THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 161


__ADS_3

♣ NAH LOH ♣


*****************


Selamat membaca ......


♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣


“Kalo udah soal si Andrea pasti gue yang jadi bulan – bulanan! ..”


Fania menggerutu pelan sejak keluar dari ruang bermain sambil berjalan menuju kamarnya dan Andrew.


Mama Anye yang baru saja mencapai lantai dua tak sengaja juga melihat Fania yang nampaknya sedang kesal sendiri itu.


“Fania ..” Ucap Mama Anye seraya memanggil Fania.


Mata Fania langsung tertuju pada Mama Anye yang kini sudah ada didekatnya. “Ma....”


“Kamu kenapa?. Bete gitu mukanya?.” Tanya Mama Anye.


“Ga apa – apa, Ma.”


“Tadi Andrew cari kamu. Sudah ketemu?.” Tanya Mama Anye lagi pada si Kajol.


“Sudah.” Sahut Fania singkat.


“Mana dia?.”


“Tuh diruang bermain.” Sahut Fania sambil menunjuk pada ruangan yang berada tak jauh dibelakangnya.


“Kamu mau kemana?.”


“Kamar Ma.”


“Kamu sakit, Fania?.” Mama Anye masih bertanya.


Fania menggeleng.


“Kok kayaknya rada pucet sih?.”


“Ga make up kan Ma.”


“Ya biar ga make up juga kamu biasanya kan seger mukanya. Sekarang agak pucet.” Ucap Mama Anye.


“Ngantuk Ma.” Sahut Fania.


“Tumben kamu jam segini sudah ngantuk?.”


“Efek makan kebanyakan.” Ucap Fania sambil tersenyum tipis.


“Bisa jadi.” Mama Anye terkekeh kecil. “Ya udah kalo ngantuk. Mama mau panggil itu anak – anak, Apple Candy nya sudah jadi.” Sambung Mama Anye dan Fania mengangguk. Dan Mama Anye pun langsung meneruskan langkahnya menuju ruang bermain, sementara Fania masuk ke kamarnya.


**


“Fania mana?.” Kakak ganteng hendak pergi ke ruang bermain, namun bersamaan Andrew dan lainnya yang berada didalam ruang bermain juga berhambur keluar dari sana.


“Kamar.”


Reno melirik wajah Andrea yang nampak sembab. “Andrea kenapa?. Seperti habis menangis?.”


Reno menjongkok kan dirinya dihadapan Andrea.


“Habis dimarahi Fania.”


“Hemm ..” Reno tersenyum pada bocah perempuan itu. “Ya sudah jangan bersedih. Mungkin Momma sedang lelah.” Ucap Reno sambil membelai kepala Andrea yang diapit oleh dua kakak lelakinya yang terlihat begitu menyayanginya.


“Iya Daddy R.” Sahut Andrea pelan.


“Ini salah aku Andrea dimarahi Momma seperti tadi, Dad.”


Nathan buka suara.


“Kenapa?.”


“Nathan tadi kesal karena Andrea merebut hape aku. Tapi Nathan tidak bermaksud membuat Momma sampai marah – marah sama Drea. Aku menyesal.” Ucap Nathan pelan.


“Ga apa – apa Kak Nathan, memang aku yang salah.” Sahut Andrea pada kakak keduanya itu dengan wajah imutnya. Dan kedua bocah itu pun tersenyum, termasuk Varen.


Para orang dewasa yang melihatnya juga ikut tersenyum.

__ADS_1


“Ya sudah, lebih baik kita turun sekarang. Theresa sudah menyiapkan Apple Candy kesukaan kalian.”


“Iya Dad R.”


“Kalian pergi duluan nanti Poppa dan Dad R menyusul.” Ucap Andrew pada tiga bocah itu, sambil juga menoleh pada Dua Nene beserta Michelle dan Fabiana yang kemudian mengangguk.


“But I want to see Momma first, Poppa. I want to say sorry. (Tapi aku mau menemui Momma dulu, Poppa. Aku ingin minta maaf).”


Andrea menunjukkan wajah penyesalannya. Andrew pun mengangguk. “Mungkin Momma berada dikamar kami, coba Andrea pergi kesana ya?. Poppa dan Dad R ingin bicara sebentar.” Ucap Andrew dan Andrea mengangguk seraya tersenyum manis.


**


Tiga krucil yang lahir terlanjur kaya itu sudah berada didepan kamar Fania dan Andrew dengan ditemani Michelle yang menggendong Mika. Mama Anye, Mama Bela dan Fabiana sudah turun kelantai bawah terlebih dulu.


Sementara Reno dan Andrew yang sedang terlibat obrolan melirik ke arah lima orang yang sudah berada di depan kamar Fania dan Andrew dan nampak sedang mengetuk pintu kamar sambil menyebut Momma, namun belum juga masuk.


“Momma ..” Ucap Andrea sembari mengetuk pintu.


Namun tidak terdengar jawaban.


Andrea mengetuk pintu dan memanggil Mommanya lagi, namun masih belum ada sahutan. “Apa Momma masih marah sama aku ya?..” Ucap Andrea lesu.


Tok.. Tok.. Tok ..


Varen dan Nathan ikut mengetuk pintu. Ikut juga memanggil si Momma yang belum kedengeran suaranya. Dua abang yang kompak itu tak tega melihat Andrea yang tertunduk lesu saat ini sambil ******* ***** pelan kaosnya.


“Mungkin Momma sudah tidur.”


“Try the intercom, maybe Momma doesn’t hear you knocked the door. (Coba bicara melalui interkom, mungkin Momma tidak mendengar kalian mengetuk pintu).”


Michelle menunjuk sebuah kotak didinding samping pintu kamar Fania dan Andrew.


“Kita masuk saja. Tidak terkunci.” Ucap Michelle lagi setelah melihat kalau tombol hijau menyala. Iapun langsung


memutar knob pintu dan tiga krucil itu pun masuk setelah memang pintu dapat terbuka karena tidak terkunci seperti yang Michelle bilang.


Tiga krucil yang sudah masuk duluan itu langsung mengedarkan pandangan mereka ke seisi kamar Momma dan


Poppa.


Michelle ikut masuk karena Mika minta diturunkan dari gendongan dan seperti ingin ikut berjalan bersama tiga kakaknya itu.


“Momma tidak ada.” Ucap Andrea.


Michelle yang mengikuti kemana Mika berjalan setengah berlari itu berbicara pada tiga krucil.


“Momma....”


Tiga krucil itu memanggil sang Momma yang belum terlihat tanda – tanda keberadaannya.


“Di balkon tidak ada.” Ucap Varen yang sudah kembali dari balkon luar.


“Momma..”


Nathan dan Andrea pergi ke walk in closet


“Tidak ada juga disini.”


“Maybe she’s in the bathroom. (Mungkin dia berada didalam kamar mandi).”


“Apa sudah turun lagi ya?.” Ucap Michelle. “Mommy Ichel cek dulu dibawah ya?.”


“Iya Mommy.” Sahut Nathan, Varen dan Andrea.


Michelle pun kembali mengangkat Michelle dan berjalan untuk melihat keberadaan Fania dilantai bawah.


****


“Memang kenapa sih Little F sampai marah – marah pada Andrea?. Sepertinya wajah Andrea sembab begitu?.”


Andrew terdengar menghela nafasnya.


“Entah.” Sahut Andrew. “Sedang uring – uringan aja itu si Little F tidak tahu kenapa. Sejak kemarin selalu terlihat kesal.”


“Hemmm. Coba lo ajak dia kemana gitu.”


“Ya sedang gue pikirkan.”


“By the way, apa yang mau lo bicarakan?.” Tanya Reno mengganti topik, karena tadi Andrew bilang ada yang ingin dibicarakan dengannya.

__ADS_1


“Tentang dua pengkhianat lagi yang tadi Lucca sampaikan pada gue.” Jawab Andrew. “Gue sudah menemukan siapa mereka dan..”


“Momma ...!!.” Suara Nathan samar – samar terdengar dari dalam kamar Andrew dan Fania, dan dua pria itu spontan menoleh. Michelle yang terlihat hendak turun dan sudah berada didekat tangga itupun terlihat membalikkan badannya lagi dan kembali berjalan sedikit cepat kearah kamar Andrew dan Fania.


“Nanti sajalah kita bicarakan.”


Andrew dan Reno sedikit keheranan, dan mereka menghentikan obrolannya sambil berjalan menuju ke kamar Andrew dan Fania.


“KAK FANIA!!.”


***


“Where are those little angels?. (Mana para malaikat kecil itu?).” Tanya Dad sambil melirik kearah tangga karena belum melihat para krucil muncul dari sana.


Para pria selain Andrew dan Reno juga sudah berada di ruang tengah bersama Dad dan para orang tua serta istri mereka. “Mungkin masih dikamar Fania dan Andrew.”


“Coba aku susul deh. Kasihan juga kalau Andrea dimarahi Fania gara – gara Nathan.” Ujar Jihan.


“Nathan ga salah kok Ji, Andrea juga biasalah namanya bocah.” Sahut Mama Bela. “Itu aje emang si Kajol yang lagi ribet. Uring – uringan. Tau kenape.” Cerocos Mama Bela. Yang mengerti hanya manggut – manggut, kecuali Lucca dan Fabiana yang kaga paham cerocosan si Syahelah yang jauh dari Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Cepet pula.


Jihan tersenyum. “Iya coba aku lihat deh.” Jihan mulai berjalan.


**


"Are you sick Lucca?. You look very pale. (Apa kamu sakit Lucca?. Kamu terlihat begitu pucat?)." Tanya Mom yang memang perhatian pada setiap orang dikeluarganya.


"Ya, I little bit unwell, Mom. (Ya, aku merasa sedikit kurang sehat, Mom)." Jawab Lucca sambil mengusap tengkuknya.


"Is your gastric relapsed?. (Apa maag mu kambuh?)." Tanya Fabiana pada suaminya itu.


"Maybe. (Mungkin). I feel like I always want to throw up, since this noon. Even I already thrown up for three times. (Aku selalu merasa ingin muntah, sejak siang tadi. Bahkan aku sudah muntah tiga kali)."


'Jangan - jangan, jangan - jangan nih.' Dewa sedikit membatin setelah mendengar ucapan Lucca barusan.


"Is because you always late to eat if I don't remind you. (Itu karena kamu selalu telat makan jika aku tidak mengingatkanmu)."


Lucca menghela nafasnya lesu. "


"Why don't call Owen, or maybe Judith.. (Kenapa ga menghubungi Owen, atau mungkin Judith..)." Celetuk John dan sibule koplak nampak cengengesan. "Maybe you're not sick, but .. (Mungkin lo ga sakit, tapi....).."


“........“Kak Fania!!....” Kalimat John tak terlanjutkan, karena dia langsung menoleh seperti semua orang yang bersamanya saat ini, setelah sayup - sayup suara Michelle seperti sebuah pekikan panik terdengar ditelinga mereka semua.


**


“KAK FANIA!!.” Teriakan Michelle terdengar jelas ditelinga Reno dan Andrew.


Dua pria itu bukan lagi mempercepat langkahnya, namun segera berlari menuju kamar Andrew dan Fania. “Poppa!


..” Andrea berlari menghambur ke Poppanya dengan berlinang air mata. Sementara Reno berlari menuju kamar mandi karena melihat Nathan sedang memegangi Mika dipintu kamar mandi yang terbuka.


“Kenapa Sweety??? ...” Tanya Andrew tergesa, sembari matanya juga mengarah pada kamar mandi.


“Mom-ma ..” Andrea terisak namun seketika mata Andrew membulat karena Reno terlihat menggendong Fania yang


sepertinya tak sadarkan diri, dari dalam kamar mandi dengan tergesa.


“Heart!! ..” Andrew berseru lalu menghampiri Fania dengan cepat yang sudah direbahkan Reno diatas ranjang


sambil menggandeng Andrea. “Andrea, wait here. Poppa going to check Momma. (Andrea, tunggu sini, Poppa akan mengecek Momma).”


Andrea mengangguk dan Varen serta Nathan mendekati Andrea yang terisak sambil mengucek matanya dengan mata mereka yang berkaca – kaca, karena menemukan sang Momma terbaring miring dilantai kamar mandi.


Andrew sudah beringsut keatas ranjang sambil menepuk – nepuk pelan pipi Fania.


“Heart..”


Panggil Andrew dengan wajahnya yang khawatir.


Reno terlihat sedang mengecek nadi Fania dan Andrew mengangkat kelopak mata Fania yang terpejam untuk memastikan kondisinya.


“Heart ...”


Andrew kembali memanggil Fania sambil masih menepuk – nepuk pipi wanita tercintanya itu.


“Is-.. Mom.. ma.. dead...??? ... (Apa- .. Mom... ma ...... meninggal ....?? ...) ...”


"No, Baby, don't talk like that ... (Tidak, Sayang, jangan bicara begitu ..) ...." Ucap Andrew pada Andrea yang terisak dan sudah mendekatinya bersama Varen juga Nathan dengan wajah cemas mereka.


“Chel, call Owen!. (Chel, hubungi Owen!).” Seru Reno yang sedikit panik pada Michelle dan adiknya yang kembali membawa Mika dalam gendongannya pun mengangguk dengan cepat sembari juga berjalan cepat menuju pesawat telpon yang ada di kamar Fania dan Andrew dan menyambar benda itu dengan cepat pula untuk menghubungi Owen.

__ADS_1


**


To be continue ....


__ADS_2