THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 20


__ADS_3

♥ RASA ♥


************


Selamat membaca .....


**************


Kediaman utama Keluarga Adjieran Smith, Jakarta, Indonesia


“Ndrew, Jol, lo berdua kapan mau balik ke London?.” Tanya Jeff pada sepasang suami istri emezing itu.


“A little bit longer I think Jeff (Sedikit lebih lama sepertinya Jeff). Why? (Kenapa?).” Sahut Andrew.


“Ga ada apa – apa.”


“Kamu dan Jihan jadinya bagaimana, Jeff?.”


Mom buka suara.


“Entah Mom.”


Jeff menyandarkan punggungnya di sandaran sofa.


“Kok entah?.”


“Ya entah.”


“Kasihan Nathan, Jeff. Mom lihat saat melihat Reno dan Ara sedang bersama Varen, dia seperti sedih.”


“Ya pasti sedihlah Mom.” Sahut Fania. “Nathan kan pasti ingin mama sama papanya sama – sama juga.”


“Ya iya itu maksud Mom, Fania. Kamu kenapa sih ga melamar itu si Jihan, Jeff?. Kan Nathan jadi punya keluarga yang utuh?.” Ucap Mom.


“Rumit Mom.” Sahut Jeff.


“Rumit bagaimana?.” Timpal Mom.


“Ya rumit. I even difficult to explain (Aku bahkan sulit menjelaskannya).” Jeff menghela nafasnya.


“Kak Jeff sedang galau, Mom.”


“Galau bagaimana, coba?.”


“Galau karena si Jihan itu punya pacar, Mom.”


“Oh ya?.”


“Iya, dia punya kekasih.”


“Apa mereka memutuskan akan menikah ?.” Tanya Mom lagi.


“Aku ga tahu.” Jawab Jeff.


“Ya kamu tanya dong, Jeff. Biasanya agresif sama cewe. Ganjen malah. Kenapa sekarang malah jadi lesu begini?.” Ucap Mom. “Memang kamu ga tertarik sama dia?. Orang si Jihan cantik begitu. Baik, sopan.”


“Bukan hanya tertarik Mom, but he already fallin’ in love with her (tapi dia sudah jatuh cinta padanya).”


Dad dan Mom lumayan terkejut mendengarnya.


“Apa?. Kamu Jeff?. Bisa jatuh cinta? Ga salah dengar ini Mom?.” Ucap Mom seolah tak percaya karena Jeff tak menyangkal ucapan Andrew.


“Wow, a Casanova finally falling in love to a woman (sang petualang cinta akhirnya bisa jatuh cinta pada seorang wanita).” Celetuk Dad.


Jeff menghela nafasnya. “I think so (Aku rasa begitu).” Ucap Jeff. 'Dan rasanya menyebalkan. Membuat hati gue sering berdebar tak karuan.'


“Nah terus kamu tunggu apa lagi?.” Timpal Mom. “Ya udah lamar dong si Jihan cepat – cepat. Kan bertambah lagi menantu Mom untuk meramaikan keluarga ini.”


“Kan Jeff sudah bilang, saat ini dia sudah punya kekasih. Dan mereka tampak baik – baik saja.” Sahut Jeff.


“Ya ampun anak Mom yang blaem – blaem, kemana rasa percaya diri kamu yang setinggi langit itu?.” Ucap Mom dan ia terkekeh, juga mereka yang berada didekatnya. “Kamu kejarlah itu si Jihan. Bukan istri orang ini, baru pacar. Jodoh kan ga ada yang tahu.”


“Betul.”


“Ah, elo sama Dewa kan jodoh karena kecelakaan ranjang.”


“Nah elo sama Jihan, bukannya kecelakaan ranjang juga sampai ada si Nathan?.” Dewa tak mau kalah. Jeff pun terkekeh.


“Well I guess Mom was right (Kalau menurut gue Mom benar). Wanita itu belum jadi istri orang. So I think (Jadi menurut gue), rasanya sah – sah saja kalau lo mau bersaing dengan kekasihnya sekarang.”


“Gue takut Jihan tersinggung.” Sahut Jeff atas ucapan Andrew.


“What? (Apa?). Ga salah denger gue?. Elo? Takut nyinggung cewe?. Ck, ck, ck, ck. Biasanya abis lo pake lo buang!.” Celetuk Fania. Jeff terkekeh lagi.

__ADS_1


“Ya justru itu gue heran. Mana pernah gue duga sih, kalau ternyata gue bisa punya rasa sama Jihan pada akhirnya?.”


“Sukurin. Kualat!.”


“Bukannya kasih solusi, malah nyumpahin gue lo Jol.” Ucap Jeff dan gantian Fania yang terkekeh berikut anggota keluarganya yang lain. “Gue bingung nih, harus gimana?. Vote lah.”


‘Die kata Indonesian Idol kali suruh vote. Bule gila dasar.’ Batin si Kajol bermonolog.


“Kejar.” Celetuk the broken heart couple.


“Just like I said (Seperti yang gue bilang), belum jadi istri orang.”


“Ya tapi lo pake cara baik – baik sih Kak. Jangan maksa dia juga. Maen alus.”


“Impress her, Son (Buat dia terkesan, Nak).” Dad ikut memberikan saran.


“Nah, kamu kejar dengan cara yang baik. Kesan kan Jihan dengan pesona seorang Jeff Alton Smith.” Timpal Mom.


“Gitu ya?.”


“Sebelum keduluan, lebih baik Kak Jeff mulai bergerak.” Celetuk Michelle.


Jeff manggut – manggut sembari mengelus dagunya.


****


Di lain tempat.. 


“Kamu.. sudah selesai atau masih ada pengambilan gambar lagi.”


“Udah sih gue udah selesai.” Sahut prita pada John.


John manggut – manggut, masih sekalian menetralkan hatinya, melihat pemandangan didepannya. Mencoba untuk tidak terlalu menatap intens pada Prita karena ada sesuatu yang membuat dirinya sedikit gelisah saat ini.


“Tapi gue mau tunggu teman gue si Diana dulu take. Gue janji mau nungguin dia.”


“Ya sudah.” Sahut John.


“Lo masih mau nungguin emang?.”


John mengangguk. “Iya, Kak John tungguin.”


“Ya udah, duduk situ yuk.” Prita menunjuk sudut yang lain di dalam studio dimana ada sofa bean bag empuk disana. John mengangguk lagi. “Ini jaket lo pake lagi si.”


Prita mendengus. “Cewe – cewe gatel pada ganjen noh liatin badan lo.” Ucap Prita.


“Kenapa memangnya?. Mereka kan punya mata.”


‘Gue yang agak - agak kaga rela sih.’ Batin Prita.


“Atau jangan – jangan kamu ga rela ya kalau Kak John diperhatikan sama teman – teman kamu disini?.”


“Dih Pede!.”


**


“Pake itu jaket lo sih, Kak!.”


Prita melirik sambil berucap setengah ketus pada John.


John tersenyum. “Kamu yang harusnya pakai ini jaket sepertinya Prita.” John menyampirkan jaketnya dipunggung Prita. Sedikit mengejutkan si Priwitan juga.


“Gerah. Lo liat tadi gue abis take plus nge – dance.”


“Tapi baju kamu lumayan terbuka, Priwitan.” Ucap John dan Prita terkekeh.


“Ya ilah, orang baju begini doang. Udah biasa buat anak – anak dance sih.”


‘Kak John yang ga biasa justru itu.’ Batin John.


“Lagian perut doang yang keliatan.”


‘Justru perut doang itu yang bikin Kak John gagal fokus dan duduk Kak John terasa ga nyaman. Haish ..’


**


“Mojok aja lo!.” Seorang cewe menegur Prita yang sedang duduk bersama John dengan riang.


Keringat membasahi sekitar wajah, tangan dan perut cewe yang menegur Prita itu. Seperti Prita tadi saat selesai pengambilan gambar dan menari saat menghampiri John dan membuat si bule koplak gagal fokus.


“Mojok pala lu!.”


Gadis yang pakaiannya kurang lebih seperti Prita itu terkekeh.

__ADS_1


“Kenalin si. Takut amat naksir gue, dia.” Ucap gadis tersebut sembari cengengesan.


“Gatel lu.” Sahut Prita. “Kak, kenalin ini temen gue, Diana.”


Prita mengenalkan John pada temannya yang bernama Diana itu.


“Hai.... Diana.”


“John.”


“Udeh jangan lama – lama.” Prita menepiskan kedua tangan yang sedang berjabat itu. Mimik wajah Diana nampak aneh. Gadis itu sedang mengingat – ingat sesuatu.


‘John?...’ Diana memperhatikan John. “John?. Kak John?!.”


Gadis itu menunjuk pada John dengan mimik muka yang sedikit aneh.


“Iya..” Sahut John. “Kenapa?.” John pun setengah heran.


“Ini Kak John yang sama yang lo ceritain ke gue Prita?! John Smith?.” Diana setengah memekik.


‘Mati gue! Si lemes bisa – bisa keceplosan curhatan gue!.’


John mengernyitkan dahinya. “Oh, jadi ternyata Prita suka bicarakan Kak John nih?.”


“Dih..”


“Bukan lagi, Kak!.” Diana keburu menyambar sebelum Prita menyelesaikan kalimatnya.


“Ih, apaan sih lo Na!.”


“Ca ilah, malu – malu si encun.” Diana terkekeh. “Kakak John Smith kan?. John Darwin Smith?.”


John mengangguk. Prita melotot pada Diana.


“Ya amplop.. kesampean juga lu akhirnya cun!.” Celetuk Diana.


‘Ish si lemes nii.’ Prita menginjak kaki Diana.


“Ih, sakit oon!.” Pekik Diana, lagi – lagi Prita melotot padanya. “Apaan sih lo. Udah jadian ini segala masih lo tutup – tutupin.” Ucap Diana. “Kalian udah jadian kan?. Ya Kak John?. Kaga cerita lo cun udah jadian sama cinta pertama lo.”


Cerocos Diana yang membuat John tampak sangat terkejut dan langsung spontan menoleh pada Prita. Dan si Priwitan makin membulatkan matanya pada Diana.


“Tapi ga apa – apa, gue ikut bahagia karna akhirnya lo bisa sama – sama cinta pertama lo yang sempet bertepuk sebelah tangan ini.”


‘Diana bangkeee..’ Batin Prita mengumpati teman dekatnya itu.


**


Aura kecanggungan menyelimuti John dan Prita selama perjalanan mereka menuju ke rumah Keluarga Cemara. Prita yang benar – benar malu setengah mati akibat mulus lemes Diana, teman dekatnya itu yang sudah membeberkan soal perasaannya pada John dahulu.


John terdiam karena masih tak percaya dengan apa yang didengarnya dari mulut temannya Prita di studio dance tadi.


‘Gue?. Cinta pertamanya Prita?.’ Batin John masih tak percaya. ‘Beneran?.’


‘Emang si Diana sialaaannn .. Mulut embeeer banget!’


“Prita..”


“Kak..” John dan Prita bersuara berbarengan.


“Ya udah kamu duluan yang bicara Prita.”


“Mmmm, Kak John ajalah.”


Prita dan John saling lempar kesempatan. Sama – sama mencoba menghilangkan canggung dalam diri mereka masing – masing.


“Mm .. soal yang teman kamu bilang tadi, soal perasaan kamu ke Kak John. Apa benar?.” Ucap John. "Kalau Kak John cinta pertama kamu?."


Prita terdiam sejenak.


“... Bener ...” Ucap Prita pelan.


John menoleh sembari tersenyum. Entah kenapa debaran didadanya kian membuncah. Rasa senang sudah menyeruak disana.


“Berarti waktu Kak John ....”


“Tapi itu dulu Kak. Udah berlalu. Sekarang udah engga. Rasa spesial gue yang pernah gue punya buat lo, udah hilang.”


Deg!


*


To be continue.....*

__ADS_1


__ADS_2