THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 253


__ADS_3

NOT REALLY GOOD


( Tidak Terlalu Baik )


*************************


Selamat membaca....


*************************


“Antara aku melakukan Vasektomi, atau kita pisah kamar. Pilihlah”


“Abang....”


“Aku di ruang kerja utama. Kita bertemu saat makan malam” Varen kemudian melangkahkan kakinya keluar dari


kamarnya dan Andrea.


****


Varen dan Andrea sudah duduk bergabung di ruang makan bersama Daddy Jeff dan yang lainnya. Daddy Jeff dan


yang lainnya makan dalam diam sambil sesekali melirik Varen dan Andrea yang wajahnya sedikit agak tegang. Kemudian Daddy Jeff dan yang lainnya saling tatap dalam diam.


Bukan tanpa sebab, karena Daddy Jeff beserta beberapa orang anggota keluarga mereka, sempat mendengar


sayup – sayup suara dari kamar Varen dan Andrea yang terdengar seperti bertengkar.


Hasrat hati sih kepo, tapi melihat wajah Varen dan Andrea yang nampak tegang itu, Daddy Jeff dan yang lainnya jadi urung untuk bertanya.


“Aku duluan”


Varen langsung berdiri setelah dia menyeka mulut dan meletakkan garpu dan sendok disisi kiri dan kanannya. Lalu beranjak dan berjalan menuju lantai atas, tanpa berkata apa – apa lagi. Andrea dan yang lain memperhatikan Varen namun mereka semua hanya diam.


“Drea sudah selesai. Permisi Drea juga pamit duluan”


Tak lama juga Andrea menyudahi makannya menggeser kursinya agar segera berdiri.


“Little Star .....”


Papi menyentuh lengan pelan Andrea. “Iya, Pi?”


“Ada masalah apa, hem?”


Andrea memaksakan senyumnya.


“Ga ada apa – apa kok, Pi”


“Tapi yang kami lihat tidak begitu” Ucap Papi. "Maaf bukannya kami mau ikut campur"


Andrea kembali lagi memaksakan senyum tipisnya sambil memandang semua orang yang berada di ruang makan yang juga sedang menatapnya. “Beneran kok ga ada apa – apa”


Andrea masih tersenyum memaksakan.


“Yuk Drea permisi duluan”


Andrea berjalan meninggalkan ruang makan, dan mereka yang disana, memandangi Andrea seperti mereka


memandangi Varen tadi. Setelah itu melanjutkan makan, setelah Daddy Jeff mengkode agar jangan membahas soal Varen dan Andrea saat ini.


***


“Abang.....”


Andrea langsung menghampiri Varen yang sudah masuk ke dalam kamar mereka, setelah selesai makan malam tadi, si Abang menghabiskan waktu di ruang kerja utama dengan menitipkan pesan pada salah seorang asisten rumah tangga, jika ada yang mencarinya, Varen sedang tidak ingin diganggu.


Varen bahkan mengunci pintu ruang kerja saat ia berada disana.


“Sudah menentukan pilihan?” Varen langsung meminta jawaban atas pilihan yang sebelumnya ia berikan pada Andrea.


“Abang jangan begini .....”


Varen menatap datar pada Andrea.


“Jawab saja pertanyaanku”


“Drea ga mau memilih”


“Kamu harus memilih”


“Tidak mau! Drea ga mau memilih!”


“Baiklah, aku yang memutuskan kalau begitu”


“Abang!!!” Andrea menegakkan dirinya di depan Varen.


“Aku memilih keduanya” Ucap Varen datar.


“Abang!!!”


“Tidurlah. Kunci pintunya setelah aku keluar. Aku tidur dikamar tamu”


“Abang!!!”


“...”


“Tolong dengarkan Drea dulu!” Andrea menjegal langkah Varen yang hendak berjalan ke arah pintu kamar mereka.


Varen mendongakkan kepalanya sambil memejamkan mata. Ia terdengar mendengus pelan.


“Tidak ada lagi yang perlu aku dengarkan darimu Miracle Andrea”


“Abang ..... tolong..... jangan begini .....” Mohon Andrea. “Kita suami istri Abang ..... masa kita pisah kamar?”


Varen tersenyum miring.


“Dan juga kalau Abang melakukan Vasektomi, kita akan benar – benar sulit punya anak, Abang .....”


“Bukankah itu yang kamu inginkan?”


“Engga Abang bukan begitu .....” Andrea mengiba, menatap Varen dengan matanya yang sudah berkaca – kaca.


“Anak kamu anggap menghambat masa depanmu kan? Kebebasanmu? ..... Masa mudamu?....”


“Sudah Drea bilang bukan begitu!”


“Dengan kamu meminum pil kontrasepsi bukankah memang seperti itu maumu?!!!”


Suara Varen jadi meninggi.


‘****!’


Varen mengumpat dalam hati, sadar kalau barusan ia membentak Andrea dengan sangat emosi lalu menghela


nafasnya dengan berat.

__ADS_1


“Tidurlah. Aku sudah lelah berdebat. Keputusanku sudah bulat”


Varen kemudian menyampingkan langkahnya menjauhi Andrea dan melangkah menuju pintu.


“Kunci pintunya”


Varen berkata sesaat setelah ia membuka pintu kamarnya dan Andrea.


“Tidur dan beristirahatlah. Karena besok pagi kita ke rumah sakit. Selamat malam”


Lalu Varen menghilang di balik pintu setelah menutupnya.


Meninggalkan Andrea yang membeku ditempatnya sambil mengeluarkan isakannya.


****


Varen menghela lagi nafasnya dengan berat setelah ia keluar, menutup pintu kamarnya dan Andrea. Ia mendengar


isakan Andrea dari dalam kamar, namun bagaimana? Kekecewaan juga sedang melingkupi relung hati Varen saat ini.


Bukan tanpa sebab, Varen sudah bermimpi bisa segera punya buah hati dengan Andrea. Meski yah, sebelum itu ia berencana untuk membicarakannya lebih lanjut dengan istri kecilnya nan labil itu. Namun fakta Andrea yang  mengkonsumsi pil kontrasepsi sebelum ia sempat mengajak Andrea bicara lebih lanjut, sedikit membuat si Abang geram. Varen paham Andrea labil, manja dan kekanakkan.


Resiko itu memang sudah jauh hari Varen pikirkan sebelum ia memutuskan menikah Andrea secepat ini.


Namun sampai Andrea berani mengkonsumsi pil kontrasepsi darurat, itu sama sekali tak pernah terlintas dalam benak Varen. Pilhan yang ia ajukan pada Andrea pun berdasarkan emosinya.


Entahlah, yang jelas Varen sedang gusar saat ini selain kesal. Meski hatinya cukup mencelos mendengar isakan Andrea dan mengingat wajah mengiba istri kecilnya itu.


Namun rasanya Varen butuh waktu dan ruang dari Andrea saat ini.


****


“Abang!”


“Hey Dewa Perang! Kenapa belum tidur, hem?”


Varen berpapasan dengan putra bungsu Daddy Dewa dan Mom Ichel yang nampak setengah berlari dari lantai bawah dengan memeluk beberapa coklat dalam dekapannya.


Varen memposisikan dirinya sejajar dengan Ares.


“Aku menyelamatkan coklat – coklat ku”


Varen terkekeh kecil mendengarnya


“Jika tidak, Kaka Mika pasti akan menghabiskannya”


Varen pun tersenyum.


“Ya sudah amankan kalau begitu” Ucap Varen sambil mengacak pelan rambut Ares.


“Oke Abaaaang ...” Sahut Ares antusias.


“Eh iya tunggu jagoan!”


“Abang mau minta coklat aku?” Tanya Ares dengan polosnya.


“Bukan itu. Tadi dibawah apa ada Daddy Boo – Boo dan yang lainnya?”


“Ada!. Diruang bermain bola billiard. Kata  Daddy Boo – Boo tadi jika aku bertemu Mommy dan Mommy bertanya tentang Daddy... Aku disuruh bilang kalau Daddy Boo – Boo ada disana!” Cerocos bocah tersebut.


“Ya sudah tidur sana!”


“Oke Abaaaang ...”


***


Ketiga Hot Daddies itu terkekeh bersama saat melihat Varen yang muncul dengan ejekannya.


“Bocah tengik! Kami masih sanggup panjat tebing bahkan!”


Gantian Varen yang terkekeh, lalu menghempaskan dirinya diatas sofa kulit di dalam ruang billiard tersebut”


“Main?” Daddy Jeff menawarkan.


“Nantilah!”


Tiga pasang mata hot daddies memperhatikan si Abang yang menghempaskan dirinya diatas sebuah sofa kulit yang ada di ruangan tersebut.


“Kenapa ma bro? ....” Daddy Dewa yang sudah memegang stik billiard dan terlihat sedang main dengan Daddy Jeff itu.


“Kalau ada masalah jangan disimpan sendiri ....”


Papi menimpali, sembari menyodok bola diatas meja billiard menggantikan Daddy Dewa.


“HHH... Little Star mengkonsumsi morning after pill...”


“Hah?!”


“EC maksud kamu?”


“Iya”


“Nah kok bisa – bisanya Little Star mengkonsumsi itu pil?”


“Entah. Itu yang sedang kucari tahu”


“EC itu bukan alat kontrasepsi yang boleh diminum rutin loh Bang”


“Iya aku sudah tahu. Rendy sudah menjelaskan padaku”


“Lebih baik konsultasi sekaligus cek Little Star secepatnya kalau dia memang sudah sering mengkonsumsi itu EC”


“Iya, besok aku membawanya ke rumah sakit untuk bertemu Aunt Clarissa”


“Ya bagus kalau begitu”


“Aku sepertinya akan melakukan Vasektomi” Ucapan Varen membuat tiga hot daddies itu mendelik menatapnya yang juga sedang menatap mereka.


Ctak!


“Gila boleh! Bodoh Jangan!”


Daddy Dewa menyentil jidat Varen.


“Ya habis, aku kesal”


“Bicarakan baik – baik. Kalau masih kesal, ya tenangkan diri dulu sebentar. Bukan berarti menghindar”


“Huuuum .....”


Grrnnggg...


Varen dan tiga daddies seketika diam kala sayup – sayup mereka mendengar suara mesin dan knalpot motor.


Daddy Jeff melirik jam didinding ruangan tempatnya berada sekarang. “Mau kemana itu anak jam segini? ...”

__ADS_1


“Like father like son ( mirip bapaknya ) kan?. Dulu Daddynya suka melayap saat malam mencari ‘mangsa’ nah sama deh tuh si Nathan macam lo. Untungnya dia ga mengikuti juga jejak Dadnya yang player kelas kakap” Ledek Papi.


“Macam lo sendiri bukan player, Papi Joooohhhhnnn...” Daddy Jeff membela diri. Empat pria tampan itu pun terkekeh bersama.


“Widiih rame!...” Semua mata langsung tertuju pada sosok yang baru saja bergabung ke ruang billiard.


“Loh Than?”


Daddy Dewa mengernyitkan dahinya. Seperti terkejut dan bingung melihat si Tan – Tan saat ini. Varen serta Two J Dads juga sama ekspresinya dengan Daddy Dewa.


‘Perasaan gue tadi dengar suara motor keluar dari garasi. Tapi mereka lengkap ini?. Siapa yang keluar? Ammar atau Niki dan Utha tadi sudah balik bukannya?’


“Ga jadi pergi?”


“Siapa? Aku?” Tanya Nathan balik pada Daddy Dewa.


“Ya siapa lagi?”


“Pergi kemana coba? Baru balik tadi habis makan malam masa mau pergi lagi?”


“Nah menyalakan motor?” Tanya Varen santai sambil melandaikan duduknya.


“Justru gue mau tanya. Itu yang ngeluarin motor dari garasi siapa?. Perasaan denger suara motor keluar dari garasi waktu turun tangga. Tapi kalian ada disini semua?”


“Bukan kamu yang menyalakan motor tadi?”


“Iya kali manasin motor malam – malam”


“Nah terus siapa?”


“Jangan – jangan ...”


Tiga hot daddies saling tatap dengan Varen


Hening


“Oh S**t!!!!!!”


Varen mengumpat dan langsung loncat dari duduknya.


***


“Little Star?!”


Varen membuka pintu kamarnya dan Andrea dengan tergesa dan langsung berseru memastikan keberadaan Andrea.


“Little Star?! Drea?!”


Varen setengah berlari setelah tak menemukan Andrea di setiap sudut kamar mereka. Hati Varen mulai berdebar sembari buru – buru menyusul para Dad yang pergi ke garasi.


“Iya itu si Drea!” Nathan datang setengah berlari ke garasi setelah dari pos satpam di kediaman mereka.


“Damned!”


Para Daddies mengumpat bersamaan.


“S**T!”


Varen yang datang bersamaan dengan Nathan yang kembali dari pos satpam itupun spontan mengumpat lagi.


“Dia pakai Fire Blade gue...”


Varen mendengus dan mengusap wajahnya dengan kasar setelah mendengar ucapan Daddy Dewa, lalu menoleh ke deretan motor CC besar koleksi para dads, dirinya dan Nathan yang minus satu.


‘Demi Tuhan Little Star!!!’ Varen membatin frustasi.


Tanpa pikir panjang Varen langsung bergegas ke rak kunci motor dan mengambil salah satu kunci yang tergantung disana, lalu menyambar helm yang ada di rak kaca.


“Memang Little Star bisa mengendarai motor seperti itu?!”


Tanya Varen yang sudah berada di atas salah satu motor yang berjejer dengan tergesa dan nada suaranya terdengar cukup panik.


Tiga Dads kompak mengangguk. Nathan juga ikut mengangguk.


"Sudah lama bisanya. Bukan hanya bisa mengendarai, soal motor Little Star sudah cukup paham. Poppa sama Mommanya sendiri yang mengajarkan"


Varen mendengus kasar, setelah menyalakan mesin motor dia mengambil ponsel dari saku celananya.


Lagi – lagi Varen mengumpat.


“Kenapa Bang?!”


“Ponselnya tidak dibawa!” Sahut Varen cepat. Karena titik lokasi ponsel Andrea ada di rumah. Itu berarti Andrea meninggalkan ponselnya.


Membuat Varen tak langsung menjalankan motor karena sedang berusaha berpikir cepat kemana Andrea akan


pergi.


“Sebentar!”


Daddy Dewa mengeluarkan ponselnya. Otak pintarnya bekerja cepat, karena masing – masing motor mereka


terpasang tracker.


“Oh Thanks God!”


Varen spontan bersyukur. Baru keingetan soal tracker yang terpasang di setiap kendaraan mereka yang  memang sengaja dipasang untuk mengantisipasi segala hal yang bisa terjadi.


“Arah mana Dad?!” Tanya Varen cepat.


“Gila!”


Daddy Dewa berseru dengan wajahnya yang mengandung keterkejutan.


‘Gila! Baru lima belas menit dan dia sudah sampai Gatsu!’


“Kenapa Dad?”


“Hah?” Daddy Dewa terkesiap, Varen sudah tak sabar dan meraih ponsel Daddy Dewa dari tangannya.


Varen melotot tak percaya, dengan apa yang dilihatnya di ponsel Daddy Dewa, yang tak hanya menunjukkan titik arah motor yang digunakan Andrea tetapi juga kecepatan yang digunakan.


“Mampus!” Nathan yang ikut melihat apa yang dilihat Varen spontan mengumpat juga.


‘Benar – benar anaknya si Kajol ini sih!’ Papi dan Papa Bear membatin.


‘213km/jam’


Kecepatan motor yang dipacu Andrea saat ini.


Jantung Varen hampir merosot.


***


To be continue....

__ADS_1


Tararenkyu buat kalean yang masih setia


Loph Loph


__ADS_2