THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 155


__ADS_3

# Sebelomnya mohon maap kalo dalam tiga hari ini update rada selow soalnye emak lagi pindahan #


Tenang, tenang bukan pindah lapak, tapi emak lagi pindahan warung. Sape tau kalo situasi udeh normal emak bisa ajak kalean reader emak tercintahh kopi darat. Hehehe..


***********


#   JUST ACCEPT IT   #  Terima Saja


***********


Selamat membaca...


“Hey you guys my charming brothers! .... (Hei kalian kakak – kakak lelakiku yang mempesona).”


Michelle menyapa para pria yang sudah duduk bersama lagi sambil bermain kartu.


“And also you my handsome husband! (Dan juga kamu suamiku yang tampan).” Ucap Michelle pada Dewa. “Dad want to talk with all of us! .... (Dad mau bicara dengan kita semua!).” Sambungnya dan para pria itu langsung mengangguk dan berdiri dari tempatnya.


****


“Kenapa kamu senyam – senyum begitu, Yank?.” Tanya Dewa pada Michelle yang sedang dalam rangkulannya berjalan bersama untuk masuk kedalam Mansion.


“Ingat ceritanya Fabiana tadi.” Sahut Michelle.


“Cerita apa?.”


Michelle terkekeh sebentar. “Boo – Boo memperhatikan ga si Fabiana pagi ini macam tidak punya tenaga?.” Ucap Michelle setengah berbisik dan Dewa menggeleng. Michelle pun terkekeh sendiri lagi. “Jadi.. bla.. bla.. bla..” Ucap Michelle yang bercerita dengan setengah berbisik pada Dewa.


“Hah?!.”


Dewa spontan berseru dan Michelle manggut – manggut sambil cengengesan. “Kenapa Wa?.” Tanya John yang memang berjalan tepat didepan pasangan itu. John langsung spontan menoleh mendengar seruan Dewa.


Sementara yang lain menoleh dan bertanya juga, namun hanya dengan ekspresi mereka dan gerakan wajah saja.


Dewa pun menceritakan apa yang tadi Michelle beritahukan padanya soal Fabiana dan Lucca semalam.


Para pria yang sedang berjalan masuk itu pun spontan terkekeh geli mendengar cerita Dewa. Sementara Lucca yang tidak terlalu paham Bahasa jika terlalu panjang dan terlalu cepat itu hanya menggerakkan dagunya untuk bertanya pada mereka yang terkekeh setelah Dewa berbicara dengan Bahasa Indonesia.


“You are a guilty husband, you know?.... (Lo bersalah sebagai suami, tau ga lo?) ....” Ucap Reno pada Lucca.


“Why? (Kenapa?).”


“Did you ‘torture’ your wife last night just because she doesn’t want to show you the magical hocus – pocus? (Apa semalam lo ‘menyiksa’ istri lo hanya karena dia tidak mau menunjukkan lo rumus ajaib itu?).” Ucap Reno lagi seraya bertanya dan Lucca langsung mengangguk.


“Her mistake daring my patience. I bet Fabi already knew about the stupid hocus pocus, but she did not want to show me of it! (Salahnya sendiri menantang kesabaran gue. Gue bertaruh kalau Fabi sebenarnya sudah tahu tentang rumus bodoh itu, tapi dia tidak mau menunjukkannya padaku!).”


“You stupid moron ... (Dasar bodoh) ..” Celetuk Andrew sementara sisanya selain Lucca terkekeh. “She is, doesn’t know about that hocus pocus (Dia memang belum tahu tentang rumus itu).” Sambung Andrew. ‘Yet (Belum).’  Batinnya. ‘But I bet she is, now (Tapi gue rasa sudah sekarang).’ Andrew membatin lagi setelah  menangkap ekspresi jahil dari wajah Fania yang menoleh saat rombongan yang baru datang itu tiba di dalam


Mansion.


“Seriously?... (Beneran?).” Lucca menghentikan langkahnya sembari menunggu jawaban si Donald Bebek, dan Andrew pun manggut – manggut dengan ekspresi yang menunjukkan keseriusannya. “Haish!.”


Lucca mendengus seperti merasa bersalah. “That’s why Fabi look so upset to me this morning (Pantas saja Fabi terlihat sangat kesal padaku pagi ini).”


“Ck! Ck!. What a bad husband you are .... (Benar – benar suami yang buruk).”


**


“They are already here, Dad (Mereka sudah disini, Dad).” Ucap Fania saat melihat Andrew dan yang lainnya sudah


masuk ke dalam Mansion.


“Oh, Okay.” Sahut Dad setelah Fania memberitahukannya.


Dad pun menghentikan obrolannya dengan Papa Herman, saat seluruh keluarga sudah mendekat pada dua pria paruh baya tersebut. Termasuk Lucca dan Fabiana.


“Alright, I’m going to talk right on the point (Baiklah, aku akan bicara langsung saja ke intinya).”


Dad pun mulai berbicara. Tersenyum sembari menatap satu – satu seluruh anggota keluarganya, kecuali anak – anak yang sudah bersama para pengasuh mereka dan sedang beristirahat setelah lelah bermain di halaman belakang dan water park mini mereka.


Sementara itu Ibu Yuna berikut Papa Herman dan Mama Bela sedang dibantu untuk mengartikan setiap ucapan Dad jika ia menggunakan Bahasa Inggris saat ia bicara oleh anak – anak dan menantu mereka.


“Kebetulan akupun baru saja selesai membicarakan hal yang akan ku sampaikan pada kalian dengan Pak Herman.”


Gantian Lucca dan Fabiana yang dibantu dengan terjemahan oleh Michelle dan Reno saat Dad menggunakan Bahasa dalam ucapannya.


“Relative to what was happened to this family in last time before, so I’ve been decided that all of us will staying together here until everything, all of it, becomes normal... (Sehubungan dengan apa yang sudah menimpa keluarga ini beberapa waktu belakangan, jadi aku telah memutuskan bahwa kita semua akan tinggal bersama disini sampai semuanya sudah benar – benar normal).”


Dad mulai bicara panjang lebar, tentang apa yang ia inginkan berikut alasan mengapa ia ingin seluruh keluarga Adjieran Smith tinggal bersama di Mansion Utama yang berada di London untuk sementara waktu.


Meski sepertinya tidak akan ada lagi pengganggu yang benar – benar bisa merugikan seperti pria yang sudah dihabisi Andrew itu, namun Dad rasanya masih ingin memastikan kalau pengganggu seperti itu memang tidak ada lagi. Itulah sebabnya Dad ingin semua keluarganya berkumpul tanpa terkecuali di satu tempat yang sama.


Namun andai pun ada, setidaknya mereka akan menghadapinya bersama, tak lagi terhalang jarak atau pun tempat.

__ADS_1


“I agree.. (Aku setuju) ..”


“Aku juga setuju ...”


Keluarga yang lain pun ikut menyetujui usulan Dad dan Dad pun tersenyum sambil manggut – manggut.


“Jeng Yuna, Jeng Bela dan Pak Herman tidak keberatan bukan?.” Ucap Mom pada tiga besannya dan Dad itu. “Kalau Anye sih kan memang sudah biasa berada bersama kami dan bolak – balik London - Jakarta. Yang penting kan kalian bertiga ini loh, yang memang biasanya tinggal di Indo.”


“Iya.”


Mama Anye menyahut.


“Saya tidak keberatan kok.” Sahut Ibu Yuna.


“Kami juga tidak keberatan.”


“Iya, mendingan begitu aja dulu. Saya juga masih trauma kalo jauh - jauh ini dari anak dua ama cucu - cucu itu ...”


Papa Herman dan Mama Bela ikutan menyahut setuju.


“Terima kasih jika begitu.” Ucap Dad. “Saya dan anak – anak akan membereskan semua kekacauan yang telah


terjadi. Dan kami sudah merencanakan untuk membuat pesta kecil – kecilan dengan para kerabat kami, setelah semua hal sudah beres.”


Semua orang pun manggut – manggut.


“Dan setelah itu kita bisa kembali pada rutinitas kita seperti sebelumnya. Okay?.” Ucap Dad lagi seraya meminta persetujuan sekali lagi.


“Okay.”


“Oke.”


“Also I think it’s time to announce that Lucca dan Fabiana are part of us too, also Paman Li, Vladimir and Bryan just like Nino and Ezra (Aku juga berpikir bahwa sudah saatnya mengumumkan kalau Lucca dan Fabiana adalah bagian dari keluarga ini, berikut juga Paman Li, Vladimir dan Bryan seperti halnya Nino dan Ezra).”


Dad menambahkan dan semua orang kembali manggut – manggut, termasuk tiga orang yang tidak paham Bahasa


Inggris dengan detail. Namun sudah mengerti yang diucapkan Dad barusan setelah mendapat terjemahan.


“Means that you and Fabiana must stay quite longer with us here, Lucca (Itu artinya lo dan Fabiana harus tinggal disini lebih lama, Lucca).” Celetuk Dewa.


“I leave that decision to Fabi. I’ll go with her (Aku serahkan keputusan itu pada Fabi. Aku akan ikut apa katanya).”


‘How odd .. (Tumben..).’ Batin Fabiana saat Lucca mengatakan kalimatnya barusan. Dan saat ia menoleh pada suaminya itu, Lucca tersenyum dengan begitu manis padanya.


****


Lucca datang menghampiri Fabiana yang sedang membaca sebuah Novel di atas ranjang. “Cara .... (Sayang)....”


“Huum?....”


“Scusa mi (Maafkan aku).”


“For? (Untuk?).”


Fabiana menjawab tanpa menoleh pada Lucca.


“I was wrong .. I thought you found out about that stupid hocus pocus from those wifes .. but .. (Aku salah .. Aku pikir kamu sudah diberitahu oleh para istri –istri itu tentang rumus bodoh mereka .. tapi..).”


“But now you know that I was told you the truth last night, but you don’t trust me! .. ( Tapi sekarang kamu sudah tahu bahwa aku mengatakan yang sebenarnya semalam, tapi kamu tidak mempercayaiku!) ..” Ucap Fabiana setengah sinis pada Lucca yang nampak memelas saat ini. “Too late for an apologize (Sudah terlambat kalau mau minta maaf).”


Fabiana sengaja memberikan lirik kan yang sinis pada Lucca. “Cara .. (Sayang ..).”


Lucca coba merayu Fabiana.


“I really sorry... (Aku benar – benar minta maaf).”


Fabiana meletakkan novelnya diatas nakas lalu memposisikan dirinya menghadap serta menatap Lucca.


“You are a man with your words don’t you, Mister Lucca Valentino?! .... (Kamu laki – laki yang memegang kata – katamu kan, Tuan Lucca Valentino?!..)..”


“I am (Iya).”


“So you must be remember to what you have said if you getting miss understanding to me, don’t you? (Jadi kamu pasti ingat dengan apa yang kamu katakan jika kamu kembali salah paham padaku, bukan?). I can ask for two demand (Aku bisa meminta dua permintaan). Since you've become so 'mean' to me last night (Karena kamu begitu 'kejam' padaku semalam).”


“Ya, I remember that... (Ya aku ingat itu) .... anything but separated bed or room! .... (apapun selain pisah ranjang atau kamar).”


“Hmmmmmm....”


Lucca pun menatap Fabiana setelah ia mendengus sekaligus menghela nafasnya.


“Tell me, what do you want? .. (Katakan padaku, apa permintaanmu?) ..”


“Okay!...”

__ADS_1


“Tell me, then (Katakanlah).”


“Simple, I’m going to punish you with something that you loved to do (Mudah, aku akan menghukummu dengan sesuatu yang amat senang kamu lakukan).” Ucap Fabiana datar, Lucca sedikit bingung. “But after that.. (Tapi setelah itu..) you strictly prohibited to ask or push me to give that to you again, if I’m not willing!.. (kamu dilarang keras untuk memintanya lagi atau bahkan memaksaku untuk melakukannya lagi, jika aku tidak berkenan!..).”


“I don’t get it... (Aku tidak mengerti).”


“Promise first! (Janji dulu!). You will hold you words! (Kamu akan memegang kata – katamu!).” Fabiana berkata dengan serius.


“Okay! Okay! I promise!.. (Iya! Iya! Aku janji!).”


Fabiana menyeringai jahil.


Lucca mengernyitkan dahinya, namun kemudia sudut bibirnya langsung tertarik keatas, saat Fabiana mendorong tubuh Lucca hingga pria itu setengah berbaring dengan kaki yang terjuntai ke lantai.


Lucca makin menaikkan sudut bibirnya saat Fabiana kemudian duduk tepat diatas senjata mematikannya yang masih terhalang celana piyama yang ia pakai. Kemudian, Fabiana menurunkan gaun tidurnya hingga menurunkan juga celana yang dipakai Lucca. Hingga mereka polos sepenuhnya.


“Hmm ... I totally enjoy this punishment... (Hmm .... aku benar – benar menikmati hukuman ini)..” Lucca sudah mulai meracau dengan matanya yang terpejam karena merasakan kenikmatan kala Fabiana sedang memberikannya ‘hidangan pembuka’.


“You like the ‘appetizer’, Tesoro?.... (Kamu suka ‘hidangan pembuka’ nya, Sayangku?).”


“Hmmm...” Lucca hanya menjawab dengan hem – man. ‘If the punishment is one round of this, I think it’s okay. I totally satisfied last night (Jika hukumannya adalah bermain seperti ini hanya satu ronde, aku rasa itu cukup. Toh aku sudah sangat puas semalam).’


Lucca membatin kala Fabiana sudah melakukan penyatuan dengan istrinya itu yang memimpin permainan.


“Do... you.... like.... this...? (Apa.... kamu.... menyukai... ini...?).” Ucap Fabiana yang suaranya yang terdengar seksi dan menggoda.


“Hmm .. How can I say .. No .. (Hmm .. bagaimana aku bisa bilang.. tidak).”


Lucca menikmati setiap gerakan Fabiana.


Namun kemudian muncul seringai di bibir Fabiana yang tidak dilihat Lucca, karena mata pria itu sedang menikmati apa yang sedang dilakukan Fabiana saat ini. ‘It’s time .... (Kini saatnya ....).’ Fabiana membatin.


“Fa – Fabi .... Ca – Cara....”


Lucca nampak gelagapan. Ia mencengkram gemas sedikit kuat pinggang ramping Fabiana yang sedang bergerak diatasnya dan entah apa yang dilakukan oleh istrinya itu hingga Lucca sampai tak bisa berkata – kata dengan jelas.


“What... are.... you doing... ahh.... it’s so.... (Apa.... yang.... kamu.... lakukan... ini begitu....).”


“What is it.... Tesoro.... you don’t like it ....? (Kenapa .... Sayang .... kamu tidak menyukainya....?).” Suara Fabiana makin terdengar seksi dan menggoda. “Not good.... Hmm....?.... (Tidak enak.... Hmm ....?)....”


“Ohhh.... Fabi.... Cara.... I.... like it.... it's go - od .. but it’s so.... ahh.... Fabi.... (Ohh .... Fabi .... Sayang .... Aku .... menyukainya .... ini nikmat .. tapi ini begitu ....ahh.. Fabi ....).”


“You won’t stop me to stop????.... (Apa kamu ingin aku berhenti??? ....).”


Lucca menggeleng, sedetik kemudian dia mengangguk, menggeleng lagi, lalu mengangkat sedikit tubuhnya menatap Fabiana dengan menggigit bibir bawahnya sendiri, sejurus kemudian Lucca melirik ke tempat dimana Fabiana melakukan sesuatu yang ia belum pernah rasakan sebelumnya.


Meski nafas Fabiana juga sudah mulai tersengal, namun ia menyeringai puas melihat ekspresi Lucca yang nampak


serba salah.


“I... can stop if.. you.. want.... me to stop .... (Aku .. bisa berhenti jika ..... kamu .. ingin .... aku berhenti ) ...” Suara Fabiana terdengar manja sekaligus menggoda dengan tubuhnya yang masih bergerak teratur diatas Lucca.


Sementara Lucca nampak mulai blingsatan. “No! .... ahh ..”


“Still want some more .. (Masih mau lagi ..).”


Lucca menggerakkan kepalanya tak karuan, bangkit lagi kemudian merebahkan lagi punggungnya diatas ranjang. “Yes pleaseee..... ohhhh, but don’t .... ahhh Fabiii..... You make me gone crazyyyy ..... Oh Goooddd ... (Iyaaa .... ohhh, tapi jangan .. Ahhhh Fabiii ... kamu membuatku gila .. Oh Tuhaaaan ...).”


Lucca sampai melengkungkan tubuhnya.


“Ohh stop it Fabii .. I can’t hold it anymore .... but no, don’t stop now ... (Ohh hentikan Fabiii .... Aku sudah tak tahan... tapi jangan, jangan berhenti sekarang) ..” (Serba salah ye khaaan)


Lucca sudah tak tak berdaya rasanya.


*‘Sh***!!!.’


Lucca pun berkali – kali mengumpat dalam hatinya. Saking nikmat campur gemes, ah.... manis asem asin, rame rasanya ...


Rasanya kali ini ia akan menyerah kalah lebih dulu, setelah sekian lama selalu memenangkan ‘pertempurannya’ bersama Fabiana.


‘Eat that (Makan tuh).’ Fabiana membatin puas, melihat Lucca yang tak berdaya, tergolek pasrah, yang bingung , mau minta Fabiana menghentikan apa yang sedang dilakukannya atau tidak.


Rumus ajaib plus goyangan turun temurun, yang membuat si Hantu yang terkenal dingin juga kejam itu kini sudah nampak tak karuan.


Birama dua per satu Release Contraction featuring Shake Broken – Broken.


Italia kalah telak guys....


Ajiiipp...


**


To be continue.....

__ADS_1


__ADS_2