
♦CLAIMED♦ Pernyataan
********
Selamat membaca ...
*********
Bekasi, Jawa – Barat, Indonesia..
“Jadi Jol, no more drama ( ga ada lagi drama ) ya?!.” John memastikan bahwa tak ada lagi rencana–rencana busuk dalam otak Fania dalam hubungannya dengan Prita.
“Depends.. ( Tergantung.. ).” Ucap Fania santai.
“Tergantung apa lagi..???.” Sahut Prita.
“Ape yang tergantung di puun.”
“CK!.” Prita dan John sama – sama berdecak.
“Udah sih Kak. Gue masih spot jantung ini tau ga?.” Ucap Prita.
“Iye, iye. Makanya jadi orang jangan muna!. Sok – sok an nyembunyiin segala sesuatu dari gue. Udeh tau mata – mata gue apa yang ada di langit dan di bumi.” Sahut Fania.
“Iya gue percaya.” John menyahut malas. “Jadi ga apa – apa nih gue sama Prita?.” Kemudian bertanya.
“Mau gue pisahin lo berdua emang?.” Timpal Fania. “Mau coba ilmu gue lagi?!.”
Yang mendengarnya hanya terkekeh.
“I’m with you, Heart!. ( Aku bersamamu, Sayang! ).” Celetuk Andrew dari halaman belakang. Disusul dengan suara kekehannya.
“Ah diam lo, Botak!.” Seru John sebal. “Suami istri sama gilanya!.”
Andrew yang sedang merokok bersama Dewa dan Jeff pun tergelak bersama lagi.
*****
“Pa, Ma, kami pamit dulu ya. Makasih untuk makanannya. Sangat enak seperti biasa.”
Jeff bersama Dewa, Michelle dan John pamit pulang untuk kembali ke kediaman utama Smith di Jakarta.
“Kirain pada mau nginep juga bareng sama si Kajol, Andrew sama Andrea.” Ucap Mama Bela.
“Lain kali ya Ma.” Sahut Jeff.
“Iya lain kali nanti kita kumpul disini sekalian menginap semua.” Timpal Dewa.
“Ga cukup kamar disini kalo pada nginep semua.” Sahut Papa Herman.
“Tuh, ada menantunya yang kaya.” Tunjuk John pada Andrew. "Minta belikan lagi rumah yang besarnya dua kali lipat dari ini"
“Ye, ada juga elo tuh kasih rumah sebagai tanda jadi buat adek gue!.” Sambar si Kajol.
“Ck! Salah bicara gue.” Timpal John.
Yang lainnya hanya terkekeh.
“Jangan bilang kaga bisa beliin rumah yang lebih gede dari ini lo!. Belom jadi mantu aje udeh pelit!.” Celetuk Fania lagi.
“Iya nanti gue beliin dua sekalian, biar puas kakaknya si Prita!.”
“Udah sih ah Kak John, dibilang ga usah dilayan dia!.”
Prita mencebik.
“Dih, si Priwitan gue belain lo biar dapet rumah dari Kak John!. Lagian lo mau – mau –an dilamar cuman dikasih cincin beginian.”
“Beginian apaan?. Rancangan Laurent ini asal lo tau.”
John membela diri.
“Bukan kaleng – kaleng tau ga!.”
“Rancangan Laurent yang paling murah kali. Gue aja dilamar pake Grandi permatanya. Minimal Red Diamond kek lo kasih adik gue. Lo kan kaya, Kak. Yah meski ga sekaya laki gue sih.”
Sok banget emang si Kajol.
“Lo masih mau mempertimbangkan ga Priwitan?. Mumpung belom jadi bini nye dia nih. Temen – temen kak Andrew ada kok beberapa yang lebih kaya dari dia, lebih ganteng. Mau lo gue kenalin?. Royal lagi kaga pelit
kek die!.”
“Enak aja ga ada!.” Sambar John. “Nanti gue belikan red diamond, sama tokonya sekalian!.”
“Udah deh ribut aja sih ah, kasian nih papa sama mama mau istirahat.” Celetuk Michelle. “Kasihan juga Mama Anye sama Baby Mika dirumah ditinggal lama – lama.”
“Iye tuh kasian si Mika kaga ada emak bapaknya.” Timpal Papa Herman.
“Ya udah kita pamit ya.” Dewa merengkuh pinggang Michelle diikuti Jeff setelah berpamitan dan salim pada Papa Herman dan Mama Bela.
“Apa?.” John mengernyitkan dahinya pada Fania yang mengulurkan tangan padanya.
__ADS_1
“Salim dih!.” Sahut Fania.
“Ada juga elo yang salim sama gue biasanya juga”
“Dih, gue bakalan jadi kakak ipar lo kalo lo nikah sama si Priwitan.” Fania terkekeh.
“Kesel gue sumpah!.” Ucap John yang mau juga meraih tangan si Kajol yang tertawa lebar. “Dah nih puas lo, Kakak Faniaaaa???!!!!!.”
“Puuuaaaassss bangeeeettt!!!!..”
****
Bandung, Jawa – Barat, Indonesia.....
Suasana didalam lobi sebuah gedung perkantoran sedikit ramai. Seperti ada acara dan orang – orang yang ada disitu sedang menonton. Jeff melanjutkan langkahnya.
“Jihan Shaquita... Would you marry me? ( Apa kamu menikah denganku? ).”
Rahang Jeff mengeras ketat saat matanya menangkap pemandangan yang ada didepannya saat ini. Tangannya mengepal keras karena ia mengenali dua orang yang sedang beradegan lamar melamar saat ini.
“Li .. Liam .. a – aku..”
“She won’t! ( Dia ga akan menikahimu! ).”
‘Jeff????!!....’ Jihan dan Liam sama – sama berseru dalam hatinya.
“Sorry Liam, tapi Jihan ga bisa terima lamaran lo.” Ucap Jeff yang kini sudah berada didekat kerumunan orang – orang, didekat Jihan dan Liam yang kemudian berdiri dari posisinya yang tadi berlutut untuk melamar Jihan.
“Jeff .....” Jihan menjadi super salah tingkah. Ia melirik sekelilingnya, masih banyak orang yang disekeliling mereka.
“Lo ga ada hak untuk menjawab Jeff.” Ucap Liam sambil tersenyum miring pada Jeff. “Gue tahu perasaan lo pada Jihan, tapi kalau dia mencintai gue? Lo mau apa?.”
“Heh. Hak?. Tentu saja gue punya hak.” Sahut Jeff lantang.
“Jeff, Liam, please .....” Jihan mencoba menengahi. Jujur Jihan tak nyaman saat ini, orang – orang masih memperhatikan mereka. Bahkan ada yang sedang merekam juga sepertinya adegan rebut – merebut cewe oleh dua cogan yang sedang berlangsung saat ini.
“Dan soal cintanya Jihan? Lo harus tahu yang sebenarnya.” Jeff menyambung ucapannya.
Jeff menggenggam tangan Jihan.
“Lepaskan tangan lo dari dia Jeff!.” Tangan Liam sudah mengepal. “Tangan yang sedang lo genggam itu tangan kekasih gue! Lo seharusnya malu!.”
“Jeff, Liam, tolong! Kita sebaiknya bicara diruangan aku.” Jihan sudah tak sanggup lagi rasanya ada di situasi ini. Selain ia takut ada keributan diantara dua pria yang nampak jelas sedang memperebutkannya itu, Jihan pun sudah rasa tak nyaman kalau urusan yang bisa dibilang pribadi ini menjadi konsumsi publik.
“Ga bisa dan ga mungkin.” Sahut Jeff yang mengeratkan genggamannya ditangan Jihan. Membuat Liam makin mengeraskan rahangnya. Kedua pria itu seperti mengabaikan ucapan Jihan barusan.
“Lepas gue bilang!”
Liam melangkah maju, melepaskan dengan kasar tautan tangan Jeff dan Jihan lalu meraih kasar kerah kemeja Jeff namun dengan cepat Jeff mendorong tubuh Liam.
“Dia sudah bukan pacar lo lagi!.” Jeff berkata lantang sekali lagi sambil memandang tajam pada Liam. “Apa kamu belum memberitahu dia, Jihan?.” Jeff beralih pada Jihan. Wanita itu menatapnya dengan tatapan memohon.
“Jeff .... aku mohon ....”
“Fine, aku yang beritahu dia.”
“Jeff!” Jihan setengah memekik.
“Jihan mencintai gue!.”
Jeff menajamkan pandangannya disaat ia mengucap satu kalimat penuh penekanan pada Liam.
“Jeff, sudah!" Kata Jihan.
“Katakan pada dia apa yang kamu katakan padaku malam itu, Ji!.” Ucap Jeff pada Jihan namun tak menoleh pada wanita itu. Ia masih memandang pada Liam dengan tajam.
“Jeff aku mohon, lebih baik kita selesaikan ini ditempat lain..”
“Katakan Ji!”
Jeff sudah tak sabar, rahangnya pun nampak mengeras lagi.
“Kita sudah sepakat, kalau kamu akan memberikan aku waktu, Jeff ....”
“Waktumu sudah habis. Begitu juga kesabaranku.”
“Jeff ..”
“Katakan padanya sekarang!” Seru Jeff sambil kini sudah menatap Jihan dengan tajam. Si bule gila sedang gusar dan kesal, kekasih hatinya barusan dilamar oleh saingan cintanya.
“Maaf, tolong jangan membuat keributan disini.” Seorang pria berseragam tiba – tiba sudah ada diantara ketiganya. Sementara dua lainnya sedang membubarkan kerumunan orang – orang.
‘Hahhh syukurlah..’ Batin Jihan lega. “Maaf Pak.” Ucap Jihan pada si sekuriti tersebut.
“Ck!.” Jeff berdecak. Ia mengambil cepat ponselnya dari saku dan menekan satu nomor. “Saya sedang berada di Lobi gedung Zada dan salah satu security gedung sedang menegur saya.” Ucap Jeff diponselnya sambil melirik sinis pada sekuriti yang tadi menegurnya, Jihan dan Liam yang nampak sedang ribut itu.
“......”
Jeff mematikan hubungan ponselnya. Wajah datar dan dingin Jeff masih mendominasi. Liam masih memandang Jeff dengan tajam, sementara Jihan sedang bertanya – tanya dalam hatinya.
‘Dia menelpon siapa barusan?.’
__ADS_1
“Bisa tolong kalian menyelesaikan masalah kalian ditempat lain? Atau terpaksa saya harus mengusir kalian dari gedung ini?.” Ucap sekuriti tersebut.
“Jaga bicara kamu saat berhadapan dengan saya.” Ucap Jeff datar namun terdengar ada penekanan dalam ucapannya pada sekuriti tersebut.
“Anda yang seharusnya menjaga sikap anda, Pak” Kata si Sekuriti tersebut.
Jeff tersenyum miring.
“Tu.... Tuan Jeff!....”
Seorang pria berjas dan beberapa orang lainnya nampak datang dengan nafas mereka yang tersengal karena berlari.
“Pak Michael..” Sekuriti itu memberi hormat pada pria berjas yang tadi memanggil Jeff dengan wajah paniknya.
‘Bukankah dia pemilik gedung ini?.’ Batin Jihan sambil melihat pada laki – laki berjas yang baru saja tiba dengan berlari bersama beberapa orang lainnya.
“Dia mau mengusir saya”
Jeff berucap dengan santai pada pria yang di panggil Pak Michael itu sambil melirik pada si sekuriti yang menegurnya itu.
“Mereka membuat keributan disini Pak.” Ucap si sekuriti itu pada Michael.
“Diam kau! Bodoh! Minta maaf pada Tuan Jeff!” Hardik Michael pada si sekuriti yang wajahnya sedang kebingungan, Jihan pun sama raut wajahnya dengan si Sekuriti tersebut.
“Tidak perlu berteriak Michael, kau membuat telingaku sakit.”
“Ma .. maafkan saya Tuan Jeff ....” Ucap Michael dengan terbata. “Minta maaf pada Tuan Jeff sekarang. Kau sudah berlaku kurang ajar pada pemilik gedung ini, Bodoh.”
“A – apa?!..” Sekuriti dan Jihan sama – sama kaget.
“Cepat minta maaf!.” Michael berseru lagi sambil melotot pada si sekuriti tersebut.
“Tinggalkan kami sekarang!” Potong Jeff sebelum si sekuriti membuka mulutnya untuk meminta maaf.
“Ba – Baik Tuan. Permisi.” Ucap Michael patuh. Sedikit merasa ngeri juga pada Jeff yang wajahnya nampak dingin dan serius itu. “Ayo!.” Dia mendelik tajam pada si sekuriti untuk segera bergerak menjauh dari Jeff saat ini.
‘I – iya Pak.” Ucap si sekuriti dengan terbata. “Sa – saya mohon maaf Tuan..” Ia menunduk hormat pada Jeff dan kemudian pergi mengekori Michael.
Michael dan orang – orang yang bersamanya hanya menjauh dari tempat Jeff berada. Berdiri disisi dekat meja resepsionis gedung.
“Sampai dimana kita tadi?.”
Jeff sudah beralih lagi pada Liam dan Jihan. Pandangannya Jeff tertuju tajam pada Liam.
Liam pun kembali balas tatapan tajam pada Jeff.
“Ah iya, beritahu dia yang sebenarnya Jihan.” Ucap Jeff sembari tersenyum miring. “Beritahu dia, kalau kamu mencintaiku.”
“Omong kosong!.” Liam berseru.
“Katakan padanya apa yang kamu ucapkan padaku malam itu, tentang perasaan kamu. Buktikan kalau kamu adalah wanita jujur dan pantas untuk menjadi ibu Nathan. Karena aku tidak akan membiarkan anakku dirawat oleh wanita munafik” Jeff menegaskan ucapannya sambil memandang tajam pada Jihan kini.
‘Demi Tuhan, aku ga tega mengatakannya pada Liam.’ Batin Jihan sambil memberikan tatapan memelas pada Jeff.
“Ah iya, aku lupa. Kamu tak tega mengatakan padanya kalau kamu mencintaiku. Bukan begitu Jihan Shaquita?.”
Liam maju dan mencengkram lagi kerah kemeja Jeff. “Lo pasti sudah mengancamnya!.”
“Huh?. Mengancam?” Jeff mendorong Liam.
Grep! Cup!.
Jeff meraih pinggang Jihan dan langsung mengecup bibir wanita itu.
Bugh!.
Liam melepaskan paksa cengkraman Jeff dari Jihan dan langsung mendaratkan satu pukulan diwajah Jeff.
“LIAM!.” Jihan memekik kencang sembari mendelik pada Liam.
“Main kasar, heh? ....”
Jeff menyeka sudut bibirnya sambil tersenyum miring.
“JANGAN IKUT CAMPUR!.”
Gantian Jeff yang berteriak pada Michael dan lainnya yang sudah bergerak mendekat. Mereka pun langsung berhenti saat mendengar peringatan Jeff.
“Lo pasti sudah mengancam Jihan!. GUE TAU LO!.” Liam hendak mendaratkan satu pukulan lagi pada Jeff. Jeff menangkisnya.
“You know nothing about me!. ( Lo tidak tahu apapun tentang gue! ).”
Bugh!.
Gantian Jeff yang mendaratkan satu pukulan diwajah Liam.
“HENTIKAN!.”
Jihan berteriak saat kedua pria tersebut kini sudah terlibat baku hantam.
“Aku mencintainya!. Aku memang mencintai Jeff...”
__ADS_1
***
To be continue....