THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 153


__ADS_3

♣ KORBAN ♣


Selamat membaca.......


****


Mansion Utama Keluarga Adjieran Smith, London, Inggris ...


‘I supposed to disturb all of them last night! ( Seharusnya gue ganggu mereka semua semalam! ).’ Ada batin seseorang yang sedang menggerutu, berikut wajahnya yang nampak begitu kesal.


Sementara beberapa pria yang semalam menggoda jiwa penasaran atas sebuah rumus rahasia yang dimiliki para


wanitanya, lagi – lagi nampak tergelak puas. Nampak mereka sedang mentertawakan si pria yang sedang merungut itu.


Pagi ini, karena memang mansion sangat padat merayap dan walaupun sebenarnya di Mansion keluarga yang


cetar membahenol yang lebih – lebih dari keluarga sultan ini memiliki ruang makan tersendiri untuk sebuah jamuan yang mejanya itu panjaaang dengan barisan kursi yang buanyak juga, yang kiranya cukup untuk menampung jumlah personel untuk duduk bersama dimeja yang teramat panjang itu, namun mereka semua lebih memilih untuk sarapan santai diarea halaman belakang.


Lagipula para krucil yang lahir terlanjur kaya itu bisa sekaligus bermain di kolam renang. Sudah ada satu tambahan kolam renang lagi di area halaman belakang sejak Dad dan Mom punya cucu yang berentet.


Jadilah tercetus ide untuk membangun satu kolam renang lagi untuk area bermain para krucil pewaris tahta Keluarga Adjieran Smith yang didesain sedikit menyerupai water park meski tak terlalu besar, lengkap dengan spiral standar.


“Kenapa itu dia?.”


“Siapa?.”


“Tuh cicitnya Marco Polo.”


Fania menunjuk Lucca dengan kepalanya pada Ara sambil berbicara pelan. Ara terkekeh sambil menoleh juga pada Lucca setelah tahu yang Fania maksud.


“Entah!.” Ara mengendikkan bahunya. “Bukannya memang wajahnya seperti itu?.”


“Iya sih.” Fania melirik lagi ke arah Lucca. “Tapi kayaknya dia lagi merungut itu.” Ucap Fania.


Ara kembali ikutan juga melirik Lucca. “Mungkin semalam ga dapat ‘jatah’ dari Fabiana.” Celetuk Ara.


“Bisa jadi.” Timpal Fania.


Sepasang partner gibah itupun cekikikan berduaan lagi dan berhenti saat Nyonya dari pria yang mereka sedang bicarakan itu datang mendekati Fania dan Ara.


**


Para pria matang yang tergelak itu menghentikan tawa mereka saat Dad mendekat pada mereka semua dan duduk di dekat Lucca yang tampak masih merenggut itu.


“What’s wrong with that face, my Son?.. ( Ada apa denganmu, Anakku? ).” Tanya Dad sembari tersenyum. “Are the badevil you now? ( Apa mereka sedang menggodamu sekarang? ).” Tanya Dad lagi dan Lucca manggut – manggut sambil menoleh pada Dad.


Tak lama Lucca pun mendengus sambil memandang sebal pada para pria yang kira – kira seusianya itu yang masih


pada terkekeh dari sisa gelakan mereka. “Like you don’t know them, Dad ( Seperti kau tak tahu mereka saja, Dad ).”


Dad pun seketika tersenyum.


"And what this is all about? ( Dan ini semua tentang apa? ).”


“A stupid hocus – pocus! ( Sebuah rumus bodoh! ).”


Lucca memandang sinis ada Andrew, Reno, dua J dan Dewa yang kini tergelak lagi.


“An hocus – pocus? ( Sebuah rumus? ).”


Dad belum iyeng.


“What hocus – pocus? ( Rumus apa? ).” Tanya Dad.


“The magical hocus – pocus that only our women have Daad.. ( Rumus ajaib yang hanya dimiliki oleh para wanita kita, Daad )..”


“Ahh!.. Thatt.. ( Ahh!.. Ituuu )..”


“You know?! .. ( Kau tahu?! )..” Lucca lebih memiringkan tubuhnya menghadap Dad yang sedang cengengesan.


“Heeem ..”


Dad membuat mimik seolah ia sedang berpikir namun dengan ekspresi sedikit kocak, yang membuat para putranya


selain Lucca mempertahankan kekehan mereka.

__ADS_1


“Of course I know! .. ( Tentu saja aku tahu! .. ).” Ucap Dad kemudian lalu ia pun tergelak.


Lucca mendengus lagi, wajah sebalnya makin nampak. “Even this old man already feel that! ( Bahkan orang tua ini pun sudah merasakannya! ).”


Dad dan lima putranya masih terbahak – bahak melihat ekspresi Lucca. Dad bahkan sampai menutup mulutnya. Dan Lucca akhirnya menggeleng lemah.


“Share with me please.. For God Sake I’m curious .. ( Tolong berbagilah.. Demi Tuhan aku penasaran ).” Lucca kemudian nampak memelas. “Don’t be so mean to me, Guyss.. We’re family right? Brothers?! .. You all supposed to be share any information with me! ( Kalian jangan terlalu kejam padaku .. Kita keluarga kan? Saudara?! .. Kalian sudah seharusnya berbagi setiap informasi padaku! ).“


Dan si Hantu tamvan nan kaku dan dingin itu kini tampak berapi – api akibat penasaran dengan rumus Birama Dua per Satu Release Contraction.


‘I must to make sure, that Fabi already know about that stupid but make curious half in death hocus – pocus, by today, right away! ( Gue harus memastikan, kalau Fabi sudah tahu tentang rumus bodoh tapi membuat penasaran setengah mati, hari ini juga, secepatnya!.’


**


Sementara itu para wanita muda pun akhirnya berkumpul seperti halnya para pria.


“Ck!!!.” Fabiana nampak berdecak pelan setelah melirik sang suami kemudian wanita cantik itu menggeleng pelan.


“What’s wrong Fab? ( Kenapa Fab? ).”


“Lucca!....” Sahut Fabiana pada pertanyaan Michelle.


“What’s wrong with your husband? ( Kenapa dengan suamimu? ).” Tanya Michelle lagi.


“Weird .... he was asked me last night, about a magical hocus – pocus that I don’t understand! ( Aneh.... dia tanya aku semalam, tentang rumus ajaib yang aku tidak mengerti ).” Jawab Fabiana pada Michelle, kemudian memandangi para wanita yang berada didekatnya.


Michelle, Fania, Ara, Prita dan Jihan kompak mengernyitkan dahi mereka.


‘Magical Hocus – Pocus? ( Rumus Ajaib? ).’


Lima wanita itu membatin dengan pertanyaan yang sama dalam hati mereka. Otak belom sinkron pada ‘rumus ajaib’ yang dibilang oleh Fabiana barusan.


**


Yang terjadi semalam dalam kamar Lucca dan Fabiana di Mansion keluarga Adjieran Smith


“Cara.. ( Sayang ) ....” Lucca merapatkan dirinya pada Fabiana.


Fabiana sedikit menggeliat saat bibir Lucca menyentuh ceruk lehernya. “Huum?....”


Jadi Fabiana juga belum terlalu fasih berbahasa Italia dan Lucca memakluminya. Fabiana membalikkan badannya dan langsung menggelayutkan kedua tangannya di belakang leher sang suami yang kini sudah tak memakai atasan. Suatu kebiasaan Lucca yang memang tidak betah kalau tidur harus memakai baju.


“I like being here. Feels like a real home.... ( Aku suka berada disini. Rasanya benar – benar seperti rumah ).”


Fabiana menatap Lucca yang juga sedang menatapnya dengan teduh saat ini. Lucca paham maksud kalimat Fabiana barusan. Di Mansion milik Dad Anthony dan Mom Erna ini, memang ramai orang. Tapi kehangatan begitu terasa menjalar dalam Mansion.


“Everyone here are so humble.... warm .... full of affection ( Semua orang disini begitu rendah hati .... hangat.... penuh kasih sayang.....).”


Lucca tersenyum sembari menelusupkan tangannya disela rambut Fabiana.


“Full of laughter!. Very crowded.... Which, it was never happened in our home.... ( Penuh tawa!. Sangat ramai.... Yang mana, itu tidak pernah terjadi di rumah kita ) ....”


“So you want to say that you feel stress all this time live with me in our home at Italy? .... ( Jadi kamu mau bilang kalau selama ini kamu tertekan hidup bersamaku di rumah kita yang berada di Italia? )....” Lucca sedikit bercanda dan Fabiana terkekeh pelan.


“Of course not.... ( Tentu saja tidak ) ....”


Fabiana memandangi Lucca sembari menyentuh wajah suaminya itu.


“I never feel stressed to be with you. How can I feel stressed, if I live with someone who loves me that muuchhh .... and love the most ( Aku tidak pernah merasa tertekan untuk bersamamu. Bagaimana aku bisa tertekan, jika aku hidup bersama seseorang yang begitu mencintaikuuu.... dan yang paling kucintai ).”


“Ma....? ( Tapi....? ).” Sambar Lucca.


“But I feel another feeling, another happiness to have a complete family. Very! ( Tapi aku merasakan perasaan yang lain, kebahagiaan lain memiliki keluarga yang lengkap. Sangat! ).”


“Do you feel suitable with everyone in this family? .... ( Apa kamu merasa cocok dengan semua orang dalam keluarga ini? ).” Tanya Lucca dan ia mencuri satu ciuman dibibir Fabiana.


“Huum ....”


Fabiana ber - hum ria saja menjawab Lucca karena bibirnya sedang dibungkam oleh bibir Lucca yang tak lama kemudian dilepaskan oleh suaminya itu. “You were talking a lot of things with the wifes? ( Kamu membicarakan banyak hal dengan para istri ).”


Fabiana mengangguk. “A lot ( Banyak ).” Sahut Fabiana. Dan Lucca nampak lebih menarik sudut bibirnya keatas sambil memandangi Fabiana dengan tatapan yang hanya pria itu paham.


“Show me then ( Tunjukkan padaku kalau begitu ).”


“Show you what?.... ( Tunjukkan kamu apa? ) ....” Fabiana tak paham maksud ucapan Lucca.

__ADS_1


“A magical.... hocus – pocus.... ( Sebuah .... rumus ajaib.... ).”


Fabiana sedikit memiringkan kepalanya dengan mimik wajah yang bingung. Sementara wajah Lucca sudah terlihat


mupeng dengan matanya yang nampak mulai sayu.


“A magical hocus – pocus?.... ( Rumus ajaib? )....”


“Huum....” 


“What magical hocus – pocus? ( Rumus ajaib apa? ).” Tanya Fabiana yang memang tak paham.


“You must be know about it, and you trying to fool me me this innocent expression.... ( Pasti kamu tahu kan, dan kamu mencoba mengerjai aku dengan ekspresi wajah kamu yang polos ini....).” Ucap Lucca sambil memainkan alisnya.


“Tesoro .... ( Sayangku ) .... I really don’t understand about the hocus – pocus you mean ( Aku benar – benar tidak mengerti tentang rumus yang kamu maksud ).”


“Oh come on Fabiana, Cara mia .... ( Oh ayolah Fabiana, Sayangku )....” Lucca nampak mulai tak sabar. “Don’t testing my patience, it will be good for you. You know it very well don’t you?.... ( Jangan menguji kesabaranku, itu tidak akan baik untukmu. Kamu tahu itu dengan baik bukan? ).”


Lucca menyeringai dengan seringai yang Fabiana paham kemana seringai mesum milik suaminya itu mengarah.


“Show me, how the magical hocus – pocus works. Or, I ‘torture’ you this time until you unable to wake up tomorrow! ( Tunjukkan padaku, bagaimana itu rumus ajaib bekerja. Atau, aku ‘siksa’ kamu sekarang sampai kamu tidak bisa bangun besok! ).”


Lucca mulai menyudutkan tubuh Fabiana yang memang masih kebingungan dengan ucapan suaminya soal rumus – rumusan yang benar – benar Fabiana tidak pahami.


“Uno ... ( Satu .... ).”


“Tesoro .. Lucca Valentino....” Fabiana mulai gugup. “I don’t understand, really ( Aku tak paham, sumpah ).”


“Due .... ( Dua ....).”


“Tesoro....”


“You really daring me Signora Fabiana Valentino ( Kamu benar – benar menantangku Nyonya Fabiana Valentino ).”


“Te – so – ro ....” Fabiana tergagap karena Lucca kini sudah mengukungnya diatas ranjang dengan seringai mesum nan meresahkan Fabiana, karena seringai milik suaminya yang sedang nampak saat ini adalah seringai yang selalu ditunjukkan Lucca bila sedang cemburu atau kesal. Dan dipastikan Fabiana akan merasakan siksaan yang nikmat sekaligus mematikan bagi dirinya.


Sraakkk!


Benar saja apa yang baru dipikirkan Fabiana, karena Lucca sudah merobek gaun tidurnya yang lumayan tipis itu dengan tak sabar dengan masih menyeringai. “Enjoy your punishment ( Nikmati hukumanmu ). For testing my patience ( Akibat menguji kesabaranku ).”


Suara Lucca sudah lumayan terdengar parau, dan tanpa basi – basi lagi ia langsung menyerang tubuh istrinya itu dari mulai cumbuan hingga sampai ke penyatuan tanpa ampun.


- - -


Fabiana  terdengar memohon saat Lucca lagi – lagi mulai mencumbuinya setelah dua sesi pergulatan panas yang telah mereka lakukan. “No more.... please.... ( Jangan lagi.... kumohon ) ....”


“Still don’t want to show me the hocus – pocus, hm? .. ( Masih tidak ingin menunjukkan padaku rumus itu, hm? ) ....” Tangan terampil Lucca kembali bermain dengan siksaannya pada tubuh Fabiana.


“I .. hh... really... don’t .... hh ....  know.... hh ....( Aku.... hh.... benar – benar.... hh.... tidak.... hh.... tahu .... hh )..”


Fabiana yang tak tahan dengan siksaan sang suami itu m*n*ge**nja** sembari meronta\, meski tubuhnya memang merespon perlakuan suaminya\, namun rasanya ia pun sudah habis tenaga.


Namun sayangnya Lucca seperti para Pangeran Adjieran Smith yang lain kalau soal kegiatan ranjang, pantang berhenti hingga tetes terakhir. Terlebih lagi Lucca yang penasaran setengah mati dengan rumus ajaib milik para wanita Smith sedang geregetan pada Fabiana yang ia pikir kalau istrinya sebenarnya sudah tahu, tapi tak mau menunjukkan padanya.


**


Fabiana terdengar menghela nafasnya. “I really don’t know what is the magical hocus – pocus that Lucca been talked last night.... ( Aku benar – benar tidak tahu apa rumus ajaib yang Lucca bicarakan semalam ) ....”


Fabiana mendesah pelan bak desahan frustasi.


“But because of that.... I almost unable to move my body to get off from the bed this morning.... ( Tapi karena itu.... aku nyaris tak bisa menggerakkan tubuhku dari tempat tidur pagi ini ....).” Ucap Fabiana pelan sambil merelaksasikan otot lehernya dan mengelus panggulnya sendiri.


‘Ya ampuunnnnn.... itu rumus toh ternyata .... mode ngakak on .... ahahahaha!!...’


Fania, Ara, Prita dan Jihan kompak tergelak geli dalam batin mereka.


‘Yang sabar ye Ceu Fabiana.’


‘Ampuni para suami kami yang suka hilang akhlak itu Tuhan .. gara – gara provokasi mereka pada Lucca, istrinya yang jadi bulan – bulanan ..’


‘Kasihan Fabiana .. tapi mau ngakak, gimana dong?? Ngakak aja dah. Ngahaha..’


**


To be continue..

__ADS_1


__ADS_2