THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 103


__ADS_3

😄😄 YA NASIB !!!! 😄😄


****************************


Selamat membaca ..... 


Penderitaan Dua J sudah dimulai setelah kehamilan Prita terus bertambah setiap minggunya. Selain benar – benar mengikuti saran Dokter untuk tiga melakukan hubungan suami istri di trimester pertama, meskipun dibolehkan dengan sarat dan ketentuan yang berlaku, tapi dua J menyabarkan hasrat mereka demi si jabang bayi. Yah mentok – mentok paling bersolo karir atau meminta  bantuan pada istri mereka untuk sekedar berkaraoke. ( Paham dah yak?. Wkwkwkwkwkwk ).


Dari Mood Swing, hingga morning sickness pun dua J alami, seperti halnya yang pernah dialami Andrew dan Reno sebelumnya.


Hoek


Hoek


Hoek


John memuntahkan lagi isi perutnya pagi ini.


Entah sudah keberapa kalinya John mondar – mandir ke kamar mandi hingga rasanya tak ada lagi yang bisa dikeluarkan namun perutnya terus mual.


Tubuh John sudah dirasa pria itu lemas tak berdaya.


“Pi ... kita ke dokter aja ya?.” Ucap Prita yang membelai kepala John yang sedang terbaring nampak lemas di tempat tidur.


“Lemas sekali badan aku, Sugar.......” Sahut John pelan, lalu merengkuh tubuh Prita.


Prita ikut merengkuh tubuh John.


“Aku telpon Dokternya aja ya, minta dateng kesini periksa kamu, Pi.”


“Ga usahlah ga apa – apa, aku masih bisa tahan, hanya sedikit lemas. Tapi dipeluk kamu begini mual aku hilang ....” John lebih merapatkan lagi dirinya pada Prita.


“Aku khawatir, Pi. Muka kamu udah pucet gini. Mana belum sarapan juga kamu.”


“Ga apa – apa. Andrew sama R juga sudah pernah mengalami ini sebelumnya. Cauvade Syndrome ....”


“Apaan tuh?.”


“Sindrom kehamilan simpatik ...” Ucap John sambil kemudian mengelus – elus perut Prita.


John menciumi lembut perut Prita.


“Tandanya, suami sangat mencintai istrinya kalau sampai para suami yang mengalami sindrom itu ...” Ucap John lagi. “Yang penting bayi kita sehat. Anak – anak papi sehat – sehat ya di perut mami ...” John tersenyum pada Prita. “Karena kamu panggil aku Papi, anak – anak kita nanti panggil kamu Mami aja ya?.”


Prita tersenyum kemudian mengangguk. “Iya Pi .... tapi sekarang ini Papi harus coba makan sesuatu dulu, biar papi ada tenaga.”


“Iya ...” Sahut John manja.


“Ya udah Papi mau apa?. Biar aku buatin atau aku minta Bi Cici yang siapkan?.” Tanya Prita sambil menyugar


rambut suaminya lembut.


“Susu?.” Sahut John.


“Kan kamu ga suka susu, Pi?.”


“Susu murni Mami sepertinya bisa menghilangkan mual Papi ...” John memainkan alisnya, menggoda Prita. “Boleh kali kalau itu saja sih?. Ya kan?. Dokter kan bilang kalau bisa jangan berhubungan suami istri dulu aja, kan?. Tapi kalau mainkan ini sih boleh dong? ...” Ucapnya. “Sekalian belai sebentar ini adik kecil aku.”


‘Het dah ini om – om.’ Batin Prita sambil ia geleng – geleng.


“Ya?.” John menuntun tangan Prita sambil tangannya kemudian mulai bergerilya.


“Aduh!.”


“Kenapa?.”


“Sakit ....”


“Masa aku pegang begini aja sakit?.”


“Hum ....”


“Beneran?.”


“Tapi boong!. Haha! Udah ah, aku mau bikin rujak!.” Prita kemudian bangkit.


“Ih! Nanti dulu, Sugar!. Aku gimana ini?. Sudah terlanjur on ini adik aku!.”


“Ya udah si nina boboin sendiri itu si otong!. Tinggal dulu ya Papiii!!!.. Mami mau bikin rujak dulu ....”


“Mami...... Papi lagi sakit ini! ... masa ditinggal???!!!!.”


“Ya udah istirahat kalau sakit ..”


“Ya adik aku sakit juga ini!..”


“Nanti aku minta bi Cici bawain kompres..” Prita keluar dari kamarnya sambil cekikikan.


“Haish!!.” John menggerutu melirik adik kecilnya yang sudah menggeliat dan masih juga menggeliat, namun ditinggal Prita saat sedang tegang – tegangnya.


***

__ADS_1


Rumah Pribadi Jeff dan Jihan


“Sudah enakan Papa Bear?..”


Jeff mengangguk, dia pun masih ikutan mengalami morning sickness seperti halnya John. Namun mual yang dialami Jeff tidak separah John.


“Maaf ya, jadi kamu yang ngerasain ngidam sama morning sickness nya aku, Papa Bear ..”


“It’s okay, Mama Bear... justru aku senang, semua hal yang tidak bisa aku rasakan dan alami saat kamu mengandung Nathan saat itu, kini bisa aku rasakan.” Jeff menyampirkan sedikit rambut Jihan kebelakang telinga istrinya itu. “Dulu kita tidak punya keterikatan sama sekali, terlebih hati.”


Jihan tersenyum tipis.


“Tapi sekarang sudah berbeda, kan? ..”


Jihan mengangguk. “Iya..” Lalu membelai wajah Jeff. “Terima kasih ya. Terima kasih sudah mencintai aku dengan sangat sampai kamu mengalami sindrom kehamilan simpatik seperti sekarang .. I love you, Papa Bear.” Jihan kemudian menyandarkan kepalanya di dada bidang milik suaminya itu.


“I love you too, Mama Bear ..” Sahut Jeff pelan, Jihan tersenyum dan mengusel didada Jeff sambil membelai pelan, menyalurkan perasaan cinta pada suaminya itu.


Jeff menghela nafasnya. Sedikit menahan bahkan.


“Mama Bear ..”


“Huuuum?.”


“Kenapa manjanya baru keluar sekarang sih?.”


“Namanya juga bumil, Papa Bear .... bawaan bayi ..” Jihan masih mengusel – ngusel di dada Jeff.


“Masalahnya, aku sedang menahan sampai benar – benar aman untuk berperang bersama kamu diatas ranjang ini..... tapi kalau kamu manja begini ... aku tersiksa Mama Bear....”


“Derita kamu itu sih, Papa Bear.”


“Kamu ga mau olahraga, gitu?.”


“Kan masih hamil muda gini, Papa Bear ..... nanti kalau sudah dirasa cukup waktunya aku kan juga akan ikut kelas hamil bersama Prita.”


“Olahraga ringan aja ...” Ucap Jeff. “Satu tangan pun cukup.”


Jeff memasang wajah m*sumnya sambil membimbing satu tangan Jihan ke suatu tempat dibawah perutnya.


Jihan geleng – geleng namun ia sendiri terkekeh.


“Kasihan adik kecilnya Papa Bear ... haus belaian yah? ..” Jihan tertawa kecil sambil mengelus – ngelus apa yang sedang dipegangnya dari luar celana Jeff. Jeff menggeram tertahan.


“Mama Bear ..”


“Ah iya aku lupa, Nathan minta dibuatkan puding. Tinggal dulu ya adik kecil ..”


“Aku tunggu di bawah ya, Papa Bear ...”


“Mama Bear ..... kembali kesini sekarang .. cepaaatttt.”


Jeff menatap sebal pada istrinya yang sudah berdiri dan melepaskan diri darinya. Namun Jihan masih cekikikan dan tetap melangkah menuju pintu kamar.


“Mama Bear ... uang belanja aku potong nih ya!..”


“Ga apa – apa, memang kamu kasihnya kebanyakan juga kok.” Sahut Jihan yang sudah memegang knob pintu.


“Daaaah Papa Bear, Mama Bear tunggu untuk sarapan ya dibawah ..”


“Mama Bear ..... Mama Jihan ... Sayang ... sakit ini adik aku digantung begini.”


Jihan mengerling saat ia sudah membuka pintu dan menggoda sambil memperagakan sun jauh lalu keluar dari


kamar.


“Jihan Shaquita ..... awas nanti ya, kalau kamu sudah ga forbidden!. Aku acak - acak itu garasi sampai dapur!.”


***


Waktu pun berlalu


Adjieran Smith’s Mansion, London, England


Waktu kehamilan Ara sudah tinggal menghitung hari, dan kali ini Ara akan melakukan proses kelahirannya di London. Dad dan Mom serta Fania dan Andrew tetap standby di London untuk menemani Ara dan Reno. Michelle dan Dewa menyusul ke London sekaligus menemani Mama Anye yang pastinya ingin berada dekat dengan putri semata wayangnya yang akan melahirkan anak keduanya.


“Dua pasangan di Indo sama papa Herman dan mama Bela titip salam untuk kalian semua.” Ucap Michelle kala mereka tengah berkumpul di Mansion Utama.


Dad, Mom, Fania dan Andrew, berikut juga Reno dan Ara manggut – manggut saja.


“Sehat – sehat kan mereka semua?.”


“Sehat. Papa Herman dan Mama Bela sedang menemani Prita di rumah Utama selama si John masih di Dublin.”


“Lo jadi mau kesana juga, Wa?.” Tanya Andrew.


“Jadi Ndrew, ada yang harus gue urus di resto. Setelahnya juga gue mau ke Norweg, mau cek pembangunan Hotel


kita sekalian gue menengok Far og Mor ( Ayah dan Ibu ) juga.” Sahut Dewa.


Andrew manggut – manggut. “Lo ikut Dewa, Chel?.”

__ADS_1


“Nope (Engga) ...”


“Dia mau disini saat Ara melahirkan katanya.” Timpal Dewa.


“Sudah ga curigaan lagi?.”


Reno bersuara.


“Ih Kak R.. aku bukannya curigaan. Hanya memastikan suami aku ga macam – macam dibelakang aku.” Michelle


membela diri. Dewa hanya senyum – senyum.


“Betul itu, Chel!. Jangan kasih celah buat para calon pelakor!.”


Fania mengajak Michelle untuk tos.


“Iya lah. Macam – macam ganggu suami aku. I will slay them! (Akan aku bantai mereka!).”


“Cakeeeppp ..”


Sementara dua wanita itu cekikikan, yang lain hanya menggeleng dan tersenyum saja.


“Jangan hanya wanitanya saja. Suaminya juga harus diberi pelajaran kalau coba macam – macam dibelakang kita.”


Ara bersuara sambil melirik jahil pada suami dan para pria yang lainnya sambil senyum – senyum. “Nah iya benar itu.”


Para pria hanya geleng – geleng kembali.


“Hah, kalian para wanita jangan suka berprasangka buruk pada kami!. Kalau kami mau, hanya tinggal menjentik kan jari, wanita datang macam semut menghampiri gula!.”


Andrew berkata santai.


“Betul itu, Ndrew!.” Sahut Reno dan Dewa.


“Coba aja kalau berani!.”


“Iya coba aja!.”


“Kalau mau berakhir stroke ditempat tidur. Sementara kami akan menghabiskan harta kalian!.” Ara mendukung dua saudara perempuannya. Tiga orang tua yang sedang bersama mereka hanya cengengesan saja.


Para suami dari tiga perempuan muda itu melirik sinis pada istri – istri mereka.


“Yes, Kak Ara. Macem – macem mereka, taro aja sianida dikopinya!.”


Andrew, Reno dan Dewa mendelik bersamaan pada Fania.


“Setuju!.” Sahut Ara dan Michelle.


Tiga pria tadi terus mendelik mendengar ucapan para istri mereka yang lumayan menakutkan itu.


“Memang kalian tega?.”


Reno bersuara lagi seraya bertanya.


“Ya kalau kalian tega bermain dibelakang kami. Kenapa juga kami harus ga tega menghukum kalian seandainya berani macam – macam!.” Sahut Ara. “Jangan pernah biarkan orang lain menindas kita!.” Ucap Ara. “Itu kan yang kalian terapkan pada kami?.”  Sambungnya. “Jadi sebagai istri yang baik, kami harus mengikuti ucapan kalian para suami. Bukan begitu girls?! ..” Ara menatap pada para wanita sambil memainkan alisnya.


Mom Erna, Mama Anye, Michelle dan Fania pun tergelak.


“Setujuuu!.”


“Memang kamu the best, Ara.” Celetuk Mom.


“Gimana jargon kak Fania?.”


“Jangan nyubit kalau ga mau dicubit. Kalau sampai dicubit. Injek lek – lek kan nya!.” Ucap Fania dengan lantang. “Jangan kasih ampun pada mereka yang macam – macam!.”


Para wanita pun tergelak.


“Itu berlaku untuk orang – orang yang memusuhi kita saja.” Celetuk Andrew.


“Yah, kalo suami selingkuh, nyakitin hati istri. Berarti itu suami udah jadi musuh buat istri si!.” Sahut Fania ga mau kalah.


“Ya ga begitu juga, Little F.” Gantian Reno yang nyeletuk.


“Benar itu yang kamu bilang, Sweety. Kak Ara setuju.”


“Yes, betul sekali!.”


“Sudahlah guys, kita ga akan menang melawan mereka!.”


Dewa pasrah mau tidak mau.


“Okaay!..” Dad, Andrew dan Reno pun mengiyakan daripada mereka mendengar ancaman lagi soal sianida dan sebagainya.


‘Harusnya mereka tidak terlalu diajarkan untuk sekuat dan sekejam itu.’


Para pria membatin.


****


To be continue ...

__ADS_1


Maapkeun kalo update rada lama, othor lagi kaga sinkron otaknye.


__ADS_2