THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 252


__ADS_3

    CHOICE   


( Pilihan )


 


Selamat membaca ...


 


Andrea memandangi Varen dalam diam yang orangnya nampak sedikit menjadi pendiam hari ini.


Andrea sedikit terkejut juga sih, kala ia membuka mata tahu – tahu Varen sudah terlelap disampingnya. Padahal katanya baru akan sampai Jakarta hari ini.


Namun Andrea sedikit merasa aneh juga, karena saat terbangun dan mendapati kalau Varen yang sudah tertidur


disampingnya itu. tidak memeluknya seperti biasa, malahan memunggunginya. Mungkin Abang terlalu lelah – Begitu pikir Andrea.


“Aku duluan ke bawah”


Andrea yang sedang menyisir rambutnya mengangguk saja sambil memandang Varen dari pantulan cermin.


***


Tok ... Tok ... Tok ...


“Masuk!...” Suara sahutan terdengar setelah Andrea mengetuk ruang kerja utama di kediaman mereka. Andrea membuka pintu setelah ia mendengar sahutan dari dalam ruang kerja yang mempersilahkan.


“Abang ...” Panggil Andrea seraya berjalan mendekat pada Varen yang sedang duduk di kursi kerja.


“Ya?” Jawab Varen yang sempat menatap Andrea sebentar lalu matanya kembali lagi ke berkas – berkas yang sedang ia pegang.


“Drea mau berangkat” Ucap Andrea. Varen mengangguk.


“Ya sudah hati – hati. Aku tidak bisa mengantar” Sahut Varen.


“Iya ga apa – apa.”


Andrea menyentuh pundak Varen yang nampak serius dengan apa yang suaminya itu lakukan saat ini.


“Abang kalau memang masih cape, ga usah jemput Drea”


“Okay” Sahut Varen datar.


“Abang ...”


“Hem?”


“Apa ada yang sedang mengganggu pikiran Abang?”


“Kenapa bertanya begitu?”


“Engg soalnya Abang agak pendiam hari ini. Semalam juga saat Abang pulang, Abang tumben ga membangunkan


Drea”


“Aku sedikit lelah”


“Huummm”


“Sudah sana berangkat. Nanti telat masuk kuliah” Sambar Varen yang membuat Andrea langsung urung bicara lagi. “Maaf aku tak antar keluar ya?”


Andrea mengangguk saja. Lalu menyalim takdzim pada Varen.


‘Abang kenapa ya?’ Andrea membatin saat setengah tubuhnya sudah diambang pintu dan melirik sebentar pada Varen yang nampak begitu fokus dengan apa yang sedang dikerjakannya saat ini. Ya memang kalau soal kerjaan Abang fokus sih, tapi biasanya kalau Andrea sudah mendekat, apa yang jadi fokusnya adalah Andrea.


Tapi kok saat ini tidak.


‘Apa hanya perasaan gue ya?. Sepertinya Abang dingin banget sikapnya sama gue?’


**


“Hhh!”


Varen menghela nafasnya sedikit berat setelah Andrea keluar dari ruang kerja utama di kediaman tempatnya berada sekarang.


‘Itu Morning after pill. Emergency Contraception. ( Pil Kontrasepsi Darurat )’


'Bedanya dengan pil kontrasepsi biasa?'


'Ya ga terlalu berbeda sih, cuma kalau EC ga boleh dikonsumsi secara rutin'


Varen sudah melepaskan berkas ditangannya berikut pulpen yang tadi juga ia pegang. Ia teringat kembali obat yang menyeruak dari dalam salah satu susunan baju Andrea. Yang teman Varen katakan kalau itu adalah pil kontrasepsi darurat. Ia kaget juga. Kenapa Andrea mengkonsumsi pil penunda kehamilan tanpa membicarakan dulu dengannya?.


Ada sedikit kecewa dalam hati Varen saat ini.


Namun Varen juga bertanya – tanya sendiri dari mana Andrea mendapatkan pil kontrasepsi darurat seperti itu.


‘Tapi EC yang fotonya lo kirim tadi itu ga diperjual belikan disini’


‘Ilegal maksud lo?’


‘Engga sih, Hanya ga beredar di Indonesia aja yang tipe itu. Akurasi sembilan puluh lima persen. Jdi agak high dose’


“Dapat darimana dia?” Gumam Varen.


‘Ada efek samping berbahaya?’


‘So far sih engga ...’


‘......’


‘Eh tunggu tapi, ini lo dapat darimana?. Lo mau suruh si Drea minum itu?’


‘Kenapa kalau dia minum ini?


‘Ya kalau bisa sih jangan. Kalau kalian mau menunda punya momongan , lebih baik pakai alat kontrasepsi yang biasa. Yang lo kirim itu, biasa dipakai sama cece cece import for one night stand ( buat cinta satu malam ). Lagipula si Drea itu kan masih muda banget, yang itu bukan dosisnya dia takutnya sih. Apalagi kalo sampai dikonsumsi rutin, Bisa bahaya’


‘.....’


‘Tapi kalo pendapat gue\, yah memang sih anak rezeki – rezekian. Kalo\, bisa nih\, si Drea jangan pakai alat kontrasepsi dulu lah. Lo aja yang antisipasi. Pake k****m kek\, lo keluarin diluar kek. Si Drea belom pernah ngelahirin kan Bro\, ada beberapa case kalau pemakaian alat kontrasepsi pada wanita yang belum melahirkan\, malah akan sulit hamil kedepannya’


‘......’


‘Sorry nih, gue bukan nyumpahin. Gue bukan ahli kandungan memang. Tapi sejauh yang gue tahu ya begitu’


‘Okay, gue paham’

__ADS_1


Varen menghembuskan lagi nafasnya dengan kasar setelah mengingat percakapannya semalam dengan temannya yang seorang dokter itu.


‘‘Apa sulitnya berdiskusi dulu denganku Little Star?’’


***


Varen masih penasaran. Ia sudah kembali memeriksa satu persatu setiap pesan dan panggilan yang masuk ke ponsel Andrea dari ponsel rahasianya. Semalam sudah, tapi tak menemukan apa – apa. Kini Varen memeriksa lebih teliti lagi.


Varen pun mendengus, karena tetap tak menemukan petunjuk dari mana Andrea mendapatkan pil kontrasepsi yang


tidak beredar di Indonesia itu.


‘Selesai antar istriku ke kampus, kau langsung kembali kesini dan temui aku. Minta Niki yang menjemput Andrea nanti’


**


“Apa Andrea sudah punya teman dekat dikampus?” Varen bertanya pada Ammar yang sudah datang menemuinya


setelah mengantar Andrea ke kampus.


“Setahu saya tidak Tuan” Jawab Ammar.


“Kau cari tahu, siapa yang akhir – akhir ini berinteraksi dengan istriku di kampusnya. Mahasiswa, dosen, semuanya. Cari tahu latar belakang mereka” Perintah Varen.


“Hanya yang berada di kampus Nyonya Andrea Tuan?”


“Ya. Teman satu jurusan dengannya terutama.”


“Teman dekatnya saat SMA tidak?”


“Tidak perlu kalau mereka. Aku sudah mencari tahu kalau soal mereka. Mereka tidak ada hubungannya dengan apa yang ingin kuketahui”


“Baik Tuan”


Varen menyandarkan lesu kepalanya di sandaran sofa. Ia benar - benar penasaran dengan siapa Andrea bergaul di kampusnya hingga istri kecilnya itu sampai tahu tentang pil kontrasepsi darurat seperti itu.


**


“Assalamu’alaikum”


“Wa’alaikumsalam”


Andrea menyalim takdzim pada Varen kala ia sudah kembali ke kediaman utama. Menghampiri Varen yang sedang


duduk di sofa dalam kamar mereka dengan senyumnya. Namun Varen menghindar kala Andrea hendak mengecup bibir suaminya itu.


‘Kok?’ Andrea keheranan.


“Ganti bajumu dulu.” Ucap Varen datar.


“Iya”


Andrea tak jadi mendudukkan dirinya disofa dan langsung masuk ke dalam walk in closet.


**


“Abang sudah makan?”


“Sudah”


Mata Varen memperhatikan gerak gerik Andrea.


“Drea belum lapar. Tadi dikampus sudah jajan” Jawab Andrea yang kemudian mengambil tempat didekat Varen yang masih duduk disofa.


“Ada yang mau kamu ceritakan padaku?”


“Tentang?”


“Entah. Apa saja”


“Engg sepertinya ga ada. Kampus biasa – biasa aja hari ini”


“Selain hal tentang kampus?” Varen memposisikan dirinya menghadap dan tak putus menatap Andrea dengan tatapan yang rasanya sulit Andrea artikan.


“Eeemmm” Andrea menggeleng. Sedang berpikir juga. Mau cerita apa, karena rasanya tak ada yang spesial untuk


diceritakan hari ini atau saat beberapa hari Abang berada di Massachusetts.


“Yakin tidak ada yang mau kamu ceritakan padaku?”


“Engga sih kayaknya... ga ada hal yang penting seingat Drea”


“Begitu ya?”


Sreett ..


Sesuatu setengah dilempar oleh Varen diatas meja dekat sofa yang Varen dan Andrea duduki. Andrea membeku


sambil menelan kasar salivanya.


“Milikmu?”


“A... abang.. dapat ... mana ....?”


“Aku tanya, apa ini milikmu?!” Suara Varen mulai meninggi.


Andrea menggigit bibir bawahnya seraya menunduk.


“I.. iya..”


“Sudah pernah meminumnya?” Suara Varen tak lagi meninggi, namun teramat sangat datar.


“.....”


“Jawab!”


“Su-sudah.....”


“Kamu anggap aku apa, hem?”


“Abang..... Drea ..”


“Aku tahu apa itu, Little Star. Dan kamu meminumnya tanpa berdiskusi dulu denganku!. Aku paham kalau kamu


memang belum siap untuk hamil, tapi tidak dengan cara diam – diam mengkonsumsi pil kontrasepsi seperti ini. Kamu benar – benar tidak menghargaiku, kamu tahu itu?!”


“Maaf...” Andrea melirih, memberanikan diri mendongakkan wajahnya untuk menatap Varen yang juga sedang

__ADS_1


memandangnya dengan pandangan yang menusuk. “Drea...”


“Kamu, sudah melukai harga diri aku sebagai seorang suami, Miracle Andrea”


“Abang .. jangan berkata begitu..” Andrea mulai terisak. “Drea .. Drea dengar Abang bicara dengan para Dads waktu itu ... Abang ingin langsung punya anak, sementara .... sementara Drea belum siap...”


“Diskusikan dulu denganku apa susah?!”


“Iya ... Drea ... salah ...untuk itu ....”


“....”


“Jika kamu memang tidak siap untuk hamil saat ini Miracle Andrea, seharusnya kamu tidak mengingatkanku atau


menyuruhku melakukan kewajibanku sebagai seorang suami”


“......”


“Demi Tuhan, sampai kapan pun aku harus menunggu aku siap. Daripada kamu harus mengkonsumsi pil seperti


ini!”


“....”


“Apa kamu tahu efek meminum obat seperti itu?! ...”


“.......”


“Pasti tidak. Otakmu terlalu pendek untuk berpikir panjang kurasa”


“Maksud Abang Drea bodoh?”


“Menurutmu?. Kamu melakukan tindakan ini, apa kamu berpikir tentang masa depanmu?”


“Bicara tentang masa depan ya Abang, Drea sudah mengorbankan masa depan Drea dengan menikah diusia Drea


sekarang!”


“Maksudmu, kamu menyesal begitu, hem?”


Andrea menggigit bibir bawahnya. “Bu....”


“Baiklah kalau begitu”


“Bukan begitu maksud Drea, Abang!”


Varen tak menyahut. Ia kemudian mengambil pil kontrasepsi darurat yang tadi setengah ia lempar ke atas meja.


“Abang ...”


“Ada lagi persediaanmu selain ini?”


“Dengarkan Drea dulu Abang ....”


“Aku tanya ada lagi persediaanmu selain ini?!”


“Engga....” Sahut Andrea.


“Sebaiknya kamu jujur dengan itu”


“Iya ... hanya ini”


“Sudah berapa lama?”


“.....”


“Sudah sejak kapan kamu mengkonsumsinya?!”


“Se-sejak kita berbulan madu...”


“Heh, unbelieveable ... ( benar – benar ...... )”


Varen terkekeh sinis. Lalu ia menghela nafasnya yang terdengar berat.


“Kamu berhentilah meminum pil seperti itu”


Andrea mengangguk pelan.


“Maafkan Drea Abang .... kalau memang Abang ingin kita segera punya anak, Drea tidak akan membantahnya lagi”


“Tidak perlu merepotkan dirimu”


“Abang ....”


“Besok, ikut aku ke rumah sakit untuk mengecek kondisi rahimmu”


“Iya ...”


“Maaf sudah membuatmu mengorbankan masa depanmu”


“Eng-ga Abang ... bukan begitu ....”


“Aku akan melakukan Vasektomi”


“Abang ...”


“Jika memang kehamilan kamu anggap sebagai beban”


“Drea ga bilang begitu Abang! ..... Drea hanya belum siap!... Tidak untuk saat ini!...”


“Sudahlah. Pembahasan ini cukup sampai disini”


“Tapi Abang tidak perlu melakukan Vasektomi!”


“.....”


“Kan Drea sudah bilang, setelah ini Drea ga akan membantah kalau memang Abang ingin Drea segera hamil. Kita bisa ikut program untuk memiliki bayi!”


“.....”


“Abang!”


“Sudah ku bilang jangan merepotkan dirimu!” Varen mengangkat telunjuknya didepan wajah Andrea yang langsung terdiam.


“Antara aku melakukan Vasektomi, atau kita pisah kamar. Pilihlah”


**

__ADS_1


To be continue........


__ADS_2