THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 269 – TENTANG NATHAN


__ADS_3

WHAT A TORTURING GUILTY FEELING


(Perasaan Bersalah Yang Menyiksa)


 


Selamat membaca ...


>>> Mundur Lagi Gengs ... ----->>> Liat Spion


***


“Ini .... rumah lo?” Tanya Kevia saat ia dan Nathan sudah berada di depan gerbang sebuah rumah yang cukup besar. Lebih besar dari rumah yang selama ini ditinggali oleh Kevia bersama papa dan ibu tirinya.


“Ini rumah lama aku” Jawab Nathan. “Bentar ya aku telpon dulu”


Kevia mengangguk lalu Nathan menelpon seseorang dan berbicara tentang kunci.


“Bentar ya, kuncinya on the way” Ucap Nathan seraya menoleh pada Kevia, mengusap kepalanya.


“Maksudnya rumah lama, lo dan keluarga ga tinggal disini lagi gitu?”


“Iya. Kami tinggal di Kediaman Utama sekarang. Dad ingin lebih dekat dengan keluarga yang lain disana. Ramai soalnya dan aku juga lebih senang tinggal disana”


“Oh. Maksudnya keluarga yang lain?”


Nathan tersenyum.


“Keluarga aku itu keluarga besar. Besar banget malah. Jadi tempat tinggal aku sekarang, kediaman utama kami menyebutnya, itu tempat yang kami tinggali kalau seluruh keluarga sedang kumpul semua. Baik yang di Jakarta maupun yang di London”


Kevia manggut – manggut.


“Dan kalau mereka yang berdomisili di London kembali, aku dan keluarga pindah kesini, Mami sama Papi pulang ke penthouse mereka, kediaman utama jadi sepi hanya Mom Ichel dan Daddy Dewa sama Mika dan Ares saja”


“Papi, Mami, Mom Ichel, Daddy Dewa?”


Kevia bertanya dengan wajah bingung nan polosnya. Nathan terkekeh kecil.


“Nantilah aku ceritakan kalau sudah didalam. Garis besarnya, Dad aku itu punya banyak saudara, jadi mereka sudah seperti orang tua aku sendiri. Anak – anak mereka sudah seperti kakak dan adik kandung aku sendiri”


Kevia manggut – manggut.


“Di keluarga aku itu dihapuskan batasan si A anaknya siapa. Itu ga ada. Sama semua mau ada ikatan darah atau engga. Begitu kurang lebihnya.”


“...”


“Bentar ya, itu Pak Halim datang bawakan kunci”


Nathan menjeda ceritanya lalu segera keluar dari mobilnya untuk menyambangi bapak yang baru saja datang dengan menggunakan motor matic. Berbicara sebentar, lalu menerima kunci dari tangan si bapak yang kemudian membukakan gerbang.


“Itu siapa?”


“Yang bertanggung jawab mengurus rumah ini. Pak Halim dan keluarganya bekerja untuk kami. Tapi mereka


ga mau disuruh tinggal disini. Hanya seminggu sekali jika tidak ada penyewa, mereka akan rutin membersihkan rumah”


“Oh. Jadi rumah ini dikontrakkan biasanya?”


“Iya. Mama melarang menjual. Buat investasi katanya. Ya sudah jadi disewakan. Tapi rumah ini sudah buat aku sih sebenarnya, uang sewa rumah ini juga masuknya ke rekening aku kalau ada yang menyewa”


“Pantes banyak duitnya”


“Matre ya?”


“Pengen sih. Tapi ga bisa. Lagian ga mau ah, nanti sama lagi kayak itu ular berbisa. Matre kan dia, makanya godain papa”


“Sudah ya? Kita bicara yang lain aja?”


****


“Seru ya?”


Nathan sudah membawa Kevia masuk ke dalam rumah lamanya dan sudah menyalakan lampu ruang tamu dan beberapa bagian lainnya di lantai bawah.


“Apanya?”


“Ini keluarga lo”


Kevia menunjuk figura besar yang berisikan foto seluruh keluarga besar Nathan tanpa terkecuali.


Nathan tersenyum lebar.


“Ga ada yang jelek ya?”


Nathan terkekeh mendengarnya.


“Yang paling utama kalian bahagia .... keliatan banget ekspresinya. Nyata ga dibuat – buat”


Kevia nampak sendu menatap figura foto keluarga besar Nathan.


“Kamu akan jadi bagian didalamnya nanti”


“Kayaknya engga akan”


“Kok gitu sih?”


“Ngerasa ga pantes aja”


“Kamu belum kenal mereka. Nanti aku kenalin. Sebenarnya hari ini aku mau ajak kamu ketemu mereka. Tapi ya ....”


Nathan menggantungkan kalimatnya. Kevia paham dan menyunggingkan senyumnya.


“Ga apa gue ngerti. Lagian juga gue belum siap ketemu keluarga lo. Nanti mereka tanya tentang keluarga gue, malah bikin lo malu....”


Nathan mengacak pelan rambut Kevia.


“Keluarga aku beda. Nanti kamu bisa nilai kalau sudah kenal”


“Bedanya?”


“Keluarga aku ga memandang status sosial , atau latar belakang keluarga untuk menilai baik dan buruknya


seseorang. Makanya aku mau ngenalin kamu ke mereka dengan segera, karena sudah seyakin itu sama kamu”


“Memang mantan – mantan lo?”


“Ga ada yang pernah aku bawa dan kenalkan ke keluarga aku”


“Gue juga jangan ....”


“Via, please .... kamu sudah janji ga akan bicara aneh – aneh”


“Iya maaf” Kevia tersenyum tipis.


*****


“Ini ga apa – apa kalau lo ajak gue kesini?” Tanya Kevia kala Nathan menggandengnya sambil berjalan menuju ke lantai dua.


“Ga apa. Aku bingung mau bawa kamu kemana soalnya. Setidaknya rumah ini aman dan mudahan buat kamu


nyaman”


“Makasih. Maaf ngerepotin”


“Apa sih? Kamu nih. Berhenti merasa sungkan sama aku” Ucap Nathan.


Kevia tersenyum padanya.


***


Dengan berbagai macam pertimbangan Nathan memutuskan membawa Kevia ke rumah lamanya.


Habis Nathan buntu mau bawa Kevia kemana. Untuk sementara saja, sampai Nathan dapat kabar tentang keadaan


papanya Kevia yang sedang Nathan pikirkan caranya. Dan sedang berpikir juga untuk bagaimana menjelaskan tentang Kevia dan apa yang sudah ia lakukan dan kemungkinan yang akan ia hadapi.


“Kamu bisa pakai kamar ini. Kamar aku dulunya. Tapi dirubah sejak rumah ini disewakan. Jangan khawatir


seprainya bersih. Rutin diganti meski ga ada yang menempati. Aku cek kamar mandi sebentar. Sepertinya sih lengkap peralatannya. Tapi bentar ya aku cek lagi”


Kevia mengangguk saat ia dan Nathan berada dalam satu kamar yang Nathan bilang kalau itu pernah jadi


kamarnya.


“Mau mandi?”


“Ga bawa baju ganti”


‘Ah iya’ Nathan membatin. Ga kepikiran mampir di mana gitu beli baju buat Kevia. Sekarang Nathan malah bingung sendiri. “Ada Mal dekat sini, aku beliin ya?” Nathan menawarkan. ‘Eh tapi ....?’


Sepersekian detik Nathan langsung dilema. Kalau dia pergi beli baju, berarti Kevia akan dia tinggal sendiri. Ngeri juga kalau ninggalin Kevia sendirian. – Pikir Nathan yang belum yakin kalau Kevia sudah ‘tenang’.


Sesaat Nathan terdiam, Kevia memperhatikannya. “Kenapa?” Tanya Kevia pada Nathan.


“Ga apa – apa”


“Ga usah beliin gue baju. Lo pulang aja”


“Ngusir?”


“Iya”


“Rumah aku loh ini”


“Oh iya lupa”


“Sini” Nathan membawa Kevia duduk didekatnya. “Ubah”


“Apanya?”


“Bahasanya. Jangan lo gue lagi”

__ADS_1


“Aku kamu?”


“Iya. Lebih enak kedengarannya”


“...”


“Please?”


“Iya udah”


“Coba?”


“Apanya?”


“Aku – kamu”


Kevia terkekeh.


“Lucu kamu Jo”


“Nah gitu, enak dengernya”


Kevia menyunggingkan senyumnya. Senyuman termanis yang pernah Nathan lihat diwajah Kevia.


“Sering – sering ya, senyum begini. Senang aku liatnya”


Kevia lagi menyunggingkan senyumnya. Membuat Nathan tak tahan untuk mendekatkan wajahnya dan Kevia dan


mengecup bibir warna merah muda milik Kevia.


Dada Nathan bergemuruh kencang, ciumannya tak sebentar. Agak keenakan. Ada sesuatu dalam diri Nathan yang rasanya sukar dilukiskan. Tapi sekuat tenaga Nathan tahan.


“Sayang kamu, Vi ....” Nathan sudah menghentikan ciumannya, namun menempelkan dahinya dan dahi Kevia.


“Iya, makasih. Tapi jangan berlebihan”


“Maksud?”


“Sayang, boleh. Tapi jangan terlalu sayang. Kita belum tentu terus sama – sama”


Nathan memandang tajam pada Kevia.


Hatinya tak senang mendengar ucapan Kevia barusan.


“Aku bilang apa? Berhenti bicara soal kematian .... aku benci dengarnya!”


“Jangan marah – marah”


“Maaf .... aku kesal karena kamu bicara begitu terus – terusan”


“Bukan itu maksud aku. Aku bicara jodoh, Jo. Kalau obat penenang itu sudah ga aku minum. Tapi kamu lihat kan akibatnya?. Aku, makanya kalau ada mereka dirumah mengkonsumsi itu ya karena hanya itu, obat itu yang bisa menghentikan aku untuk tak berpikir menyakiti mereka  yang tinggal disana”


“.....”


“Tapi aku turuti keinginan kamu. Untuk tak lagi meminum itu. Aku udah janji, akan aku tepati. Ga akan bicara tentang menyusul mama atau mencoba mendekatinya lagi. Sudah mencoba fokus sama diri sendiri, berhenti memikirkan yang namanya bunuh diri. Ya karena kamu, yang membuat aku merasa punya arti”


“Makasih, Via ....”


Direngkuhnya tubuh Via dalam dekapan oleh Nathan.


“Yang aku bicarakan tadi soal jodoh. Jangan terlalu sayang, kalau pada akhirnya kita tak ditakdirkan sejalan, akan terasa menyakitkan”


Tak tahu kenapa ada debar yang begitu kencang didada Nathan. Ucapan Kevia terdengar menyakitkan. Nathan


tak mau kehilangan atau Kevia tinggalkan.


Kata – kata Kevia yang lain terngiang di ingatan Nathan, berapa kali Kevia minta udahan. Tahu bukan karena Kevia tak sayang, Kevia hanya tak mau jadi beban Nathan.


Tapi tetap, Nathan akan mempertahankan agar Kevia tak kemana – mana. Memikirkan cara untuk mengikat Kevia agar tak pernah berpikir untuk meninggalkannya. Entah bagaimana, obrolan unfaedah nan salah kaprah dengan Sony dan teman dekat Nathan singgah dikepalanya.


Kevia yang sering minta udahan ia sambung – sambungkan.


‘Cewe ga akan kemana – mana kalau udah kita ambil ‘itu’ nya’


Nathan menelan salivanya.


‘Iya, kah?’


Nathan bertanya pada batinnya.


Hingga akhirnya Nathan menatap lekat manik mata Kevia.


“Sayang kan sama aku?”


“Iya ....”


Dan setelahnya Nathan bilang,


“Aku mau kamu, Via....”


****


“Via....”


Itu suara Nathan yang melirih didalam sebuah kamar. Ya, kamarnya di rumah lama.


Kamar yang menjadi saksi dimana Nathan pertama kali ‘menyentuh’ Kevia. Dimana mereka bersentuh raga


dimana tak ada sehelai benang pun yang menempel ditubuh mereka.


Waktu itu nikmat yang Nathan rasa, tapi kini, rasa sakit yang meraja. Setiap kali Nathan mengingat kesalahan fatal pertamanya.


Hanya Nathan dan Tuhan yang tahu, bukan sekarang saja Nathan bergelung dengan penyesalan yang seolah tiada


akhir.


Sejak dulu, sejak Kevia pergi dan tak bisa lagi Nathan temui setelah kesalahan fatal keduanya.


Penyesalan itu ada dan kian besar setiap waktunya. Tapi sayangnya hanya disimpan dalam hati.


Mencoba mencari solusi sendiri, hingga kurang lebih empat tahun terlewati. Penyesalan tanpa aksi.... Hanya


sekedar mencari.


Pengecut.


Memang, Nathan sadar sekali hal itu. Sadar bahwa dirinya tak lebih dari seorang pengecut, ba**ngan dan bejat seperti yang Andrea dan Mama Jihan bilang.


Janjinya pada Kevia ia ingkari sendiri. Janji semu untuk selalu menjaga Kevia dan berada disisinya apapun yang


terjadi. Tapi ternyata dirinya yang pada akhirnya paling menyakiti.


Tapi tak ada yang tahu, sama seperti aib yang ia simpan selama kurang lebih empat tahun sebelum Andrea membukanya didepan orang tua dan keluarga lainnya, betapa Nathan menyesali perbuatannya pada Kevia.


Memang penyesalan tanpa aksi itu percuma. Ketakutan yang Nathan punya berlanjut hingga empat tahun lamanya. Pokoknya pengecut lah namanya. Tapi Nathan, memang tulus mencintai Kevia. Maka itu penyesalan yang ia simpan sendiri membuatnya tersiksa setengah mati.


Andai hari itu ia bisa menahan diri, hal itu takkan terjadi. Kehamilan Via ga akan ada, Nathan tak akan jadi monster yang tega menghilangkan calon anaknya sendiri. Pasti saat ini dia dan Via masih bersama.


Ya, andai.


****


Nathan sering datang ketempat tinggalnya yang lama. Jika rumah itu sedang tidak ada penyewa.


Menghabiskan waktu disana meski entahlah apa faedahnya selain mengingat dosa dan kesalahannya pada Kevia. Lalu merasa hampir mati sesak karena penyesalan yang begitu menghimpit dadanya. Ditambah lagi rindunya pada Kevia yang tak terkira.


Di rumah itu, dikamar itu, Nathan bisa menangis sepuasnya. Masih sering mencoba menghubungi Kevia dinomornya yang lama, sama seperti empat tahun lalu sejak Via pergi menghilang begitu saja.


Masih sering mencari Kevia di jaringan media sosial juga, kadang iseng nanya sama teman – teman yang masih


sering berhubungan dengannya. Atau datang berkunjung ke rumah papanya Kevia, tapi terakhir sebulan yang lalu Nathan mampir, ternyata ucapan papanya Kevia masih sama.


‘Via belum kembali, Jo. Ga ada kabar juga. Om blank, sudah coba bayar orang tapi Via masih belum ditemukan. Nomornya masih ga aktif. Tapi Om juga masih terus berusaha, ga akan berhenti. Jo masih mau bantu cari Via?’


‘Salah Om, selalu menganggap remeh perasaan Via. Karena Om, Via pergi.... karena Om, Mama kandung Via bunuh diri .... dan sejak itu ia benci, pada Om dan Olive, tapi Om memaksanya tetap tinggal, tanpa memikirkan perasaannya saat Olive, Om bawa kesini. Dan saat Via mencoba menyakiti Olive lagi, tangan Om lancang menampar Via. Karena itu .... Via makin benci sama Om, dan memutuskan pergi ....’


Dada Nathan sesak rasanya, sejak sebulan lalu keberaniannya pun belum muncul. ‘Pengecut nan ba**ngan’


seolah sangat melekat pada diri Nathan.


‘Bukan karena Om saja ....’


Hanya dalam hati Nathan berani bilang.


***


--->>>>>> Nengok lagi kebelakang bentar


 


“Jo, aku hamil”


Kembali Nathan mengingat.


“Apa? Be – nar begitu Vi?”


“Iya. Ini aku sudah beli testpack. Garisnya dua. Aku sudah telat haid, makanya aku coba periksa. Aku baca,


kalau garis dua positif katanya. Jadi ya berarti aku positif hamil. Dua garisnya”


***


“Aborsi?”


“Ya mau gimana?”


“Harus?”


“Mau ga mau Vi. Aku mau UN, kamu juga masih harus setahun lagi di SMA”


“Ga apa, aku berhenti sekolah aja”

__ADS_1


“Vi, jangan gini dong. Aku mau kuliah, kamu masih harus sekolah. Aku ga mau kamu berhenti sekolah. Kita ini belum siap!”


“Aku siap. Mungkin kamu yang ga siap. Ya udah terserah aja. Mau tanggung jawab atau engga terserah aja. Aku


ga mau aborsi. Kalau kamu mau pergi, pergilah sana. Aku ga akan maksa kamu tanggung jawab”


“Tapi Vi ...”


“Kamu tenang aja. Nanti saat perut aku gede, udah keliatan kalo aku hamil. Aku ga akan bilang ini anak kamu.


Jadi silahkan pergi sana kalau ga mau tanggung jawab, atau kekeh suruh aku aborsi. Aku ga mau”


***


“Ngapain masih kesini?”


“.....”


“Ngomong aja. Ga ada siapa – siapa disini. Silahkan ngomong sebebasnya”


“Vi .... aku ini sayang kamu. Demi Tuhan aku sayang kamu Vi. Kalau aku Cuma mau cari kesenangan sama kamu, setelah hari itu aku pasti menjauhi kamu. Tapi nyatanya engga kan?”


“...”


“Tapi tolong kamu pikirkan lagi masa depan kamu kalau kamu mempertahankan anak ini, Vi ....”


“Ya ini masa depan aku. Lainnya aku ga peduli”


“Vi! Jangan keras kepala kenapa sih?! Aku ga akan kemana – mana! Aku akan nikahin kamu, tapi ga sekarang Vi. Aku mapan kan diri aku dulu. Tolong ngerti dong Vi ..... Kita ini masih belasan tahun, nikah, ngurus anak. Kamu yakin mampu apa ngurus anak, kamu sendiri aja masih labil?. Jangan egois!”


“Udah selesai ngomongnya?”


“Vi ....”


“Kalo udah selesai silahkan pergi. Jangan datang lagi, ga usah temuin aku lagi. Kita selesai sampai disini”


“Engga, aku ga mau kita selesai”


“Aku tetep ga mau aborsi”


***


“Masih mual?”


“Sedikit”


“Makan dulu sedikit, habis itu minum ini”


“Itu apa? Obat mual?”


“Bukan ini Vitamin”


“Untuk?”


“Ya kan kamu sedang hamil ....”


“Besar banget vitaminnya”


“Ya ga tahu. Sudah dari sananya. Makan ya sedikit, lalu minum ini vitaminnya”


“Iya udah”


***


“Kamu kasih aku apa?”


“...”


“Yang kemarin bukan Vitamin kan?”


“Maaf ... aku ga hanya memikirkan masa depan aku, tapi  juga kamu, Vi .... aku ga mau kamu dan keluarga kamu menanggung malu ... Kesalahan ini akan aku tebus nanti. Kamu sabar dulu tapi”


“Jahat ya kamu? Ternyata.... ini aslinya. Palsu. Sebelas dua belas sama papa ...”


“Maaf Vi .... aku benar – benar minta maaf.... aku ga berubah setelah ini. Kita tetap seperti selama ini. Kalau aku menghilang, menjauh. Nah silahkan kalau kamu mau ngadu ke papa kamu soal perbuatan aku. Papa kamu kan kenal sama Daddy aku. Kalau aku tau – tau ngejauhin kamu. Silahkan bilang, umumkan pada semua orang apa yang sudah aku lakukan”


“Kamu tahu ga? Kayak apa aku ngerasain sakitnya perut aku kemarin? Kamu ga ada .... katanya akan selalu ada?”


“Maaf ... sekali lagi aku minta maaf ... aku ga tahu berapa lama reaksinya.... seharusnya kamu telpon aku kemarin kalau kamu memang kesakitan ... aku pasti dateng Vi....”


“....”


“Ya udah, pulang sana”


“Vi ....”


“Konsen aja sama ujian. Kan kamu khawatir sama masa depan? Jadi mendingan kamu pulang, belajar, besok masih ujian kan?. Jangan mencoba bertahan sama aku, jangan. Aku ga mau jadi beban masa depan kamu”


“Ga gitu Vi ....”


“Ga usah pikirin aku. Mulai saat ini kita selesai. Jadi mending sekarang kamu pulang”


“Vi ....”


“Please?. Kamu kan udah bunuh anak kita, eh anak aku .... kamu kan ga mau ngakuin”


“Jangan gitu juga ngomongnya Via!”


“Ya udah pulang sana. Perlu aku berlutut supaya kamu mau pulang....?”


“Vi ....”


“Pulang ya, Jo? Sayang?. Aku pengen sendirian. Jangan khawatir aku ga berpikir untuk mengakhiri hidup. Jadi


kamu bisa pulang ke rumah kamu dengan tenang”


“Besok aku datang lagi”


“Silahkan saja”


“Sekalian mau ajak kamu ketemu orang tua dan keluarga aku yang ada di kediaman utama kalau kamu takut aku kemana – mana. Tapi tolong soal kita ... yang udah kita lakukan ... soal ini... paham kan maksud aku?.... aku mohon dengan sangat jangan bilang apa – apa pada mereka ...”


“....”


***


“Via pergi....”


“Maksud Om?”


“Dia pergi membawa hampir semua pakaiannya”


***


Lihat jalanan depan lagi


 


“Kenapa Vi ....? Kenapa harus pergi? ...”


Nathan meratap lagi, air matanya kalau ingat Kevia... selalunya, seperti biasa, pasti turun lagi seiring dengan tangisnya. Tangis penyesalan yang selama kurang lebih empat tahun Nathan simpan sendiri saja. Berikut ribuan kata maaf untuk Kevia yang tidak bisa Nathan sampaikan langsung ke orangnya.


Ingin sekali Nathan bisa bertemu lagi dengan Kevia. Kalau iya bisa bertemu, sebelum Andrea tahu duluan. Mungkin Nathan akan bilang pada Kevia,


'Aku minta maaf ... sungguh mati aku minta maaf. Aku menyesal. Sangat - sangat menyesal, meskipun itu percuma. Tapi jika boleh aku meminta, aku minta kesempatan Via..... kalau kamu mau kasih, ayo, temani aku. Akan aku ceritakan semua pada orang tua dan keluarga aku'


Tapi itu hanya angan. Hanya angan Nathan. Karena hingga kini Kevia bersembunyi begitu apiknya. Dari Nathan dan papanya. Nathan cinta, bukan sekedar cinta mon - mon pada Kevia. Tapi benar - benar cinta, seperti cintanya Dilan pada Milea?.


'Jangan rindu, berat'. Begitu kayaknya kalau Nathan ga salah. Tapi waktu Nathan ikutan nonton itu film yang sering banget di tonton para Moms berikut Andrea dan Mika. Itu, Dilan yang bicara.


Sementara dalam kasus Nathan, itu Kevia yang bicara. Jangan rindu, berat. Karena aku akan pergi. Pergi jauh dari kamu, karena aku begitu benci. - Mungkin\, begitu kiranya. - Perasaan Nathan yang menduga.


Dan jadilah selama empat tahun kurang lebih lamanya, Nathan sering sekali menghabiskan waktunya seharian di rumah lamanya hingga malam menjelang dan terlelap kemudian. Selain menjalani kehidupannya seperti biasa. Dan selama itu juga Nathan tetap 'bungkam' soal dirinya dan Kevia.


Menunjukkan sikapnya yang selama ini dikenal keluarganya dan pada semua orang disekelilingnya. Membuat semua orang berpikir, kalau Nathan itu 'baik - baik saja'.


Nanti, kalau sudah ketemu Kevia. Mungkin, akan Nathan ungkap semua pada keluarga. - Alibinya.


Sesungguhnya engga, Nathan mereka ga 'baik - baik saja'. Ada penyesalan berikut luka mendalam yang permanen terukir dihatinya bersama sebuah nama. Ada sakit yang menikam setiap kali Nathan mengingatnya. Kevia ....


Ya, Kevia. Cintanya... yang ia sakiti dengan begitu parahnya.


*****


Dan pagi ini suara dering ponselnya membangunkan Nathan dari peraduan.


“Ya Bang?. Wa’alaikumsalam”


Abang Varen yang menelpon Nathan.


“Dimana?”


“Rumah lama”


“Mau tinggal disitu apa gimana?”


“Engga gue ketiduran. Ini mau balik ke Kediaman. Ada apa Bang?. Mama oke kan?”


“Oke. Cuma masih muak sama lo kayaknya"


"Iya, gue paham"


"Gue mau nanya sesuatu”


“Apa?”


“Lo mau? kalau seandainya gue temuin lo sama Kevia?”


***


To be continue ..........

__ADS_1


__ADS_2