
⭕ TENTANG NATHAN ⭕
******************************
Selamat membaca ...
************************
“Ada apa Little Star?”
Varen bertanya pada istri kecilnya yang nampak melamun sepanjang mereka keluar dari area Rumah Sakit dan
kini sudah berada di dalam perjalanan pulang.
“Itu wanita yang bersama Kak Rendy tadi. Sepertinya Drea kenal”
“Oh ya? Siapa dia?” Tanya Varen lagi sembari membagi perhatiannya pada Andrea dan jalanan.
“Kevia!”
“Kevia?”
Varen bertanya. Nama itu asing baginya.
“Kevia siapa?”
“Pacarnya Tan – Tan!”
“Oh....” Varen ber oh ria sambil manggut – manggut. “Tahu saja kamu soal pacar - pacarnya si Tan – Tan,
Little Star ...”
“Engga juga sih” Sahut Andrea. “Tapi Kevia ini, Drea tahu”
“Terus kenapa kalau memang kamu tahu wanita itu? Pacarnya Nathan kamu bilang, tapi sepertinya kamu sedikit kaget melihat dia?”
“Karena...”
****
Tiga tahun lalu...
“Ih, siapa ni?”
“Ck! Apaan sih lo! Sembarangan buka - buka hp orang!”
“Kayak tangan lo ga usil aja!”
“Awas lo buka – buka hp gue lagi tanpa seijin gue!”
“Ada gambar sama video jorok pasti!”
“Mulut jaga!”
“Duh ilaaaahhh!!! Begitu saja marah”
“Habis lo sembarangan aja ngomong!”
“Iyaa maaf...”
“...”
“Eh Tan!”
“Hem?”
“Itu pacar lo ya? Yang fotonya tadi gue lihat?”
“Kepo!”
“Pacar atau mangsa lo itu? Secara lo kan fucek boy!”
“Belajar sana! Balik ke kandang lo sana! Ngapain juga sih lo di kamar gue?”
“Boring ih!”
“Ngapain kek lo sana di kamar lo! Jangan ganggu gue, gue mau battle!”
“Jawab dulu, cewe yang di foto tadi, pacar lo?. Bukannya lo pacaran sama cewe yang namanya Celisa Celisa itu yang centil banget mukanya itu, sering kan tuh posting foto kalian berdua di sosmednya dia terus di tag ke elo?”
“....”
“Tan – Tan, jawab sih!”
“Bukan urusan lo!”
“Bukannya karena lo memuja banget si Celisa sampai akhirnya lo menghentikan hobi pacaran sebulan lo itu?. Kok tadi gue lihat di galeri lo malah foto itu cewe yang tadi?. Banyak lagi! Ga liat fotonya Celisa gue perasaan? Pacar baru lo itu? Berarti lo sudah putus dong sama si Celisa?”
“Berisik lo ah!”
“Tapi gue dukung sih kalau lo putus sama itu si Celisa, belum pernah ketemu tapi lihat mukanya aja gue ga senang!”
“Bodo!”
“Kalau cewe yang tadi tuh, yang difoto gue lihat barusan tuh, gue suka lihatnya. Cantik banget, natural, ga centil macam si Celisa ituh. Bener ga gue? Baik kan orangnya?”
“.....”
“Tan – Tan!”
“Apa sih ah!”
“Kenalin sih! Biar gue ada temannya, ga hanya teman – teman yang di sekolah aja. Siapa tahu kami cocok, bisa ke Mal, ke Salon bareng”
“Dia ga suka yang begituan!”
“Hah?! Yang benar?!”
“Hem!”
“Ih bagus dong berarti! Itu namanya dia cewe yang ga neko – neko apa adanya! Kenalin si Tan”
“Ck! Sana ga! Hush Hush Hush”
“Tan – Taannnn!”
“Keluar ga dari kamar gue sekarang? Kalau engga gue posting foto lo yang lagi ngupil di sosmed lo ya?”
“Tan – Tan Reseeee!”
***
“Eh, ada Uncle Bryan!..”
“Halo cantik, baru pulang sekolah?”
“Iya. Uncle datang sama siapa?”
“Sendiri”
“Oh, oke deh, Drea ganti baju dulu yah?”
“Woi! Tan – Tan lesu banget mukanya macam mau habis umur!”
“Mulut lo Cute Girl! Gue lakban lama – lama!”
“Hahahahaha!!..”
__ADS_1
***
“Kasihan ya, Alhamdulillah keluarga kita baik – baik saja disini”
“Yah korban keegoisan orang tua. Setelah kejadian baru menyesal, anaknya sudah keburu sakit hati. Sekarang
anaknya pergi, baru kalang kabut mencari”
“Ya kita kan ga tahu permasalahan dalam keluarganya Mustafa”
“Iya, gue juga baru ingat soal anak perempuannya Mustafa yang waktu itu dia share di grup FC katanya hilang”
“Minggat! Bukan hilang! Tafa ga mau lapor polisi. Ya minggat berarti itu anaknya”
“Ya itulah! Belum pulang juga sampai sekarang?”
“Belum. Kemarin gue ketemu sama Tafa. Dia masih mencari anaknya. Di tempat keluarganya ga ada, sementara
anaknya sendiri itu sedikit introvert, ga punya banyak teman. Semua teman sekelasnya ditanyakan ga ada yang tahu katanya”
“....”
“Kalian sedang membicarakan apa sih?”
“Teman Uncle dan Dads kamu, anaknya pergi dari rumah”
“Waduh!”
“Dia adik kelas kamu kan, Than?”
“Siapa?”
“Anaknya Om Mustafa. Tahu kan kamu?.”
“Oh.. Iya tahu”
“Berarti dia kakak kelas Drea dong?”
“Harusnya dia kelas tiga sekarang, ya kan Than?. Setahun dibawah kamu”
“Iya ..”
“Tapi karena dia pergi dari rumah, dia pun ga pernah lagi datang ke sekolah. Sayang sih, tuh anak padahal
berprestasi”
“Yah, salah Mustafa nya juga. Harusnya dia lebih memberikan perhatian pada putrinya itu. Secara anaknya itu
paling engga terguncang karena ibunya yang meninggal karena over dose yang mengacu ke bunuh diri. Tapi malah dia menikah lagi, dengan mantan pacarnya yang anaknya tahu itu sahabat ibunya. Ya shocked mungkin anaknya”
“.....”
“Mungkin itu anak berpikir ibunya memang bunuh diri karena ayahnya selingkuh dengan sahabat ibunya, jadinya dia berontak, lalu pergi dari rumah. Atau Mustafa pilih kasih. Entahlah banyak kemungkinan. Yang jelas kasihan putrinya yang sampai meninggalkan rumah seperti itu. Entah bagaimana hidupnya di luar sana”
“Kenapa Dads ga membantu mencari?”
“Dia sendiri tidak pernah meminta secara pribadi, ya kami ga akan kepikiran. Apa kamu lupa, Dads kamu ini
makhluk – makhluk dengan banyak urusan? Lagipula waktu itu dia hanya menginfokan anaknya hilang sama bantu carikan.”
“Harusnya lapor polisi aja kan?”
“Kalau hilang diculik sih bisa, tapi Tafa tahu anaknya itu pergi, a.k.a minggat. Bersih lemarinya. Pakaiannya sebagian besar dibawa. Jadi dia hanya bisa pasrah mencari, bahkan membayar orang tapi masih nihil sampai sekarang”
“Sedih Drea dengarnya. Tak terbayang jika jadi itu anaknya om Mustafa”
“Makanya kalian berdua tuh bersyukur ada di keluarga ini. Terlalu harmonis, bukan begitu Papa Bear?”
“Of course lah!”
“Kamu memang ga berteman sama anaknya om Mustafa, Tan?”
“Than!”
“Hah?! Apa?”
“Mikirin apa sih, bengong aja Mama lihat dari tadi?”
“Bukan apa – apa, Mam. Ngantuk! Nathan permisi ke kamar dulu ya?. Yuk semua!”
“Ada fotonya ga?. Siapa tahu malah Drea kenal?. Atau mungkin siapa tahu nanti ketemu di suatu tempat?”
“Ada masih digrup sepertinya”
“.........”
“Ini”
“Ih, ini bukannya pacar lo Tan?!”
***
“Than duduk sini dulu!”
“......”
“Benar dia pacar kamu?”
“Iya ..”
“Terus kamu tahu berarti soal dia pergi dari rumah?”
“Iya, aku tahu ...”
“Berarti harusnya dia bilang dong sama kamu, dia pergi kemana?. Atau jangan – jangan kamu yang menyembunyikan dia?!”
“Apaan sih Mam? Ga ada aku menyembunyikan anak orang! Dia tahu – tahu hilang, pergi, ga ada kabar”
“Oh jadi lo lesu gara – gara masalah ini ya Tan?”
“Seharusnya kan sebagai pacarnya, kamu yang jadi pelarian bukannya? Memang dia ga pernah cerita soal
masalah dalam keluarganya? Atau apa yang sedang dia rasa?”
“Engga ...”
“Kamu sebagai pacar masa ga peka sama cewe sendiri, gimana sih? Jangan – jangan kamu Cuma isengin dia
doang?”
“Ya enggalah!. Aku ga ada berpikir untuk mempermainkan Kevia. Dia baik, aku cocok sama dia, hanya Kevia
memang tertutup soal keluarganya... Bahkan dia sendiri menjaga jarak dengan om Mustafa”
“Bagus namanya, unique, Kevia. Cantik, secantik orangnya”
“Om Mustafa tahu ga kamu pacaran sama anaknya?”
“Hanya tahu kami dekat. Pernah juga memang Om Mustafa bertanya tentang Kevia sama aku, tapi memang aku
ga tahu, kemana Kevia pergi. Sampai sekarang nomor Kevia ga aktif. Akun medsos satu – satunya pun hilang”
“Dia ga ada pamit gitu sama kamu, Than?”
“Engga ...”
“Berarti kamu ga dianggap sama dia, my Boy. Ga terpercaya sebagai pacar. Kalah sama Dad! Tuh Mama Kamu
__ADS_1
buktinya”
“Orang Dad nya suka maksa!”
“Hahahahaha ...”
“Tapi ... itu pacar lo, minggat bukan karena lo kan Than?”
“Jangan sembarangan lo!....”
“Berarti benar, lo ga dianggap dong ya, haha ...”
“....”
***
Kembali ke laptop, eh salah, masa sekarang
“Ya mungkin memang cewe itu sudah kembali ke keluarganya. Makanya sekarang dia ada di Jakarta”
“Huumm, ya mungkin juga”
“Tapi kenal dengan Kak Rendy?”
“Siapa tahu temannya”
“Pacaran mungkin sama Kak Rendy kali ya?”
“Bukan sih kalau pacar, Rendy punya seseorang dihatinya, masih ditunggu sama dia. Lagipula dia ga pernah menyebut nama cewe itu seperti yang kamu bilang”
Andrea memperhatikan Varen yang berbicara dibelakang kemudinya.
“Mungkin juga pasiennya, tapi akrab. Bisa saja kan?”
“Iya sih”
“Kamu nih, sepertinya penasaran sekali dengan pacarnya si Tan – Tan itu” Varen tersenyum sembari mengacak pelan rambut Andrea. "Eh, mantan kan harusnya?"
“Justru itu, kan Tan – Tan bilang, tahu – tahu itu cewe pergi begitu saja, ga pamit apa – apa sama Tan – Tan lalu
tahu – tahu menghilang, berarti kan mereka belum putus dong hitungannya?”
“Ya Nathan sudah ditinggal mentah – mentah begitu sudah bisa dianggap putuslah!. Diputuskan lebih tepatnya. Secara sepihak!”
“Iya sih. Tapi tetap Drea penasaran”
“Penasaran kenapa lagi, hem?” Tanya Varen sembari melirik Andrea. “Penasaran kok sama urusan pribadi orang?”
Varen terkekeh kecil.
“Iiihhh bukan begitu, Abang sadar ga sih, si Tan – Tan itu ga pernah punya pacar sejak tiga tahun terakhir?. Hanya suka ghosting aja, setelahnya malah dia abaikan itu cewe – cewe yang mencoba mendekati dia. Tapi, Drea sering juga memperhatikan si Tan - Tan itu suka bengong, seperti ada hal berat yang dia pikirkan.”
“Tahu banget soal Tan – Tan, Nyonya Alvarend?”
“Yaaa kan dia kakak Drea juga, selama ini kan Drea juga dekat sama Tan – Tan. Meski ya dia ga mau terbuka – terbuka banget sama Drea kalau soal pribadi. Tapi Drea yakin, Tan – Tan itu cinta sama si Kevia. Kalau dari salah satu foto mereka berdua yang Drea pernah lihat di ponselnya si Tan – Tan juga, Kevia itu sepertinya sayang banget
sama Tan - Tan”
“Nah terus?”
“Nah Drea penasaran, kenapa Kevia tahu – tahu pergi begitu saja”
“Masalah keluarga kan katanya?”
“Tapi kan ga pamit sama Tan – Tan juga, tahu – tahu pergi begitu saja?. Bahkan menurut Tan – Tan waktu itu
ponselnya langsung tidak aktif dan akun medsosnya hilang. Drea jadi penasaran ...”
Andrea memasang wajah seolah berpikir yang nampak lucu di mata Varen, hingga si Abang menyunggingkan senyum sambil mengacak – acak rambut Andrea dan fokus lagi pada kemudi.
‘Kenapa gue tuh merasa, si Tan – Tan ada andil dalam kepergian si Kevia yang tiba – tiba itu?’ Batin Andrea. ‘Perlu gue selidiki sepertinya nih. Oh, Demi Justin Bieber gue penasaran!’
“Mikir apa hayo?”
“Eh Abang, nanti Drea minta nomor Kak Rendy ya?”
“Wah, kepo beneran ini Nyonya Alvarend”
“Hehehe.. Tapi soal kita melihat itu si Kevia, keep silence dulu ya Abang?. Drea mau tanya – tanya dulu sama Kak Rendy soal Kevia. Jangan bilang Tan - Tan dulu kalau kita melihat itu si Kevia”
“Hadiahnya?”
“Abang tinggal sebut mau gaya apa!”
“Okeee meluncur ke rumah ga pake rem!”
***
Sementara itu dilain tempat..
‘Via pergi...’
‘Maksud Om?’
‘Dia pergi membawa hampir semua pakaiannya’
‘......’
‘Kamu kan dekat sama Via, dia ga bilang apa – apa gitu sama kamu?’
‘Engga Om, justru aku kesini, mau tanya soal Via. Dari kemarin ponselnya mati’
‘Kamu tolong bantu Om carikan Via ya? Om juga akan terus mencari. Kamu mungkin lebih tahu tentang teman – teman Via yang Om ga tahu, tolong ya Nathan?’
‘Iya Om..’
“Via... “
Nathan yang bergumam dalam duduknya.
“Kamu apa kabar?”
Sebuah foto dipandangi Nathan dalam ponselnya sembari ia usap pelan dengan ibu jarinya.
“Aku kangen kamu Via .. Kamu, pasti engga ya?”
Mata Nathan sedikit berkaca – kaca.
“Tahu ga? Kalau aku cinta kamu, Vi?. Yang sebenarnya, seperti itu.. kepergian kamu ... terasa seperti hukuman buatku Vi. Setimpal mungkin, untuk pengecut sepertiku...”
Nathan menghela nafasnya, dengan sedikit ringisan disana.
“Maafkan aku, Via ..”
***
To be continue ..
Part ke depan akan hadir kisahnya si Tan – Tan yawgh. Intermezo dulu kitaaah.... Pan masih nyambung ye, masih kisahnya nye para personel The Smith's bukan The Avengers.
Biar adil kebagian semua, kecuali The Krucils, entar kaga tamat – tamat nih nopel.
Yang pengen buru – buru emak tamatin nih novel sabar ye, emak masih mikirin ending yang cakep. Tapi au dah kapan mau ditamatin, tergantung emudnye emak.
Buat yang tetep masih mau baca ini cerita, emak ucapin makasih masih sabar sampe dengan detik ini.
Begitu aje dulu,
__ADS_1
Salam sayang,
Emaknya Queen