
ENSURE ( Memastikan )
*****************************
Selamat membaca...
***********************
Kediaman Utama Keluarga Adjieran Smith, Jakarta, Indonesia ....
“Assalamu’alaikum!......”
Andrea dan Varen mengucapkan salam saat mereka sudah berada di dalam Kediaman.
“Wa’alaikumsalam! ......”
Hanya ada Papi, Mami dan Mama Jihan yang ada disana.
Andrea dan Varen pun menyalim takdzim pada ketiganya.
“Hey!”
“Papi ga ke Perusahaan?” Tanya Andrea dan Varen bersamaan.
“Tidak ada hal penting hari ini, baik di R Corp atau di Perusahaan pribadi Papi. Sedang malas kemana – mana juga. Paling jemput anak – anak di sekolah”
Andrea dan Varen manggut – manggut saja. “Makan dulu kalian yuk, sudah makan belum?” Mama Jihan bersuara.
“Iya, Mama Bear ....” Sahut Andrea dan Varen.
Andrea langsung bergelayut manja pada Mama Jihan. Mama Jihan tersenyum sambil mengusap kepala Andrea yang diletakkan di pundaknya sembari berjalan menuju ruang makan.
“Kamu dan Little Star jadi ke Rumah Sakit dan bertemu dengan Aunt Clarissa?”
“Jadi Pi. Ini baru saja dari sana dan langsung kesini”
“Gimana hasilnya Bang?”
“Alhamdulillah, so far so good Mi. Aunt Clarissa bilang rahim Andrea baik – baik saja, dan hasil tesnya juga menerangkan demikian” Jawab Varen.
Papi dan Mami manggut – manggut. “Syukurlah kalau begitu” Ucap Papi.
“Papi dan Mami juga yang lain disini tidak ada yang cerita pada mereka yang ada di London kan?”
“Engga, Abang .....”
Varen tersenyum.
“Terima kasih ya”
“Iya. Sudah makan dulu sana. Papi sama Mami mau jemput Krucils dulu”
“Okay!”
***
“Tan - Tan mana Mam?”
“Ikut Daddy Jeff kan ke Paris. Dua jam yang lalu mereka berangkat. Mau memperkenalkan Nathan pada para karyawan di Perusahaan kita yang ada disana kalau kata Daddy Jeff sih. Janjian sama Poppa juga katanya bertemu disana”
“Ohhhhh...... Mudahan Daddy Jeff atau Tan – Tan ga cerita sama Poppa soal kebodohan aku. Habis aku pasti
dimarahi Poppa, bahkan Momma juga bisa - bisa”
“Engga, tenang saja. Kami semua sudah sepakat keep silence ( bungkam ) soal itu. Masalah kamu sama Abang, kami ga akan turut campur jika ga diminta, selama kalian bisa mengatasinya berdua”
“Makasih ya Mam”
“Sama – sama ......”
“......”
“Eh iya Drea, Mama mau tanya”
“Kenapa Mam?”
“Nathan itu memang belum punya pacar, atau sudah tapi dia memang belum mau mengenalkan ke kami orang?”
“Setahu Drea memang belum punya pacar dia”
“Tapi masih lurus kan dia? Ga belok jadi suka sesama jenis?. Soalnya postingan sama cewe ga ada perasaan.
Gebetan juga ga ada, foto – foto kebanyakan sama teman – temannya yang kita kenal, itupun ga ada yang keliatan mesra – mesra gitu”
Andrea terkekeh. “Mama Bear nih, masa iya si Tan – Tan belok?. Ga mungkin lah! Tuh foto seksi Ariel Tatum saja masih terpasang di kamarnya”
“Ya bagus sih, kalau masih lurus. Hanya heran aja, belum punya pacar lagi setelah siapa itu dulu menghilang?”
“Kevia”
“Iya itu, anaknya om Mustafa. Padahal dari SMP hobi pacaran sampai Mama selalu ingatkan dia agar jangan bergaul kejauhan, jangan sampai merusak anak orang. Lalu pacaran tuh sama cewe yang namanya Cel ...... Celisa kalo tidak salah”
“Cewe centil! Kecentilan malah menurut aku sih!”
“Kamu nih, memang pernah ketemu?” Mama Jihan terkekeh kecil.
“Yah, dari fotonya saja aku sudah bisa menebak cewe macam apa itu dia, Mam”
“Hayo gibah!”
Varen sudah datang bergabung di ruang makan dan mengambil tempat disamping Andrea sembari membuka piring di depannya.
Andrea dan Mama Jihan terkekeh.
“Sedang membicarakan apa sih?” Tanya Varen.
“Ini, Mama Bear penasaran si Tan – Tan yang sepertinya belum punya pacar”
“Yah, Mama sih hanya penasaran, memang dia ga cerita gitu sama kalian soal keseriusan dalam berhubungan sama seorang wanita?”
“Mungkin masih belum mau berkomitmen saja, Mam”
__ADS_1
“Dulu Mama kira dia serius itu sama si Celisa itu, soalnya kan lama juga tuh pacaran sama itu cewe, ga gonta – ganti pacar sebulan sekali. Nah tau – tau dia pacaran sama anaknya Om Mustafa kata kamu waktu itu kan? Tapi kemudian ditinggal pergi. Setelah itu sepertinya Mama ga lihat dia dekat dengan cewe – cewe lain lagi”
“Mungkin masih menunggu anaknya Om Mustafa itu?”
“Bisa jadi”
“......”
“Tapi kok kalau Nathan memang serius ya sama itu anaknya Om Mustafa, kenapa Nathan ga pernah posting fotonya itu cewe atau foto mereka berdua?. Kayaknya juga anaknya Om Mustafa ga pernah men-tag Nathan foto – foto dirinya atau mereka berdua”
“Kalau kata Tan – Tan si Kevia itu sedikit introvert. Punya medsos juga hanya satu, postingannya ga macam - macam kecuali kegiatan sekolah. Itupun jarang”
“Mungkin tidak mau di cie cie kan sama teman – teman mereka. Siapa tahu pernah musuhan tahu – tahu malah
sama – sama punya perasaan, lalu jadian. Dan karena malu di ledek teman – teman mereka, jadinya ya disembunyikan deh hubungan mereka”
“......”
“Bisa saja begitu kan?”
Andrea dan Mama Jihan manggut – manggut mendengar cerocosan Varen.
“Kamu pernah bertemu dengan si Kevia itu, Drea?. Soalnya kamu sepertinya pro sama dia”
“Engga sih, hanya lihat fotonya. Feeling aku saja , kalau dari fotonya aku merasa cewe itu baik. Cuma Tan – Tan ga pernah mau ngenalin aku ke dia. Katanya, ya itu sedikit introvert”
“Huuuummm......”
Mama Jihan manggut – manggut.
“Mama jadi penasaran, kalau Nathan memang benar – benar menyukai anaknya Om Mustafa itu, kenapa ga dia pertahankan itu cewe, bahkan pergi pun ga pamit sama si Nathan katanya”
“Mungkin anak Mama itu sempat main api di belakang anaknya Om Mustafa itu, lalu ketahuan belangnya?. Makanya ditinggalkan begitu saja sama itu cewe” Sahut Varen.
“Oh iya, bisa juga. Fucek boy kan itu dia?” Timpal Mama Jihan dan terkekeh bersama Andrea dan Varen yang
sedang menikmati makanan mereka.
“Macam Dadnya dulu bukan?”
Mereka terkekeh lagi. “Hum, bisa jadi. Buah jatuh ga jauh dari pohonnya memang, tapi jangan sampai deh, amit – amit. Jangan sampai Nathan mengikuti keburukan Daddy Jeff dulu. Untung sudah insaf celap celup sembarangan. Jangan sampai deh, Nathan berani merusak anak orang”
“Ya jangan sampai”
***
Esok hari
“Nanti malam aku dan Drea mau mampir ke rumah Aunt Clarissa dan Uncle Alan. Mereka mengundang kami untuk
makan malam bersama. Kalian mau ikut?”
“Ya boleh. Sudah lama juga kita ga main ke rumah mereka. Keluarga Dokter itu juga sudah jarang main kesini”
Papi yang menyahut.
“Yah, mereka kan Dokter – Dokter famous, pasiennya terlalu banyak”
“Huuum...... ya sudah jam berapa?”
“Ya sudah”
***
Di Kediaman Pribadi Keluarga Dokter Clarissa
Varen dan Andrea hanya datang bersama Papi dan Mami. Mama Jihan tidak mau ikut karena tidak tega
meninggalkan Nenek Yuna bersama para Krucil, karena Mika masih kurang bisa diandalkan untuk bertanggung jawab pada adik – adiknya, selain memang Mika hobi sekali menjahili adik – adiknya hingga mereka kadang merajuk bahkan menangis.
Mom Ichel dan Daddy Dewa juga sedang ada urusan di luar kota, baru pulang esok hari.
Papi, Mami, Varen dan Andrea berinteraksi akrab dengan Dokter Clarissa, suami serta putranya Rendy yang
sedang off duty hari ini. Saling berbagi cerita dengan obrolan santai dan candaan. Hingga kemudian tiga orang anak muda itu memisahkan diri dari dua pasang orang tua mereka yang melanjutkan obrolan di ruang keluarga kediaman Dokter Clarissa.
***
“Jadi sudah siap nih, kalau dapat kesempatan jadi orang tua?” Rendy memulai pembicaraan di balkon lantai
dua rumahnya dengan menggoda Varen dan Andrea.
Kedua insan yang ditanya Rendy pun mengangguk.
“Pertanyaan itu sih sebenarnya buat kamu Drea, kalau dia sih ....”
Rendy melirik Varen.
“Dari dulu emang sudah cita – cita punya banyak anak dari kamu!”
“Memang! So what?!”
Rendy tergelak kemudian, Varen memasang mode masa bodoh dan Andrea tersenyum saja. “Kadang gue mau
muntah kalau dia ga habis – habis cerita tentang kamu, Drea” Ucap Rendy.
“Lo pikir gue ga mau muntah kalau lo cerita soal si Marsha?”
“Marsha?”
“Tuh cinta dalam hatinya Dokter Rendy. Yang berani membelah dada orang, tapi nembak cewe engga!”
“Yaaahhhh ........ gue juga ga mau pacaran, maunya langsung nikah. Gue harus memastikan dulu Marsha mau ga
diajak nikah langsung. Secara dia masih dua puluh tahun”
“Nah, apa katanya istri gue nih?. Mau gue ajak nikah biar masih tujuh belas tahun juga. Lo nya aja yang chicken!”
“Terpaksa paling dia juga. Iya kan Drea?” Ledek Rendy.
“Sembarangan!” Sambar Varen.
__ADS_1
Andrea hanya terkekeh kecil.
Dreeett ... Dreeett ...
Ponsel Varen bergetar di sakunya.
“Sorry terima panggilan sebentar”
Varen sudah mengeluarkan ponselnya dari saku.
“Dari Stevan ya ini, Little Star...” Varen menunjukkan ponselnya pada Andrea yang orangnya tersenyum geli
sembari menautkan alisnya.
“Ya sudah sih, Drea juga ga tanya itu dari siapa, kan?”
“Daripada kamu curiga. Lebih baik aku kasih lihat langsung setiap orang yang menghubungi aku kalau saat sama
kamu”
“Halah! Memang lo aja yang berlebihan, Tuan Alvarend!”
“Jomblo iri ya?”
Rendy tergelak.
“Apaan sih Abang ih. Terima dulu itu telponnya Stevan. Siapa tahu ada yang penting”
“Okay. Sebentar ya?”
***
“Ga usah curigaan sama dia Drea, aku yang jamin, kalau Abang kamu itu tidak akan pernah tergoda dengan cewe lain. Cewe – cewe di luaran itu sudah dianggap sampah oleh dia. Saking tergila – gilanya dia sama kamu”
Andrea tersenyum lebar mendengar ucapan Rendy barusan.
“Iya Kak. Aku percaya kok sama Abang”
“......”
“Eh iya Kak, Marsha itu cewe yang sama Kak Rendy waktu itu ya?”
“????” Rendy menautkan alisnya dengan wajah bertanda tanya.
“Oh maksud aku, waktu selesai periksa aku sama Abang lihat kan Rendy di Coffee Shop Hospital dengan seorang cewe cantik”
“Huummmm ....”
“Waktu aku periksa sama Aunt”
“Oh! Bukan, itu bukan Marsha. Itu Kevia, namanya”
‘Benar kan dugaan gue. Gue ga pernah salah mengenali orang’
Rendy menyesap minumannya.
“Pasien Kak Rendy?” Tanya Andrea. ‘Kalau iya, berarti Kevia punya masalah dengan jantungnya, terus karena
takut si Tan – Tan ga mau punya pacar yang penyakitan, jadinya dia pergi gitu ya?. Ah, Novel banget perasaan’
“Bukan. Dia bukan pasien aku. Aku sudah menganggapnya adik sih, mungkin dia beda setahun dua tahun dengan Nathan. Miris sih, dia ga seberuntung kalian yang punya keluarga hangat. Cantik, berprestasi, keluarganya juga sangat berkecukupan”
“Huuummm ..”
“Tapi disayangkan, masa remajanya, banyak banget pahitnya. Ibunya meninggal over dosis, dan dinyatakan bunuh diri. Ayahnya menikah lagi dengan sahabat ibunya dan mengajak mereka tinggal bersama. Yah meski ayahnya tidak hilang kasih sayang pada Kevia, tapi menurut cerita Kevia dia selalu menjadi nomor dua dari ibu tirinya”
Rendy tanpa sadar mulai bercerita pada Andrea.
“Kevia tidak ingin kasih sayang ayahnya terbagi, tapi sayangnya ayahnya menikah lagi dan itu dengan sahabat ibunya. Jadi Kevia menyalahkan ayah dan ibu tirinya itu untuk kematian ibunya, dia berpikir kalau ibunya bunuh diri karena tahu ayahnya berselingkuh dengan sahabatnya itu. Jadi Kevia sakit hati berkepanjangan dan dendam pada
mereka berdua”
“......”
“Membuat ia menjadi introvert dan kadang melakukan hal gila yang hanya dirinya tahu, sebagai pelampiasan rasa sakit dan dendamnya yang kadang ia tahan sendiri. Ya sakit hati, tap juga sangat menyayangi ayahnya. Dilemanya yang kadang membuat Kevia hilang arah” Rendy masih asik bercerita.
“Ren, pinjam charger!” Varen datang menginterupsi.
“Di kamar. Masuk aja sana. Ada diatas meja kerja”
“Oke. Sebentar ya sayang. Ada sedikit trouble di Perusahaan. Si Stevan belum selesai bicara ponsel aku keburu mati” Ucap Varen sebelum pergi ke kamar Rendy. Andrea mengangguk saja.
Andrea beralih lagi ke Rendy setelah Varen pergi.
“Teruskan Kak ceritanya soal cewe yang sedang kakak ceritakan tadi”
“Nah, kenapa Drea jadi kepo?”
“Hehe, penasaran. Kak Rendy kan juga sudah terlanjur cerita. Tuntaskan lah”
“Ya tadi sudah garis besarnya”
“Terus maksudnya hilang arah?. Jadi wanita nakal gitu?”
“Bukan ...”
“Jadi?”
“Sedikit masalah kejiwaan”
“Dia ...”
“Bukan gila tapi ya”
Rendy langsung menyambung ucapannya.
“Hanya dia menjadi aware pada orang – orang di sekitarnya. Ditambah, saat dia hamil...”
“A... apa?. Ha – hamil?”
“Iya, hamil, saat dia masih kelas dua SMA ....”
__ADS_1
***
To be continue ...