THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 352


__ADS_3

***Jempol dikondisikan dulu (ehem) sebelum sekerol kebawah ye


****************************************************************************


AL DENTE!


*************


Selamat membaca....


************************


Kediaman Utama Keluarga Adjieran Smith, Jakarta, Indonesia.....


Kini, semua berjalan sebagaimana mestinya di dalam lingkup Keluarga Adjieran Smith.


Hal-hal yang tidak mengenakkan yang baru-baru saja dialami, sudah diperintahkan untuk dilupakan saja. Namun tetap, apa yang masih tersisa dari hal buruk dan jahat dari mereka yang mencari masalah dengan keluarga Adjieran Smith baru-baru ini akan dibereskan sampai tuntas.


“Aku sama Via mau pergi menemani Marsha dan Rendy nanti siang...” Ucap Nathan di waktu sarapan.


“Kemana?”


“Penjara ...”


“Mau ngapain kesana sih kalian?”


“Teh Marsha mau nemuin Mba Emali, Momma ... Eumm, aku juga mau ikut nemuin dia...”


“Untuk apa lagi menemui perempuan busuk itu?!” Sambar Poppa yang berkata sedikit ketus. ”Tak Guna!”


Membuat Kevia menggigit bibirnya akibat wajah Poppa yang nampak tak senang itu.


Yang akhirnya membuat suasana sarapan menjadi sedikit tidak santai.


Nathan memegang tangan Kevia untuk menenangkan istrinya yang nampak sedikit ketakutan karena wajah tidak senang Poppa itu.


“Maaf, Pop-pa ...” Lirih Kevia. “Via tidak bermaksud membuat Poppa kesal. Via hanya mau menemani Teh Marsha aja sih, karena mungkin ada yang ingin Teh Marsha katakan pada Mba Emali dan Via merasa perlu menemani Teh Marsha karena Via kan pernah tinggal di panti milik Teh Marsha Poppa”


“Ck! Wasting time! ( Membuang waktu saja! )”


Poppa masih saja ketus menanggapi. Membuat Kevia merasa canggung akibat mengira kalau ia salah bicara.


“Poppa kalian benar, jangan membuang waktu kalian untuk melakukan hal tak berguna ...” Timpal Daddy R.


“Iya Dad ......”


“Jika kalian tak mengijinkan ya kami juga ga akan pergi kok”


“Memang tidak usah!” Sambar Poppa atas ucapan Nathan. “Hoy Bang! Kau hubungi Rendy!... Katakan padanya untuk mengatakan pada Marsha agar tidak perlu menemui perempuan busuk bekas penjaga panti Marsha itu!”


“Iya nanti aku hubungi Rendy selepas sarapan...”


Varen tak membantah ucapan Poppa jika mode induk bebek jantan itu sedang tidak senang.


“Mungkin saja Marsha masih ada ganjalan kali Pop, dengan perempuan busuk bekas pengurus pantinya itu. Jadi mungkin mau Marsha selesaikan dengan menemui perempuan busuk itu”


Namun Varen sedikit menyampaikan pendapatnya.


“Perempuan itu dan satu bos perempuannya yang masih tersisa itu akan divonis mati, jadi tidak perlu lagi ada yang dibahas dengannya”


“Okay ...” Varen mengiyakan saja.


“Kami kan sudah bilang pada kalian, Via, Nathan. Termasuk pada kalian semua”


Daddy Jeff bersuara.


“Kita tidak akan lagi membahas semua orang yang terlibat atas kejahatan yang pernah menimpa Via dan Little Star, jadi apapun itu tidak perlu kalian urusi atau dekati lagi. Benar kata Poppa, buang waktu... Mereka semua yang tersisa akan menjadi urusan kami! Jadi sudah, kalian tidak perlu melibatkan diri lagi ..”


“Daripada menghabiskan waktu untuk hal tidak penting. Lebih baik fokus pada kepentingan kalian sendiri!”


“Betul yang dikatakan Dad R. Kau, Nathan, kau lebih baik mulai fokus kembali pada kuliahmu dan membantu Abang mengelola Perusahaan”


“Iya Pi ...”


“Via juga mau kuliah lagi kan?” Tanya Daddy R. “Jadi?”


“Iya Dad, jadi...” Kevia menjawab sembari mengangguk.


“Sudah memutuskan kuliah dimana? ...”


“Di kampusnya Drea aja”


Nathan yang menjawab.


Para orang tua pun manggut – manggut.


“Ya sudah, lanjutkan sarapan kalian!...”


“Iya ...”


“Tidak ada lagi pembahasan soal orang-orang yang terlibat pada insiden yang menimpa Little Star dan Via ... Apa kalian paham?... Hem?!...” Tegas Poppa.


“Iya ...”


****


Setelah pembicaraan kala sarapan berikut pernyataan final yang sudah dikeluarkan para Dad dan didukung juga oleh ucapan Gappa, setiap orang yang mendengar baik para wanita dan anak-anak yang paham situasi sudah mencamkan baik-baik statement yang dikeluarkan para pria yang memang berdaulat untuk mengambil keputusan yang dianggap yang terbaik untuk setiap orang dalam keluarga itu sendiri.


Memang hak berpendapat sangat dijunjung tinggi dalam lingkup keluarga Adjieran Smith. Namun jika soal keselamatan demi kebaikan setiap keluarga, keputusan para pria lah yang berpengaruh untuk itu.


Kebijakan yang saru dengan keharusan yang tidak tertulis, namun sarat untuk dipatuhi.


*****


Acara syukuran yang diadakan oleh Keluarga Adjieran Smith akan dilangsungkan esok hari.


Kediaman Utama keluarga tersebut sendiri sudah selesai di dekorasi sesuai keinginan si empunya acara.


Pekarangan depan sudah rapih dengan tenda yang indah menutupi seluruh pekarangan depan Kediaman Utama, berikut dekorasi yang diselaraskan dengan acara.


Tidak terlalu mencolok, sederhana saja – Menurut itu keluarga Sultan dan Sultanah.


Sejatinya sederhana yang setiap anggota keluarga Adjieran Smith katakan itu tetap saja dekorasi untuk acara syukuran esok hari itu nampak mewah dari sisi manapun.


Tak hanya bagian pekarangan depan saja yang mendapat sentuhan dekorasi untuk menghormati para tamu yang kesemuanya adalah kerabat dekat, atau undangan khusus.


Tapi ruang tamu kediaman, berikut pekarangan belakang juga sama mendapatkan sentuhan dekorasi seadanya. – Sekali lagi, menurut para personel The Adjieran Smith sendiri.


“Ini hampers untuk anak – anak yatim piatu sama yang buat orang dewasa mau dipisahkan tempatnya atau di letakkan di satu tempat?”


“Coba kamu tanya Kak Drea atau Abang deh, Rery! Itu mereka di depan!”


“Ya tanyain sih Kak Mika! ..” Seru Rery yang sedang mendapat tugas untuk menyusun hampers untuk bingkisan semua tamu besok.


“Ish! Ga liat nih aku lagi ngapain?!”


“Ya ngapain memang? Dari tadi juga hanya berdiri aja disitu!”


“Aku ini lagi re-decoration ini ruangan tau?. Ga liat nih, ga simetris gini itu hiasan buket – buket bunganya?!”


“Ck! OCD dasar!”


Rery berdecak sebal.


“Enak aja!”


“Memang iya!”


“Ck!”


“Daripada sibuk acak – acak dekorasi mending bantu aku hitung ini hampers! Banyak banget kan ini?!”


“Memang An mana?. Bukannya kamu berdua An tadi yang disuruh untuk hitung hampers?”


“Oh iya! Mana itu dia?!”

__ADS_1


Mika mengendikkan bahunya.


“Coba lihat ke ruang santai Kak!”


“Malas!” Sahut Mika. “Aku kan sudah bilang, aku ini si-buk!”


“Ish! Amit deh! OCD ga jelas!”


“Haish! Kenapa lagi Tom n Jerry? Dari tadi ribut ga selesai - selesai”


Daddy Dewa datang melerai.


“Itu tuh Dad, aku minta tolong panggilkan Kak Drea sama Abang di depan, ga mau itu si Kak Mika!..”


“Yee sudah dibilang aku lagi sibuk!..” Sahut Mika tak mau kalah.


“Sibuk dari Hongkong!. Geratak yang ada! Udah bagus – bagus dekorasi di rubah lagi aja!”


“Ish dibilang ini dekorasinya kurang simetris jadi aku betulkan lah!” Lagi, Mika yang memang perfeksionis kek emaknya itu tak mau kalah.


“Sudah! Sudah!” Daddy Dewa geleng – geleng saja. “Kenapa memang Rery ada apa?” Tanya Daddy Dewa.


“Ini aku kan disuruh hitung jumlah hampers takut kurang, nah ini hampers untuk anak – anak yatim sama untuk orang dewasa, dipisah apa disatukan aja tempatnya?” Tutur Rery.


“Pisah sajalah!” Ucap Daddy Dewa. Rery pun langsung mengikuti apa yang Daddy Dewa katakan. “Sudah Mikaa ini semua sudah okay! .. Jangan dirubah-rubah lagi!...” Beralih pada Putri sulungnya yang sifat perfeksionis nya itu kadang berlebihan.


“Iya memang ini sudah okay.... aku yang membuatnya menjadi lebih bagus, Dad ..” Sahut Mika yang wajahnya baru terlihat puas, sementara dua asisten rumah tangganya nampak sudah cukup lelah.


“Re – count the hampers Rery.... ( Hitung ulang hampersnya Rery ... )”


“Bantu dong Dad! Banyak kan ini!” Timpal Rery.


“Ya, ya, ya..”


Daddy Dewa pun membantu Rery menghitung hampers untuk para tamu undangan besok.


“Finish everything then go to clean up yourself.. ( Ayo selesaikan apa yang kalian kerjakan lalu pergi bersihkan diri kalian ) .. It’s almost Maghrib time .. ( Ini sudah mau Maghrib )..”


Gappa yang datang dari arah depan bersama Ake Herman itu berbicara pada setiap orang yang berpapasan dengannya.


“Okay Gappa!”


****


Selepas melakukan ibadah berjamaah semua orang kini berkumpul untuk makan malam, yang sudah rapi tersedia lebih awal. Kebetulan makan malam kali ini sengaja memang dipesankan dari Hotel milik Daddy R yang berkolaborasi dengan makanan dari restoran milik Daddy Dewa.


Kali ini, gerombolan sultan dan sultanah itu tidak berkumpul di satu tempat, melainkan makan dengan berkubu. Para pria yang seyogyanya memang para perokok itu memilih makan sembari bercengkrama di area kolam renang, sementara para wanita berkumpul di teras pekarangan belakang.


Hanya para tetua dan sebagian anak – anak saja yang duduk makan di meja makan dalam ruang makan pada bagian dalam kediaman.


“Bagaimana Little Star, Bang? Apa semalam dia masih menggigil dan meracau?”


“Meracau sih semalam sudah tidak, tapi Little Star masih mengeluh tubuhnya dingin, meski sudah tidak terlalu – lalu seperti sebelumnya, Pop..”


Poppa manggut – manggut.


“Masih mengeluh tulangnya yang dirasa sakit saat menggigil?”


“Sudah tidak, Dad ....”


“Syukurlah kalau begitu. Semoga kondisi Little Star bisa cepat kembali normal ...”


“Aamiin ..”


“By the way, ini Spaghetti dari Hotel atau Resto?”


“Tuh, made in Boogeyman! Dia yang buat tadi! An yang minta dimasakin Spaghetti sama Papanya”


“Delizioso, hemm??? ..” Papa Lucca menggerakkan dagunya tanda kepongahan. Varen manggut – manggut.


“Al Dente Pap!” Sahut Varen mengangkat jempolnya ke arah Papa Lucca.


“Of course I can make an Al Dente Spaghetti! Even my Ribollita is Numero Uno, you know? Perfecto! ( Tentu saja aku bisa membuat Spaghetti yang sangat sempurna! Bahkan Ribollita buatanku itu nomor satu, kau tahu? Sempurna! )”


“Ya, ya, ya...”


Tak lain dan tak bukan, itu celetukan nya si Poppa.


Yang orangnya sudah berdiri sembari menyeringai mesum.


Mereka yang sedang bersama si Poppa langsung cekikikan.


Hanya Varen saja yang nampak sebal melirik Poppa, yang memang juga sedang meliriknya sambil mesam - mesem.


“Ada apa melihatku seperti itu, hem? Iri?”


“Hahahaha!!”


“Cih! Ingat umur!”


“Aku masih cukup mampu membuat Momma-mu mengerang sampai pagi, asal kau tahu!”


“Masa bodoh!”


Varen mencebik sisanya masih terkekeh saja.


“Katanya solidaritas! Mana?! Sudah tahu Little Star masih restricted! Pikirkan perasaanku dong!”


“Hah! Deritamu itu sih!” Sahut Poppa sekenanya. “Aku solidaritas saat Little Star mengabaikanmu. Sekarang kan dia sudah baik lagi padamu?”


“Iya tapi kan aku mana tega meminta ‘jatah’ padanya sekarang – sekarang ini coba?!”


“Strawberry inside the Jar! I’m sorry I don’t care!”


Poppa pun melenggang tanpa dosa.


“Donald Bebek tua tak sadar diri!” Gerutu si Abang.


Sisanya masih cekikikan , melanjutkan obrolan sebentar, sementara Poppa sepertinya sudah menggeret si Momma ke kamar pribadi mereka.


Hingga beberapa saat kemudian, satu per satu yang sedang bersama si Abang pun undur diri dari hadapan si Abang, meski hari belum terlalu malam.


“And where you guys are going? ( Mau kemana sih kalian? )”


“Istirahat lebih awal baik untuk kesehatan, Bang! ....”


Celoteh Daddy R sembari mesem-mesem.


“Halah!”


Papi, Papa Bear, Daddy Dewa dan Papa Lucca ikutan beranjak dan melenggang tanpa beban dari hadapan Varen yang melemparkan lirikan sinis pada semua Dadnya  yang cengengesan itu.


“Nitey nite Abaannggg!..” Ledek para Dad sembari terkekeh.


“Stok sabun aman kan Bang?”


“Screw all of you!”


Varen merutuki para Dadnya yang kemudian tergelak sembari terus melenggang itu.


“Mau kemana lo?!”


Abang menghadang Nathan yang kemudian ikut berdiri setelah para Dad melenggang ke dalam kediaman, dengan ucapan dan tatapannya.


“Masuk, lah!”


“Alah! Ga ada! Ga ada! Sini lo temani gue!”


Si Abang pun berdiri.


“Ck! Dingin ini udara malam Bang!”


Nathan cengengesan.


“Dingin dari Hongkong!”

__ADS_1


“Ih, benar tadi itu yang dibilang Dad R. Gue dan Via mau tidur cepat. Baik untuk kesehatan”


Nathan masih cengengesan, sementara si Abang memandangnya sebal.


“Baik buat kesehatan junior lo!” Seru si Abang sembari menoyor kepala Nathan yang kini sudah terkekeh geli melihat si Abang yang lagi sewot.


Lalu mencengkram bahu Nathan dan mendudukkan kembali dengan paksa si Tan-Tan ke tempat duduknya tadi. “Ah elah Abang Payen, akuh kedinginan ini ..”


Nathan mencoba bangkit kembali dengan masih cengengesan.


“Paling tidak tunjukkan solidaritas lo pada Abang lo ini ..” Seru si Abang. “Sudah tahu gue ini sedang libur mengairi sawah, gunung dan lembah... Malah .....”


“Abang ..”


Si Abang langsung menghentikan cerocosan pada Nathan dan langsung menoleh ke belakangnya.


“Hey, Little Star ...”


Varen menunjukkan senyum termanis nya pada Andrea.


Kesempatan bagi Nathan untuk melarikan diri dari si Abang.


“Oke Abangg akuh mau main pok ame-ame dulu” Ledek Nathan lalu melenggang dengan berlari kecil dari hadapan si Abang dan Andrea.


Varen berdecih sinis dalam hatinya sembari melirik dengan sinis pada Nathan, namun sekejap kemudian dia kembali menyunggingkan senyumnya pada Andrea.


“Abang sudah mau tidur belum?.. Kalau sudah ya ayo bareng ke kamar..” Ajak Drea.


“Ya sudah ayo. Abang juga sudah tinggal sendirian ini”


Andrea mengangguk sembari tersenyum, dan Varen meminta Andrea untuk ia gendong belakang yang langsung diiyakan oleh Andrea yang kemudian langsung bertengger diatas punggung si Abang dengan dua bongkahan nya yang ditahan si Abang dengan kedua tangannya.


Membuat si Abang akhirnya merutuki dirinya sendiri saat bagian depan Andrea yang ukurannya cukup uwow itu disadari, begitu terasa dipunggung si Abang. ‘Salah nih gue gendong belakang Little Star! Kepikiran kan gue jadinya sama nunu nana nananina?!.. Haish! Nasib, nasib... Tabah kan hatimu Alvarend! ....’


Hingga sampai di kamar pribadinya dan Andrea, barulah si Abang berhenti merutuki dirinya dalam hati.


****


“Kamu mau cuci muka lagi?”


“Iya”


“Mau langsung ke kamar mandi?”


“Iya”


“Kamu cuci muka pakai air hangat ya?”


“Iya Abang” Sahut Andrea saat Varen mendudukkannya di atas meja wastafel dalam kamar mandi pribadi mereka.


“Suhu kamar mau diturunkan lagi?” Tanya Varen saat dirinya sudah menyiapkan handuk kecil untuk Andrea.


“Ga perlu Abang.. Sudah cukup kok. Drea ga kedinginan.....”


Varen pun tersenyum. “Ya sudah....”


Varen hendak bergegas keluar dari kamar mandi, namun langkahnya tertahan karena tangannya tertahan oleh tangan Andrea yang menggenggam pergelangan tangannya.


Varen kembali mendekati Andrea yang kini bersandar di pinggir meja wastafel.


“Ada apa hem?.... Aku mau ambilkan piyama kamu dulu”


“Abang...”


“Kenapa? ..”


Andrea tak menjawab pertanyaan Varen, namun malah menarik pelan Varen agar lebih merapat padanya.


Cupp..


Andrea sedikit berjingkat sembari mengalungkan tangannya di leher Varen.


“Maaf ya Abang, karena kondisi Drea yang belum pulih, jadinya Abang harus menderita menahan hasrat Abang ....”


Varen tersenyum sembari membelai lembut kepala Andrea dengan satu tangannya sementara tangan satunya menahan pinggang Andrea. Lalu memberikan kecupan balasan pada bibir Andrea.


“Tidak perlu merasa bersalah Little Star ..” Ucap Varen lembut. “Aku kan sudah bilang, aku tidak mempermasalahkannya.. yang penting kamu pulih dan sehat dulu. Itu yang paling utama untuk aku....”


Varen mengecup kening Andrea, hendak mengurai dekapannya dengan Andrea agar Andrea bisa meneruskan untuk mencuci muka. Namun yang terjadi, tubuh Varen mulai memanas, kala Andrea tak melepaskan dirinya, melainkan tangan Andrea sudah bergerak sensual didada Varen.


“Ja – ngan Little Star .....”


“Tapi sekarang, Drea sudah siap kok”


Gluk!


Varen memejamkan matanya kala Andrea mulai menggoda iminnya dengan kecupan-kecupan kecil nan sensual di garis rahang Varen dengan gerakan tangan Andrea yang sudah mulai menuju ke server pusat si Abang.


“Don’ – t.. ( Ja – ngan ) ...”


Varen menahan tangan Andrea, yang matanya kini sudah sayu menatap Varen.


“Abang ga mau? ...”


‘Oh Little Star.. andainya kamu tahu betapa aku ingin melahapmu tanpa sisa!..’


Varen membatin.


Menunjukkan senyumnya pada Andrea. “Bohong, kalau aku bilang ga mau..” Sahut Varen.


“Ya sudah, ayo .... kalau satu round rasanya Drea sanggup.....”


“Jangan ya? Jangan sekarang”


Varen menahan, meski kiranya hasrat si Abang sudah terpancar dari tatapannya pada Andrea kini. Walau sangat menginginkan nananina, namun Varen tetap bersikukuh untuk kembali menyentuh Andrea jika istri kecilnya itu benar-benar sudah pulih kondisinya.


“Kenapa?..”


“Apa kamu lupa betapa aku tidak bisa menahan diriku jika berhadapan dengan tubuh polos kamu?”


Varen sedang mengatur dan menahan dirinya sembari berbicara pada Andrea.


“Jika aku menyentuhmu sekarang, aku pasti tidak akan bisa menahan diriku untuk tidak mengoyak mu Little Star .. kondisi tubuh kamu yang sekarang tidak akan mampu menahan diriku jika aku sampai lepas kendali ..”


“Tapi Abang terlihat tersiksa..”


“I’m okay Little Star .. I’m okay.. ”


Lalu Varen mengecup kecil bibir Andrea.


“Lebih baik segera cuci wajah kamu, hem?”


Namun..


“Lit – tle Star ......”


Varen menggeliat berikut suaranya mulai terdengar serak kala tangan Andrea sudah menelusup ke server pusat si Abang, hingga geraman tertahan Varen samar terdengar kala jemari Andrea memijat dengan lembut disana.


“Tubuh Drea mungkin belum kuat... tapi tangan dan mulut Drea rasanya cukup kuat..”


“N – o.... Litt- ....... arh! ..”


Tak sempat menahan Andrea yang sudah menurunkan celana miliknya, hingga akhirnya kedua tangan Varen kini sudah mencengkram kuat pinggir wastafel, dengan geraman yang lebih terdengar sebagai erangan kenikmatan karena ulah Andrea dibawah sana.


Napas Varen berubah semakin cepat, berat dan penuh hasrat. Sesekali menunduk dan menatap Andrea lalu, sekejap mendongakkan kepalanya sembari mengerang nikmat menikmati sensasi semriwing yang diberikan istri kecilnya saat ini.


Hingga setelah beberapa lama..


“Lith – tleh Star.. fas – ter ... please ....” Tubuh Varen mulai kian menegang namun seolah melayang, nada suara si Abang kian juga menggebu namun rendah dan serak, hingga akhirnya tubuh Varen benar-benar menegang setelah pelepasannya sampai.


Tangan Varen masih berpegangan di pinggiran wastafel, sembari si Abang mengatur nafasnya yang tersengal itu, selain dirasa jika kedua kakinya lemas saat ini.


‘Ahh .... Al Dente!.. Mamamia!..’


Abang pun lega, ga jadi maen sabun euy.

__ADS_1


****


To be continue ...


__ADS_2