THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 222


__ADS_3

🎇  KEPUTUSAN  🎇


✳✳✳✳✳✳✳✳✳✳


Selamat membaca...


***********************


“Abang ...”


“Ya?”


“Drea sekali lagi minta maaf soal kemarin”


“Things happened are happened. No need to talk about it anymore (Yang sudah terjadi, sudah terjadi. Tidak perlu dibahas lagi). Jadikan saja pelajaran”


Andrea mengangguk lemah.


“Sudah minta maaf pada Poppa dan Momma?”


“Sudah”


Andrea menyahut pelan pada Varen yang sedang duduk disampingnya sambil mata si Abang fokus ke ponsel dan


sesekali melirik Andrea saat gadis itu berbicara.


“Uumm ... soal Kak Arya ...”


“Abang tidak mau membahas soal itu” Ucap Varen datar.


“Maaf... Drea hanya ingin Abang ga salah paham. Drea ga janjian sama Kak Arya. Kami ga sengaja bertemu disana. Drea berani sumpah”


“.....”


“Abang ... percaya kan?”


“Ya sudah” Jawab Varen datar.


“Lalu soal teman – teman Drea yang kemarin menjemput Drea saat Drea menyelinap kemarin malam, mereka hanya menjemput Drea. Drea yang meminta mereka menjemput Drea. Mereka memang mengajak, tapi tidak memaksa. Drea sendiri yang nekat pergi...”


Varen manggut – manggut saja.


“Drea menyesal, Maaf ... Drea terima kalau Abang marah ... tapi ...”


“Abang bukan marah. Abang hanya kecewa. Itu saja. Dan soal membentak kamu kemarin, Abang minta maaf untuk


itu. Abang sedang merasa sangat kesal denganmu, dengan kelakuanmu”


“.....”


“Abang itu, ga pernah ingin mengatur hidup kamu. Ya, memang Abang sering melarang kamu ini itu. Tapi setelahnya jika kamu merengek lagi dan lagi, apa Abang masih melarang? Tidak bukan?. Abang akan mengijinkan kemudian, meski dengan beberapa syarat. Kenapa? Karena kamu yang terus – terusan merengek itu menandakan betapa kamu menginginkan hal tersebut”


“.....”


“Dan jika Abang mengabulkannya, kamu nampak bahagia. Dan kebahagiaan kamu itu, adalah hal yang selalu ingin Abang lihat”


“.....”


“Yang kamu lakukan kemarin, membuat Abang merasa tidak dihargai oleh kamu. Setelah segala hal yang selama ini Abang lakukan untuk kamu. Sorry, bukan Abang mengungkit soal budi.”


“.....”


“Coba Drea posisikan diri Drea diposisi Abang. Apa Drea bisa terima, andaikan Abang bermain dibelakang Drea lalu kemudian kamu tahu?”


Andrea menggeleng pelan.


“Kalau Drea memang sangat ingin pergi, kenapa ga bicara terlebih dahulu? Permintaan Drea yang mana yang tidak Abang kabulkan? Meski kadang Abang telat mengabulkannya. Poppa yang keras itupun kadang juga luluh pada kamu kan?”


“Iya Abang ... Drea sungguh – sungguh menyesal sudah mengecewakan Abang, Poppa dan Momma”


“Ya sudah jadikan itu pelajaran”


“Iya Abang ...”


****


“Abang ...”


“Ya?”


“Kita... masih pacaran kan?...”


Varen menyunggingkan senyum.


“Kita ... masih tunangan kan?...”


“Terserah Drea”


“Kok terserah Drea?”


“Terserah Drea mau bagaimana. Kalau Drea menanyakan Abang, nanti Drea terpaksa menerima keputusan Abang. Dan Abang ga mau seperti itu. Jujur, Abang masih sedikit kesal dengan kelakuan kamu kemarin. Abang ga pernah minta apa – apa sama Drea, hanya cukup menghargai Abang. Itu saja”


“Maaf Abang ... Drea benar – benar ga bermaksud membuat Abang merasa kalau Drea ga menghargai Abang... Abang jangan bicara begitu ...”


“Ya sudah”


“Poppa bilang ... Abang membebaskan Drea ...?”


“Iya memang. Abang membebaskan Drea sekarang”


Andrea seketika tertunduk.


“Jadi maksudnya ...membebaskan.. itu berarti.. Abang memutuskan hubungan dengan Drea ...” Andrea yang masih tertunduk itu nampak menyeka matanya. “Sebegitu kecewanya Abang sama Drea? ...” Lirih Andrea.


“Kemarilah”


“Hiks...”


“Kalau ditanya apa yang paling Abang inginkan di dunia ini, maka jawaban Abang adalah Andrea. Miracle Andrea, Little Starnya Abang. Tapi sekarang Abang menyerahkan semuanya pada Drea.”


Varen mengangkat dagu Andrea sambil menyeka airmata yang sudah terproduksi dimata gadis itu.


“Drea maunya kita bagaimana, hem?”


“Aku mau kita trus bersama” Kata Om Judika, eh kata Andrea.


***


Hari senin ini, Andrea tidak masuk sekolah. Varen menyuruhnya begitu.


Andrea kurang tidur, kurang asupan. Dan Varen tidak mau pada akhirnya Andrea jatuh sakit karenanya. Ditambah Andrea menolak tidur semalam, karena takut ditinggal. Kemana – mana Varen Andrea ikuti. Bahkan semalam saat ke kamar mandi saja, meski Andrea tak ikut masuk ke dalam, namun gadis itu ngotot menunggui Varen didepan pintu kamar mandi.

__ADS_1


Yang pada akhirnya membuat Varen tak bisa berlama – lama berada di kamar mandi, karena per sepuluh detik Andrea mengetuk pintu sambil memanggilnya dari luar.


Hingga akhirnya Varen membawa Andrea untuk ikut berkumpul dengan mereka yang sedang menonton Liga Italia. Toh Andrea mengerti dan menyukai sepak bola juga. Tapi tetap Andrea tak melepaskan pegangannya dari kaos si Abang. Sampai – sampai Nathan yang disuruh mengambilkan makanan untuk Varen dan Andrea.


***


Esok hari


“Abang tidak bisa mengantar Drea ke sekolah pagi ini. Kamu diantar Ammar”


Varen dan Andrea sudah berdiri di depan pintu utama Kediaman. Varen nampak rapih dengan kemeja dan jas semi formal, sementara Andrea sudah rapih dengan seragam sekolahnya.


“Iya...”


“Abang usahakan jemput. Tapi jika Abang tidak menghubungi kamu sampai saat jam sekolah kamu selesai, kamu


pulang dengan Ammar”


“Iya Abang ...” Sahut Andrea patuh. “Tapi beneran kan kita masih tetap tunangan?”


Varen menyunggingkan senyum.


“Kan Abang bilang terserah Drea”


“Drea kan bilang mau terus sama – sama Abang. Tapi semalam Abang hanya jawab ya sudah. Maksudnya apa?”


“Jika Drea maunya begitu, ya sudah”


“Tuh kan, ya sudah lagi. Perasaan Abang ... ke Drea, sekarang gimana? Abang bilang Abang kecewa sama Drea. Drea sudah berkali – kali minta maaf, Abang juga ga bilang memaafkan Drea atau engga, hanya ‘Ya sudah, Ya sudah’. Abang mau Drea bagaimana? Drea akan turuti, Tapi Drea juga perlu kepastian, Abaaaaannnngg”


“Yang perlu kamu turuti itu Poppa dan Momma” Sahut Varen sambil melirik arlojinya.


“Tapi Drea juga mau menurut sama Abang. Lebih menurut lagi dari sebelumnya”


“Cukup dengan bersekolah dengan rajin, lulus dengan nilai baik dan berkelakuanlah dengan baik.. Lebih menurut pada Poppa dan Momma. Itu saja” Ucap Varen. “Sudah berangkat sekarang. Nanti kamu terlambat”


“Hhh! ...”


Andrea menghembuskan nafas berat, lalu menyalim tangan Varen setelah laki – laki itu membukakan pintu mobil penumpang belakang untuk Andrea, dengan Ammar si pengawal pribadi Andrea yang mengemudikan.


‘Abang beda sekarang ...’


**


Drrrrrt... Drrrrrt...


Ponsel Andrea yang ia heningkan terasa bergetar disaku seragam sekolahnya, kala ia masih tengah belajar di pelajaran terakhir. Andrea mengeluarkan ponselnya perlahan, sedikit mengendap. Tidak ingin menyinggung guru yang sedang menerangkan di depan kelas.


Tapi Andrea memang sangat menunggu dihubungi oleh Varen. Secara, masih takut kalau beneran ditinggal pergi sama si Abang.


‘Pulang on time atau ada kegiatan lain setelah jam sekolah?’


Pesan dari Varen yang memang Andrea tunggu akhirnya masuk juga ke ponselnya.


‘Hanya rapat OSIS untuk persiapan Pensi’


‘Ya sudah’


‘Abang jemput Drea?’


‘Iya Abang jemput. Berapa lama kira – kira rapatnya?’


‘😍😍😍‘


‘Ya sudah’


‘Sayyang Abaaaannggg’


‘Sayang Drea’


**


Andrea tersenyum saat melihat Varen yang menghampirinya ke ruang OSIS, disaat ia baru saja menutup rapat dengan para anggotanya.


Varen pun membalas senyuman dengan gaya coolnya dan langsung bergegas pergi bersama Andrea setelah Andrea menghampirinya.


“Abang sudah selesai memang urusannya?”


“Sudah”


“Huum..”


“Mau cari tempat makan dulu atau mau langsung pulang makan di rumah?”


“Terserah Abang saja. Kemana Abang ajak Drea, Drea ikut. Apapun yang Abang katakan, akan Drea patuhi” Cerocos Andrea sambil memberikan senyuman terbaiknya. “Sarangheyo Abaangg....” Jari Andrea membentuk simbol cinta, membuat Varen terkekeh sambil geleng – geleng.


“Drea.... Drea ....”


“Jawab dong Abang!”


“Abang bukan orang Korea”


“Ck. Abang nih! Abang sepertinya sudah berubah. Cinta Abang sama Drea sudah pudar ya, gara – gara Drea mengendap – endap ke Club?”


“Salah siapa kalau begitu jadinya?”


“Iyaa salah Drea. Tapi kan Drea sudah minta maaf, Drea tulus menyesal. Drea akan ikut semua kata Abang”


“Benar begitu?”


“Benar! Janji!.”


“Ya sudah”


“Tuh kan ya sudah lagi” Andrea mencebik. Varen tersenyum kecil sambil kembali fokus menyetir. “Abaaangggg”


“Yaaa?..”


“Abang masih cinta Drea kan?”


“Ya kalau Abang sudah tidak cinta kamu, Abang sudah pergi sejak mengantar kamu pulang dari Club. Sudah kembali ke London atau Massachusetts. Sudah dibilang berkali – kali, Alvarend Aditama Smith itu cintanya pada Miracle Andrea Andrew Smith. Masih saja bertanya”


“Iya maaf ...”


“Ya sudah, mau kemana sekarang. Langsung pulang atau kemana?”


“Ikut Abang!”


“Makan di rumah saja ya?”


“Ikut kata Abang!”

__ADS_1


"Benar nih, selalu ikut kata Abang apapun itu?"


"Benar! Betul! Iyes!"


“Noted. Abang catat, Abang ingat”


**


Varen dan Andrea sama – sama mengernyitkan dahi mereka saat sudah mendekati Kediaman Utama keluarga mereka yang berada di Jakarta.


Pasalnya di depan gerbang utama nampak ramai, banyak mobil pengangkut barang – barang besar sekaligus banyaknya orang yang wara wiri, nampak seperti kru. “Memang keluarga kita ada jadwal untuk acara ya? Kok aku ga tahu?” Andrea merasa heran.


“Entah, Abang juga tidak tahu. Ini bulan apa? Mungkin kita lupa ada yang berulang tahun bulan ini?”


“Oktober Abang. Ga ada keluarga kita yang ulang tahunnya bulan Oktober”


“Oh iya”


Varen manggut – manggut sambil memarkirkan mobilnya sembarang, dan seorang penjaga gerbang sudah standby untuk memasukkan mobil Varen ke garasi seperti biasa.


“Mau ada acara apa ya kira - kira?”


Andrea masih bertanya – tanya setelah turun dari mobil dan melihat orang – orang yang sedang memasang seperti tiang tenda dihalaman rumah.


“Ini orang – orangnya Ake sama Ene bukannya?” Andrea mengenali beberapa orang, termasuk mobil pengangkut dengan logo yang ia kenal.


“Sepertinya.” Sahut Varen. “Ya sudah lebih kita masuk, jadi bisa bertanya”


“Iya”


**


Varen dan Andrea nampak terkejut setelah masuk ke dalam Kediaman Utama. “Poppa? Momma? Kalian semua kok ga bilang akan datang hari ini?”


Yap. Poppa dan Momma ada di Kediaman Utama, tanpa pemberitahuan sebelumnya. Berikut Daddy R, Momm Ara, Oma Anye, Gappa, Gamma, bahkan Ake dan Ene pun juga Ada. Hanya Rery dan Valera yang belum Varen dan Andrea lihat bersama mereka yang sedang berkumpul di ruang Keluarga.


“Sudah pulang kalian”


Poppa menyapa saat Varen dan Andrea sudah mendekatinya, menyalim tangannya serta para Daddies, Mommies


kecuali Papa Lucca dan Mama Fabi. Lalu menyalimi para Kakek dan Nenek mereka.


“Memang mau ada acara apa sih? Kok Poppa dan kalian semua tahu – tahu datang dan sudah berkumpul disini?”


“Pernikahan kalian”


"..."


"Dua hari lagi"


Varen menaikkan alisnya tanpa berkata. Hanya memandangi Poppa kemudian seluruh keluarga yang lain. Nampak terkejut namun tak lama, ia menaikkan satu sudut bibirnya memandang pada para orang tua, lalu ia menoleh pada Andrea yang manggut – manggut.


“Ooohhhh...”


Namun sejenak kemudian, sepertinya Andrea tersadar sesuatu.


“Tunggu – tunggu.. Poppa bilang apa tadi?”


“Kalian akan menikah dua hari lagi”


“Ka-li-an..” Andrea berujar, namun bola matanya membulat seketika sekaligus ia melongo nampak sangat terkejut. “Kalian? Mak-maksudnya – a – aku – dan – Abang??!!” Andrea menunjuk dirinya sendiri dan Varen.


“Seperti yang kamu dengar, Nona Miracle Andrea” Sahut Poppa.


“Dua hari lagi???!!”


“Ya”


Mata Andrea kian membulat, sementara Varen nampak tenang saja, sambil memandangi Andrea seperti anggota


keluarganya yang lain.


“Tapi – Tapi Drea .... kan masih sekolah. Bukannya Drea dan Abang menikah saat aku lulus nanti?”


“Perubahan rencana”


Poppa menjawab dengan santainya.


“Apa kamu tidak ingin menikah dengan Abang kesayanganmu ini?”


Daddy R bersuara lalu berdiri disamping Varen.


“Ya – Drea mau menikah sama Abang ... tapi – tapi kenapa mendadak begini? Ab – Abang yang mengusulkan? ....” Varen menggeleng.


“Abang sendiri juga baru dengar rencana mereka ini sekarang”


“Judulnya kamu mau atau menolak Miracle Andrea?” Poppa memastikan, menatap pada Andrea.


‘Makan di rumah saja ya?’


‘Ikut kata Abang!’


'Benar nih, selalu ikut kata Abang apapun itu?'


'Benar! Betul! Iyes!'


 


‘Noted. Abang catat, Abang ingat’


Andrea merinding teringat kata – katanya sendiri.


“A-A-Aku ... ikut kata Abang....” Ucap Andrea pelan dan sedikit terbata.


“Apa jawabanmu Tuan Alvarend Aditama Smith?”


Daddy R tersenyum penuh arti sambil merangkul pundak sang putra sambil memandangi Andrea.


“Dia ikut keputusanmu, katanya tadi”


“Kamu ikut kata Abang, benar begitu?”


“Iya... Pop ..”


Poppa beralih menatap Varen sambil menggerakkan dagunya. Sementara yang lain masih tetap diam, namun mesam – mesem saja.


“Lalu keputusanmu, Bocah tengik?”


“Aku sih Yes”


‘Selamat tinggal masa remaja!’

__ADS_1


**


To be continue ..


__ADS_2