
♣♣ SOMETHING THAT YOU HAVE TO KNOW AND MAKE YOURSELF GET USUAL ♣♣
( Sesuatu Yang Harus Kamu Tahu dan Buat Dirimu Terbiasa )
****************
Selamat membaca...
****************
“Ehem! Ehem!. Aa maaf guys, adegan mesra – mesraan bisa nanti aja, gitu?. Selain tangan gue pegel memegang
ini senjata, ini orang dan kronco – kronconya mau diapain?.” Arman menginterupsi dua pasangan yang sedang sedikit ber uwu – uwuan itu.
Fania, Andrew, John dan Prita spontan menoleh pada Tristan. Dimana Arman masih menempelkan ujung senjata api disalah satu sisi kepala Tristan.
“Apa dia menyakiti kamu, Prita?.” Andrew beralih pada Prita yang sedang didekap oleh John.
“Engga, Kak Andrew.” Sahut Prita.
“Lalu ini?.” John menyentuh leher Prita. “Dan ini?.” Mengangkat lengan Prita. Menunjukkan juga pada Andrew ada ruam merah disana. Mata John juga tertuju pada sobekan pada kaos dibagian bawah Prita.
Rahang John mengeras.
‘Apa dia sudah melecehkan kamu, Prita?.’
Dada John sudah bergemuruh, membayangkan perlakuan tak pantas yang sudah dilakukan oleh laki – laki bernama Tristan itu pada Prita. Namun John tak tega untuk bertanya pada Prita saat ini.
“Hehe .. gue sudah menyentuh setiap inci tubuhnya.” Tristan bersuara. “Dan Prita menikmatinya. Bukan begitu, Prita sayang?.”
“SHUT UP! ( DIAM! ).”
Vladimir menepak kepala Tristan.
“ENGGA! DIA BOHONG!.”
Prita menyangkal cepat dan kencang.
“He’s Mine! ( Dia bagian gue! ).”
John berseru saat Andrew hendak menghampiri Tristan dengan tangannya yang sudah terkepal.
“Kakk...” Prita hendak menghentikan John yang nampak sudah begitu murka pada Tristan. Namun Fania menahan lengan adiknya itu. Ia memberi kode pada Prita dengan gelengan pelan kepalanya.
“Tapi Kak..”
“Dia perlu dikasih pelajaran.” Ucap Fania dan Prita kemudian mengangguk patuh pada sang kakak. “D...”
Fania kini menahan lengan Andrew. “But Heart.... ( Tapi sayang.....).”
“Tristan biar jadi urusan Kak John, D.”
**
“Suruh dia berdiri Man.” Ucap John pada Arman sambil menunjuk Tristan. “Kalau lo memang laki – laki, hadapi gue.” John menatap tajam pada Tristan.
“Berdiri lo!.” Arman menendang lengan Tristan yang kemudian terjerembab ke tanah.
“Sialan!.”
Tristan mengumpat sekaligus melirik pada Arman.
“John, biar gue yang bereskan dia.” Seorang pria tegap yang datang bersama Rico dan Arya serta satu lagi teman mereka bersuara. “Dia bahkan ga pantas menatap lo!.”
Tristan yang sudah berdiri spontan menoleh pada pria yang barusan berbicara itu.
“ELO! GUE KENAL ORANG YANG PANGKATNYA DIATAS LO!.”
“Lalu? Lo mau laporin gue?.”
“LO! AKAN GUE BIKIN LO MENYESAL SUDAH MENENTANG GUE BERSAMA MEREKA!.”
“Hahahahaha. Gue bahkan ga ada di Jakarta saat ini, Tuan Tristan Paraduta!.”
Pria yang seorang aparat yang sepertinya memiliki pangkat itu tergelak dihadapan Tristan.
“LO....”
__ADS_1
“Tutup udah mulut lo! Udah mau mati masih banyak lagak!.”
“Tuan Tristan Paraduta, meskipun lo melaporkan gue pada orang diatas gue, dia ga akan mampu berbuat apa – apa. Karna orang yang akan menghabisi lo itu, jauh lebih berkuasa..” Ucap pria yang sepertinya seorang aparat itu pada Tristan sambil menunjuk pada John. “Kalau lo bisa selamat malam ini, gue akan dengan senang hati mendengar lo melaporkan gue.”
“Apa lo sudah selesai bicara?!.”
John bersuara. Ia sudah nampak tak sabar untuk menghajar Tristan.
“Lo pikir gue takut?!...” Sahut Tristan yang kini sudah berdiri berhadapan dengan John.
“Buktikan!. Tunjukkan nyali dan kekuatan lo!.”
****
“Tristan biar jadi urusan nya Kak John, D.” Fania menatap Andrew dan membiarkan John berhadapan satu lawan satu dengan Tristan. “Tapi dia sepertinya menjadi urusan kamu.” Ucap Fania sambil menunjuk salah satu orangnya Tristan yang tadi mencengkram tubuhnya dari belakang dengan kuat.
Andrew melangkahkan langsung kakinya dan kini sudah berdiri didepan orangnya Tristan yang barusan ditunjuk Fania. “Apa dia menyakiti kamu, Heart?.” Tanya Andrew dengan nada suara yang datar namun tak sedatar tatapannya pada pria yang sedang ia tatap itu.
Fania berdiri disamping Andrew. “Dia peluk aku.” Ucap Fania.
“APA?!.”
Andrew spontan menoleh pada Fania dan Fania manggut – manggut santai.
“Hah?!.” Pria yang ditunjuk Fania kebingungan.
“Tadi dia peluk aku dari belakang. Kayak gini nih.”
Fania memeluk Andrew dari belakang, memperagakan bagaimana orang suruhan Tristan itu sempat meringkusnya.
Dan yah ...... provokasi kecil Fania itu sukses membuat dada si Donald Bebek itu naik turun.
‘Pegang – pegang gue si. Tuh gue kasih jadi makanannya Poppa singa!.’ Batin Fania yang kesal pada orang
suruhannya Tristan itu. “Sakit banget badan aku, D. Kenceng banget tadi dia megangin aku. Ssshh!....” Fania berlagak memukul pelan lengannya.
Iseng banget emang si Kajol.
“BERANI MENYENTUH DAN MENYAKITI ISTRI GUE, HAH????!!.” Nah kan si Donald Bebek kena provokasi bininya yang kadang somplak itu.
****
Satu sisi lagi, nampak kakak iparnya yang barusan terdengar berteriak dengan kencang sambil menatap salah satu orang Tristan bersama sang istri disampingnya. ‘Ya Tuhan, gue ada ditengah – tengah apa ini??!.’ Kaki Prita rasanya lemas merasakan aura disekelilingnya bahkan lebih horor daripada kuburan.
****
Andrew sudah meraih rahang pria yang berlutut didepannya itu seperti empat orang lainnya. Tapi satu orang ini yang ditunjuk Fania membuatnya murka. Fania menyeringai, sambil hatinya bertepuk tangan.
“Step aside, Heart. Hem?. ( Minggir dulu, Sayang. Hem? ).” Alahoy, cara bicara dan nada suara Andrew begitu lembutnya pada Fania.
“Aku sama Prita ya?.”
Andrew mengangguk pada Fania. Tersenyum pula. Namun senyumnya langsung hilang saat Fania sudah berbalik dan berjalan mendekati adiknya. Andrew kembali menatap orang suruhan yang Fania bilang telah memeluknya dengan sangat kencang sampe badannya pada sakit. Padahal mah kaga. Wkwkwk.
DAK!
Sepatu Andrew mendarat didada pria tersebut dengan kencangnya hingga pria suruhan Tristan itu terjungkal dan teman – teman Andrew yang menjaga para orang suruhan Tristan agar mereka menunggu eksekusi itu hanya membiarkannya.
Fania menoleh sebentar, karena suara tendangan Andrew yang menghantam dada seorang manusia itu cukup bisa dibilang, yah lumayan kencang. Fania sudah duduk bersandar di kap mobil disamping Prita.
***
“Kak ..... hentikan Kak John, Kak .... dia bisa membunuh Tristan kalau terus – terus begitu.” Ucap Prita yang wajahnya sudah panik dan pias sambil melirik pada John yang masih nampak tak mau berhenti menghajar Tristan. Fania menoleh sambil tersenyum tipis pada adiknya itu.
“Pake nih.” Fania membuka jaketnya dan memberikannya pada prita.
Prita mengangguk dan langsung mengenakan jaket Fania.
“Gue ga bisa menghentikan Kak John kalau dalam situasi begini, Prita. Bahkan Andrew pun mungkin juga ga bisa. Dan gue ga mau menghentikan. Cowok yang sedang dihajar habis – habisan sama Kak John itu hampir melecehkan lo. Gue ga terima!.”
“Iya Kak, tapi..”
“Ini pelajaran setimpal buat si Tristan!. Ga hanya Kak John. Semua laki –laki di keluarga Adjieran Smith pasti akan melakukan hal yang sama seperti Kak John kalau gue, Kak Ara, Michelle, bahkan mungkin Jihan yang ada diposisi lo tadi. Dan kita, sebagai pendamping mereka mau ga mau, suka ga suka, harus menerima kenyataan atas sisi lain para pria yang kita cintai itu.” Jelas Fania.
Prita mendengarkan baik – baik perkataan kakaknya.
“Keberuntungan sekaligus mungkin juga kutukan kayaknya disaat yang bersamaan.”
__ADS_1
Fania terkekeh pelan.
“Keberuntungan.. Yah, seperti yang lo dan semua orang bisa liat. Para pangeran keluarga Adjieran Smith ga ada cacatnya dari ujung rambut sampe ujung kaki. Muka pada kelewat cakep, kaya pula. Terlal kaya bahkan. Bukan lagi tujuh turunan. Tapi seratus turunan ama seratus tanjakan kaga abis kelles harta mereka.”
Gantian Prita yang kini terkekeh.
“Dan Yah.. kutukan. Kalau mereka sudah seperti itu.”
Fania menunjuk pada John dan Andrew.
KRRAAK!.
Fania dan Prita spontan menoleh karena seperti mendengar sesuatu yang patah tak jauh dari mereka.
Prita bergidik ngeri karena tahu sepertinya dari mana suara benda yang dipatahkan itu berasal.
“Ouch. Sepertinya itu suara tulang hasta yang patah.” Ucap Fania santai dan membuat Prita bergidik ngeri sekali lagi dan kali ini pada kakaknya sendiri.
John dan Andrew nampaknya juga sudah selesai dengan ‘kegiatan’ mereka.
“Well, lo sudah memutuskan untuk bersama dengan salah satu pangeran keluarga Adjieran Smith kan?. Lo sudah
harus menyiapkan diri, hati dan mata lo untuk segala hal yang mungkin ga pernah lo bayangkan sebelumnya.”
Fania menegakkan tubuhnya.
“Buat diri lo terbiasa, mulai dari sekarang Prita.” Ucap Fania dan tersenyum pada Andrew yang sudah mendekati dirinya dan Prita. “Sudah puas, Poppa?.”
“Not bad. ( Lumayan ).” Sahut Andrew.
“Tuan.”
Omar menghampiri Andrew dengan sebotol air mineral ditangannya.
“Sini Omar.” Ucap Fania meminta botol air mineral dari Omar. Dan salah satu pengawal pribadi mereka itu memberikan botol air mineral yang diminta Fania pada nyonya nya. “Sakit?.” Tanya Fania dengan tersenyum pada Andrew sambil membersihkan tangan suaminya yang sedikit berdarah. Bukan darah Andrew sih sepertinya.
“Seperti memukul bantal.” Sahut Andrew santai.
“Omar, bisa ambilkan satu botol lagi?.”
“Tentu Nyonya.”
Omar tak lama datang lagi dengan satu botol mineral lagi ditangannya.
“Ini, Nyonya.”
“Berikan pada Prita.” Ucap Fania pada Omar.
Fania mengkode Prita untuk mengambil botol air mineral dari tangan Omar.
“Tangan Kak John juga perlu dibersihkan.” Fania menunjuk John yang sudah nampak selesai dengan Tristan. “Kayaknya satu botol ga cukup.” Ucap Fania lagi dan Prita menangkap maksud ucapan sang kakak.
Darah yang ada ditangan John nampak lebih banyak dari yang tadi menempel ditangan Andrew.
“Yuk.” Ajak Fania pada Prita karena John nampak sedang mengkode dengan tangannya agar mereka mendekat ke arahnya. Prita mengangguk ragu, namun pada akhirnya ia ikut dengan sang kakak yang berjalan dibelakang suaminya ke arah John.
“Apa masih kurang, Prita?.” Ucap John pada Prita sambil menunjuk pada Tristan yang sudah terkapar diatas tanah. Rasanya Prita lebih ngeri melihat kondisi Tristan saat ini daripada melihat kakak iparnya tadi mematahkan tangan orang.
Prita terpaku, kelu. Meski Tristan sudah berniat jahat padanya, tetap saja pemandangan yang sedang ia lihat ini membuat tubuhnya terasa lemas.
Wajah Tristan sudah tak berbentuk dan berlumuran darah.
‘A-apa dia su-sudah tak bernyawa?....’ Batin Prita bertanya sendiri. Badannya rasa gemetar.
“Dia masih bernafas John. Mau diapakan ini?.” Tanya Rico yang sedang berjongkok di dekat Tristan setelah mengecek nafas laki – laki itu.
“Terserah kalian. Mau langsung kalian kubur, buang atau mutilasi sekalian.” Sahut John datar.
‘Buat diri lo terbiasa, Prita....’ Prita mencoba menguatkan dirinya meski keringat dingin sudah menjalar disekujur tubuhnya. Mencoba kuat...
Gubrak!!
Tapi ternyata si Priwitan kaga kuat. Dan diapun pingsan.
Ka – si – an ..... 😁
**
__ADS_1
To be continue....