
END OF THE MADNESS
( Akhir dari Kegilaan )
Part 1 ( One )
*****************************
Selamat membaca ...
***************************
“Si – siapa ..”
“Kau mengusik keluarga yang salah, Sundal!”
Mata Daddy R menyorot tajam pada Dilara, seperti halnya Poppa.
“Sudah lihat dengan jelas apa yang dapat kami lakukan, heh?!” Timpal Poppa yang kemudian menyalakan lagi
sebatang nikotin yang sudah ia selipkan di bibirnya.
Wajah konyol Poppa yang tadi sudah tidak ada, berganti dengan raut wajah iblis berikut dengan seringainya.
Kini Poppa dan Daddy R sudah bak Bos Mafia di film – film, yang berdiri dengan tegak dan pongahnya, berikut
jejeran dari belasan orang yang berada di belakangnya.
Wajah Dilara jangan ditanya bagaimana syok nya saat ini. Selain raut keterkejutan yang teramat sangat, wajah
Dilara kini penuh ketakutan dan diliputi tanda tanya karena sudah sangat jelas dirinya sudah terdesak bersama dua anak buahnya yang disisakan oleh Poppa dan Daddy R.
Ingin hati Dilara untuk mencoba kabur.
Namun keadaan sudah sangat terbalik sekarang. Dua orang yang tadinya hendak dia habisi dengan pongahnya,
kini bak awan hitam besar yang sedang bergelung diatasnya.
Kaki Dilara seolah terpaku dengan sendirinya, dengan keringat dingin yang sudah bercucuran dan tubuhnya
yang gemetar, karena beberapa titik merah sudah berada di beberapa bagian tubuh dan kepalanya.
“Terkejut?” Ucap Daddy R seraya bertanya dengan memandang remeh pada Dilara.
“Daerah kekuasaanmu kau bilang, heh?”
Poppa ikut meremehkan.
“Jangankan meluluh lantakkan tempat sampahmu, yang kau sebut surga ini. Kami bahkan bisa menutupi langit
jika kami mau, kau tahu?”
Poppa dengan kepongahannya. Memandang sinis dan tajam pada Dilara yang sudah ketakutan dengan wajahnya yang juga penuh tanda tanya.
“Kau bilang, Andrea dan Kevia bukan sekedar ‘anak orang kaya’ biasa?”
“..........”
“Memang bukan. Keluarga kami hanya keluarga sederhana saja sebenarnya ... Namun kesederhanaan kami, punya kekuatan dan kekuasaan yang tak pernah bisa kau kira ....”
“..........”
“Kami sudah tahu bisnismu ini sejak lama. Tapi kami tak pernah perduli meski kau banyak merugikan orang,
menjerumuskan gadis – gadis polos yang tak berdosa bahkan kau cekoki juga dengan narkoba. Kau dan sindikatmu juga dengan kejam menjual organ tubuh manusia, dan sebagian dari mereka anak – anak bahkan. Atau kau menjual anak – anak itu kepada sindikat pengemis hingga dibuat cacat dengan sengaja”
“..........”
“Kami bukan pemberantas kejahatan, dan kami tidak mengurusi hidup orang lain ... Sebenarnya, asal kau tahu...”
“..........”
“Tapi kau! Dengan berani menyentuh putri kami hanya karena kau berpikir mereka ‘anak orang kaya’ biasa, yang dapat kau culik dan kau jual dengan akhir keluarganya yang menyerah untuk mencari mereka pada akhirnya seperti yang kau lakukan pada putri keluarga Yu sen di Singapura? ... serta beberapa putri dari ‘orang kaya’ biasa lainnya? ...”
“..........”
“Hanya karena kau tak pernah melihat kami dalam ‘komunitas’ dan ‘kalanganmu’?
“..........”
“Cih! Kami tidak akan bergabung dengan ‘komunitas’ dan ‘kalangan’ rendahan seperti kau dan kelompokmu itu!”
“..........”
“Asal kau tahu, jika kami mau, kami bisa membangun satu negeri!”
Daddy R dan Poppa berbicara bersahutan.
“Dan sampah sepertimu! Yang bahkan lebih hina daripada a*j*ng jalanan! Tak pantas bersanding dengan kami!”
“..........”
“Siapa - ... siapa kalian sebenarnya ...????!!!!!!!..”
Dilara memberanikan diri untuk bicara. Meski takut sudah, takut mati tepatnya. Namun dia sendiri penasaran dengan dua pria yang mengaku sebagai orang tua dari dua gadis yang hampir jadi korbannya dan sindikatnya.
“Bagaimana -.... bagaimana kalian ....”
“Menguasai tempat yang kau sebut ‘kerajaan’ mu ini? Yang kau pikir tidak akan tersentuh, meski banyak tokoh negeri ini yang tahu bahkan banyak dari mereka yang sudah menjadi pelanggan tetap sindikatmu itu?... Heh!!!!”
Daddy R menyambar omongan sebelum Dilara menyelesaikan pertanyaannya.
“Kerajaan yang kau sebut surga ini, tak lebih dari sekedar mainan kami”
“..........”
“Sistem keamanan, IT situs gelapmu, rantai bisnis dan mereka yang terlibat didalamnya termasuk kau! Hanya
serpihan debu yang sekejap mata dapat kami binasakan...”
“..........”
“Kau pikir dirimu pintar?...”
“..........”
“Ckckckckckckck ...”
Poppa berdecak panjang. Lalu ia berdecih sinis, sembari menyesap batangan nikotinnya.
“Kau itu Bodoh dan Buta!” Seru Poppa.
“Terlalu bodoh bahkan! ....”
Daddy R menimpali dengan remeh juga.
“Kau tahu, ada kalimat bijak yang mengatakan, ‘Periksalah selimutmu sebelum kau tidur. Karena kau tidak tahu apa yang mungkin ada di dalamnya’...”
“Apa – mak - sudmu? .....”
“Ckckckck... memang bodoh ....”
“Sangat bodoh ... sudah kuberi clue tapi tak paham juga”
Poppa mendengus kemudian.
“Kafeel! ...”
Poppa menyebut satu nama.
“Oh, aku lupa. Siapa namamu disini?”
Poppa melirik ke satu arah.
“Garvi! ...”
Dilara dan Lais membulatkan mata mereka dengan mulut mereka yang spontan terbuka, melihat seseorang yang
selama ini mendampinginya dan nampak setia pada Dilara, kini menyahut dengan sopan pada pria yang sedang mendesak keduanya.
“Gar – vi ... kau?????..”
Dilara benar – benar terkejut luar biasa begitu juga Lais yang berada di dekatnya.
Orang kepercayaannya, pria muda yang sama seperti Lais, yang pernah menolongnya hingga diajak bekerja
karena memberikan kepercayaan penuh serta bukti – bukti atas kesetiaannya pada Dilara, ternyata seseorang yang diselipkan orang lain untuk menghancurkannya dari dalam.
“Arya Adiwangsa! ....”
Otak Dilara nampak sedang berpikir keras setelah Daddy R menyebutkan satu nama.
Dilara memperhatikan lekat – lekat wajah Daddy R, lalu menengok pada pria muda yang ia kenal sebagai Garvi.
“Ar – ya .... Adiwangsa? ....”
Dahi Dilara berkerut sembari melihat pada Garvi.
Garvi alias Kafeel manggut – manggut.
“Hum, ayahku”
Kafeel alias Garvi berkata dengan datarnya.
“Yang kau dan kelompokmu fitnah dan bunuh dengan kejam saat ia berencana untuk mengungkap wajah aslimu
ke rakyat di negri ini. Tapi kau menciptakan alibi, bahwa dia adalah aparat korup hingga dia harus menghabiskan waktunya selama bertahun – tahun di penjara dan membuat kami percaya kalau dia memang bersalah. Lalu kau menyuruh orang untuk menghabisinya dengan kejam!”
“........”
__ADS_1
“Begitu apik kau menutupinya, memutar balikkan fakta”
“........”
“Tidak heran begitu mudahnya kau meng kambing hitamkan ayahku. Mengingat siapa saja tokoh negri ini yang
berada dibelakangmu ...”
“........”
“Kalian..... membuat ayahku kehilangan kehormatannya. Membuat semua orang menghakiminya hingga ia
menghembuskan nyawa ... mati dengan menanggung malu serta rasa bersalahnya padaku dan ibuku”
“Sudah ingat?!”
Daddy R menyela.
“Jadi – maksudmu ......”
Dilara tergugu dengan keningnya yang berkerut.
“Tapi aku dan ibuku lebih mempercayai ayahku, sejak itu aku mulai menyelidikinya hingga aku menemukan
namamu dalam catatan tersembunyi ayahku, siapa – siapa di belakangmu. Rantai bisnismu, dari yang kecil, hingga yang besar! ....”
“Jadi – maksudmu ...... selama ini kau ...”
“Tepat seperti dugaanmu”
“........”
“Sejak awal, pertolonganku padamu itu. Hanya bagian dari rencanaku.....”
Kafeel menyungging miring.
“Untuk membalaskan dendamku atas kematian ayahku”
“........”
“Kebetulan juga, kau berurusan dengan para om ku ini yang sudah lama tidak kutemui sejak aku berada di dekatmu”
***
Flash back on
“Om John?” (Sebuah panggilan dengan nomor yang disembunyikan masuk ke ponsel Papi John).
(Papi John tidak langsung menyahut. Dia juga sedang menerka – nerka si pemilik suara yang menyebutnya dengan panggilan ‘Om John’)
‘Siapa?. Nomornya selalu di private setiap kali hubungi gue. Tapi dia panggil gue, ’Om’?’
(Papi John sedang membatin)
‘Ga ada yang panggil gue dan yang lain ‘Om’ perasaan’
“Apa benar ini Om John?”
(Pertanyaan dari suara laki – laki muda yang kurang lebih seumur Varen itu terdengar lagi)
“Kamu ... siapa?”
“Ini Kafeel, Om”
“Ka – feel .....????”
“Iya, Om”
“Ka – feel... ka – feel.....”
“Aku ...”
“Oh Astaga! Kafeel!! Kaka?!!! Kaka anaknya Arya kan?!”
“Iya, Om, ini Kaka” (Sahut pria muda yang akhirnya Papi John ingat dengan sangat)
“Ya Tuhaann Kakaa.... kamu kemana aja Ka?! Ibu sama adik kamu sangat mengkhawatirkan kamu tahu?”
“Iya aku tahu, Om”
“Om Rico sudah cerita, tentang masalah kamu dan ibu kamu. Om sudah juga bicara padanya. Maksud ibumu baik, Boy. Dia ingin kamu melepas semua beban dihati kamu tentang ayah Arya, meskipun memang menyakitkan, tapi itu sudah pilihan ayahmu kala ia masih hidup”
“Engga, Om. Ayah itu orang yang jujur. Dia dikambing hitamkan, Om. Oleh seseorang yang ingin ia buka topengnya kala itu”
“Dengar, aku tahu sulit bagimu untuk menerimanya. Setelah selama ini kami selalu mengatakan, Uncle Rico, Uncle Sean bilang ayahmu gugur dalam tugas, lalu kau mengetahui kebenarannya ....”
“Ayah memang dikambing hitamkan, Om ....”
“Kaka ...”
“Aku menemukan catatan rahasia ayah, Om”
“Apa?”
“Benarkah, Ka? ...”
“Iya, Om. Dan sepertinya mereka membunuh ayah pada akhirnya, karena ayah tidak mau memberi tahukan dimana ia menyimpan bukti – bukti kegiatan kotor mereka, karena mereka tahu ayah belum sempat membagi bukti – bukti itu pada Uncle Sean, karena mungkin ayah pikir bukti – bukti itu belum cukup”
“........”
“Tapi dari catatan ayah dan semua gambar serta berkas dalam flashdisk yang kutemukan. Aku sangat yakin ayah dibunuh oleh mereka ini yang tergabung dalam satu sindikat”
“Siapa mereka?”
“Akan aku kirimkan kode ke surel, Om. Tolong catat karena aku akan meng kamuflase pengirim. Dan nanti yang akan aku kirimkan hanya sebuah kode. Alva pasti bisa membukanya”
“Baiklah, sebutkan”
(Papi John mencatat apa yang Kafeel katakan padanya mengenai surel berkode lalu ia juga memberikan alamat surel rahasianya pada anak dari salah seorang teman dekatnya itu)
“Lalu mengapa kamu pergi meninggalkan ibu dan adikmu?”
“Karena aku bersama mereka sekarang, Om”
“Apa?!”
“Aku sengaja masuk dalam jaringan mereka, dan kini sudah sangat dekat dengan salah satu Bos dari tiga. Aku sengaja menyulut pertengkaran denga ibu agar aku ada alasan pergi sekaligus menjauhkan ibu dan Lena dari bahaya.”
“Apa kau sudah gila?!”
“Aku ingin menghancurkan mereka, Om. Seperti mereka menghancurkan ayah. Mengembalikan nama baik ayahku yang mereka kotori. Hanya ini satu – satunya cara, untuk bisa membongkar semua kebusukan mereka”
“Kakaaaa kau mempertaruhkan hidupmu apa kau tahu?!”
“Aku tahu, Om. Tapi ini sudah menjadi tekadku. Maka itu aku menghubungimu, agar jika mereka nantinya tahu mengenai aku sebelum aku mendapatkan semua bukti, Om yang bisa membongkar semua kebusukan mereka dengan membawa semua bukti yang sedikit – sedikit akan aku kirimkan pada Om”
“Apa kau sudah menghubungi Uncle Sean atau Uncle Rico?”
“Engga Om. Dari catatan ayah, dan dari cerita ayah yang aku ingat. Menurutku, Om John lah yang rasanya sanggup membantuku”
“Kau keluar dari sana, temui aku secepatnya. Kau datang ke Kediaman pribadi Keluarga Adjieran Smith yang berada di Jakarta, aku dan Uncle – Uncle mu yang berada disini yang mengurus sisanya”
“Tidak Om, tidak sesederhana itu. Jaringan mereka tidak hanya di negara ini saja, tapi juga jaringan international yang cukup berbahaya. Aku menghubungimu karena stuck untuk menembus jaringan International yang sudah kuketahui juga. Perempuan yang merupakan Bos ku ini hanya menyebutkan nama, tapi tidak pernah mempertemukanku dengannya”
“........”
“Sepertinya Bos perempuanku dan dua tokoh negeri ini yang terlibat langsung dengannya itu sangat takut pada dua orang Rusia ini”
“Siapa nama mereka?”
“Dzyuba Zhirkov dan seorang perempuan yang dikenal sebagai Madam Anoushka”
“Aku tahu mereka. Bagaimana kamu mau aku mengurus mereka?”
“Belum ku pikirkan. Tapi yang jelas, aku mengirimkan bukti – bukti padamu sebagai jaga – jaga. Jika mereka mengetahui identitasku, tolong Om seret mereka yang ada disini agar membusuk di penjara”
“Kami bisa melakukan lebih dari itu, Boy ...”
“Aku percaya, Om. Tapi cukup melihat mereka kehilangan kekayaan, nama baik dan harga diri mereka serta
melihat mereka membusuk di penjara, rasanya itu cukup bagiku”
“Baiklah jika itu maumu”
“Aku sedang mencari cara, untuk menghancurkan transaksi besar mereka dan aku akan datang padamu kemudian. Jadi aku minta Om jangan dulu bertindak, sebelum aku datang menemui Om”
“Okay. Aku dan para Uncle mu disini akan menunggumu, Boy”
“Terima kasih, Om”
“Kau jaga dirimu dan segeralah temui kami, hem?”
“Iya, Om”
“Jika aku ingin menghubungimu bagaimana?”
“Biar aku saja yang menghubungi, Om”
“Setidaknya aku perlu mengetahui nomor ponselmu, jika aku curiga ada sesuatu yang terjadi padamu. Maka akan mudah melacak keberadaanmu”
“Baiklah. Akan aku berikan nomor ponselku, berikut kode just in case mereka memeriksa ponselku”
“Okay!”
(Kafeel memberikan beberapa digit nomor ponsel pada Papi John yang langsung mencatatnya)
***
“Om”
__ADS_1
“Ka! Kamu dimana?! Posisimu aman untuk bicara?!”
“Iya Om. Ada apa?!”
“Istri Jonathan diculik! Dan semua yang kau beri padaku tentang sindikat yang meng kambing hitamkan ayahmu itu, memang sudah terendus oleh Uncle Sean dan Uncle Rico!. Bosmu itu mengincar dua putri kami untuk diserahkan pada Dzyuba dan Anoushka!”
“Apa?!”
“Sekarang katakan apa kau mengetahuinya?!”
“Tunggu sebentar, dua putrimu?”
“Ya! Istri Jonathan dan juga Andrea!”
“Apa?! Andrea?!”
“Bagaimana kau tidak tahu, Ka? Kau kan juga dipercaya oleh si Dilara itu bukan?”
“Aku memang tahu kalau ada dua gadis kaya super cantik yang sedang diincar Dilara, dia tidak menyerahkan detail padaku karena dia bilang dua gadis itu akan dibawa ke Rusia, jadi mereka yang take over setiap gadis yang dibawa kesana. Tidak lagi melaluiku untuk memasang mereka di daftar dalam situs gelap lokal mereka. Jadi aku tidak tahu kalau salah satu incarannya itu Andrea!”
“Kalau begitu begini, this is the time Boy! ( Ini sudah saatnya Nak! ), jika kau ingin menghancurkan Dilara dan semua yang berhubungan dengannya!”
“Oke, Om”
“Kau tidak akan bisa menahan kemarahan Uncle Andrew, Uncle Reno, bahkan Alvarend dan kami semua atas hal ini terlebih jika Andrea juga sampai berani mereka sentuh, jadi lakukan apa yang kami minta kau untuk lakukan!”
“Baik Om!”
Flash back on
***
“Jadi – maksudmu ...... selama ini kau ...”
“Tepat seperti dugaanmu”
“........”
“Sejak awal, pertolonganku padamu itu. Hanya bagian dari rencanaku.....”
Kafeel menyungging miring.
“Untuk membalaskan dendamku atas kematian ayahku”
“........”
“Kebetulan juga, kau berurusan dengan para pamanku ini yang sudah lama tidak kutemui sejak aku berada di
dekatmu, jadi ...”
“Kau ..... - BERANINYA KAU GARVI!!!....” Teriak Dilara. Kafeel hanya tersenyum miring.
“Kafeel!. Namaku, Kafeel, Ibu... Kafeel – Adiwangsa!”
“Tak perduli! Tak perduli siapapun namamu! Aku pastikan kau akan menyesal!!!!”
Kafeel tersenyum saja. Sementara Poppa menggaruk dalam telinganya dan Daddy R memandangi dengan remeh
Dilara.
“Aku hanya menyesal karena tidak bisa melihatmu, Danang serta Prima membusuk di penjara”
“........”
“Tapi berhubung anda dan dua orang itu bermasalah langsung dengan para Om ku ini, jadi melihat kalian mati
tersiksa rasanya aku akan merasa bahagia. Sepadan! Atas apa yang kalian lakukan pada ayahku hingga aku, ibu dan adikku sempat dikucilkan oleh khalayak. Sementara kalian bersenang – senang!!!!!”. Wajah Kafeel yang tenang tadi pun berubah dingin dengan menunjuk Dilara.
“Kau! Aku sangat mempercayaimu selama ini Garvi!”
“Memang itu rencanaku. Membuatmu terlalu mempercayaiku yang membodohi mu sampai – sampai kau menghabisi dengan tanganmu sendiri orang yang benar – benar setia padamu”
“Kan sudah kubilang dia bodoh dan buta!”
“Brengsek! Kau, Garvi! Dan Kalian Semua! BRENGSEKKKK!!!!”
“Jika kami brengsek, lalu anda Ibu Dilara? Berikut Danang dan Prima?. Yang bicara atas nama anak – anak yang tidak beruntung dan para wanita yang lemah, tapi yang kau lakukan? Menjual anak – anak yang katanya akan kalian rangkul, termasuk para gadis yang tak berdaya!”
Kafeel mengayunkan satu langkahnya ke hadapan Dilara.
“Brengsek! Saja, rasanya tak cukup!.... Bukan begitu?”
“Hahahaha.... kalian merasa sudah menang?!”
Dilara tergelak frustasi. Lalu kembali menatap Kafeel, berikut Daddy R dan Poppa dengan wajah geramnya.
“Kalian bisa membunuhku. Tapi dengan mengusik tempat ini, kalian akan pun tidak lama akan mati!!!!!”
“Heh!!!”
“Apa kau lupa, siapa Bos sebenarnya Garvi?. Diatas Danang Arsyad?????!!....”
Dilara menyungging miring, ada sedikit kesombongan disana.
“Zhirkov dan germo bernama Anoushka, maksudmu?”
Dilara dan Lais yang masih terkadang meringis akibat luka tembak di tangannya, berikut wajahnya kian pucat
karena darah yang tak berhenti keluar dari tangannya yang terkena peluru Poppa, nampak terkejut mendengar ucapan Poppa barusan.
Nampak Dilara mungkin hendak bertanya karena mulutnya terlihat akan terbuka. Tapi sebelum Dilara mengeluarkan suara ....
Bruk!
Sebuah benda yang cukup menjijikkan terlempar di tengah - tengah Poppa, Daddy R dan orang – orang yang
berada di dekat mereka.
Mereka semua nampak kaget melihat benda yang di lempar dengan sengaja ke atas lantai di hadapan mereka itu.
Bahkan Daddy R dan Poppa juga sempat sedikit berjengkit karena cukup kaget juga, akibat benda yang tiba – tiba terlempar didekat mereka, kala mereka sedang serius memperhatikan Kafeel dan dua lawan di hadapannya.
Untung dua Hot Daddy itu ga latah. Coba kalo latah kek Ruben O, bisa – bisa Daddy R sama Poppa kelepasan ngomong,
“Eh Ayam!”
😆
“PORCO DIO! ( SETAN ALAS! )”
Umpat Poppa yang sempat kaget karena benda menjijikkan di dekatnya itu sembari menunjuk kesal ke arah
belakang Dilara dan Lais, serta beberapa anak buahnya.
“HAHAHAHA!!! ....”
Seiring tawa menggelegar yang begitu geli terdengar dari arah yang ditunjuk Poppa, bersamaan dengan sosok yang sedang menyeka tangannya dengan sebuah sapu tangan.
“Boogeyman sialan, buat kaget saja!” Gerutu Daddy R.
Laki – laki Italia tulen dengan wajah yang dihiasi rambut disekitar bawah hidung hingga mengitari dagunya, dengan bentuk wajah tegas yang mulutnya terbuka lebar karena sedang tertawa sembari berjalan mendekat ke arah Poppa dan Daddy R yang menatap kesal padanya.
“I heard you said, ‘Anoushka’ ! ( Aku mendengar kau bilang, ‘Anoushka’ ! )”
Pria yang masih nampak geli itu pun berkata.
“Ka – lian men – cari Anoushka?”
Pria Italia itu berbicara dengan bahasa Indonesia yang sarat dengan logat Italia nya, sambil dua jari telunjuknya mengacung pada Dilara dan Lais.
Dilara dan Lais menatap pria Italia itu dengan sangat aneh bercampur tanda tanya, dan si pria berjalan melalui mereka dengan santainya dengan beberapa orang bertampang sangar dengan wajah khas Italia juga di belakangnya.
“Well, This only one piece of her that was left! ( Yah, Hanya satu bagian ini saja yang tersisa darinya! )”
Sraakkk!!!!!
Pria Italia yang kini sudah berdiri di bagian sisi Daddy R dan Poppa itu menggeser benda menjijikkan yang tadi dia lempar itu ke arah Dilara dan Lais dengan tendangan dari kakinya hingga benda itu terseret mendekat ke arah Dilara dan Lais yang spontan mundur dengan raut wajah jijik dan takut melihat sepotong tangan dengan darah kering yang hampir menyelimuti potongan tangan tersebut.
Pria Italia itu menyeringai menatap Dilara dan Lais. “Ji – ka ka – lian ber – dua ti – dak per – caya ka – alau ta – ngan i –tu ada – lah Anoushka, li – hat sa- ja tattoo di – tangannya yang ha – nya se – dikit i – tu”
Dilara dan Lais melirik benda menjijikkan yang tadi di geser ke dekat mereka, dan memperhatikan potongan tangan manusia tersebut dan setelahnya, wajah mereka makin dan makin pias.
Sementara itu si pria Italia membalikkan badannya setelah Kafeel sedikit bergeser sembari memperhatikan pria
Italia yang punya garis rahang tegas, nampak kejam namun juga tengil disaat yang bersamaan kini sedang menatap Daddy R dan Poppa bergantian sembari menunjukkan cengiran dan memainkan alisnya ke arah Daddy R dan Poppa yang menatap sebal padanya lalu berdecih.
“Don’t tell me both of you got a Jump Scare also, hem? ( Jangan bilang kalau kalian berdua terkaget – kaget juga, hem? )”
Daddy R dan Poppa sama – sama mendelik pada pria Italia ini.
“Lucca”
“Valentino”
“You”
“Are”
“Very”
“Very”
“Kampreto!”
***
To be continue...
Pery Pery Sorry update selow ye, tapi mayan dah ini biar selow en cuman atu episode, tapi hampir tiga rebu kata.
__ADS_1
Deliciouso, Spaghetti, Cappucino
Jempol jangan lupito