THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 217


__ADS_3

♥ KISAH KASIH ♥


 


Selamat membaca...


Pagi menjelang. Hari pertama diawal minggu sudah sampai lagi. Tanda bahwa semua orang akan mulai disibukkan


oleh aktifitasnya masing – masing, terutama mereka yang berkutat dengan urusan perkantoran, kuliah ataupun sekolah.


Lusa, mereka yang berdomisili di London akan kembali ke habitatnya. Kalau Varen sepertinya akan tinggal seminggu lagi di Jakarta.


“Pagi”


“Morning”


Keluarga kesebelasan itu saling melempar sapaan.


“Mau berangkat sekarang?.” Varen bertanya pada Andrea yang sudah menyelesaikan sarapannya. Gadis yang sudah rapih dengan seragamnya, dengan rambut yang dikuncir kuda itu mengangguk.


“Drea berangkat dulu, Assalamu’alaikum.” Andrea menyalami satu persatu dari tiga nenek, satu kakek, lalu para Daddies dan Mommiesnya. Minus Ake dan Ene yang udah kembali ke habitatnya di Bekasi.


Drea malas pergi – pergi sendiri kalau keluarga sultannya sedang kumpul begini. Bukan apa, keluarganya bak satu kesebelasan. Jadi kalau mau pergi kan harus salim, begitu adab yang diajarkan pada Andrea dan anak – anak lainnya. Nah jadi acara saliman kalo lagi lengkap itu menyita sedikit waktu. Banyak tangan yang harus dicium kek Lebaran.


Tapi yah berhubung pagi ini Drea mau sekolah, ya sudahlah. Untung ada Momma yang selalu ngorak – ngorak Andrea dari pagi budeg. Jadi Drea ga takut salim karena masih punya banyak waktu, soalnya sudah mandi dari sebelum waktu subuh tiba.


“Wa’alaikumsalam.” Sahut yang masih ada dirumah pada Andrea dan Varen yang pergi duluan untuk beraktifitas dari yang lain, yang masih anteng sarapan. Mereka tersenyum saja melihat calon penganten yang jalan sambil bergandengan tangan itu.


****


“Nanti Abang jemput Drea pulang sekolah?” Tanya Andrea pada Varen yang pagi ini menyetir sendiri untuk


mengantarnya ke sekolah. Hati Andrea berbunga – bunga. Bukan yang pertama kalinya Abang antar Drea ke sekolah memang, kalau Abang sedang mampir ke Jakarta dan Andrea belum libur sekolah, Abang pasti antar – jemput Andrea.


Hanya hari ini terasa berbeda bagi Andrea. Bukan sebagai Abang lagi, tapi sudah sebagai pacar eh tunangan deng, Andrea diantar Abang. Jadi bibirnya tak berhenti tersenyum. Varen yang duduk dibalik kemudi ikutan tersenyum melihat Andrea yang sering ia lirik sambil mengemudi. “Senang sekali, hem?”


Andrea menunjukkan sisi menggemaskan nya. Bukan dibuat – buat, tapi memang Andrea seperti itu sejak kecil. Makanya Abang sayang, makanya Abang cinta. Selain Andrea cantiknya paripurna dimata Abang sejak lahir, bahkan saat Andrea masih berupa bayi merah, yang matanya belum terbuka.


“Senanglah. Hari ini perdana Abang antar Drea sebagai pacar.”


“Calon suami.”


Andrea terdiam kemudian, ia tersipu. Membuat Abang rasanya mau memberhentikan mobil sebentar, lalu menciumi


Little Starnya bertubi – tubi. Sayang dijalan, coba kalau dirumah.


Varen sudah tak terlalu lagi menahan dirinya pada Andrea jika ia merasa sangat gemas pada calon istri kecilnya itu. Dari dulu sebenarnya, ingin memperlakukan Andrea dengan mesra, sejak Andrea mulai duduk di bangku SMA.


Namun saat itu Abang masih menahan rasa. Takut jika Andrea tak punya rasa yang sama, takut kalau sayangnya


Andrea berikut keposesifannya hanya karena menyayanginya sebagai kakak. Jadi Varen menunggu hingga saat Andrea berusia tujuh belas tahun, rasa itu ia ungkapkan, karena Varen sudah tak mampu menahan untuk menggenggam erat Andrea seumur hidupnya.


**


Varen memarkirkan mobil di halaman parkir sekolah Andrea yang cukup luas itu. Mematikan mesin lalu melepas sabuk pengamannya. Andrea juga melepaskan sabuk pengamannya dan bergegas turun. “Tunggu.”


Varen menahan lengan Andrea, yang orangnya langsung menoleh. “Kenapa Abang?.”


Cup!


“Abang belum dapat kecupan pagi ini.”


Varen menangkup cepat wajah Andrea dan mengecup sekilas bibir berwarna pink yang terpoles lipbalm itu. Dan kini bukan hanya bibir Andrea yang berwarna pink namun rona pipinya juga. Andrea bahagia, namun belum terbiasa dengan si Abang yang posisinya kini bukan sekedar Abang. Dan lagi, Abang itu sesuatu lah pokoknya.


“Sekali lagi boleh?” Bagai terhipnotis oleh suara lembut si Abang Andrea mengangguk pada Varen yang masih menangkup wajahnya. Minta bonus diarea bibir. Andrea lupa kalau sudah disekolah, Varen masa bodoh soal itu.


Untung saja kaca mobil Varen sangat gelap dari luar. Coba kalo engga, bisa dipanggil guru BP itu Andrea karena ciuman di area sekolah. Eh ga mungkin masuk BP deng, dinasehati juga engga kayaknya. Keburu mikir seribu kali kalau mengusik Nona Muda yang satu ini.


Kalau kaca mobil Abang ga gelap, yah paling banter adegan bibir yang saling menempel antara Varen dan Andrea jadi konsumsi publik para murid yang sudah mulai berdatangan. Sekolah sudah mulai rame, makin rame saat melihat mobil sport super mentereng di area parkiran sekolah mereka. Ga keingetan Andrea, karena biasanya supir Andrea ga sampai mengantar Andrea sampai diparkiran.


Varen mengecup kening Andrea sekilas, meski rasanya ingin berlama – lama menikmati bibir Little Starnya yang


cipokable bagi Varen itu. Harap maklum, lama nunggunya si Abang buat merasakan bibir berwarna merah muda dan manis rasanya bak semangka itu. Varen melepaskan tangkupannya diwajah Andrea.


“Yuk”


“Abang mau turun juga?” Tanya Andrea saat Varen menekan sebuah tombol dan kedua pintu mobil itu terbuka


otomatis keatas. Varen langsung mengangguk.


“Sini Abang bawakan tasnya.”


Varen sudah mendekati Andrea yang sudah menapakkan kakinya di paving block parkiran. Tangannya langsung


meraih tas Andrea untuk ia bawa. Lalu menekan tombol diremote kecil yang terhubung dengan kunci mobil, dan pintu mobilnya tertutup kembali secara otomatis.


***


Andrea melirik laki – laki yang berjalan berdampingan disisinya saat ini. Mobil Abang saja sudah cukup jadi perhatian, tambah lagi ini yang punya pake segala ikutan turun dan ngotot mengantar Andrea sampai ke kelasnya.


Ya sudah, jadilah Varen jadi bahan gangbang mata – mata penuh harap para siswi di sekolah Andrea. Dimana

__ADS_1


Andrea sendiri menjadi bahan gangbang mata dari para siswa atas kecantikannya yang paripurna seperti ketampanan paripurna laki – laki disebelahnya.


“Engkau sungguh tidak adil ya Tuhan” Celetukan unfaedah dari jiwa – jiwa yang iri, yang sudah tahu kalau dua orang ini sudah terikat sebuah status yang namanya tunangan.


Dahlah sama – sama cakep luar biasa, yang kekayaannya jangan ditanya. Satu mobil aja yang dipakai oleh sepasang dewa – dewi dari Klan Adjieran Smith itu bisa buat beli satu Villa di luar kota.


Meratap saja, teman – teman di sekolah Andrea. Bagai pungguk merindukan bulan rasanya mereka.


“Belajar yang rajin ya?”


“Siap Abang pacar. Eh calon suami deng!”


Andrea menyahut sambil meralat cepat pada Varen saat mereka sudah sampai didepan kelas Andrea. Lalu salim pada si calon imam yang kemudian tersenyum, mengacak rambut Andrea pelan, lalu berlalu dari depan kelas Andrea.


"Senyummu meruntuhkan imanku"


Celetukan unfaedah terdengar lagi, Andrea cekikikan.


Keberadaan Varen membuat heboh kelas Andrea yang sebagian besar muridnya sudah datang itu. Sudah tahu memang itu tunangannya Andrea, tapi tetap saja, sayang kalau dilewatkan begitu saja rezeki pagi penambah stamina belajar para siswi yang memang masih sekolah, namun banyak juga yang centil nya luar biasa.


Seperti dua teman dekat Andrea yang kemudian menghampirinya dan sok akrab sama si Abang. Dulu sama Arya, karena dikirain si Drea pacaran sama Arya. Bukan untuk mengganggu, hanya sekedar ngecengin.


Mana berani ganggu milik Andrea, Ratu di Sekolah mereka itu dengan serius. Mengingat wajah polos anak bidadari itu, punya sisi menyeramkan dibaliknya.


“Anjiiirr tunangan lo guantengnya pol banget Dreaaa! ...” Seketika kelas Andrea heboh saat Varen telah berlalu dari depan kelas Andrea.


“Ngiri pasti!.” Tembak Andrea sambil cekikikan masuk kelas menuju kursinya.


“Idih!.”


“Engga?.”


“Iya jelas iri lah Blay!.”


Andrea cekikikan saat dua teman dekatnya sudah mengekori Andrea yang sudah duduk dikursi nya. Sementara


sisanya masih berdiri didepan kelas menatap punggung laki – laki yang mengantar Andrea. Yang membuat setiap siswi keluar dengan hebohnya saat Varen melintasi beberapa kelas dengan gaya coolnya.


“Anjim banget ganteng mampus!.”


“Berisik woy! Sadar diri! Ada tunangannya nih!” Teriak salah satu teman dekat Andrea, mencandai teman – temannya yang masih berkerumun didepan kelas itu.


“Ya elah liat doang mah boleh kan, Drea?.”


“Ho oh. Bae Drea mah. Satu untuk semua kalo dalam penglihatan mah. ya kan, Ya?.”


Andrea mengacungkan jempolnya, sambil terkekeh disela ia menyiapkan buku pelajaran berikut alat tulis yang ia sedang keluarkan dari dalam tasnya. “Lihat boleh, pegang jangan, kalau ga mau muntah paku.”


punggungnya tak terlihat lagi.


Rasanya juga ga mungkin bisa pegang – pegang itu tunangannya si Andrea. Yang bagi mereka sebuah fatamorgana.


**


Waktu pulang sekolah sudah tiba, dan Varen sudah bersandar dimobilnya dalam area parkir saat Andrea sudah


berhambur keluar dari kelasnya dan sudah sampai juga ke area parkir. Dua teman dekatnya itu kembali memepet Andrea yang berjalan mendekati Varen sambil geleng – geleng dan memutar bola matanya malas.


Paham, kalau dua temannya yang kadang terlihat kegatelan ini pasti mau curi – curi pandang ke si Abang.


Dua temannya itu menyapa Varen dengan sok akrab, Varen balik menyapa dengan senyuman yang bisa membuat


ciwi – ciwi mimisan seketika.


“Ayo Abang, cepat kita pulang. Kalau Abang terlalu lama disini, nanti mereka bisa gila.” Andrea langsung menggandeng Varen yang kemudian terkekeh berjalan untuk masuk ke mobil. “Mingkem!.” Teriak Andrea dari dalam mobil setelah membuka kaca, setelah Varen menyalakan mesin mobilnya dan bergerak pelan.


“Bye Kak Alva, besok dateng lagi ya?. Andrea ga dibawa juga ga apa – apa!.”


“Mau muntah paku?!.” Sahut Andrea pada dua temannya yang nampak antusias dadah – dadah tapi bukan padanya. Makin histeris saat Varen menoleh dan setengah menunduk dari tempatnya duduk dibelakang kemudi dan tersenyum pada dua teman Andrea yang seolah histeris itu.


“Duluan ya” Ucap Varen dari dalam mobil dengan ramah pada dua teman Andrea yang masih berdiri ditempat


mereka itu.


“Iyaaa ...”


Dua teman Andrea tiba – tiba sok imut, membuat Andrea tertawa dibuatnya.


“Abis anter Andrea balik lagi ya, ku tunggu single mu Kak Alva!”


Andrea hanya memutar bola matanya malas, namun kemudian ia terkekeh dan melambai pada dua temannya itu, lalu menutup jendela mobil dan Varen melajukan nya keluar dari area dalam sekolah Andrea.


**


Beberapa hari berlalu...


Poppa dan mereka yang berdomisili di London sudah bertolak ke Kota Asap itu sejak dua hari yang lalu. Jadi di Kediaman Utama tertinggal hanya dua kepala keluarga beserta keluarganya yang memang menetap disitu, termasuk juga Nenek Yuna, Varen dan Andrea.


“Little Star..”


Kepala Varen menyembul diantara celah pintu kamar Andrea.

__ADS_1


“Belum tidur?”


Varen melangkah masuk ke kamar Andrea dan menutup pintunya kemudian.


“Ada PR?” Tanya Varen setelah mengambil tempat disisi Andrea yang sedang duduk diranjang sambil memegang buku ditangannya. Andrea menggeleng.


“Besok ada ulangan.”


Varen manggut – manggut.


“Little Star, lusa Abang harus kembali ke Massachusetts”


“Bukannya Abang sudah memundurkan jadwal Abang kembali kesana?.”


“Iya tadinya. Tapi tadi ada info kalau ada sedikit masalah di Perusahaan, jadi Abang harus kesana untuk tahu detail dan mengambil tindakan.”


“Oh ..”


“Jangan marah ya?”


“Tapi kan Abang sudah janji kalau sabtu ini akan ikut menginap di Villa bareng Papi dan yang lainnya. Terus mau temani Drea main paralayang”


Jemari Varen bergerak membelai wajah cantik Andrea yang kini sedang cemberut.


“Iya Abang minta maaf soal itu. Abang janji kalau urusan disana sudah selesai, Abang akan secepatnya kembali kesini.”


“Jangan janji kalau ga bisa menepati”


“Little Star...”


“Abang saja sudah mengingkari janji untuk temani Drea weekend ini. Terus Abang mau buat janji baru lagi. Nanti setelah di Massachusetts, alasan lagi. Pekerjaan lah, Perusahaan lah”


“Little Star ..” Varen menghela nafas pelan. Menyabarkan hati karena mode manja bocil Andrea sedang aktif. “Abang bukannya sengaja ingkar janji, kan bukan maunya Abang kalau tiba – tiba ada masalah di Perusahaan. Abang ini punya tanggung jawab Drea... Abang....”


“Oh, jadi Drea ga termasuk kedalam tanggung jawab Abang?” Andrea menyela sebelum Varen menyelesaikan


kalimatnya.


“Kok gitu ngomongnya?. Abang ..”


“Udah ah Drea ngantuk. Abang keluar sana gih. Drea mau kunci pintu” Andrea berdiri dari tempatnya.


“Little Star.... jangan kekanakan gini ah. Kan sudah besar katanya”


“Udah cepat sana Abang keluar, Drea ngantuk. Dengar ga sih?.”


“Drea, Abang ga suka ah Drea begini.” Varen memegang kedua bahu Andrea.


“Ya udah, kalo ga suka ngapain masih disini?. Keluar sana. Ga usah nunggu lusa balik ke Massachusetts. Sekarang aja. Mau Drea bantuin packing? Sana” Andrea mendorong pelan dada Varen.


“Drea”


“Sana!”


“Drea, dengarkan Abang dulu”


“Ga mau!”


Varen menghela nafas lagi. Melapangkan dada, menyabarkan hati kalau Andrea sudah begini.


“Duduk sini.”


“Ga sebelum Abang keluar dari kamar Drea!.”


“Duduk atau Abang apa – apakan nih ya?”


“Coba!”


Abang terpaku, menggigit lidahnya sendiri. Tak sangka ancamannya malah berbalik jadi tantangan dari Andrea. Kesal sendiri, lalu mendudukkan diri diatas ranjang sembari menarik pelan pinggang Andrea hingga jatuh ke pangkuannya. Membuat jantung Andrea seketika berdegup cepat.


Untuk sejenak mereka Varen dan Andrea saling tatap. Varen kemudian tersenyum pada Andrea yang juga sedang


menatapnya.


Sama seperti Andrea, posisi mereka sekarang terasa canggung untuk Varen sendiri, jantungnya juga sudah mulai berdegup kencang, ditambah Andrea memakai kaos berleher sabrina yang membuat leher hingga bahu mulus Andrea terekspos sempurna karena rambut Andrea sedang dicepol.


Dan leher serta bahu hingga sedikit diatas dada, sudah sangat dekat dengan mata si Abang.


Duh, Varen rasanya ingin membuat warna lain dileher Andrea yang putih dan sekitarnya itu. – Otak bertanduk Abang mulai menggoda iminnya.


“Little Star.... Abang hubungi Poppa ya?” Varen berkata lembut, yang satu tangannya memegang pinggang ramping Andrea, dan satu tangannya merapihkan anak rambut Andrea sembari dirinya tersenyum.


“Apa?! Mau mengadu?!”


Varen masih mempertahankan senyumnya, pada Andrea yang berkata ketus padanya.


“Mau minta Poppa segera kembali lagi kesini. Abang akan nikahi kamu minggu ini juga”


Andrea sesak nafas.


*

__ADS_1


To be continue ...*


__ADS_2