THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 177


__ADS_3

🎀🎀    SEWOT BIN KESEL    🎀🎀


***************************************


Selamat membaca..


Jakarta, Indonesia


“Ga mau! Sebelum you bangun dari itu ranjang! Ayo cepet bangun Tan – Taaaann!.”


“Iyaaaa!!!! ....”


Prita yang bersama John dan yang lainnya di ruang makan hanya bisa geleng – geleng saja, mendengar kegaduhan di kamar Nathan yang ga kelar – kelar dari semenjak ia, John Avaro, Alisha dan Andrea datang.


“Hadeeeh .... itu bocah dua kalo ketemu kayak Tom en Jerry.” Celetuk Prita.


John pun manggut – manggut setuju sambil cengengesan.


“Panggil sih mereka itu Pi .... biar pada sarapan dulu.”


“Biar aku yang panggil.”


Mama Jihan menawarkan diri, dan hendak berjalan.


“Tuh mereka turun.”


John menunjuk ke arah tangga.


**


Andrea dan Nathan sudah menyusul para Mommies dan Daddies serta Nenek Yuna yang sudah berkumpul di meja makan, berikut dengan adik – adik mereka yang juga sedang sarapan di depan ruang keluarga bersama para pengasuhnya.


Si Andrea nampak sumringah dan cengengesan, sementara wajah Nathan yang terlihat masih ngantuk itu bercampur dengan kesalnya yang teramat sangat pada si cute girl yang baru datang dari London.


John dan yang lainnya pun terkekeh melihat dua bocah yang sedang beranjak gede itu.


“Bangun kan akhirnya.”


“Gimana ga bangun kalau toa masjid pindah ke kamar aku.” Nathan melirik sinis pada Andrea yang kemudian salim pada Daddy Jeff karena belum bertemu tadi. Dan Nathan salim pada Prita dan John.


“Daddy Boo – Boo mana?.”


“Baru kemarin berangkat ke Jerman.”


“Mommy Ayank kok ga ikut?.” Tanya Andrea.


“Mom mau launching produk baru Sayangku Andrea ....” Sahut Mommy Ayank, alias Michelle yang kini dipanggil Mommy Ayank oleh anaknya si Kajol yang sekarang mulai lemes sejak lulus SMP. Sama kek emaknya yang suka asal memberi julukan pada orang.


“Wuih, asik dong .... apa Mom?. Vitamin rambut?.”


“Masker kantung mata dan new color of nail polish of course ( tentu saja warna baru cat kuku ).”


Michelle membuka sebuah perusahaan kosmetik sesuai dengan passion yang ia rasa memang cocok untuknya yang hobi merawat diri dan berdandan.


“Asiikkkk.. dapat endorse lagi....”


Andrea yang memang Selebgram di London seperti Mommanya dulu, yang bahkan masih populer sampai sekarang karena follower sang Momma tidak pernah berkurang meski sejak menikah dengan Poppanya, si Momma tidak terlalu aktif seliweran di medsos mempromosikan produk endorsan.


“Halah, rugi banget ngen - dorse elo. Follower aja masih kalah jauh sama Momma!.”


“Ye, sirik aja Tan – Tan.”


“Ya emang benar, lebih baik Mommy Ichel endorse Momma atau Mami nih. Yakin laris itu produknya ketimbang ngen - dorse elo!....” Cerocos Nathan dengan sinis.


“Nathan....” Mama Jihan memperingatkan putranya. “Bicara yang sopan. Gara – gara kamu bicara gue – elo sama Drea, tuh sekarang dia jadi ikut – ikutan begitu juga bicaranya.”


“Betul itu Mama Bear.... marahin aja nih si Tan – Tan suka ngajarin aku yang ga bener ....” Andrea menambah – nambah kan.


Daddy Jeff yang duduk disamping Andrea hanya senyam – senyum saja pada putri pertamanya Andrew dan Fania yang ceriwis itu, sembari menggoyangkan gemas kepala Andrea yang kian bertambah besar, kecantikannya makin terlihat.


Tak heran ia bisa jadi Selebgram yang terverifikasi dengan cepat meski followernya belum menembus angka follower sang Momma yang kian bertambah setiap hari, yang kadang membuat sang Poppa merungut sebal jika banyak follower pria yang meninggalkan jejak di kolom komentar.


“Gue lagi.” Sahut Nathan.


“Ye, memang benar. Dari dulu yang suka iseng sama gue siapa?. Yang rese, yang ... hmph ....”


Andrea tidak bisa melanjutkan kalimatnya karena mulutnya sudah disumpal roti oleh Nathan. “Ngoceh aja lo! Makan tuh roti! sama plastiknya sekalian! ....” Rungut Nathan.


“Ck!.”

__ADS_1


“Memang dia jadi mau sekolah SMA disini Pi?.”


“Nah ini makanya dia buru – buru mau kesini, mau lihat – lihat sekolah barunya.”


“Kejutan banget Poppa kasih ijin dia sekolah disini. Memang Poppa dan Momma mau pindah kesini?.” Tanya Nathan pada Papi John. “Mau menetap di Jakarta?.” Tanya Nathan lagi pada Papi John.


Papi John menggeleng.


“Terus kok bisa – bisanya dikasih ijin?.”


“Dikasih dong!. Gue ini kan disayang semua orang, weeee.”


“Idih kecuali gue, okay. Enek gue sih sama lo! ....”


“Nathan .... jaga bicara kamu.”


Jihan lagi – lagi memperingatkan putranya yang seringnya sinis kalau bicara dengan Andrea. “Iya, iya....” Sahut Nathan. “Memang mau SMA dimana?.” Tanya Nathan sembari mengangkat gelas yang berisikan susu untuk dia minum.


“Di sekolah kamu.”


“Blurfff....”


Tan – Tan pun seketika nyembur.


“Astagfirullah Nathaan.” Mama Jihan geleng – geleng sementara yang lainnya terkekeh melihat si Tan – Tan yang kaget.


“Uhuk! Uhuk!.... Apa?!.”


“Biasa aja si.”


“Itu kan sekolah umum biasa?. Iya favorit memang, tapi kan ga eksklusif?. Poppa tumben banget kasih dia sekolah di sekolah biasa?.”


“Gue yang minta, untuk disekolahkan di sekolah biasa yang muridnya campur, di St. George kan anak perempuan semua. Ga seru!.”


‘Hah, untung dia baru masuk, saat gue udah lulus.’ Batin Nathan. ‘Selamaat dari rasa malu punya adik yang kelakuannya abnormal. Bisa jatoh image gue yang cool ini kalau sekolah bareng sama dia.’


Nathan yang memang menetap dan sekolah di Jakarta sejak lama, kecuali saat Insiden beberapa tahun silam saat para Daddies menghilang dan dianggap sudah tiada, menempuh pendidikan di Jakarta setelahnya. Hanya saat SMA, Nathan memutuskan dan meminta bersekolah di sekolah umum yang biasa.


Nathan ingin bergaul dengan teman sebaya tidak hanya dari kalangannya saja, seperti halnya Varen, yang mengurangi fasilitas Pewaris Utamanya di Keluarga Adjieran Smith semenjak berkuliah di Harvard.


Meskipun yah karena SMA Nathan adalah salah satu SMA favorit di Jakarta, dan siswa – siswi yang bersekolah disana kebanyakan hanak horang kayah, tapi untuk Nathan rasanya itu lebih baik, ketimbang dia harus bersekolah di sekolah yang lebih khusus dari itu.


Sementara teman sekolahnya, hanya segelintir saja yang tahu latar belakang keluarga Nathan, yang kekayaannya sukar untuk dihitung bahkan dibayangkan. Itu juga karena mereka anak – anak yang orang tuanya kenal dengan para Hot Daddies dan kebetulan bersekolah di tempat yang sama dengan Nathan.


Tapi tetap Nathan juga tidak menyia – nyiakan semua fasilitas eksklusif yang ia punya dari Daddy Jeff dan para Daddy nya yang lain.


"Udah benar sekolah di St. George sana. Maen tuh sama sodaranya Putri Beatrice kek, Sultan Johor kek. Malah pindah kesini."


“Aku juga mau lah merasakan sekolah normal, dengan teman – teman dari berbagai macam kalangan. Aku bosan sekolah ditempat yang muridnya kurang lebih sama seperti kita. Mana dijaga Bodyguard terus.” Ucap Andrea. “Aku sudah besar, bisa jaga diri.” Sambungnya.


“Tapi kamu akan tetap diawasi dan dijaga Drea.” Ucap Jeff.


“Iya, tapi aku sudah bilang sama Poppa, kalau jangan sampai mencolok.” Sahut Andrea.


“Nah kalau Poppa dan Momma memang ga menetap disini, terus ini nih, anak asuhnya Nyi Blorong, tanggung jawab siapa?.” Tanya Nathan.


“Ya kita semualah ....”


“Kamu terutama!.” Celetuk Mama Jihan menatap Nathan.


“Oh No, No, No. Nathan sibuk mau mempersiapkan kuliah Nathan. Ga ada waktu jagain ini anak asuhnya Nyi Blorong. Merepotkan!.”


“Silahkan menolak, dan katakan selamat tinggal pada Your Unlimited Credit Card ( Kartu Kredit tanpa Batasmu ).”


“Haish Dad ....”


Nathan mencebik. Andrea mesam – mesem sambil memainkan alisnya pada Nathan.


“Andrea tanggung jawab kamu mulai sekarang selama Abang belum kembali. Dan itu berlaku untuk segala hal yang Drea butuhkan.” Ucap Daddy Jeff lagi. "Kamu kan Kakak tertua setelah Abang"


“Aku juga punya banyak kesibukan lah. Masa aku harus ngurus dia?.” Protes Nathan. “Lebih baik tarik saja itu kartu tanpa batas, aku ga masalah. Daripada aku harus ribet ngurusin dia nih. Lagipula adik aku ga cuma dia seorang.”


"Ga usah pikirin adik - adik yang lain. Mommies and Daddies masih bisa pegang."


“Jika kamu berani melawan Poppa silahkan bicara sendiri padanya dan menolak untuk menjaga Andrea selama ia bersekolah dan menetap disini.” Celetuk John.


“Hem .... dengar itu yang Papi bilang.” Sambar Jeff. “Kamu tahu kan nasib dari orang – orang yang berani melawan si Poppa?.”


“Kalau masih sayang pada kedua kaki dan tanganmu, maka ikuti apa yang Poppa kamu bilang.”

__ADS_1


‘Beginilah nasib punya Poppa perpaduan Hulk dan Thanos!!. Serem!. Bagus Poppa ganteng. Untung aja kulitnya tanned, ga hijau atau ungu itu si Poppa.’


Nathan pun terdiam, hanya bisa membatin, tak lagi protes.


Dari semua Daddynya, memang Nathan paling takut pada si Poppa yang kalau menurut cerita dari para Daddy, bahkan dari para Uncle nya, Poppa yang kadang gesrek itu amat sangat kejam kalau lagi angot.


Dan memang Nathan pernah menyaksikan sendiri, kebrutalan si Poppa saat ia pernah hampir tertabrak di Italia saat Liburan. Betapa malang nasib si pengendara sepeda motor, karena selain si Poppa memukulnya habis – habisan, satu tangan si pengendara motor tersebut juga ikut dipatahkan. Dan saat Nathan yang polos itu bertanya,


si Poppa dengan santainya menjawab,


“Untuk kenang – kenangan, agar dia selalu ingat untuk berhati – hati dijalan.”


Dan setelah itu Poppa membakar motor si pengendara yang hanya hampir menabrak Nathan. Lalu si Poppa bilang lagi,


“Harusnya dia berterima kasih karena aku sempat menarikmu, karena jika kamu atau semua anakku salah satunya ada yang dia tabrak, akan kupisahkan kedua tangan dan kaki dari tubuhnya. Dan kuberikan sebagai camilan untuk Puma nya Papa Lucca.”


Dan setelah itu, Nathan amat sangat menurut pada sang Poppa lebih – lebih dari kepatuhan nya akan Daddy Jeff, Daddy kandungnya.


“Gue telpon Poppa ya, bilang kalo lo ga mau jagain dan menemani gue disini selama gue sekolah.” Suara Andrea membuyarkan lamunan Nathan.


“Eh, jangan – jangan!.” Nathan merampas ponsel Andrea lalu menunjukkan senyumnya. “Akan ku jaga dirimu dengan sepenuh hati aku, Nona Muda.”


“Goood.... ( Baguusss ).... That’s My Brotha! ( Itu Baru Kakak Gue! ).” Andrea menepuk – nepuk pundak Nathan, meledeknya.


Jeff, John, Prita, Jihan juga Ibu Yuna terkekeh geli saja, yang melihat Nathan pasrah tak berdaya, kalau dia sudah diancam dengan sosok si Poppa.


“Ikhlas ga nih?.” Goda Andrea.


“Ikhlas bangeeeettt ....” ( Padahal kaga ).


Nathan menyahut pasrah, tersenyum meski nampak maksain.


‘Daripada gue berakhir dikursi roda. Atau klub Halo Avatar gue di acak – acak bahkan dimusnahkan sama si Poppa, gue pasti digebukin si Abang kalau sampai klub kami hancur gegara gue nolak jagain itu anak asuh Nyi Blorong!.’


**


Andrea memasuki kamar pribadinya yang berada di Kediaman Utama Keluarga yang berada di Jakarta.


Kamar yang selalu tertata rapih setiap kali ia datang dan menginap disana. Tak terasa asing, karena Andrea dan anggota keluarga yang lain memang sering – sering bolak – balik London – Jakarta.


Hanya saja setiap beberapa bulan atau tahun, seiring para bocah bertambah besar, kamar pasti akan dirubah interiornya, menyesuaikan dengan usia mereka. Namun barang – barang dari sejak kecil yang dirasa amat sangat layak disimpan, tidak akan pernah disingkirkan.


“Tan – Tan.”


Andrea masuk ke kamar Nathan lagi tanpa permisi.


“Apalagii?.”


“Anterin gue ..”


“Ck!. Anterin kemana sih?.”


“Ke rumah Ene sama Ake!.”


“Besok aja ah!. Lagian lo ga cape apa?. Baru juga sampe udah mau jalan aja. Kaki gatel dasar!.” Cerocos Nathan. “Udah sana istirahat, hibernasi kek sana. Nanti minggu depan baru bangun!.” Nathan hendak dikursi yang merupakan meja game nya, yang sangat lengkap dan canggih itu.


Karena Nathan memang seorang gamer profesional juga yang suka ikut Turnamen Game Online bersama Varen. Dan kadang mereka bermain bersama dari benua yang berbeda. Masih berlanjut sampai sekarang.


“Udah sana!. Gue mau mabar sekalian latihan buat Turnamen International 10.” Nathan mencoba mengusir Andrea dari kamarnya.


“Main sama Abang ya?.”


“Kepo!.”


“Mau lihat!.” Andrea bertahan. “Sini!.”


Buk!!


Tanpa tedeng aling – aling Andrea merampas headset gaming yang baru saja mau dipakai Nathan, sekaligus mendorong tubuh Nathan dari kursi gamingnya. Dan Nathan yang posisinya setengah duduk belum menempel itu, seketika langsung terhuyung dan jatuh disamping kursi.


“Allahu Akbar!!!! Andrea!!!!....” Pekik si Tan – Tan.


“Ish, gitu aja jatuh.... Mushy ( Lembek ) macam agar – agar.” Si Incess Bar – Bar menyahut santai tanpa dosa pun melirik malas.


‘Ya Allah Abaaang cepet pulang kek lo Baaaanng!!!! .... Elo doang pawangnya ini bocah tanpa akhlak.... Arrgggghhh!! ....’


**


To be continue..

__ADS_1


__ADS_2