THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 223


__ADS_3

✳  KILAS  ✳


 


 


Selamat membaca..


✳✳✳✳✳✳✳✳✳✳


London, Inggris


“D ..... kamu barusan bicara dengan siapa itu?”


“Abang”


“Sudah bisa dihubungi Abang?”


“Sudah”


“Terus Abang bilang apa?”


“Dia titip salam untuk kamu dan meminta maaf karena sudah membentak Andrea”


“Haahh bagus malah. Sekali – sekali kena bentak Abang itu si Juleha. Biar kapok beneran. Terus Abang bilang apa lagi?”


“Abang mau membebaskan Andrea”


“Hah?! Maksudnya batalin pertunangan mereka gitu?”


“Bukan. Justru Abang menyerahkan semua kembali pada Andrea. Dia tidak ingin dianggap mengekang kebebasan Andrea”


“Ck. Drea .. Drea .. kenapalah tuh anak sampai seperti itu. Padahal kita ga ngekang – ngekang dia amat. Kalau dia bilang ingin tahu Night Club mah kan bisa minta tolong Nathan untuk menemani. Ada Ammar juga yang akan selalu standby jagain dia”


“Hum... dia keburu takut tidak diijinkan. Bodoh”


“Lalu gimana D?. Abang apa sudah menyerah dengan kelakuan si Juleha sampai Abang bilang mau membebaskan


Drea?”


“Menyerah kurasa sih tidak. Kita tahu bagaimana dia memuja Andrea begitupun sebaliknya. Yang mengganggu pikiran ku sekarang ini justru, Bocah tengik satu itu berbicara tentang hubungannya dan Andrea dengan begitu tenang padaku. Dan hal itu malah membuatku tidak tenang”


“..........”


“Dia yang kutahu, begitu posesif nya pada Andrea sebagaimana halnya aku padamu, Heart. Selama ini karena


tidak ingin kehilangan Andrea, Abang selalu nampak menggebu – gebu, toh dia minta untuk menikahi Andrea saat anak kita lulus nanti”


“..........”


“Dan sekarang dia dengan tenangnya bilang, kalau dia sampai seikhlas itu untuk membebaskan Andrea, menyerahkan semuanya pada Andrea ... Haaah... justru aku jadi tidak tenang, dengan sikap Abang yang kelewat tenang kalau soal Andrea”


“Jadi gimana? Apa Abang berniat menjauh dulu dari Drea sementara waktu?. Hmm..... ga apa juga sih, biar mikir itu si Juleha.”


“Lalu dia akan membuat kekacauan yang lain. Saat dibentak Abang, dia meluapkan emosinya pada orang – orang yang mencari masalah dengannya. Jika nanti dia berpikir kalau Abang menjauhinya, memutuskan hubungan dengannya. Entah dia akan melakukan apa”


“..........”


“Jika dia berkelahi lagi, untukku tidak masalah justru. Tapi Andrea itu labil, Heart. Aku khawatir dia akan melukai dirinya sendiri jika dia merasa Abang menjauhinya”


“Hhhh...”


“Dan Abang, semakin dia bersikap tenang soal Andrea, membuatku semakin tidak tenang. Dia sempat mengancam Arya berikut keluarganya. Aku malas sebenarnya mengurusi persaingan cinta, tapi aku khawatir kalau Arya dengan kepala batunya masih mencoba mendekati Andrea, itu akan memicu emosi Abang. Selain itu segala hal yang tidak menyenangkannya jika bersangkutan dengan Andrea, tangannya pasti gatal jika hanya diam”


“Iya sih memang. Abang persis banget kayak para Daddiesnya. Suka nyeremin. Susah ditebak pula”


“Jika karena Arya, Abang mengusik Narendra. Aku, R, John, Dewa dan Jeff yang akan merasa tidak enak pada


Rico. Entah apa yang ada diotak bocah tengik satu itu saat ini. Aku tahu sebenarnya dia sedang emosi saat ini karena merasa tidak dihargai oleh Andrea. Ketenangan dia yang terlalu – lalu itu justru emosinya”


“Jadi gimana?”


“Nantilah, aku berdiskusi dulu dengan R.”


***


“..........”


“So menurut lo, R? Lo sudah bicara dengan Abang kan?”


“Sudah. Sama seperti yang lo ceritakan ke gue, yang dia katakan tadi. Yah kalau memang Abang ingin memberikan waktu untuk Andrea menikmati masa mudanya, ya sudah. Mungkin memang dia merasa memaksakan kehendak pada Andrea untuk menikahinya dalam waktu cepat”


“Heh, anak lo yang terdengar tenang dan menyerah soal Andrea itu justru membuat aneh. Apa lo ga sadar?”


“Andrew benar Hon. Kita tahu, setiap keputusannya soal Andrea itu tidak bisa digubris. Kalau sekarang sikapnya berbalik dengan menyerahkan keputusan pada Andrea, aneh menurut aku juga. Nah nanti kalau Andrea dengan keras kepalanya, mengatakan ‘ya udah putus aja sama Abang’. Ga terbayang Abang akan melakukan apa. Terlebih jika anaknya Rico itu makin masuk ke hidup Andrea”


“Iya sih Kak, Kak Ara bener. Gue juga ga mau kalau gara – gara Andrea keluarga kita jadi berseteru dengan keluarga Narendra.”


“Yang dikatakan Ara itu kemungkinan pertama. Kemungkinan kedua, anak gue yang menjadi kesayangan lo itu, bisa juga melakukan hal – hal yang menimbulkan kekacauan jika dia berpikir Abang memutuskan hubungan dengannya”


“Ya sudah kalau begitu”


“Apa yang ya sudah?”


“Percepat saja”


“Apanya?”


“Pernikahan mereka”


“Maksud lo..”


“Persiapkan saja sekarang, tidak perlu menunggu Andrea lulus”

__ADS_1


“Hah?”


“..........”


“Huumm”


“Itu yang terbaik menurut gue. Tapi terserah kalian sebagai orang tua Andrea”


“Aku setuju sih dengan R”


“Tapi kan Drea masih aktif sekolah”


“Menikahkan mereka bukan berarti Drea harus putus sekolah kan?. Gue rasa Abang ga akan tega untuk menyuruh Andrea berhenti sekolah setelah menikah dengannya. Akadkan saja dulu, Ijab Kabul. Disahkan dulu. Pestanya bisa dilakukan nanti setelah Andrea lulus sekolah. Tapi ya kembali lagi ke kalian, Drew. Little F”


“R benar Drew, Fania. Tak ada masalah aku rasa soal anak tujuh belas tahun yang menikah diusia itu. Bahkan banyak diantara mereka yang terpaksa dinikahkan karena hamil diluar nikah. Tapi kan bukan itu yang menjadi kekhawatiran kita pada Abang dan Little Star. Justru karena sama – sama saling mencintai dengan kegilaan mereka masing – masing itu yang kita khawatirkan kalau seandainya keegoisan atas emosi meraja dalam otak mereka.”


“Heeemmmm.. keputusan kamu, Heart?”


“Aku ikut apa yang menjadi keputusan kamu, D”


“Baiklah. Kita akan resmi menjadi besan dalam dua hari kedepan. Bagaimana R?”


“Deal”


“Ya sudah. Sebaiknya kita bersiap – siap. Kita bicara dengan para tetua kalau begitu”


“Mudahan itu aki – aki sama nini – nini ga pada kena serangan jantung”


“Ayo Fania, kita para wanita lebih banyak pekerjaannya”


“Hadeehh .. rekor banget anak gue”


**


“..........”


“What do you think, Dad?. ( Bagaimana menurutmu, Dad? )”


“Very agree. ( Sangat setuju )”


“Tapi bukankah kalian jadi memaksakan kehendak kalian pada Varen dan Andrea?. Ya kalau Mom sih setuju – setuju saja kalau mereka mau cepat – cepat dinikahkan. Toh Mom, Dad, Mama Anye, Pak Herman, Jeng Bela, Jeng Yuna, kami semua sudah sangat tua. Kami akan senang sekali kalau masih bisa diberikan kesempatan untuk melihat semua cucu – cucu kami menikah.”


“..........”


“Tapi masalahnya kan Varen dan Andrea sendiri. Apa tidak sebaiknya kita datang dulu ke Jakarta, bicarakan ini pada mereka, lalu kita pikirkan langkah berikutnya?”


“Kalau menurutku sih, mengingat kalau cucu laki – lakiku itu begitu menggilai Little Starnya dengan sedemikian rupa. Aku rasa Abang tidak akan menolak rencana pernikahan yang mendadak ini. Justru dia akan merasa sangat bahagia sepertinya”


“Yes! Betul sekali Mama mertuaku yang cantik jelita. Mungkin si Abang bisa salto saking bahagianya”


“Hahaha”


“Ya tapi Andrea? Kita juga harus memikirkan perasaannya kan Ndrew?”


"Ya jangan sampai Andrea merasa terpaksa juga. Nanti stress dia"


"Dia akan lebih stress jika Abang menjauhinya"


“Kalau menurut aku sih dia tidak akan menolak. Tadi Fania sudah bicara dengannya. Dari nada suaranya, yah terdengar dia sangat menyesal atas perbuatannya itu. Terlebih kata Drea tadi, Abang masih menghindarinya. Jadi si Juleha sekarang lagi sedih sampe ke sum - sum”


“Ya sudahlah, Mom sih terserah kalian saja bagaimana baiknya. Mom akan selalu mendukung keputusan kalian. Bukan begitu, Dad?”


“Of course!. ( Tentu saja! ).”


“Mama Anye?”


“Iyes lah”


“Okay! Bersiap ke Jakarta kalau begitu”


“Little F, hubungi Papa. Kita pasang beberapa unit tenda dihalaman depan. Itupun jika masih ada persediaan kalau sedang tidak disewa orang”


“Oke! Kalau kosong gue ada alternatif lain”


“Good”


“Catering biar aku yang handle. Jangan merepotkan Mama Bela”


“Call Elisse saja Babe, catering biar dari Hotel kita saja. Toh kita hanya mengundang sedikit kerabat dekat”


“Oke.. baiklah ...”


“Sudah memberitahukan juga ini pada Pak Herman dan Ibu Bela? Serta semua orang di Kediaman?”


“Sudah Ma”


“Ndrew, lo hubungi Lucca, Vla dan yang lainnya biar gue yang hubungi. Mungkin mereka mau datang”


“Rico mau dikasih tahu juga?”


“Nanti saja saat resepsi”


“Okay”


“Pakaian pengantin?”


“Dee – Dee pasti punya stok rancangan khusus yang ready”


“Okay!”


“Kita langsung berkumpul di Bandara saja malam nanti”


“Okay!”

__ADS_1


**


Jakarta, Indonesia


“Gila! Gila! Memang orang tua yang gila kalian. Hahahaha ..”


“Bocah tengik itu yang membuat kepala kami sakit”


“Hahahaha!..”


“Tapi baguslah. Keputusan yang tepat gue rasa”


“..........”


“Kalian lihat nih. Dan kita semua yakin siapa pelakunya”


“..........”


“Heh, apa gue bilang. Semakin dia tenang seperti air dikolam tanpa air mancur, semakin perlu diwaspadai. Macam


ayahnya”


**


“Pernikahan kalian”


“..........”


"Dua hari lagi"


“Ooohhhh...”


“..........”


“Tunggu – tunggu.. Poppa bilang apa tadi?”


“Kalian akan menikah dua hari lagi”


“Ka-li-an..”


“..........”


“Kalian? Mak-maksudnya – a – aku – dan – Abang??!!”


“Seperti yang kamu dengar, Nona Miracle Andrea”


“Dua hari lagi???!!”


“Ya”


“..........”


“Tapi – Tapi Drea .... kan masih sekolah. Bukannya Drea dan Abang menikah saat aku lulus nanti?”


“Perubahan rencana”


“Apa kamu tidak ingin menikah dengan Abang kesayanganmu ini?”


“Ya – Drea mau menikah sama Abang ... tapi – tapi kenapa mendadak begini? Ab – Abang yang mengusulkan? ....”


“Abang sendiri juga baru dengar rencana mereka ini sekarang”


“Judulnya kamu mau atau menolak Miracle Andrea?”


“A-A-Aku ... ikut kata Abang....”


“Apa jawabanmu Tuan Alvarend Aditama Smith?”


“Dia ikut keputusanmu, katanya tadi”


“Kamu ikut kata Abang, benar begitu?”


“Iya... Pop ..”


“Lalu keputusanmu, Bocah tengik?”


“Aku sih Yes”


“Drea? Masih mau ikut kata Abang? Atau mau menjilat ludahmu sendiri?”


“I-iya .. Aku ikut kata Abang..”


“Bagus. Tadinya akan kukirim kau ke Zimbabwe jika tidak bisa memegang kata – katamu. Anggota keluarga ini pantang menarik kata – katanya kembali. We’re people with our words, remember?. ( Kita orang yang memegang teguh kata – kata kita sendiri, ingat? )”


“Iya Pop..”


“Begitu baru putriku”


“Huummm”


“Okay! Kita sudah mencapai kesepakatan kalau begitu. Dua hari lagi kalian menikah. Jika ada diantara kalian yang berubah pikiran, akan aku tenggelamkan di laut selatan”


“Jika mereka berdua yang sepakat berubah pikiran?”


“Keduanya akan ku ceburkan di Volusia County biar jadi santapan hiu disana”


“Tega memang?”


“Anakku masih ada sembilan jika dikurangi dua”


“Poppa yang Luar biasa”


**

__ADS_1


To be continue .....


__ADS_2