THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 91


__ADS_3

🔴 JANGAN SAMPAI ADA DUST**A**  🔴


***


Selamat membaca ..


***


“Janji, Boo – Boo hanya sebentar, hem?.” Ucap Dewa lagi sembari tersenyum dan memegang bahu Michelle. “Aku berangkat ya?.”


Dewa mencium kening Michelle lalu mengambil dompet dan ponselnya.


“Siapa Savana?.”


Dewa menghentikan langkahnya dan berbalik mendapati Michelle yang sedang memandanginya tanpa putus. Dewa menghela nafasnya.


“Apa kamu sudah mulai tidak mempercayai aku sampai kamu memeriksa ponsel aku, Yank?.”


“Aku tanya, siapa Savana?.”


“Aku juga tanya, apa kamu sudah mulai tidak mempercayai aku sampai kamu memeriksa ponsel aku?.”


“Ga boleh memangnya, kalau aku melihat isi ponsel suami aku?.”


“Apa aku pernah melihat isi ponsel kamu tanpa izin dari kamu?.”


“Apa aku pernah melarang kamu memeriksa ponsel aku?. Apa aku pernah mempermasalahkannya?.”


Dewa terdiam.


“For your information, Mister Dewa Finn ( Sekedar informasi untuk anda, Tuan Dewa Finn ), kakak – kakak aku tidak ada yang mempermasalahkan istri – istri mereka kalau Kak Fania atau Kak Ara, mungkin juga Kak Jihan atau Prita membuka ponsel mereka. Bahkan kadang mereka bertukar ponsel.”


“Aku ga mempermasalahkan kamu melihat ponsel aku, Chel. Aku hanya tanya apa kamu sudah mulai hilang kepercayaan sama aku?.”


“Dan aku hanya tanya Savana itu siapa!.”


“Aku bicara baik – baik, Chel. Jangan meninggikan suara kamu didepan aku.” Dewa menatap Michelle dengan serius. “Dia itu ...”


“Lupakan aku pernah bertanya.” Michelle berlalu. “Sudah sana pergi. Sorry aku ga antar ke pintu.” Sambungnya.


“Ah iya. Sorry kalau saya sudah lancang memeriksa isi ponsel anda Tuan Dewa Finn!.”


BRAK!


Michelle keluar dari kamarnya dan Dewa dengan membanting pintu.


“Michelle!.” Dewa hendak menyusul tapi suara pintu yang dibanting Michelle membuat baby Mika terbangun dan menangis.


Dewa pun langsung mengambil baby Mika dari boks bayinya, menggendong dan membuai putrinya itu agar tak menangis.


**


Fania baru saja keluar dari kamarnya untuk mencari camilan didapur. Setelah olahraga satu ronde tadi rasanya Fania sedikit lapar.


BRAK!


Fania sedikit berjengkit saat mendengar suara pintu yang dibanting. Hendak melangkah mencari sumber suara dari pintu yang barusan terdengar ditutup dengan keras itu, disaat yang sama ia melihat Michelle yang wajahnya nampak memerah dan terlihat sangat kesal, berjalan dengan sedikit tergesa.


“Chel?!.”


Michelle menghentikan langkahnya.


“Kenapa, Chel?.” Tanya Fania sambil memegang pelan lengan Michelle.


“Ga apa – apa, Kak.”


“Berantem sama Kak Dewa?.”


Michelle mengangguk pelan.


“Mau cerita?.”


“Nanti aja Kak, aku mau sendirian dulu.”


“Ya udah, gue di kamar kalo lo butuh sesuatu nanti.”


Michelle mengangguk lagi.


“Aku ke bawah dulu ya, Kak?. Kak Fania mau ke bawah juga?.”


“Iya. Agak laper.” Sahut Fania.


Mereka berdua pun turun bersama.


“Lo mau gue buatin sesuatu?.” Tanya Fania sebelum ia melangkahkan kakinya ke dapur.


Michelle menggeleng.


“Ya udah gue tinggal ke dapur dulu, ya?.”


“Iya Kak.”

__ADS_1


**


‘Si Michelle sama kak Dewa berantem kenapa deh?. Tumben ...’ Fania membatin sembari membuka kulkas camilan


dan mencari kotak plastik berisi Tar Truffle yang dibuat Dewa. ‘Perasaan tar truffle tadi masih ada beberapa biji.’


Mata Fania berbinar setelah menemukan apa yang ia cari.


“Kon-de.” Fania terkaget saat menemukan dua orang yang ada dibelakangnya dan kini sedang terkekeh padanya.


“Gitu aja kaget.”


“Ye lagian Kak Ara sama kak Reno dateng kaga ada suaranya.” Sahut Fania sebal. "Untung gue ga punya sakit jantung."


Reno dan Ara masih terkekeh.


“Andrew mana?.”


“Ada di kamar.”


“Hem... udah laper lagi?.”


“Isi bensin abis dibor!.”


Reno dan Ara terkekeh lagi. “Mau dong.” Ucap Ara yang melihat Fania membuka kotak kaca transparan yang berisi


tar truffle. Dan langsung menyodorkan pada Ara setelah mencomot satu finger pastry buatan Dewa itu.


“Kalian berdua ngapain kesini?. Laper juga?.”


“Sama habis di bor!.”


“Pantes!. Kelaperan pasti bumil abis diacak – acak rumahnya.”


Reno dan Ara terkekeh lagi.


“Ngomong – ngomong siapa yang barusan keluar?.”


“Keluar kemana?.”


“Gue dan Ara dengar suara mobil perasaan. Apa John dan prita sudah kembali dari Bali?. Tapi ga mungkin juga. Mereka baru berangkat tadi pagi.” Ucap Reno yang mengambil juga satu buah Tar Truffle dari wadah, lalu membuka kulkas dan mengambil minuman kaleng.


Fania tampak berpikir. “Perasaan gue Cuma si Michelle doang tadi papasan sama gue. Dia ke ruang tengah perasaan pas tadi gue kesini.”


Reno dan Ara mengernyitkan dahi mereka.


“Michelle?....” Ucap Reno dan Ara bersamaan.


“Iya...”


Ara membuka lemari kecil kitchen set. Mengambil toples berisi susu hamil.


“Makanya tadi nanya, ada yang keluar atau datang?. Karena kita dengar suara mobil.”


“Jangan Jangan ...”


**


“Ck!.”


Dewa mondar – mandir di kamarnya. Baby Mika sudah berhasil ia tidurkan kembali, namun ia tak tega meninggalkan putri kecilnya itu sendirian di kamar.


Michelle yang tadi nampak kesal dan keluar kamar dengan menutup pintu dengan keras tak juga kembali ke kamar. Dewa hendak menghubungi nomor Michelle namun tak jadi karena ia sudah keburu melihat ponsel Michelle yang tergeletak di atas nakas.


“Maid sudah pada istirahat kali ini.”


Dewa sedikit galau ingin menekan tombol pemanggil asisten rumah tangga yang tersedia disetiap kamar. Dia butuh seseorang untuk menjaga Baby Mika, sementara ia ingin menyusul istrinya yang belum juga kembali ke kamar mereka.


Dewa melirik lagi Baby Mika yang nampak pulas itu dan memutuskan untuk meninggalkannya sebentar sambil membawa microphone baby ditangannya. Berjaga – jaga, jika seandainya ia berbicara dengan Michelle dibawah jadi ia bisa tahu kalau putri kecilnya itu terbangun lagi. Dewa membuka dan menutup pintu kamar dengan perlahan.


“Mau kemana lo?.”


“Cari adik lo.”


Dewa berpapasan dengan Andrew yang juga baru keluar dari kamarnya.


“Memang Michelle kemana?.” Tanya Andrew.


“Ini mau gue cari, tadi ngambek. Ga balik – balik ke kamar.” Jawab Dewa.


“Baby Mika di kamar kalian?.” Andrew melirik monitor suara untuk bayi ditangan Dewa.


“Iya gue takut dia bangun. Sendirian soalnya. Tapi gue juga harus susulin adik lo!.”


“Bertengkar soal apa sih kalian?.”


“Nanti lah gue ceritain.” Sahut Dewa. “ Naomy udah tidur?.”


“Belum. Tadi dia mau cari camilan katanya tapi ga balik – balik. Ini mau gue susul.”


“Ya sudah sana susul adik gue. Dibawah mungkin sama Fania. Biar gue yang jaga Baby Mika. Dan bilang sama

__ADS_1


Fania kalau gue di kamar lo.”


“Ya udah.” Dewa memberikan monitor suara ditangannya pada Andrew. “Thanks Bro!.” Ucap Dewa dan Andrew


mengangguk.


“Sekalian bilang sama Fania buatkan gue kopi.”


“Oke.”


**


“Makanya tadi nanya, ada yang keluar atau datang?. Karena kita dengar suara mobil.”


“Jangan Jangan ...”


“Jangan  jangan apa?.”


“Jangan jangan si Michelle kali yang keluar itu. Kayaknya abis ribut sama Kak Dewa.” Fania setengah berbisik.


Reno dan Ara menatap Fania.


“Ribut kenapa?.”


“Ga tau.” Fania mengendikkan bahunya. “Tadi pas gue keluar kamar gue denger si Michelle banting pintu. Tapi


gue ajak cerita dia bilang mau sendirian dulu.”


“Coba lo cek ke kamarnya.”


Fania mengangguk pada Reno dan kemudian bergegas untuk pergi ke kamar Michelle dan Dewa. “Kak Dewa!.”


Fania berpapasan dengan Dewa saat ia keluar dari arah dapur. “Eh Naomy. Dari dapur?.”


Fania mengangguk.


“Ada Michelle di situ?.”


“Justru ini gue mau liat dia di kamar kalian. Tadi gue papasan pas dia banting pintu keluar kamar. Gue tinggal ke dapur tapi pas Kak Reno sama Kak Ara dateng juga ke dapur katanya mereka ga liat siapa – siapa.”


Dewa menghela nafasnya.


“Tapi kata Kak Reno sama Kak Ara, mereka denger suara mobil...”


Dewa berdecak.


Fania menunggu Dewa berbicara.


“Pasti itu Michelle yang pergi.” Ucap Dewa. Aku mau susul dia ini justru. Kira dia dibawah sini.”


“Coba hubungi dia Kak.” Saran Fania.


“Ponselnya ga dia bawa.”


‘Yah, ribet dah urusan!.’ Fania membatin.


**


“What happened between you and Michelle, Wa? ( Lo sama Michelle kenapa, Wa? ).” Tanya Reno pada Dewa setelah ia muncul dari dapur.


“Just a small fight ( Hanya pertengkaran kecil ).”


“Pertengkaran kecil ga akan membuat Michelle keluar malam – malam begini.”


“Hanya sedikit salah paham.”


“Ya sudah lo kejar sana si Michelle.”


“Iya, R.”


“Baby Mika dimana, Kak?.”


“Oh iya, ada di kamar sama Andrew. Aku minta tolong ya, titip Baby Mika. Terus Andrew minta dibuatin kopi katanya.” Ucap Dewa.


“Ya udah.”


“R, gue tinggal dulu ya.” Dewa bergegas pergi. “Naomy, titip Baby Mika ya.”


“Ya.”


**


“Aku ga akan pernah memaafkan kamu, kalau kamu sampai bermain di belakang aku, Boo – Boo!.”


Michelle mengomel sendiri di dalam mobilnya.


“Aahh, dompet sama ponsel ga terbawa lagi!.”


DAK!. Michelle memukul setir mobil sembari mengumpat.


**

__ADS_1


To be continue ...


Cicil satu episode dulu ye pagi ini, mudah - mudahan bisa nambah up episode lagi hari ini juga.


__ADS_2