THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 38


__ADS_3

♥ ULALA LALA LILA LILU ♥ 😄


********************


Selamat membaca....


********************


Jakarta, Indonesia


 


“Dan lo!.” John menghentikan langkahnya. Mata dan telunjuknya mengarah pada Tristan “Ini peringatan


terakhir!.” Ucap John keras. “She, Is Belong To Me!. ( Dia, Milik Gue! ). Jadi jangan pernah lo coba – coba untuk mendekatinya lagi!.”


Prita pun spontan menganga.


John langsung membawa Prita pergi dari resto yang merangkap klub tersebut. Membawa Prita masuk kedalam


mobilnya dengan wajah kesalnya yang belum hilang.


“Gue bisa pasang seatbelt sendiri, Kak.” Ucap Prita saat John mendudukkannya dikursi penumpang depan dalam mobilnya dan hendak memasangkan sabuk pengaman pada Prita seolah terburu - buru dengan wajahnya yang masih nampak sedang menahan amarah.


John mendengus. Terdengar masih kesal. Lalu berjalan menuju pintu kemudi dan masuk kedalamnya. Menutup pintunya pun dengan keras.


‘Sumpah gue takut liat dia sekarang ini.’


Prita membatin sambil melirik pada John yang menstarter mobilnya lalu melajukan kuda besi miliknya itu. Wajah John nampak horor dimata Prita saat ini.


***


London, Inggris


Para Sultan dan Sultanah muda klan Adjieran Smith yang berada di London kini sedang berada di garasi pribadi milik mereka yang ada Mansion.


Fania, Andrew, Reno, Ara dan Jeff sedang iseng melihat – lihat koleksi pribadi mereka yang ada di dalam garasi. Sambil iseng mengotak - atik mobil kesayangan masing - masing, mengecek jika dirasa ada yang ingin dirubah.


Mereka sedang malas keluar, lebih memilih untuk mengotak – atik mobil, sekaligus rasanya mau mengeluarkan beberapa mobil dan menggantinya dengan yang baru.


“By the way Jeff, misi lo mendapatkan hati mamanya Nathan gimana?. Sudah sukses?.” Tanya Reno iseng. Ia


bertanya sambil senyam – senyum pada Jeff yang sedang berada di London juga saat ini.


“Iya tuh, jangan kelamaan bergeraknya. Tangan aku sudah gatal mau buat seragam.” Timpal Ara.


“Tunggu saja. Gue pastikan kalau pernikahan gue dan Jihan akan berlangsung tahun ini juga.”


Jeff menyahut pede.


“Inget Kak, jangan maksa. Mane enak sih nikah tanpa cinta.”


Fania ikut nimbrung menimpali.


“Dia akan jatuh cinta sama gue, as soon as possible Kajol!.” Sahut Jeff.


“Act! (Buktikan!). Jangan hanya bicara.”


"Right what Andrew said! (Benar tuh yang dibilang Andrew). Jangan mempermalukan nama keluarga Adjieran Smith kalau lo gagal memenangkan hati perempuan.”


Reno terkekeh begitupun Jeff berikut Ara, Fania dan Andrew.


“A failure (Kegagalan), tidak ada dalam kamus seorang Jeff Alton Smith.”


“Pede M*mpus bule gila!!!.” Celetuk Fania dan Jeff langsung tergelak.


“Hanya lihat dan tunggu Jool!!!! ..”


Triiinnngg.........


Suara dering ponsel terdengar. Reno yang merasa kalau ponselnya lah yang sedang berdering.


‘John.’


Nama pemanggil yang tertera dilayar ponsel Reno.


Reno pun langsung meng slide ikon berwarna hijau untuk menerima panggilan.


“.....”


“Heeeemmm.”


Reno dengan deheman nya saat menerima panggilan sambil menyesap minuman kaleng kaleng yang ia pegang.


“.....”


Bluuurrrf!!.....


Reno menyemburkan minumannya.


“WHAT????!!!.” Wajah Reno nampak menggambarkan keterkejutannya. Empat orang yang lainnya spontan langsung mengernyitkan dahi mereka melihat Reno yang seketika menyemburkan minuman yang sedang ia minum sambil memekik kaget saat menerima panggilan.


Ara bertanya pada Reno dengan gerakan kepalanya. Reno mengangkat tangannya mengkode balik kalau ia mau


mendengarkan orang yang menelponnya itu.


“Lo mabuk?.” Ucap Reno saat berbicara diponselnya. Ia berjalan sedikit menjauh dari empat orang yang


bersamanya, yang mata mereka kini fokus pada Reno.

__ADS_1


“Siapa sih itu yang menelpon?. Kamu ga lihat nama pemanggilnya Jeff?. Kan kamu tadi disamping R?.”


Ara bertanya sambil menoleh pada Jeff.


“I didn’t see (Gue ga lihat).”


“You think about it carefully (Lo pikirkan dulu tentang itu baik – baik).”


“.....”


“Have you talked to her about your plan? (Apa lo sudah bicarakan dengan dia tentang rencana lo ini?).”


“.....”


Reno masih asik bicara dan empat orang yang berada didekatnya itu masih memposisikan mata mereka, memperhatikan Reno yang sedang menelpon itu.


“Heemm... I’ll call you back later (Heemm... Gue akan telfon lo nanti).” Ucap Reno. “Gue tidak sedang dalam kondisi yang bisa bicara panjang lebar dengan lo saat ini.”


“.....”


"Yap."


“.....”


"Heeemmmm." Reno menyahut dengan deheman nya. “Ck!.” Reno berdecak sambil menoleh pada empat orang yang sedang memperhatikannya itu. Ia pun kembali lagi ke tengah – tengah empat orang yang merasa sedikit heran dan penasaran itu.


“Ada apa, R?.”


“Nantilah gue kasih tau lo, Ndrew.” Sahut Reno pada Andrew.


“Apa ada masalah dalam bisnis?.” Tanya Ara.


“Nope. It’s not about business, Babe. I’ll tell you later. (Bukan. Ini bukan soal bisnis, Sayang. Aku akan memberitahumu nanti).”


Jeff dan Fania tak bersuara. Hanya bertanya – tanya sendiri dalam hati mereka.


‘Ada apa ye?.’


‘Kalau gue ga salah lihat, tadi panggilan dari si John. Ada apa sampai R kaget seperti tadi?.’


“Ya udah ah, gue ngantuk.” Celetuk Fania.


Keempat orang yang lain ikut mengangguk.


“Heart, kamu duluan ya. Aku ingin bicara dengan R dulu.” Ucap Andrew pada Fania. Bukan tanpa alasan Andrew


menyuruh Fania untuk pergi duluan ke kamar. Tapi Reno sudah mengkode dirinya dan Jeff dengan mata untuk tinggal sebentar. Fania mengangguk, mengiyakan ucapan Andrew.


“Ya sudah, kami kekamar duluan ya kalau begitu.”


Ara mendekati Fania dan menggandengnya.


Ara terkekeh setelah berujar diikuti yang lainnya yang juga terkekeh.


“Let’s go Mommy! (Ayo, Mommy).” Sahut Fania.


Fania dan Ara kemudian berjalan menuju Mansion.


“Oh iya Dad R, kalau mau menengok adiknya Varen, jangan lama – lama bergibahnya.” Celetuk Ara sambil terkekeh lagi.


“Oke Mommy Ara!.” Sahut Reno cepat.


“Kamu juga, Poppa. Kalo mau ulala beibeh jangan lama – lama ngobrolnya.” Fania ikut nyeletuk.


“Ayeyay Momma!.” Andrew juga langsung menyahut. “Sudah cepat R bicara!.”


Andrew tampak sekali tak sabar pengen ulala beibeh dengan si Kajol.


Reno dan Jeff geleng – geleng aja deh kalo udah begini. Kalo soal ulala beibehan dengan Fania, Andrew emang udah maunya gercep aja. Ga sabar.


“Donald Bebek ... Donald Bebek ...”


Ara dan Fania berjalan menjauh sambil cekikikan.


“Enak ya lo berdua.” Celetuk Jeff pada Andrew dan Reno. “Bisa menggoyang ranjang bareng – bareng. Pikirin


perasaan gue kek, yang sudah lama ga bersemayam di gua.”


“Derita lo itu sih.”


“Makanya lo buruan nikahin itu si Jihan.” Celetuk Reno.


“Memang mau buru – buru gue nikahin, sebelum adik kecil gue karatan.”


“Tuh lubang bensin lo pake dulu sebelum bersemayam di gua milik mamanya Nathan.” Celetuk Andrew yang


disambar gelakan oleh Reno.


“Emang si*lan lo berdua.”


"So, ada apa R?. Telfon dari siapa tadi sampai lo kaget begitu?." Tanya Andrew.


"John."


****


Mundur dulu ke Indonesia


 

__ADS_1


“Pelan – pelan, Kak.”


Prita merasa deg – deg an karena John mengemudi dengan tergesa dan sedikit ngebut. John tak menjawab, namun ia menormalkan kecepatannya.


Prita menghela nafas lega saat John tak lagi ngebut. ‘Yang tadi dia bilang itu maksudnya apa?.’ Ia melirik John yang wajahnya masih horor dan mengemudi dengan tatapan lurus kedepan. Belum berbicara ataupun menoleh pada Prita.


“She, Is Belong To Me!. ( Dia, Milik Gue! ). Jadi jangan pernah lo coba – coba untuk mendekatinya lagi!.”


‘Ucapan Kak John sama Tristan tadi.. bukannya terdengar seperti dia nembak gue secara ga langsung, ya?.’ Prita teringat kembali pada ucapan John ke Tristan sebelum mereka pergi meninggalkan tempat mereka berada tadi. ‘Tapi kan cewe tadi bukannya cewenya dia?.’


“Aku bilang minggir!.”


‘Tapi tadi sikap Kak John begitu sama dia. Kalo itu cewenya masa di kasarin begitu dan Kak John malah menggandeng gue?. Tapi tadi siang kayaknya mesra banget mereka. Tapi juga ini sibule koplak bilang gue ini miliknya dia sama si Tristan.’ Batin Prita berspekulasi. 'Aaa .... gue bingung!!.’


Prita menghela nafasnya.


“Eh iya Kak. Anter gue ke apartemen Diana aja. Barang – barang gue ada disana, termasuk hape gue.”


Prita buka suara, tapi John tak menggubrisnya. Jangankan menyahut, menoleh aja engga. Prita mendesah pelan.


Sedikit frustasi karena John mengacuhkannya. Prita kemudian membuang pandangannya ke luar jendela mobil.


****


“Turun.” Suara berat John sedikit mengejutkan Prita yang melamun sepanjang perjalanan itu.


‘Loh, kok dia malah bawa gue kesini sih?.’ Batin Prita bertanya sendiri saat mereka sudah sampai di parkiran sebuah gedung komplek apartemen mewah.


“Kak....” Prita memanggil John yang sudah keluar dari mobil. Namun lagi – lagi John tak menyahut dan berdiri menunggu Prita keluar dari mobil sambil menggulung kasar lengan kemejanya. Prita mau tak mau akhirnya keluar dari dalam mobil juga. “Kak, barang – barang gue ada ditempat Diana.”


John melirik Prita yang kini sedang berdiri didepannya.


“Ck!.” John terdengar berdecak pelan, lalu langsung berbalik dan berjalan menuju gedung apartemen tersebut.


‘Ish ini orang.’ Batin Prita menggerutu. “Kak! ....”


Prita pun pada akhirnya mengekori John meski ia sedikit merasa sebal.


****


“Kak, kan tadi gue bilang, barang – barang sama hape gue ada ditempatnya Diana.” Ucap Prita, saat dia dan John sudah sampai di unit Penthouse nya John. "Kenapa lo malah bawa gue kesini?"


“Masuk.” Ucap John datar sambil membuka pintu Penthouse nya.


Prita mendengus kesal karena John tidak menyahut atas ucapan dia sebelumnya. Namun Prita patuh untuk tetap


masuk kedalam Penthouse John.


“Kak! Gue lagi ngomong sama lo.” Prita setengah memekik pada John. “Lo ga bisa seenaknya memperlakukan gue


kayak gini!.”


“Memperlakukan kamu kayak gini.. bagaimana?.” John berbalik untuk menghadap pada Prita yang berdiri berjarak dengannya. “Hem?.”


“Ya kayak gini! Kayak tadi waktu di Leon! Maksud lo apa bersikap kayak tadi?!. Pake segala pukul Tristan?!. Plus lo menyeret gue tadi!.” Cerocos Prita. John masih mendengarkan sambil mensedekapkan tangannya sambil berdiri tegak.


“Kamu bilang ke aku ....”


‘Aku ... imut amat dia ngebahasain dirinya pake ‘aku’ ke gue.’ Batin si Priwitan cengengesan.


“Kamu bilang ke aku pagi tadi kalau setelah dari kafe akan langsung pulang.” John berkata sambil memandangi Prita dengan tatapan datar dan sedikit dingin.


“Ya kalo gue ga jadi balik ke Bekasi emang kenapa?. Hak gue lah!. Kenapa jadi lo yang ribet?!.”


“Turunkan nada bicara kamu, Prita.” Ucap John.


“Eh Kak, lo bukannya punya pacar, huh?.” Prita masih mengajak adu argumen. "Kenapa juga lo harus sibuk ngurusin urusan gue?!."


“Pacar?.”


“Ga usah pura -    pura b*go deh lo.”


“Jaga bicara kamu, Prita.”


John sedikit tak suka pada Prita yang berbicara dan mengatainya seperti tadi. Tapi Prita malah melotot padanya.


“Kenapa?. Lo mau bentak – bentak gue lagi kayak dulu?!.” Tantang Prita. “Daripada lo sibuk ngurusin urusan gue,


mending lo urus tuh cewe lo yang tadi manggil lo ‘baby’!.”


John menghela nafasnya pelan tanpa didengar Prita. “Wanita itu bukan siapa – siapa aku. Lebih baik ....”


“Lo denger baik – baik ya, John Darwin Smith!. Lo ga berhak mencampuri urusan gue.” Prita mengacungkan telunjuknya pada John. “Lo! Bukan siapa – siapa gue!.” Ucap Prita yang nampak mulai emosi.


“Ulangi.” Ucap John. “Ulangi yang kamu bilang tadi.”


“Lo! Bukan siapa – siapa Gue! Dan ....”


GREP!


CUUPP!😚😚


‘Oh Tuhan, gue mau pingsan ..’


****


To be continue ...


Cie, cie yang mulai pada senyam - senyum ....

__ADS_1


😄😄😄😄


__ADS_2