THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 30


__ADS_3

#TAK KUASA #


😚😚😚😚😚😚😚😚😚


Selamat membaca...


*********


Jakarta, Indonesia .....


“Poppa.” Fania dalam panggilan telpon.


“Momma..”


“Kangen si ..”


“Bohong..”


Andrew yang sedang terhubung dalam panggilan diponsel Fania.


“Ih, di kangenin juga. Malah dibilang bohong!.”


“Buktinya kamu ga ada disini.”


“Ya kamu ga pulang – pulang kek bang toyib.”


“Siapa itu bang toyib?. Apa kamu selingkuh?.”


Fania langsung tergelak mendengar ucapan Andrew barusan.


“Kamu pikir aku berani apa selingkuh dari kamu?. Lagian cinta aku udah berat banget sama si Donald Bebek.”


“Gombal.”


Fania tergelak lagi.


“Kamu dimana?.”


“Kafe. Lagi di garage sih, ini lagi iseng kotak – katik mobil. Abisnya mau kotak – katik suami, orangnya jauh banget!.” Ucap Fania sambil juga melakukan hal yang dibilangnya tadi pada Andrew. Sementara ia melakukan panggilan di earphone portabel yang terhubung dengan ponselnya.


“Ya sudah.”


Klik!


“Ish ni orang, maen matiin telpon aja, orang belom kelar ngomong gue!. Kaga ada akhlak emang kadang – kadang.” Fania menggerutu.


“Siapa yang ga ada akhlak, hem?.”


Fania memekik saat dua tangan kekar merangkul perutnya, seiring dengan suara bariton laki – laki yang amat sangat dikenalnya itu. Fania langsung membalikkan tubuhnya.


“Donald Bebeekk!.” Fania kegirangan dan spontan langsung memeluk Andrew dengan erat dan meloncat hingga Andrew sampai mengeratkan kedua tangannya dibawah dua bongkahan milik Fania yang selalu membuatnya hilang akal.


Andrew terkekeh dengan kelakuan Fania. Begitu juga dengan beberapa karyawan digarasi yang terhubung dengan kafe milik Fania itu. “Kangen banget, hem?.” Ucap Andrew sambil mengelus punggung Fania yang sedang dalam gendongannya itu.


“Pake nanya lagi!.” Fania menatap wajah Andrew sambil mengerucutkan bibirnya, membuat Andrew menjadi gemas.


Cup!.


Andrew langsung mengecup bibir Fania. Sedikit lama, karena dia pun teramat rindu pada istrinya yang tiada duanya itu. Tak memperdulikan orang – orang yang berada disekitaran mereka. Meskipun ada beberapa kostumer juga yang sedang ada di garasi plus bengkel modifikasi itu.


Tak perduli banyaknya jiwa – jiwa yang iri atas keuwuan sepasang suami istri ini.


“Aku juga kangen, Heart.” Ucap Andrew dengan Fania yang masih dalam gendongannya sambil membawa Fania


masuk ke dalam kafe dan langsung masuk ke ruangan pribadi Fania yang ada di kafenya itu.


***


“Poppaaa .... inget ini dimana ..” Ucap Fania saat Andrew mendudukkannya diatas meja kerja dan langsung mengukung tubuh istrinya itu serta langsung menyambar bibir yang tak pernah bosan untuk Andrew sentuh dan jelajahi. ‘Astaga, ini orang.’ Batin Fania karena Andrew tak menghentikan kegiatannya.


“Katanya kangen, hem?.”


“Iya, tapi ga disini juga..”


“Hanya ada aku dan kamu disini kan?.” Ucap Andrew sambil mengecupi leher Fania.


“D.. ih....” Protes Fania tapi ia mendongak dengan spontan saat bibir Andrew menjelajahi lehernya. Andrew tersenyum disela kegiatannya.


“Ayo pulang.” Andrew menghentikan kegiatannya dengan tiba – tiba sambil tersenyum jahil memandangi wajah Fania yang nampak sedang menahan gejolak dalam dirinya.


‘Ish!.’


Fania setengah kecewa karena ga jadi lanjut.

__ADS_1


“Ingat ini dimana.”


Ucap Andrew dengan wajah jahilnya.


“Ck!.”


“Kenapa, hem?.”


Fania mengerucutkan bibirnya. “Rese ..”


Andrew terkekeh. “Jadi? ..”


“Ikan hiu ikan cucut lah.” Ucap Fania. “Lanjuuttt ....”


“Okkkeeee.....”


Sangat tidak mungkin si Donald Bebek mampu menolak godaan Fania yang membuat imin nya goyah seketika.


***


‘Cantiknya..’ Batin John saat ia melirik gadis yang sedang terlelap dikursi penumpang disampingnya. “Prita..”


John menggoyangkan pelan bahu Prita saat ia sudah memarkirkan mobilnya di halaman kafe milik Fania. Prita pun sedikit menggeliat.


“Ennggg, udah sampe?.” Ucap Prita dengan suaranya yang sedikit serak. John memperhatikannya dan tanpa sadar


tersenyum. Ia tak bisa menahan ketakjubannya melihat Prita yang nampak menggemaskan baginya saat ini.


‘Sabar... sabar John... bibir lo tahan.’ Batinnya memperingatkan agar jangan maen sosor pada bibir Prita yang membuatnya sedikit ngeres. “Sudah.”


“Sorry ya Kak, gue malah ketiduran sepanjang jalan.”


“Untung Kak John jemput lagi. Coba kalau kamu menyetir sendiri pas lagi begini, hem?.”


“Iya nih, gue ngantuk banget.” Ucap Prita sambil mengulet membuat dadanya sedikit membusung dan membuat si bule koplak yang masih memperhatikannya dengan seksama itu spontan menelan salivanya.


’34 C.’ Sesuatu soal ukuran yang melintas diotak ngeres si bule koplak saat Prita mengulet barusan. ‘Haish John.. otak lo niiii..’ Sadar dalam hati soal pikiran ngeres nya.


“Lo ga turun, Kak?.”


Suara Prita membuyarkan lamunan ngeres John. Membuat John sedikit gelagapan.


“Eh – iya.” John melepaskan seat – beltnya. “Kamu duluan aja, nanti Kak John menyusul.”


“Itu.” John menunjuk ke kursi belakang.” Tadi Kak John sengaja pindahkan saat kamu tertidur.” Ucap John.


“Oh.” Sahut Prita yang memiringkan tubuhnya untuk mengambil tasnya dikursi penumpang belakang, dan kebetulan tanktop yang berbalut kardigan yang sedang ia pakai itu cukup ketat. Dan dua bongkahan didepan yang tercetak dari balik tanktop cukup dapat John lihat dengan jelas.


‘Fix 34 C.’ Otak ngeres si bule koplak on lagi. ‘Astaga John ...’ Ia buru – buru mengalihkan pandangannya.


“Kenapa Kak?.”


Prita sedikit heran dengan gelagat John yang nampak salting itu.


“Hah?. Ah – ga apa Kak John Cuma ingat mau telpon dulu. Kamu duluan aja.”


“Ya udah.” Prita langsung keluar dari mobil John.


‘Dulu perasaan ga sebesar itu? Sebesar tomat malah. Kapan itu tomat berubah jadi melon?.’


Bule koplak penasaran. Tak mampu menahan pikirannya saat melihat dada Prita yang kini sudah nampak pas dalam genggaman andainya ia bisa menggenggam dua bongkahan itu tadi.


Namun saat ini John hanya bisa mengurut pelipisnya. Pasalnya bibir dan dada Prita membuatnya pening seketika.


***


Bandung, Jawa – Barat, Indonesia ......


 


Tok.. Tok..


Jeff mengetuk pintu kamar Jihan. Ia hendak pamit pulang pada Jihan yang belum beberapa waktu lalu masuk ke kamarnya dan Nathan sudah tertidur pulas yang kini sudah dibawa Jeff dalam gendongannya. Sementara ibu Jihan sudah lebih dahulu berpamitan pada Jeff untuk masuk ke kamarnya karena ibu dari wanita yang sedang Jeff kejar dan sudah ia cintai itu mengatakan kalau ia sedikit lelah.


“Sudah tidur?.” Ucap Jihan seraya bertanya pada Jeff yang sedang menggendong Nathan, saat wanita itu telah membuka pintu kamarnya.


Jihan dengan segera mengambil Nathan dari gendongan Jeff dengan perlahan, dan membawa putranya itu keatas ranjangnya. Ia mengatur posisi Nathan sedemikian rupa diatas ranjang dan beralih pada Jeff yang ikut masuk ke kamarnya setelah Jihan menyelimuti Nathan.


“Kamu mau ....”


“Apa kamu sedang menggoda aku, Ji?.”


Jihan terkejut saat Jeff maju dan merapatkan posisi Bathrobe yang ia kenakan.

__ADS_1


Ya, Jihan tak sadar kalau ia masih mengenakan bathrobenya saat ia membukakan pintu kamar saat Jeff mengantar


Nathan yang sudah tertidur.


Jihan langsung membeku karena posisinya dan Jeff sudah sangat dekat saat ini. Tapi tak lama wanita itu memundurkan kakinya selangkah serta mengalihkan wajahnya dari Jeff yang sedang menatapnya dengan intens saat ini.


‘Apa dia lihat tadi?.’ Batin Jihan yang menyadari kalau posisi Bathrobe dalam posisi yang lumayan terbuka saat ia membukakan pintu.


Jeff tersenyum jahil, namun pikirannya pun sudah mulai tak karuan. ‘Rasanya ingin gue tarik itu tali bathrobenya.’


“A .. apa kamu sudah mau kembali ke Jakarta?...” Tanya Jihan yang nampak masih gugup itu. Jeff mengangguk sambil memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana. Takut itu tangan tiba – tiba kesyurupan untuk membuka paksa Bathrobe yang sedang Jihan kenakan.


“Aku pamit kalau begitu.” Ucap Jeff. 'Tahan gue dong.' Batinnya gatel.


Jihan hanya diam ditempatnya saat Jeff sudah berbalik untuk keluar dari kamarnya. Namun kemudian Jeff berhenti dan berbalik.


“Kamu ga mau antar aku kedepan?.” Tanya Jeff pada Jihan yang nampak termangu itu.


“Oh.. iya ...” Jihan melangkahkan kakinya.


“Tapi lebih baik jangan.” Ucap Jeff dan Jihan langsung menghentikan langkahnya.


“Kenapa?.”


Jihan nampak bingung. Jeff menghela nafasnya. “Apa kamu akan mengantar aku dengan penampilan kamu yang


seperti ini?.”


Jihan nampak merutuki dirinya sendiri. Lupa lagi dengan apa yang sedang ia kenakan sekarang. Jeff mengulum senyum geli melihat kikuk nya Jihan saat ini.


“Aku pamit ya?. Lebih baik kamu segera berganti baju sebelum keluar untuk mengunci pintu.” Ucap Jeff. “Jangan


sampai aku berubah pikiran untuk merebahkan kamu diatas sofa kalau kamu mau mengantar aku dengan masih menggunakan Bathrobe itu.”


Jeff melirik jahil.


“Aku yakin tidak ada satupun kain yang melekat dibaliknya kan?.”


Jihan meremas Bathrobe yang ia pakai. Masih terpaku ditempatnya. Semburat merah sedikit nampak diwajahnya. Membuat Jeff tersenyum dan tak bisa menahan tangannya untuk tidak menyentuh rambut Jihan.


“Aku pulang ya?.” Jeff melangkah menuju pintu. “Jangan lupa kunci pintunya.” Kemudian Jeff hilang dibalik pintu rumah Jihan yang sudah ditutupnya.


Meninggalkan Jihan dengan degup jantungnya yang sudah terasa bertalu dengan cepat selain malu karena Jeff


menggodanya akibat bathrobe yang ia kenakan, namun yang membuat Jihan merasa aneh karena ada desiran hangat saat tangan Jeff mengusap kepalanya.


**


“Ah Tuhan, kenapa gue harus jatuh cinta begini sih?.”


Jeff menggumam sendiri dalam mobilnya. Sejujurnya ia sudah hampir tak kuat saat melihat Jihan yang begitu cantik dan menggoda tadi.


“Haish!. Kadang gue menyesal dengan keinsyafan ini.”


Ia masih menggumam sambil menyalakan mesin mobilnya untuk melaju keluar dari halaman rumah Jihan itu dan


meluncur ke Jakarta.


“Haish!!!.”


Jeff menggerutu. Merasakan sedikit ketidak nyamanan diantara kedua pahanya dan membuat Jeff merasa pusing


akibat menahan dirinya untuk tidak bertindak diluar batas pada Jihan. Semata – mata karena ia sudah yakin kalau ia memang sudah benar – benar mencintai Jihan dan ingin memilikinya dengan cara yang benar. Ia tak kuasa menahan rasa dalam hatinya pada Jihan.


Tak pernah menduga kalau cintanya pada Jihan, bisa benar – benar mengobrak abrik hatinya dan Jeff sanggup


menanggalkan predikat Casanova yang selama ini melekat padanya.


“Balik lagi apa ya?.”


Si Bule gila bertanya – tanya sendiri.


“Masih pakai bathrobe ga dia?.”


Masih terbayang – bayang pada Jihan dalam balutan bathrobe yang sempat tidak dalam posisi yang rapih.


"Sumpah gue penasaran!!!. Arrrrggghh .. sialaaannn...”


Dan si bule gila uring – uringan sendiri dalam mobil yang sedang ia kemudikan itu.


**


To be continue...

__ADS_1


😊😊😊😊😊😊


__ADS_2