THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 14


__ADS_3

😘 TIDAK SEMUDAH ITU, FERGUSO! 😘


***


Selamat membaca.....


“Prita ....”


“Yap?.” Sahut Prita pada John yang menghampirinya. Nampak masih malas – malasan menanggapi si bule koplak.


John menghela nafasnya pelan.


“Bisa kita bicara sekarang?.” Ucap John.


“Sorry, gue cape..”


“Sebentar aja Prita. Lima menit. Kak John hanya mau minta maaf sama kamu.”


“Gue ngantuk.” Sahut Prita cepat. Ia langsung meninggalkan John. “Oh iya lo ga usah cape – cape minta maaf sama gue. Ga penting lo minta maaf sama anak kecil.”


“Berat ... berat ... kayaknya perjuangan lo John!.” Si bule gila ada di belakang John dan Prita ternyata.


*****


“Mau kemana lo, Prit?.”


“Mau ke studio gue. Lupa ada janji mau bikin koreo buat kebutuhan konten.”


“Oh.”


“Orang – orang pada kemane?.”


“Masih pada boci kelles, cape.”


“Ya udeh gue jalan dulu ya. Bilangin papa sama mama. Gue kayaknya ntar nginep ditempat Diana deh Kak. Tapi ntar gue kabarin lagi deh.”


"Iya udeh. Lo kabarin aja."


Prita meraih tangan Fania dan mencium punggung tangan kakaknya itu.


“Lo bawa mobil?.”


“Kaga kuat bawa mobil mah.”


“Ck!.” Fania mencebik. “Gue serius nanya cumi!.”


“Kaga gue dijemput.”


“Gebetan lah!.”


Fania menunjukkan wajah kocak.


“Uwew, kemajuan!.”


“Udah ah. Bentar lagi nyampe dia.”


“Kenalin lah!.”


“Elah gatel amat!.”


Fania terkekeh.


“Ya udeh gue berangkat ya Kak!. Assalamu’alaikum.”


“Wa’alaikumsalam.” Sahut Fania tapi tetap mengekori si Priwitan.


***


“Jol.” John menuruni anak tangga, menyambangi Fania yang nampak datang dari arah ruang tamu.


“Eh Kak. Udah bangun lo?.”


“Hemmmmm..... Andrew mana?.”


“Masih tidur dia.”


“Nah lo abis darimana?.”


“Dari depan.” Sahut Fania.


"Ngapain?."


“Nanya mulu lo kayak reporter.”


“Gitu aja sewot!. Btw si Prita masih tidur?.”


“Baru aja cus!.”


“Pergi?.” Selidik John.


“Yap!.” Sahut Fania.


“Ke?.”


“Studio. Lupa katanya ada latihan koreo buat konten.”


“Oh ..”


“Masih dicuekin lo emang sama si Priwitan, Kak?. Bukannya udah ngobrol – ngobrol?.”


“Ya dicuekin seperti sebelum – sebelumnya sih engga. Ngomong iya, irit banget si Prita ngomong sama gue. Belum dihitung ngobrol.” Ucap  John. “Masih sinis juga dia sama gue.”


“Masih bagus lo udah diladeni sama dia biar disinisin juga.”


“Iya sih. Btw ..”


“Buswe! Btw ..... btw ..”

__ADS_1


John terkekeh.


“Studionya dimana?.”


“Ga nanya gue studio yang mana.”


“Hm, dia nyetir sendiri?.”


“Sama cowoknya!.”


***


“Haish!.”


John menggerutu sendiri dalam kamarnya. Ia mencoba menghubungi Prita hanya untuk sekedar bertanya\, ‘***kamu dimana ... dengan siapa ... sekarang berbuat apa ....?.***’


Wkwkwkwkwk


“Belum dibuka juga kayaknya ini blocked – an gue sama Prita.”


“Hm, dia nyetir sendiri?.”


“Sama cowoknya!.”


“Pacarnya?.”


“Ya cowoknya berarti pacarnya lah.”


“Sejak kapan Prita punya pacar?.”


“Kepo amat!.”


“Seriusan. Kalau memang dia punya pacar, semalam dia ga ada ngenalin kan ke kita orang?. Cuma beberapa temannya aja yang datang juga.”


“Ya mana gue tau. Bisa aja itu pacarnya berhalangan hadir semalem.”


“Ah, gue yakin Prita belum ada pacarnya.”


“Dih, orang tadi gue dikenalin si.”


“Serius?!.”


“Dih, tadi kan gue bilang si Priwitan pergi ke studio sama cowoknya. Ya berarti itu cowok jemput ke sinilah. Oon!.”


“Ish! Berani – beraninya itu cowok samperin si Prita kesini!.”


John menggeram kesal.


****


“Lo kenapa sih?. Gelisah banget gue perhatiin?.” Tanya Reno yang memperhatikan si bule koplak mondar – mandir ga karuan.


“Nungguin si Prita!.”


“Nunggu Prita?.” Tanya Reno lagi.


“Hem. Si Fania mana?.”


“Lagi ngapain lo berdua?.” Jeff datang ke ruang tamu dimana ada John dan Reno.


“Nungguin si Prita!.”


“Nungguin si Prita?. Mau ngapain?.” Tanya Jeff. “Orang si Prita ga balik kesini malam ini.” Ucap Jeff.


“Hah?. Apa lo bilang, Jeff?.”


“Si Prita menginap di tempat temannya malam ini. Dia ada acara besok pagi.”


“Teman yang mana?.”


“Gue ga nanya temannya yang mana.”


John tampak berpikir.


‘Menginap di rumah temannya?.... tadi kan si Fania bilang dia pergi diantar cowoknya..’


Batin John tak tenang.


‘Wah, ga bisa dibiarkan itu sih ..... harus gue bawa pulang si Prita malam ini juga bagaimanapun caranya!.’ John dengan pikiran jeleknya. “Pinjam ponsel lo Jeff!.”


“Nah itu ponsel lo?.” Jeff menunjuk ponsel milik John yang sedang laki – laki itu genggam.


“Ck!. Gue mau telfon si Pritalah!.” Sahut John.


“Bukannya kalian sudah baikan?.” Tanya Reno.


“Sudah, tapi nomor gue masih diblok!.”


Reno dan Jeff spontan tergelak.


“Pinjam ponsel lo cepat!.” John merampas ponsel milik Jeff.


Si empunya ponsel geleng – geleng.


Reno masih terkekeh. “Calon Bucin!.”


“Terserah!. Password ponsel lo nih apaan masih yang lama?.”


“Masih!.”


**


Nada sambung ke ponsel Prita melalui ponsel Jeff sudah terdengar.


“Halo Kak Jeff.”


“Halo Prita?.”

__ADS_1


“Iya Kak, kenapa?.”


“Ini Kak John Prita. Kamu dimana?.”


“Kenapa emang?.”


“Kamu kan pergi dari pagi Prita, jam segini belum pulang?.”


“Gue udah bilang sama Papa dan Kak Fania kalau malam ini gue nginep ditempat temen. Kak Jeff juga tau.”


“Teman kamu yang mana?. Memang seberapa pagi sih acara kamu sampai harus menginap ditempat teman kamu


segala?.”


“Gue kasih tau juga lo ga kenal.”


“Tinggal kamu kasih tau, kenalin.” John terus mencecar Prita. Reno dan dan Jeff hanya mesam – mesem.


“Lo kenapa sih?. Mau tau banget urusan gue?.”


“Ya bukan begitu Prita, Kak John kan khawatir.”


“Ngapain lo ngawatirin gue?. Gue bukan anak kecil lagi! Lagian ga ada urusan gue harus laporan sama lo. Udah ah, gue sibuk. Bye.”


Klik.


“Ish si Prita ni ..”


****


John sudah berada di sebuah restoran di daerah Jakarta yang terletak di ketinggian lantai 49.


Sesuai dengan titik GPS ponsel Prita yang terlacak pada ponselnya Jeff yang ia rampas dengan paksa, si Priwitan menyambangi restoran tersebut entah dengan siapa. Hal itu juga yang membuat si John penasaran selain ingin menghalangi si Prita yang katanya mau menginap ditempat temannya.


“Mana dia?.”


Mata John mencari – cari sosok Prita. Kebetulan John juga dikenal direstoran ini jadi mudah saja bagi dirinya untuk seliweran sesuka hati.


“Kurang ajar!.”


Tangan John mengepal saat ia menemuka Prita yang sedang duduk disebuah sofa setengah lingkaran bersama


seorang pria, pegangan tangan pula.


“Prita!.”


“Kak John?!.” Prita tersentak kaget saat genggaman tangannya dengan cowo yang bersamanya itu dilepas kasar oleh John. Begitupun si cowo yang bersama Prita.


“Ayo pulang!.” John langsung menarik lengan Prita


“Hey, Apa – apaan?!.” Cowo yang bersama Prita itu terlihat tidak senang.


“Kak John, apa – apaan sih?!.” Prita menepiskan tangan John.


Tiga orang itu seketika menjadi pusat perhatian para tamu yang sedang ada di dekat mereka.


“Lo siapa, Bro?!. Jangan sembarangan lo tarik – tarik cewe gue!.”


Wajah John ikutan tak senang sambil menatap tajam pria yang bersama Prita.


Namun John mengabaikannya dan kembali mencoba menarik lengan Prita. “Ayo Prita!.”


Pria yang bersama Prita itu makin geram.


“Eh, lo jangan macem – macem sama cewe gue!.”


Cowo yang bersama Prita itu melepaskan dengan kasar tangan John yang sedang memegang tangan Prita kemudian berdiri didepan John seperti menantangnya. Sedikit mendongak karna John lebih agak tinggi darinya.


“Kalau lo masih mau hidup lebih lama, lebih baik lo minggir!.”


“Lo mau coba gue?!.” Cowo yang bersama Prita itu berbalik menantang John.


Seorang staff resto, yang sepertinya adalah Manajer resto bersama dua orang yang nampak seperti sekuriti menghampiri ketempat tiga orang yang sedang setengah ribut itu.


Mungkin hendak mengusir, tapi dia urung karena ternyata dia mengenali John.


“Mis – mister John .... kalau ....”


“Kalau kalian masih ingin restoran ini berdiri sampai besok dan seterusnya. Lebih baik kalian jangan ikut campur!.” Sambar John sebelum Manajer restoran itu menyelesaikan kalimatnya. Si Manajer pun menelan salivanya dan kemudian mengangguk.


“Ba – baik ... Mister. Kami permisi .. Maaf..” Si Manajer bersama dua sekuriti yang bersamanya pun mundur menjauh. Ia tahu siapa John Smith nampaknya, dan kata – kata pria yang sedang dalam mode tak senang itu akan jadi kenyataan kalau dia tetap memaksa ikut campur.


“Kak, udah!. Lo apa – apaan sih?!.”


“Pulang sama Kak John sekarang Prita!.”


John berucap Prita tanpa menoleh karena masih beradu pandang dengan tajam pada cowo didepannya.


Cowo itu terkekeh sinis pada John. “Heh, lo pikir lo siapa bisa seenaknya bawa cewe gue, hah?!.”


“Bukan urusan lo!!.”


“Udah! Cukup!.”


Prita meringsek ketengah dua laki – laki yang berseteru itu.


“Tristan! Kak John! Cukup ya! Kalian malu – maluin tau ga?!.”


“Kalau kamu ga mau Kak John buat malu lebih dari ini, kamu ikut Kak John pulang, sekarang!.”


“Tan, sebentar.”


Prita membawa John menjauh dari laki – laki yang bernama Tristan itu.


“Lo dengerin gue ya Kak, lo ga ada hak memperlakukan gue kayak gini!.” Prita berkata tajam pada John sudah menjauhkan dirinya dan John dari Tristan. “Lo, bukan siapa – siapa gue! Ngerti lo?!.”


***

__ADS_1


To be continue .....


Ritual Jangan Lupa


__ADS_2