THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 112


__ADS_3

♣♣♣ BUKAANN MAEN ♣♣♣


Selamat membaca....


******


“Bahkan sang raja pun tak berkutik kalo sang ratu sudah menunjukkan tanduknya.” Celetuk Andrew saat mereka semua sudah berkumpul untuk sarapan di area kolam renang. Keluarga Cemara ikut menginap juga di Rumah Utama, dan Ibu Yuna juga tetap tinggal di rumah utama setidaknya hingga Jihan sudah benar – benar pulih.


“Bagaimana kamar tamu, Dad?. Apa cukup nyaman?.” Timpal Reno sambil cengengesan pada Dad yang nampak sedikit lesu.


Dad memandang sebal pada dua putranya yang barusan iseng nyeletuk itu.


Sementara Mom melirik sinis pada Dad dengan rona kepuasan diwajahnya. “Mom tega sekali.” Gantian Ara yang nyeletuk.


“Ara was right, you’re so mean to me, Mom. ( Ara benar, kamu sungguh tega sekali padaku, Mom ).” Ucap Dad.


“Salah Dad sendiri!.” Sahut Mom ketus. “But you were invited someone else into our private special dinner!. ( Tapi malah mengundang orang lain diacara makan malam pribadi dan spesial kita! ).” Tambah Mom masih ketus. “Memuji dia cantik dan cipika cipiki segala. Flirtatious! ( Genit! ). Sudah tua juga!.”


“Okay, forgive me once again, My very beautiful wife, Oh Erna Anthony Smith, My Sunshine... ( Oke, maafkan aku sekali lagi, Istriku yang sangat cantik, Oh Erna Anthony Smith, Matahariku.. ).”


Dad melipat tangannya dihadapan Mom dan membuat keluarganya cekikikan.


“Sian beut sang penguasa, tetep aja ilang harga diri kalo bini udeh cembokur.”


Celetukan si Kajol membuat keluarga mereka tergelak pada akhirnya.


“Salah sendiri, sudah ku kode tapi tetap saja asik mengobrol dengan wanita itu.” Si Donald Bebek nyeletuk lagi.


Dad melirik sebal pada putranya itu. “As my Sons ( Sebagai putra – putraku ), all of you supposed to help me last night! ( seharusnya kalian membantuku semalam! ). I think I’m going to make a revision on my legacy ( Kurasa aku akan merevisi surat warisanku ).”


“Jangan mengancam putra – putraku jika tidak mau aku membuat Dad jatuh miskin! Nanti Mom akan menyuruh Keenan memindahkan semua harta Dad atas nama Mom dan Mom menjadi wanita terkaya!.” Sahut Mom cepat dan para putra, menantu beserta besannya pun tergelak lagi.


Dad menggaruk tengkuknya yang tak gatal, dan secepat kilat memberikan senyuman terbaiknya pada Mom. “I won’t dare.. ( Aku tidak akan berani lagi .. ).” Ucap Dad. “You may take everything from me, but don’t stop loving me ... ( Kamu boleh mengambil apapun dariku, tapi jangan berhenti mencintaiku ).”


Gelakan terdengar lagi.


“Rayuan Picisan.”


“Cari aman.” Timpal John setelah Reno.


“Lebih baik mengalah daripada seluruh harta berpindah kepemilikan.”


****


“Uuum Erna, my darling .... ( Uuum Erna, sayangku.. ).”


“Hem?!.” Sahut Mom malas – malasan pada Dad.


“I have something for you. ( Aku punya sesuatu untuk kamu ).” Dad mengeluarkan sebuah kotak beludru berwarna


merah yang lebih besar daripada kotak cincin. “I should to give to you last night as my gift for our Anniversary ( Aku ingin memberikan ini semalam sebagai hadiah perayaan kita ).”


“Oh, Dad, this ... ( Oh, Dad, ini .. ).” Wajah judes Mom pada Dad seketika berubah melihat kalung bertahtakan berlian merah muda yang langka ditengahnya.


Dad tersenyum sembari mengeluarkan kalung dari tempatnya dan memberikan kotak pada Michelle yang berada didekatnya.


Lalu membuka kaitannya dan memasangkan nya di leher Mom yang mukanya kini berubah amat sangat sumringah. “Oh, Dad!. You’re so sweet! ( Oh, Dad!. Kamu manis sekali! ).”


Cup!.


Mom menangkup dan mengecup bibir Dad dengan wajah bahagia nan sumringah lalu memeluk suaminya itu dengan antusias, berikut mata Mom yang begitu berbinar.


“Happy Anniversary, My Darling. ( Selamat Hari Jadi, Sayangku ).” Dad mengecup kening dan bibir Mom.


“Tapi bagaimana Dad tahu kalau Mom memang menginginkan berlian merah muda ini?.”


“I know everything about you, Mom ... ( Aku tahu segalanya tentangmu, Mom... ).”


Mom memeluk Dad lagi. “You are the best, Dad!. ( Kamu yang terbaik, Dad! ).”

__ADS_1


“Perempuan...” Celetuk John sambil geleng – geleng.


“Susah kalau jiwa matre sudah mendarah daging.” Timpal Michelle.


“Berlian langka dua puluh dua karat dapat meruntuhkan segala amarah, Haahhh!.” Jeff ikut geleng – geleng, sisanya terkekeh.


****


Dua minggu kemudian


Perusahaan Smith, Jakarta, Indonesia ....


“Halo, kenape Mah?.” Fania menerima panggilan dari Mama Bela kala ia sedang menemani John menjamu tamu Perusahaan dari Paris mewakili Andrew dan Reno karena dua orang itu sedang berada di Italia dan London, berikut juga Jeff yang sedang menemani Andrew meninjau Perusahaan mereka yang ada di Italia.


“Kakak, kamu dimane?!.”


Suara Mama Bela yang nyaring itu terdengar dari sebrang ponsel.


“Pan tadi udeh bilang nemenin Kak John nemuin tamu penting dari Paris.” Sahut Fania. “Ada apaan emang?.” Tanyanya.


“Kamu lagi sama deketan sama si John kaga?, Mamah telponin die kaga diangkat.”


“Di silent kali henpon nya. Orang lagi meeting.” Sahut Fania. “Ada apaan emang?.”


“Ini nih, si Priwitan ..”


“MAH CEPETAAN!!!!!..” Suara Papa Herman terdengar dibelakang Mama Bela.


“Iye, Iye!.”


“Si Priwitan kenape?!.”


Si Kajol jadi ikutan panik mendengar suara Papa Herman yang kencang tadi plus Mama Bela yang terdengar seperti sedang tergesa, ditambah sayup – sayup terdengar suara grabak grubuk dibelakangnya.


“Mah?!.”


***


Suara dua mesin mobil yang sedang dipacu membelah jalanan Jakarta senja ini. Suara klakson dari dua buah mobil tersebut sering terdengar dibunyikan karena nampak dua mobil tersebut sedang terburu – buru.


Meski ada kawalan patwal didepan dan belakang mereka yang membantu untuk meluaskan jalan, tapi tetap saja dua pengemudi didalam mobil nampak tak sabar dalam melajukan mobil mereka. “Cepet Woy!!..” Teriakan pengemudi dari salah satu mobil.


Sementara satu pengemudi lainnya di mobil yang berbeda nampak fokus sendiri dengan raut wajah yang seperti sedang khawatir dan memperhatikan jalanan didepannya.


“Semoga keburu!! ..”


Si pengemudi di mobil satu lagi bergumam saat sudah hampir sampai ke tempat yang dituju.


Para patwal yang membantu mengawal dua mobil tersebut juga bahkan sampai geleng – geleng melihat dua mobil yang nampak dilajukan dengan tergesa tersebut.


Dua mobil itu pun parkir sembarang didepan lobi, dan dua orang dimobil yang seperti sedang balapan tadi langsung melemparkan kunci pada seorang pria berjas yang nampak sudah menunggu mereka. “Omar! Parkirin itu yang bener! Sama urus itu bayaran mereka!.” Seru si pengemudi wanita.


“Baik Nyonya Fania.”


Dua orang itu pun langsung berlari melewati koridor sebuah Rumah Sakit dan melesat cepat masuk kedalam lift.


**


“Cepat John! Sudah mau lahir itu anak kamu!.” Mom yang melihat John dan Fania keluar dari lift setengah berlari menghampiri kedua orang itu. “Prita menanyakan kamu terus sedari tadi!!.” Ucap Mom lagi.


“Iya Mom!.” John langsung berlari ke arah ruangan yang ditunjuk Mom. Melewati Dad dan Papa Herman yang juga sudah berada diluar ruangan tempat Prita berada.


***


Sementara itu didalam ruangan bersalin


John yang masuk dengan sangat tergesa itu langsung menghampiri Prita yang nampak sedang gelisah sambil menggigit bibirnya. Mama Bela ada bersamanya. “Kamu kemana aja sih!.” Ucap Prita saat melihat John, kemudian ia menggigit bibirnya sambil meringis.


“Maaf, maaf... tadi tamunya agak lama. Tapi aku langsung kesini saat mendapat kabar kamu mau melahirkan! ....” John menyambar tangan Prita dan mengecupinya.

__ADS_1


“Mamah tunggu diluar ya!....”


“Iya Ma.”


“Sakit Pii....” Prita mencengkram kuat tangan John bahkan kukunya sampai melesak dikulit John.


John meringis namun ia membiarkan tangannya tercakar oleh kuku Prita yang tak seberapa panjang itu, namun lumayan bikin perih. “Sudah pembukaan Delapan, Dok.”


Ucap seorang asisten Dokter yang mendampingi Dokter Clarissa untuk membantu proses kelahiran bayi kembar Prita dan John. “Jika cepat pembukaan nya mungkin hanya satu jam untuk sampai ke pembukaan lengkap, jika sedikit lama mungkin sampai dua jam.” Ucap Dokter Clarissa.


“Dua jam?!.”


John mendelik pada Dokter Clarissa.


“Tapi istriku sudah kesakitan seperti ini!.” Seru John. ‘Belum lagi cakarannya ini, kalau sampai dua jam bisa – bisa sobek kulit tangan gue!.’


“Sabar yah, kalau Nyonya Prita mau melahirkan dengan cara operasi kita tidak perlu menunggu lama, berhubung Nyonya Prita ingin melahirkan secara normal, ditambah bayi kalian kembar, jadi ya prosesnya lebih lama.” Jelas Dokter Clarissa pada John dan Prita.


“Ya Tuhaaann, seharusnya kamu memilih operasi saja, Sugar....”


“Kamu jadi nyalahin aku sih Pi?!. Aku tuh pengen jadi wanita seutuhnya tau ga?!.”


Prita memekik sembari tetap mencengkram lengan John yang pasrah. “Iya, Iya ... maafkan aku, Sugar. Aku khawatir melihat kamu kesakitan seperti ini.”


Cepret!. Satu cepretan berbunyi nyaring, terbayang perihnya itu cepretan dari Prita ditangan John mendarat dengan mulusnya.


“Iya ini akibat perbuatan siapa, coba?!.”


“Iya.... maaf....”


Dokter Clarissa dan para asistennya hanya bisa menahan kekehannya melihat derita seorang suami yang akan menjadi seorang ayah dihadapan mereka, sedang mendapatkan bersikap pasrah menghadapi sang istri yang mau melahirkan itu.


“Aw sakitt!!!!....”


Prita yang merasakan perutnya sedang kontraksi itu kini melakukan kdrt pada John untuk berbagi kesakitannya.


“Sabar Sugar ...”


“Sabar! Sabar! Kamu ga ngerasain sih sakitnya kayak apa?!.”


Cepret!.


Satu kepretan lagi sampai di lengan John, entah cepretan yang keberapa. Berikut remasan, cengkraman dan cakaran Prita.


**


Sementara itu diluar ruangan, Fania yang sedang menunggu bersama kedua orang tua dan mertuanya sedikit penasaran dengan apa yang terjadi didalam ruang bersalin.


“Ribut amat perasaan didalem!.” Celetuk Fania yang coba melongo ke dalam dari kaca kecil dipintu ruang bersalin. Mama Bela yang ada disamping Fania juga manggut – manggut. “Orang mau lahiran ribut beut kek tawuran warga!.”


**


“Allahu Akbar Joohn... kamu abis tawuran didalem?.” Celetuk Papa Herman saat John sudah keluar dengan penampilan yang semraut dari kamar bersalin. Kerah baju John sudah miring berikut luka cakaran dilengannya yang sedang dielus – elus sendiri oleh Pria itu sambil meringis berikut rambutnya yang nampak sedikit acak – acakan.


Papa Herman geleng – geleng melihat penampilan menantunya saat ini, berikut Dad dan Mom serta Fania dan Mama Bela yang cekikikan.


“Ampe begini amat kamu John. Diapain emang ama si Priwitan didalem?.” Ucap Mama Bela masih cekikikan.


"Sedih kalau diceritakan, Ma ...." Ucap John sambil geleng - geleng dan yang mendengar cekikikan lagi.


“Kan maen dah ade gua! .... untung kembar dua, coba kalo empat, ditabokin gue rasa lo didalem Kak.” Ejek si Kajol. “Ngahaha.”


“Bisa – bisa kamu yang di inpus John, abis si Priwitan ngelahirin kalo ampe kembar empat!.”


“Hahaha!.” Kelima orang selain John itu pun tergelak lagi meskipun takut dosa akibat mentertawakan penderitaan si bule koplak yang tadi mendampingi si Priwitan melahirkan.


*


To be continue ...*

__ADS_1


__ADS_2