Hanya pancaran wajahnya seolah menggambarkan tak
ada perasaan dalam hatinya.
“Selama istriku masih menderita, kaupun akan kubuat sama”
“Apalagi yang kau mau hah?! Membunuhku?!” Tantang Danang.
“Pat!”
Varen memanggil seseorang.
Dan orang yang Varen panggil itu dengan cepat menyahut seraya mendekat pada Varen.
“Keluarkan semua yang kuminta kau untuk membawanya”
“Baik Tuan”
Pria bernama Pat itu meletakkan tas yang ia bawa ke atas sebuah meja aluminium dan mengeluarkan semua isi di dalamnya lalu menjejerkan nya.
Semua mata memandang pada si pria bernama Pat yang sedang menyusun beberapa barang diatas meja yang terdiri dari beberapa botol berisi cairan dan banyaknya alat suntik.
Lagi – lagi tak ada yang menginterupsi, termasuk Uncle Lingga. Rendy dan Nathan sendiri seolah terpaku di tempatnya. Sementara Danang yang sesekali mendekati jasad sang istri yang sedang ditangisi kedua cucunya, kini sedang memperhatikan Pat juga.
“K-kau... mau apa?...” Danang nampak gelisah.
“Sudah kubilang, selama istriku masih menderita, kaupun akan kubuat sama”
“....”
“Semua yang ada diatas meja itu, adalah obat bius yang ada pada tubuh istriku yang membuatnya menderita hingga tak mengenaliku”
“....”
“Dan itu karena kau, serta para sekutumu”
“....”
“Penderitaan istriku, harus kau bayar mahal” Ucap Varen lagi.
Danang bergidik.
“K-kau .......”
“Suntikkan semua itu pada tubuh kedua cucunya” Varen menurunkan perintah.
“Apa??!”
Danang tersentak kuat. “TIDAK! JANGAN SENTUH CUCUKU!” Ia histeris dalam cekalan anak buah Lingga sembari meronta.
Rendy dan Nathan membulatkan mata dengan mulut menganga.
“Va!...” Rendy hendak mendekati sahabatnya, namun Ammar menjegalnya sembari menatap Rendy dan menggeleng. “Tap-...”
Ammar menggeleng lagi dan menambah satu gerakan dengan meletakkan satu telunjuk di bibirnya.
“Jika anda tidak mau melihat Tuan Alva memutilasi orang dihadapan anda saat ini, jadi tolong diam saja”
Ammar berbisik dengan sangat pelan di telinga Rendy yang membuat Rendy kemudian perlahan menjadi pias.
“Suasana hatinya dapat berubah jika anda menginterupsinya sekarang. Dan perubahan itu akan lebih mengerikan” Bisik Ammar lagi. “Jadi saya mohon, diamlah Tuan”
Rendy pun patuh, memilih mendengarkan Ammar. Nathan tetap tak bergerak di tempatnya. Hanya memandangi
sang Abang yang begitu berbeda saat ini. Namun Nathan tahu tabiat Abang, maka itu ia diam.
Nathan hanya menyaksikan dari tempatnya satu – satu hal yang Abang lakukan tanpa rasa iba.
**
Teriakan dan jerit tangis menggema dalam ruangan, dari seorang pria dan dua gadis muda.
“TIDAAAKKKK!!! .. LEPASKAN KEDUA CUCUKU!!... Ku-mohoon, lepaskan mereka ... jangan sakiti mereka... aku
saja ... aku saja yang menerima apapun hukuman mu ...”
“Sakit bukan?. Melihat orang yang kau sayangi menderita?. Itu yang aku rasa. Kau, pun harus merasakannya” Ucap Varen dengan datarnya. “Suntikkan semua itu pada tubuh kedua cucunya sampai mereka menggila, .... seperti halnya Little Starku”
‘Ya Tuhan Alva....’
Rendy membatin, Nathan hanya bisa menghela nafasnya dengan berat melihat Abang berkata dan rahangnya
mengetat, sekilas ada sedih disana. Nathan tahu, itu karena Abang sakit mengingat kondisi Andrea yang bak mengalami gangguan mental.
“Setelahnya, masukkan wajah kedua gadis itu dalam situs pelelangan milik kakek mereka”
‘Oh R, aku seperti melihat Lucifer dalam diri anakmu’
Uncle Lingga membatin.
“Jika kedua cucunya tidak laku, anggap saja mereka hadiah untuk anak buahmu Uncle. Jika anak buahmu memang mau”
Dan ucapan atas kalimat Varen yang terakhir membuat pria bernama Danang semakin histeris. Uncle Lingga saja sampai menganga, apalagi Rendy.
Nathan sendiri mencelos.
‘Astaga Abaaannngg kenapa sampai sekejam itu????....’
*
To be continue....*
__ADS_1