THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
BONUS CHAPTER


__ADS_3

Jempol dikondisikan dulu (ehem) sebelum sekerol kebawah ye


🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹


Selamat membaca ....


🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹


The Adjieran Smith Great Mansion, London, England


“Papa ...” Itu Ann.


Seluruh anggota keluarga yang berdomisili di London kini sedang menikmati santap malam bersama seperti biasanya tanpa terkecuali, karena Papa Lucca, Mama Fabi dan Ann sudah seperti biasanya ada bersama yang lain di mansion utama The Adjieran Smith yang berada di London tersebut.


Ann sudah merasa jauh lebih baik, hingga ia meminta untuk ikut serta dalam makan malam bersama dengan anggota keluarga yang lain.


“Yes Dolcezza?.....”


Papa Lucca menyahut pada Ann yang memanggilnya barusan.


“Is Juan still here? ..... ( Apa Juan masih disini? )....”


“No. Why?. ( Tidak. Kenapa? )” Jawab Papa Lucca kemudian bertanya.


“Nothing. I just want to ask him to take my books and uniform for tomorrow ... ( Bukan apa-apa. Aku hanya ingin memintanya mengambilkan buku-buku dan seragamku untuk besok )....”


“You want to go to school tomorrow? ... ( Kamu ingin ke sekolah besok? ) ...” Tanya Papa Lucca dan Ann mengangguk.


“Yes”


“Sebaiknya jangan dulu Ann...”


“Aku sudah merasa jauh lebih baik kok Rery”


“Aku setuju tuh sama Rery... lebih baik kamu istirahat dulu sehari lagi meskipun kamu sudah merasa oke”


Mereka yang berada bersama Ann di meja makan pun mengiyakan ucapan Valera.


“Aku sudah benar-benar oke Val, obat yang Uncle Owen berikan sangat bereaksi dengan bagus. Aku bahkan sudah tidak merasakan lagi sakit di perutku”


“Even so, baby ... ( Meskipun begitu, sayang )...”


Mama Fabi menyela.


“Beside I have an history test tomorrow from what I have remember ... ( Aku ada ujian sejarah besok seingatku ) ......”


“You can ask for an contuniation test ( Kamu kan bisa meminta untuk tes susulan ) ...” Sahut Mama Fabi.


“Oh come on Mama, Papa ...”


Ann mulai merengek.


“It would be sucks ......”


“Mind your words young lady ..... ( Perhatikan ucapanmu nona muda )...”


Papa Lucca menyela sekaligus menegaskan atas ucapan Ann yang dirasa kurang sopan.


“Pardon me ( Maafkan aku ).... I mean, it would not fun if I have to take the test alone in the teachers room...  ( Maksudku, akan sangat tidak menyenangkan jika aku harus menjalani tes sendirian di ruang guru )...“


Ann memilin sekaligus memberikan tatapan memohon pada sang papa, lalu meminta dukungan dari Gappa, Poppa dan Daddy R dengan puppy eyes nya.


“Please ...?”


Tiga orang tersebut pun mengulum senyumnya. Termasuk dua nenek dan dua mommy yang juga ada bersama Ann.


“Ask your Gappa and two grandmas, also other parents ( Tanya Gappa dan dua nenekmu, juga orang tuamu yang lain )”


“May I? ( Boleh tidak? )...”


“Sure that you feel okay already? ..... ( Yakin kamu sudah merasa baik?..... )”


“Very sure ( Sangat yakin ), Dad!”


Sembari Ann mengangguk antusias pada Daddy R.


Daddy R manggut-manggut kemudian.


“Support me please ( Dukung aku ya ) , Daddy?...”


“I am,  always support you, Dolcezza? ( Aku, memang selalu mendukungmu, kan Sayang? )”


“Thanks Dad R....”


Ann berucap manja pada Daddy R yang kemudian tersenyum tampan.


“Poppa?


“Kamu yang tahu bagaimana kondisimu, Dolcezza” Ujar Poppa.


“But you support me to go to the school tomorrow right? ( Tapi Poppa mendukung kan jika aku ke sekolah besok? ) ...”


“Okay I agree. But if you feel unwell, tell Rery ASAP ( Iya aku setuju. Tapi jika kamu merasa tidak sehat, langsung beritahu Rery ) ...”


“Okay Poppa!”


“Gappa? Gamma? Oma? Moms?...”


Kembali Ann bertanya lagi pada mereka yang sedang Ann mintai dukungan.


“Well honestly, I still worry about your condition ( Yah sejujurnya, aku masih khawatir tentang kondisimu )” Ucap Gappa. “But if you still insist to go to school tomorrow, then what can I say?.. ( Tapi jika kamu memang memaksa untuk bersekolah besok, lalu aku harus bilang apa? ... )”


Gappa juga tersenyum pada salah satu cucunya itu.


“You know I can’t say no to all my grandchilds..... ( Kamu tahu aku tidak bisa bilang tidak pada semua cucuku ... )”


Ann pun memekik girang kemudian, di tambah yang lain juga mengiyakan.


“Tapi seperti yang Poppa katakan tadi, jika merasa tidak sehat, kamu langsung beritahu Rery”


“Okay Gamma!”


“Tapi tetap, kamu harus meminta persetujuan Papa Lucca dan Mama Fabi dahulu, Ann...”


“Yes Mommy Peri”


Kemudian Ann melempar pandangan kepada kedua orang tuanya.


“May I? ( Boleh ya? ), Papa? Mama? ... You guys said to me that I have to studious and eficionado about school ( Kalian kan bilang padaku jika aku harus rajin dan antusias bersekolah ) .....”

__ADS_1


Dimana Papa Lucca dan Mama Fabi kemudian manggut-manggut, mengiyakan permintaan Ann.


Dan Ann tersenyum lebar. ‘I can’t wait to go to the school tomorrow ( Aku tidak sabar untuk pergi ke sekolah besok ) ....’


“You call Juan to bring all stuffs you need here ... ( Kamu hubungi Juan untuk membawakan semua barang yang kamu butuhkan kesini ..... )”


“Okay Papa!”****


Esok hari


Rery dan Ann sudah kembali akur seperti sedia kala.


Sudah kembali berangkat ke sekolah sama-sama lagi seperti selalunya.


‘Ann sedikit aneh deh?.....’ Rery membatin sembari melirik Ann yang duduk disampingnya.


Bukan tanpa alasan Rery merasa seperti itu hingga ia membatin. Ann beberapa kali terlihat menarik sudut bibirnya saat menoleh ke arah jendela mobil disisinya.


Aneh bagi Rery, karena sepertinya Ann terlihat senang, meski tidak gadis itu tunjukkan pada Rery. “Ann ....” Panggil Rery. Ann pun langsung menoleh padanya.


“Ya Rery?” Sahut Ann dengan tersenyum.


“Sepertinya kamu sedang senang sekali hari ini? Tidak seperti biasanya kamu terlihat sangat bersemangat ke sekolah .....”


Ann tersenyum. “Ya aku senang saja sudah baikan sama Rery ... Dan bisa sama-sama pergi ke sekolah lagi seperti ini ....”


“Oohh” Rery manggut-manggut.


“Memang Rery tidak senang sepertiku? ...”


“Ya aku senang juga Ann.....”


“Kalau begitu sepulang sekolah nanti kita pergi main bagaimana?”


“Okay!”


Rery tersenyum dan mengangkat jempolnya pada Ann.


“Tapi Rery yang traktir ya???!!!!...”


Kembali Rery mengangkat jempolnya.


*****


“Ingat ya Ann, jika kamu merasa sakit pada perut kamu lagi, kamu langsung teksting aku! Ponsel aku nyalakan kok!” Rery yang lebih dulu mengantar Ann sampai ke depan kelasnya itu mengingatkan Ann.


“Okay My Rery!” Sahut Ann sembari mengangkat jempolnya pada Rery yang langsung menyunggingkan senyumnya.


“Ya sudah. Masuk sana” Ucap Rery kemudian, dan ia pun segera masuk ke kelasnya setelah Ann Rery pastikan duduk di kursinya dalam kelas Ann.


***


Waktu istirahat di sekolah Rery dan Ann


Seperti halnya berangkat sekolah yang sudah kembali sama-sama, Rery dan Ann juga bersama-sama pergi ke kantin sekolah dan tentunya duduk dan makan bersama seperti selalunya.


Ann juga mau diajak makan dan duduk bersama dengan teman-teman sekelas Rery yang dekat dengan soulmate-nya Ann itu.


Hanya saja, Gadis yang bernama Maria tidak ikut bergabung bersama Rery dan teman-teman dekatnya itu seperti saat mereka tergabung dalam sebuah proyek sains, dan saat Rery sedang bermusuhan dengan Ann.


Gadis yang bernama Maria itu juga tidak ada di kantin sekolah saat jam istirahat ini.


“Bestie aku kamu bukannya?” Sahut Rery.


“Ah pura-pura Rery, waktu aku menyerangnya kan kamu membelanya...”


“Menyindir nih ceritanya?....”


Ann sontak terkekeh.


“Memang begitu kan?”


“Bukannya kita sudah baikan ya?”


“Iya, iya, aku kan hanya bertanya Rery. Bukankah waktu kita bermusuhan itu dia selalu duduk bersama kamu dan mereka ini?”


“Mungkin dia takut, karena ada kamu disini”


“Baguslah kalau begitu!”


“Sudah. Makan!”


Rery menggoyang pelan kepala Ann.


“Okay....” Sahut Ann sembari mulai menyendok makanannya.


“Ann! ....” Seseorang memanggil Ann.


Ann serta merta menoleh saat mendengar seseorang memanggilnya dari sebuah sudut meja dalam kantin.


Rery, tentu saja ikut menoleh juga sembari mencari sumber suara yang memanggil Ann. Dan Rery mengernyitkan dahinya saat melihat orang yang memanggil Ann.


“Sebentar ya Rery ....” Ann sudah berdiri dari duduknya, namun Rery menahannya.


“Kok dia kenal kamu?”


Bukan tanpa sebab Rery bertanya seperti itu pada Ann.


Pasalnya, meski tidak kenal gadis yang usianya lebih tua dari dirinya dan Ann, tapi Rery tahu berdasarkan meja di kantin sekolah dimana orang yang memanggil Ann itu sedang berdiri dan melambai pada Ann, adalah bagian para kakak kelas duduk.


“Oh, aku tidak sengaja berkenalan dengan dia ....


“Kapan? Dimana?...”


“Beberapa hari lalu, waktu kita masih musuhan. Aku ketemu dengannya di restorannya Aunt Allegra ...”


Rery kemudian ber-hum ria.


“Memang kenapa dia panggil kamu? ...”


“Mungkin hanya mau menyapa saja Rery....”


Rery manggut-manggut pelan.


“Sebentar ya?....”


Rery hendak bergegas menghampiri kakak kelas yang memanggilnya itu.


“Sebentar saja ya Ann, nanti waktu istirahat kamu tidak cukup untuk menghabiskan makanan kamu ini”

__ADS_1


Ann pun mengangguk pada Rery.


Lalu Ann berjalan menuju meja gadis yang memanggilnya barusan.


Dan mata Rery memperhatikan.


***


“Well, Well, Well .... ( Wah, Wah, Wah .... ). Finally, I can directly meet cowards who dare attacked me from behind .... ( Akhirnya, aku dapat bertemu langsung dengan para pengecut yang berani menyerangku dari belakang .... )”


Itu Ann yang kini berada di sebuah kamar mandi tak terpakai jauh di belakang sekolahnya yang sangat luas itu, dekat dengan sebuah gudang yang jarang sekali ada yang pergi kesana.


Bukan tanpa alasan sebenarnya Ann memaksa pergi ke sekolah hari ini.


Karena Ann sudah mengatur rencana untuk pembalasannya pada ke empat murid di sekolah yang pernah menyerangnya itu, hari ini. Tentunya, dengan bantuan Ricci, meski Ricci sendiri tidak ada bersama Ann saat ini.


“You guys were absolutely made a big mistake by disturbing me and thought that I can’t find all of you who attacked from behind, even I can’t see all of you that day..... ( Kalian benar-benar membuat kesalahan besar dengan menggangguku dan mengira jika aku tidak dapat menemukan kalian yang menyerangku dari belakang, meski aku tidak dapat melihat kalian hari itu .... )”


Di hadapannya ada empat orang gadis pelaku penyerangan dirinya yang Ann dapat temukan dengan gadget canggih serta ilmu hacker dari Abang Varen, serta kecerdasan otak Ann yang berpadu dengan kelicikan si Little Devil itu yang menyala secara otomatis jika sedang dibutuhkan.


Ann yang tidak mengikuti pelajaran kimia dalam lab sekolah dan meminta ijin pada sang guru untuk tetap tinggal di kelas dengan beralasan sakit itu, juga sudah sesuai dengan rencananya. Di dukung dengan wajah Ann yang memang masih sedikit agak pucat.


Dan saat semua murid berikut guru pelajaran sudah pergi ke lab kimia sekolah, Ann tentu saja memanfaatkan waktu tersebut untuk pergi ke tempat yang tadi sudah di katakan oleh kakak kelas yang memanggilnya saat waktu istirahat di kantin sekolah tadi.


Hingga disinilah Ann sekarang, di sebuah kamar mandi tak terpakai dekat gudang jauh di bagian belakang sekolahnya.


Dengan empat orang gadis yang berbeda kelas dan tingkat dengan Ann, yang nampak terdesak dengan bertopang diatas kedua lutut mereka, sekaligus tak berdaya, karena disekelilingnya ada beberapa murid dari tingkat paling atas yang tadi Ann sambangi saat waktu istirahat.


Para kakak kelas di tingkat akhir yang cukup disegani dan di takuti oleh sebagian para murid di sekolah Ann terutama di tingkatan mereka, karena gadis yang memanggil Ann tadi merupakan pemimpin dari mereka yang menjadi sekutu Ann sekarang.


Yang merupakan anak salah seorang petinggi yang sangat disegani di London dan terkenal dan juga  tidak boleh disenggol.


Karena mereka yang berurusan dengan gadis yang dekat dengan Ricci tersebut, yang seringkali menggunakan kekuasaan sang ayah, tidak akan segan mengurus mereka yang ia rasa sebagai gangguan baginya.


Dan katakanlah Ann beruntung, karena Gadis tersebut sangat tergila-gila pada Ricci meski entah, Ann tidak tahu apakah mereka berpacaran atau tidak.


Kemarin Ann di kenalkan oleh Ricci dengan gadis tersebut via video call dan gadis itu berjanji akan membantu Ann mengurus murid-murid yang sudah menyerang Ann itu, yang kini nampak jelas sudah terlihat ketakutan. Terdesak tak berdaya, karena masing-masing dari mereka dijaga oleh satu orang dibelakangnya.


Plak!


Plak!


Plak!


Plak!


Satu per satu dari gadis tersebut mendapatkan tamparan dari tangan Ann sendiri.


“That, for attacked me from behind.... ( Itu, karena sudah menyerangku dari belakang .... )”


Ann menyeringai dingin kepada empat orang gadis pelaku penyerangan dirinya itu. Dan gadis yang merupakan kekasih Ricci, mungkin. Dan teman-temannya yang berjumlah kurang lebih sembilan orang itu juga sama menyeringai menonton saja apa yang Ann lakukan pada ke empat gadis yang pernah menyerangnya itu.


“Now tell me, which one of you who was kicked my belly, put your filthy feet on my back and flushed with the trash of the toilet garbage? ( Sekarang katakan padaku, siapa diantara kalian yang menendang perutku, meletakkan kaki kotornya di punggungku, dan menyiram ku dengan sampah kamar mandi? )”


“Fely who is pushed and kicked you! Also step on you together with Meadow ( Fely yang mendorong dan menendangmu! Juga menginjak mu bersama Meadow )”


Yang ingin menyelamatkan diri pun bersuara dengan segera sembari melirik ke arah gadis yang ia sebut namanya, yang langsung mendelik dan menggumam geram pada gadis yang barusan bersuara itu.


“And Meadow also who flushed the trash on you! ( Dan Meadow juga yang menyiram mu dengan sampah itu! )”


Satu gadis lagi ikut bersuara, memandang pada satu gadis lainnya lagi yang juga kemudian mendelik dan menggumam geram, sama seperti gadis yang bernama Fely pada temannya yang menyebutkan namanya barusan.


Ann dan para sekutunya langsung menyeringai pada dua orang yang sudah nampak ketakutan dari dua lainnya.


“Can-can we, go now?? ... we were pushed by them ... ( Bisa-bisa kami, pergi sekarang??.... kami dipaksa oleh mereka .... )”


Gadis yang pertama berbicara, bersuara lagi dengan gemetar. Temannya yang satu lagi, yang merasa juga hanya membantu memegangi ikut menganggukkan kepalanya dengan cepat beberapa kali.


“I don’t care both of you were pushed or not. In my eyes, you both still helped them.... ( Aku tidak perduli kalian dipaksa atau tidak. Di mataku, kalian berdua tetap membantu mereka .... ). Both of you still have to get a punishment ( Kalian berdua tetap harus mendapatkan hukuman ) ....”


Ann menyeringai tipis.


“But don’t worry, I won’t hurt both of you ..... Because two of you who will hurt each other”


“( Tapi jangan khawatir, aku tidak akan menyakiti kalian berdua.... Karena kalian yang akan menyakiti satu sama lain .... )”


Ann mengkode agar dua gadis yang barusan ia ajak bicara itu dibuat berdiri berhadapan.


“Now both of you ... ( Sekarang kalian berdua.... ) Start to slap each other .... ( Mulailah untuk saling menampar .... ) And don’t stop, until one of you got bleeding in your lips ( Dan jangan berhenti, sampai bibir dari salah satu diantara kalian berdarah )”


Dimana dua orang gadis tersebut mendelik bersamaan seraya ketakutan.


“W-wh-what???!!! ( A-ap-apa???!!! )” Seru kedua gadis tersebut.


“You both heard what she said, do it now or I’ll make my friends will do it?. They’re love to slapped people. So hard ( Kalian berdua dengar yang dia katakan, lalukan sekarang atau aku minta teman-temanku yang melakukannya? Mereka hobi loh menampar orang. Dengan sangat keras )”


Gadis yang dekat dengan Ricci itu bersuara seraya mengancam pada dua gadis yang diminta Ann untuk saling menampar hingga ada yang terluka salah satunya.


Dimana kedua gadis itu sama-sama menelan kasar saliva mereka.


“Now! ( Sekarang! )”


Plak!


Pada akhirnya salah seorang sudah memulai apa yang Ann minta, setelah Ann berseru seraya melotot pada dua gadis tersebut.


“Good ....”


Ann langsung menyeringai senang saat pertunjukkan yang ia minta sudah dimulai.


“Just because you guys see that I have no friends in this school, you all think I can’t make them who disturbed me pay for what they do to me ( Hanya karena kalian melihat jika aku tidak memiliki teman di sekolah ini, kalian bisa berpikir kalau aku tidak bisa membuat mereka yang menggangguku membayar perlakuan mereka padaku )....”


Ann mendengus sinis.


“You guys are totally wrong ( Kalian semua salah besar ) ....”


Ann kembali menyeringai. Kini, ia mendekati dua tersangka utama yang menendang, menginjak dan menyiramnya dengan sampah toilet.


“Heeeemm. What should I do to both of you?.... ( Apa yang harus kulakukan pada kalian berdua ya?.... )”


***


Noted: Dibaca aje, jangan diresapi. Entar dikata emak kaga ngajarin yang bener lagi dah.


🍹 BONUS CHAPTER 21 🍹


Ditunggu Bon-chap yang ke 22 ye


Jangan lupa tinggalkan jejak

__ADS_1


Tararenkyu buat kalian yang masih setia dimari


__ADS_2