
đđđ DEMI ABANG, ENENG RELA ! đđđ
*******
Selamat membaca.......*******
âSudah Momma!. Pintu ini sudah bisa terbuka. Momma tinggal tekan saja tombol berwarna hijau itu, dan pintu besi itu pasti terbuka.â
âAbis ini gue tanya Kak Ara, si Varen die kasih makan apaan ini bocah ....â
âKenapa Momma?.â
Fania berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Varen, seraya tersenyum pada bocah jenius itu. âBagaimana kamu mengerti semua ini, My Prince?.â Tanya Fania. âApa kamu mempelajarinya disekolah?.â
Varen terkekeh. âTentu saja tidak Momma.â Sahutnya. âPelajaran sekolah membosankan. Aku sudah memahaminya, bahkan pelajaran kelas delapan pun aku sudah paham. Jadi aku mempelajari yang lain.â
âApa kamu bilang?. Pelajaran kelas delapan kamu udah paham?.â Fania terperangah dengan ucapan Varen.
âYa. Jika aku bisa kembali ke sekolah, aku akan mengikuti ujian untuk kelas akselerasi ke kelas delapan.â Sahut Varen lagi.
âEh buseeettt. Bocah sepuluh tahun ngarti pelajaran kelas dua SMP! Segala die bilang membosankan pula!. Kayaknya gegara Kak Ara kebanyakan makan otak â otak waktu hamil die nih. Makanya encer begini otaknya si Varen!.â
Fania menggeleng takjub.
âWait Varen!. ( Tunggu Varen! ).â Fania meraih tangan Varen dengan cepat kala bocah itu hendak menekan tombol hijau yang berada didalam kotak bernomor samping pintu besi didekat mereka itu.
âKenapa Momma? ...â
âKita jangan dulu membukanya.â Ucap Fania. âBiar Momma memikirkan rencana dulu.â Ucapnya lagi sambil menatap Varen dan anak itu langsung mengangguk patuh.
âBagaimana kalau kita melihat â lihat apa saja yang ada disini, Momma?.â
Fania tampak berpikir sejenak.
âApa mommy kamu sudah tidur?.â
âSepertinya sudah.â
âKita harus memastikan dulu.â Ucap Fania. âApa kamu bisa menjaga rahasia?.â
âTentu saja Momma.â Sahut Varen cepat. Fania tersenyum lagi sambil membelai kepala Varen.
âKalau begitu, untuk sementara waktu, sampai Momma sudah memiliki rencana hal apa yang bisa dilakukan saat kita keluar dari sini, sebaiknya kita rahasiakan dulu ruangan ini dari yang lain. Bagaimana?.â
Varen langsung mengiyakan ucapan Fania.
âOkay Momma! ...â
Nurut banget emang ini bocah sama si Momma.
***
Varen pada akhirnya dibawa Fania ke dalam kamar bocah itu yang berbagi dengan Nathan. Nathan nampak sudah
pulas, sehingga Fania meminta Varen untuk tidak berisik. Lalu ia membantu menyiapkan baju tidur Varen saja, karena anak itu menolak keras saat Fania ingin mengelap badannya sebelum tidur.
Varen menolak karena dia bilang dia sudah besar dan tidak perlu lagi dibantu untuk membersihkan badan.
Setelah Varen bebersih diri, sikat gigi dan berganti pakaian, Fania mengantarnya ketempat tidur, menyelimutinya dan Fania meninggalkan Varen untuk pergi kekamarnya sendiri saat bocah itu sudah memejamkan matanya.
**
Bukan Fania namanya kalau tidak punya rasa penasaran tingkat tinggi.
Setelah dirasa kalau semua orang sudah tertidur, Fania yang tadinya sudah sampai didepan kamarnya itu tak jadi memutar knob pintu. Ia melangkahkan kakinya kembali ke ruangan âpara priaâ dan kemudian mengunci pintunya, setelah ia masuk dengan perlahan.
âOke, kita lihat ada apa aja disini! ...â
Fania bergumam setelah ia masuk keruang rahasia yang tadi ia temukan bersama Varen.
Beberapa mobil yang ada diruangan tersebut ia cek satu satu, setelah ia menemukan kunci yang tergantung untuk tiap mobil tersebut. Interior mobil nampak lumayan mewah berikut teknologi canggih didalamnya dan beberapa piranti tambahan yang Fania sangat tahu. Mobil â mobil berkategori mewah itu memang sudah dimodifikasi sedemikian rupa. Bahkan nampaknya juga anti peluru.
Setelahnya Fania beralih ke sebuah sudut yang dilapisi cermin serta aluminium. Sudut yang ia yakini kalau itu adalah sebuah lemari. Entah lemari apa. Lemari es mungkin?. Ah, sepertinya bukan.
Sejenak ia mematut didepan sudut tersebut. Sebuah adegan film melintas diotaknya yang kadang akalnya kebanyakan, kadang juga itu akal hilang kemana bersama akhlaknya.
Fania ternganga karena persis seperti disalah satu film action yang ia tonton, pintu aluminium berlapis cermin itu terbuka otomatis setelah ia sentuh.
âOH-MY-GOSH!.â Mata Fania terbelalak sekaligus ia tetap menganga setelah lemari itu terbuka lebar. âApa mereka ini James Bon Bon?.â Fania mengusap wajahnya, sambil menutup mulutnya dengan satu tangan, sementara satu tangannya berada di pinggang. Menatap barang â barang yang ada didalam lemari yang barusan terbuka itu.
Berbagai macam peralatan canggih macam di film â film action yang pernah ia tonton rasanya ada disitu, berikut beberapa jenis senjata yang terpajang rapih, yang ia ketahui jenis senjata apa saja, karena saat di Mansion dulu, Andrew pernah memberikan pengetahuan tentang beragam jenis senjata padanya.
Fania memutar badannya didalam lemari tersebut dan kini pandangannya tertuju pada satu tombol berukuran sedang. âAda apalagi didalem nih?. Nuklir?.â Gumamnya tapi ia tetap menekan tombol tersebut.
Lagi â lagi Fania terkejut, ada sebuah ruangan lagi, namun bukan senjata isinya. Hanya saja ada tiga piranti komputer yang nampak lengkap.
âD ... Kak Ren .. Abang â abang kuh nan tamvan ... kalian nih anggota mission impossible ape?.....â
Fania terus bergumam sendiri sambil geleng - geleng dan berjalan mendekati piranti komputer itu sambil melihat â lihat. Ingin rasanya ia menyalakan salah satu komputer, hanya untuk sekedar mencari pemberitaan tentang peledakan di rumah Uncle Keenan seminggu yang lalu. Namun ia urungkan, karena ia teringat ucapan Varen soal pelacakan.
__ADS_1
Berpikir daripada beresiko dan berbahaya jika ia menyalakan komputer sekarang, Fania mengurungkan niatnya
tersebut.
âBesok aja nunggu si Varen. Paham pasti die. Bocah pinter keterlaluan begitu!.â Gumam Fania lagi. Lalu ia keluar
dari ruang komputer tersebut, juga keluar dari lemari James Bond dan dari ruang rahasia itu dan kembali ke kamarnya.
âLV...â Fania memandangi pemantik besi yang sama persis dengan punya Andrew, hanya berbeda logo inisial. âSiapa, LV?!. Ga mungkin Louis Vuitton kan?.â
***
Pagi pun tiba. Para wanita Smith sedang berkumpul di sebuah ruangan, sementara para krucil sedang bermain sambil juga belajar bersama para pengasuhnya dan Mama Anye setelah sarapan.
âMom, boleh Fania tanya sesuatu?.â
âKamu mau tanya apa, Sayang?â
âMusuh keluarga ini siapa namanya?.â
Mom sedkit terkejut dengan pertanyaan Fania, namun ia tetap menjawabnya. âDulu sekali ayahnya Dad itu punya saudara angkat bernama Jaeden.â
âJaeden?.â
âJaeden Zepeto namanya. Tapi dia orang jahat. Ingin menguasai harta keluarga ayahnya Dad.â
âBukan berarti...â Batin Fania. â Kalau ayahnya Dad siapa namanya?.â
âRery.â
âKalau gitu bukan juga.â
âLalu Mom?.â Ara gantian bertanya.
âYah, dia berhasil menguasai harta keluarga Dad bertahun â tahun setelah membunuh kakek dan orang tua Dad,
berikut membantai beberapa klan keluarga Dad. Hendak membunuh Dad juga, tapi orang kepercayaan Rery menyelamatkan Dad. Lalu Dad menghabisi Jaeden saat ia sudah dewasa dan punya kekuatan serta dukungan.â
Putri dan menantunya yang sedang berkumpul itu manggut â manggut sambil juga terus mendengarkan Mom bercerita panjang lebar.
âJaeden, Jayvon, Joven Zepeto.... Bukan berarti. Jadi LV itu siapa?.â
âMikirin apa Kak?.â
âBukan apa â apa, Prit....â
âKalian ikut gue deh. Ada yang mau gue tunjukin. Mom juga....â
Fania sudah berdiri, namun lima wanita yang sedang bersamanya itu sedikit bingung. Tak sempat lagi bertanya,
karena Fania sudah berjalan ke satu arah. âMomma ....â Varen keluar dari kamar bermain dan belajar. Ia melihat sang Momma yang berjalan melewati kamar tempatnya berada bersama para adik â adiknya.
âMy Prince, kebetulan. Ayo kita kerja!.â
âOkay Momma!.â Lima wanita yang mengekori Fania itu nampak heran karena tidak paham apa yang dimaksud
Fania dengan ucapannya pada Varen barusan. Namun mereka tetap diam dan terus mengikuti Fania hingga sampai ke ruangan âpara priaâ.
Fania merentangkan tangannya didepan figura besar yang merupakan pintu masuk ke ruang rahasia yang ia dan
Varen temukan kemarin. Lima wanita yang bersamanya langsung berekspresi sama dengan Fania saat ia menemukan ruang rahasia itu.
âIni...â
âAkses kita untuk keluar dari sini dan mencari tahu kabar Dad dan yang lainnya.â
Para wanita itu menutup mulutnya.
âMy Prince, ada yang Momma ingin tunjukkan ke kamu. Sini.â
Fania membawa Varen ke ruangan dalam lemari yang semalam juga ia temukan. Dan wajah si bocah jenius itu langsung sumringah melihat beberapa perangkat komputer ber piranti lengkap itu.
âJadi Momma sudah punya rencana?.â
âSudah.â
Setelah rasanya rasa keterkejutan lima wanita Adjieran Smith itu hilang, Fania mulai menjelaskan rencana yang sudah disusunnya dengan baik sejak semalam. Varen juga ikut mendengarkan. Karena Fania memintanya untuk melakukan sesuatu dengan perangkat komputer. âJadi Kak Ara, anakmu yang jenius ini, akan menjadi mata gue.â
Ara mengernyitkan dahinya.
âMaksudnya?.â
âNanti Varen yang jelasin.â Sahut Fania cepat. âBisa kamu kerjakan sekarang, My Prince?.â
âPiece of cake ( Gampil ), Momma.â
âSombong beut kek Bapaknya.â
***
__ADS_1
âAku ikut dengan kamu kalau begitu, Sweety.â Setelah mencapai kesepakatan atas rencana Fania, kini Fania sudah bersiap sambil menentukan mobil yang akan dipakai.
âEngga Kak. Kak Ara lebih baik disini menjaga yang lain.â Sahut Fania.
âTapi kamu ga mungkin pergi sendiri, Sweety. Kita tidak tahu ada apa diluar pintu itu. CCTV yang terhubung diluar menunjukkan kalau itu lorong lain yang entah tembus kemana.â
Fania berdiri didepan Ara. âKak, percaya sama gue, okay. Stick to our plan (Tetap pada rencana kita). Kita semua
ingin bertemu mereka lagi, kan?. Satu â satunya cara, gue harus keluar sendiri dulu dari sini. Besar atau kecil kemungkinan, yang penting kita tahu dulu apa yang sudah terjadi pada Andrew dan yang lainnya.â
âKak Fania bener, Kak Ara.â
Prita mendukung ucapan Fania.
âTapi kamu tidak seharusnya pergi sendiri, Fania. Mom sangat khawatir.â
âBiar aku yang menemani Kak Fania.â Michelle bersuara mengajukan dirinya.
***
âKak Fania pilih yang mana?.â Michelle dan Fania serta para wanita muda yang lainnya sudah berada di ruang
peralatan.
âSepertinya ini cocok buat gue.â Fania mengangkat dua senjata api yang bermodel sama.
âTapi sebaiknya kita bawa cadangan, Kak.â
âJangan khawatir, disana sudah lengkap terisi.â
Fania menunjuk pada mobil yang akan dipakainya dengan Michelle keluar dari Save House.
âAmbilin gue itu loofa deh ....â Fania menunjuk pada senjata yang mirip mainan spinner namun lebih tajam. âKama
boleh juga.â
Fania menunjuk sebuah benda panjang hitam seperti tongkat namun jika di geser sisinya, sebuah mata pisau akan muncul diujungnya.
âOkay, Iâm ready! (Oke, aku siap!).â Ucap Michelle setelah mengecek peluru dalam senjata dan menyelipkan
satu pada jaketnya dan satu pada garis pinggang celana belakang.
âKalian seperti Charlieâs Angels.â Celetuk Jihan meski ia ngeri melihat Michelle dan Fania yang nampak sudah terbiasa dengan senjata. Bahkan Ara juga sepertinya sudah biasa dengan senjata, karena ia ikut membantu Fania dan Michelle memilih senjata untuk dua wanita itu bawa sebagai alat keamanan mereka.
Prita pun sama ngerinya dengan Jihan, namun ia ingat lagi ucapan Fania dulu untuk membuat dirinya terbiasa
dengan segala hal yang kemungkinan dilihat dan dihadapi saat sudah masuk dalam lingkup Keluarga Adjieran Smith.
âPerpaduan Charlieâs Angels sama Chun Li â Milena.â Prita ikut nyeletuk dan mereka pun terkekeh bersama.
***
âHati â hati kalian!.â Mom membelai kepala Fania dan Michelle yang siap berangkat keluar dari Save House. Sebuah Jeep Wrangler Unlimited sudah terparkir lurus searah pintu besi yang diyakini adalah pintu keluar dari save house.
âPasti Mom!.â Ucap Fania dan Michelle.
Kemudian dua wanita itu berpamitan dengan para wanita Smith yang lain termasuk Mama Anye. Kemudian pada Ben, Theresa dan tiga pengasuh krucil, setelah sebelumnya berpamitan pada krucil selain Varen.
âKalian baik â baik ya?.â
Fania berucap.
âMy Prince, Momma titipkan mereka pada kamu, hem?. My Super hero.â
âIya Mom!.... aku akan menjaga mereka.â
âI count on you (Aku mengandalkan mu).â Fania memeluk Varen.
âAku tidak akan mengecewakanmu, Momma! ....â Sahut Varen sungguh â sungguh.
âYa sudah, kami berangkat. See Ya! (Sampai ketemu!).â
Fania dan Michelle melambaikan tangan setelah berada didalam mobil Jeep dimana Fania yang berada dibalik kemudinya. Pintu besi yang tombolnya sudah ditekan Ara pun kemudian terbuka, dan ditutup lagi sekaligus kembali diaktifkan mode kuncinya oleh Varen setelah Jeep yang membawa Fania dan Michelle keluar dari ruang rahasia
tersebut.
âBagaimanapun keadaan kalian nanti, yang penting kami tahu.â
Begitu kiranya Batin Fania dan Michelle saat mereka melaju dengan sebuah Jeep dalam sebuah terowongan yang tembus dari ruang rahasia di Save House.
âBoo â Boo, Dad, Kak Andrew, Kak R, Kak John, Kak Jeff, demi bisa bertemu kalian, kami akan melakukan apapun, seperti halnya kalian yang akan melakukan apapun untuk kami.â
âAbang, tunggu Eneng datang!!!....â
***
To be continue ...
đ
__ADS_1