THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 59


__ADS_3


*Dear All Reader, ini episode kedua yang Author up hari ini. Entah kenapa proses review episode sebelumnya belum juga selesai sampe sekarang. Terima kasih udah sabar nunggu yah.**


************************************



# SEDIKIT GANGGUAN #


**************************


Selamat membaca.....


Frognal, London, Inggris ....


“Dua pangeran sudah mendapatkan pasangannya. Kita harus bersiap – siap sepertinya, Hon.” Ucap Ara dengan tersenyum lebar.


“You were right, Babe. (Kamu benar, Sayang).” Sahut Reno yang juga tersenyum.


“Hanya tinggal menunggu mereka membahas soal pernikahan berarti.”


“Well, sebelum itu sepertinya minggu – minggu ini kita harus terbang ke Indo. Dan sepertinya kita akan sedikit repot.” Ucap Reno.


“Jangan bilang itu dua pangeran insaf itu mau melaksanakan pernikahan dalam bulan ini juga.” Sahut Ara.


“Lamaran Babe, mereka hanya baru melamar para wanitanya. Tidak seperti Andrew dan aku yang langsung melamar Fania dan kamu langsung kepada orang tua kalian.” Timpal Reno. “Kali ini bahkan lebih repot sepertinya.”


“Oh iya ya. Kita akan mengadakan acara lamaran John dan Jeff didua tempat yang berbeda.”


Reno manggut – manggut. “Dua kota malah.”


“Berarti kita hanya tinggal tunggu kepastian waktunya aja dong, Hon?.”


“Yap!.”


**


Kediaman Utama Keluarga Adjieran Smith, Jakarta Indonesia ..


“Lo kapan rencananya mau melamar Prita secara resmi?.” Tanya Jeff pada John saat mereka berdua tengah berkumpul bersama Dewa dan Andrew.


“Gue belum membahasnya dengan Prita.” Sahut John.


“Lo berdua suit mendingan, siapa yang mau duluan membuat acara lamaran.” Ucap Dewa.


“Ya benar. Kalian berdua akan membuat kami semua menjadi sangat sibuk.” Timpal Andrew.


“I also haven’t talk about that with Jihan. (Gue juga belum membicarakan soal itu dengan Jihan).” Sahut Jeff. “I think I would go to Bandung tomorrow. (Gue rasa gue akan ke Bandung lagi besok).”


“Ck! Don’t make a reason. (Ga usah buat alasan). Kalau hanya sekedar membicarakan rencana lamaran bisa melalui telfon.” Celetuk Andrew. “Memang lo sengaja cari – cari alasan untuk menemui Jihan. Lo sudah mengatakan juga pada ibunya Jihan kalau sudah melamar anaknya dan diterima kan?.”


“Haha.... lo seperti engga aja waktu masih pacaran sama si Kajol, Ndrew. Lagipula lo lebih parah kan? Lo sekap dia disini dari sejak lo bahkan belum jadi pacarnya. Plus lo test drive dulu pula.”


“Gue test drive dia saat di London okay, bukan disini.” Sahut Andrew.


“Sama aja lo test drive duluan.” Celetuk Dewa.


Andrew melirik sinis pada Dewa. “Dan yang lo lakukan pada adik gue sebelum kalian menikah?!.”


Dewa mengangkat dua jarinya sambil nyengir kuda pada Andrew.


“Ck! .. sesama b*jingan ga usah pada ribut.” Celetuk John.


“Heh, like you’re not. (Seperti sendirinya engga).” Dewa, Andrew dan Jeff nyeletuk barengan sambil melirik sinis pada John.


“Weits, Prita ga gue apa – apain, okay?.”


“Belum.” Celetuk Jeff.


“Jangan coba – coba.” Andrew memperingatkan sambil memberikan pandangan tajam pada John. Dewa dan Jeff


terkekeh berbarengan. “Jangan pernah lo punya pikiran kotor pada Prita, John.” Sekali lagi Andrew memperingatkan.

__ADS_1


“Ck.” Sekali lagi John berdecak. “Iya, iya Kakak Andrew. Kalau pikiran kotor sih ada. Niat juga ada, mau apa – apain dia. Tapi sampai hari ini masih sanggup gue tahan, okay Kakak Andrew?.” Ucap John.


Andrew tidak menyahut. Dia meraih game controller konsol dan kemudian bermain bersama Dewa.


“Ah iya gue lupa. Lo Jeff balik dulu ke London, lo urus masalah Exist Company itu. Kita sudah membiarkan mereka terlalu lama. Nanti lo kembali lagi bersama R dan yang lainnya setelah masalah dengan mereka lo selesaikan. R juga pasti malas berurusan dengan si tua bangka Jill itu.” Ucap Andrew.


“Aye, Boss!. (Siap, Bos!).” Sahut  Jeff.


“Dan ya seperti yang dibilang Dewa tadi. Sebaiknya lo berdua berunding soal lamaran. Siapa yang mau duluan.”


“Oke Donald Bebek ....” Sahut dua J cepat.


**


Perusahaan Smith, London, Inggris...


“Excuse me Mister R. (Permisi Tuan R).”


“*Ya N*o?. ”


“Jill Silas is here. He begged to meet you or Andrew. (Jill Silas ada disini. Dia memohon untuk bertemu denganmu atau Andrew).”


“Well you should tell him, if he come here to pay off all of his debt to us, then I will be delightful to meet him. But if not, tell him to prepare his company displacement to our. ( Sebaiknya kamu katakan pada dia, kalau dia datang untuk melunasi semua hutangnya pada kita, maka aku akan dengan senang hati menemuinya. Tapi jika tidak, katakan padanya untuk menyiapkan perpindahan perusahaannya pada kita).”


“I already told him as exactly like you said. But he said he has another offered. (Aku sudah mengatakan persis seperti yang anda bilang. Tapi dia bilang dia punya penawaran yang lain).” Ucap Nino.


“Another offered. (Penawaran lain?). Hem..”


“Do you want to meet him or I should to kick him out?. (Apa anda masih mau menemuinya atau dia harus ku usir keluar?).”


“Bring him here. I want to know his ‘another offered’. (Bawa dia kesini. Aku ingin mendengar ‘penawaran


lain’ darinya).” Ucap Reno. ‘Penawaran macam apa yang berani bjingan tua itu tawarkan pada gue dan Andrew.*’


**


Bandung, Jawa – Barat, Indonesia...


“Seharusnya dia sudah sampai dari tadi.”


Jeff melangkahkan kakinya menuju pintu rumah setelah melirik arlojinya dan mengeluarkan beberapa paperbag dari mobilnya.


“Assalamu’alaikum.”


Jeff langsung mengucapkan salam sambil membuka pintu rumah.


“Daddy.” Nathan yang sumringah itu langsung berlari untuk menghampiri Daddynya.


“Jagoan Daddy.”


Jeff langsung menggendong Nathan dan mencium kedua pipi putranya itu.


“Eh Nak Jeff, Jihan ga bilang nak Jeff mau datang.” Ibunya Jihan datang menghampiri Jeff.


Jeff tersenyum.


“Saya memang belum sempat bilang pada Jihan akan mampir hari ini.” Ucap Jeff setelah menyalim takdzim pada ibunya Jihan. “Saya juga ingin membicarakan soal acara lamaran saya nanti dengan ibu dan Jihan. Ngomong – ngomong Jihan nya mana Bu?.” Sambungnya seraya bertanya.


“Jihan belum pulang, Nak Jeff.” Ucap ibunya Jihan dan Jeff mengernyitkan dahinya.


‘Belum pulang?.’ Batin Jeff bertanya – tanya sendiri. ‘Tadi gue cari dikantor katanya sudah pulang sejak dua jam yang lalu?.’ Jeff merogoh saku untuk mengambil ponselnya setelah menurunkan Nathan dari gendongannya. Dan membiarkan putranya itu mengacak – acak isi paperbag yang dia bawa.


Jeff melangkah ke teras rumah ibunya Jihan. Namun belum sempat ia menekan tombol panggilan pada nomor Jihan, sebuah mobil yang Jeff kenali memasuki pekarangan rumah itu.


‘Mau apa lagi dia?.’ Batin Jeff yang tak jadi menelpon Jihan.


Rahang Jeff mengeras saat Jihan nampak keluar dari mobil tersebut bersama dengan pengemudinya. Namun ia tetap berdiri ditempatnya sambil memandang tajam pada dua orang yang sedang berjalan kearahnya dari arah mobil yang baru saja tiba itu. Hatinya terasa sedikit panas.


“Aku menjemputmu di kantor, dan mereka bilang kamu sudah pulang sejak dua jam yang lalu. Dan ponselmu pun


tiba – tiba tidak bisa dihubungi. Apa kamu bermain dibelakangku, Jihan Shaquita?!.”


**

__ADS_1


Studio dance Prita, Jakarta, Indonesia...


“Encunn! ..”


“Hish biasa aja manggilnya kelles.”


“Gue terlalu senang. Best pren gue akhirnya ada yang lamar.” Diana memeluk gemas Prita. Dan Prita pun terkekeh


dibuatnya. “Ga sangka gue, sumpah!. Gue seneng tapi kesel juga.” Diana mengerucutkan bibirnya.


“Kesel kenape sih?.” Tanya Prita. “Eh iya lo bawa mobil gue kan?.”


Diana mengangguk. “Gue kesel. Lo nyembunyiin semua dari gue. Lo pacaran sama Kak John diem – diem, tau


– tau gue liat postingan lo dilamar! Jelas gue kesel.”


Prita terkekeh lagi sambil mereka berganti baju untuk latihan.


“Nih ya asal lo tau nyet, gue pacaran ama die itu sehari. Kan gue udeh cerita sama lo soal die berantem sama Tristan di Leon. Nah ntu malam juga, dia nembak gue. Tau – tau besokannya dia lamar gue.” Jelas Prita. “Jangankan elo, gue aje ga sempet kasih tau kakak gue sampe gue dikerjain abis – abisan sama die.”


“Dikerjain gimana?.” Diana penasaran.


“Ck! Ah panjanglah ceritanya.”


“Ah elah, cerita si!.”


“Iya ntar abis latihan gue ceritain.”


“Ngoghey!.”


**


“Cun!.”


Diana menyenggol lengan Prita saat telah keluar dari ruang ganti dan kini sudah berada di atas lantai tempat latihan. “Hem?..”


Prita hanya menjawab dengan deheman.


“Kayaknya dia cari lo deh tuh.” Diana berbicara lebih dekat dan pelan pada Prita sambil matanya menatap pada arah luar dinding kaca studio.


“Siapa?.” Tanya Prita sembari menengok mengikuti arah pandangan Diana. ‘Duh ilah ngapain dia kesini. Mati gue kalo Kak John tau.’


**


Kediaman Utama Adjieran Smith, Jakarta, Indonesia ...


“Ya R?.” Andrew terhubung dengan Reno di ponsel.


“....”


“Apa b*jingan tua itu sudah membayar hutangnya pada kita?.”


“....”


“Penawaran?.”


“....”


“Penawaran macam apa?.”


“....”


“Apa?!.”


**


To be continue ....


Jangan lupa ritual jempol ye.


Salam sayang,


Emaknya Queen

__ADS_1


__ADS_2