
END OF THE MADNESS
( Akhir dari Kegilaan )
Part 2 ( Two )
Selamat membaca ...
***********************
Kediaman Keluarga Adjieran Smith, Jakarta, Indonesia
“Pih!” Mami Prita terhubung dalam panggilan telepon dengan Papi John.
“Yes Sugar?” Sahut Papi dengan mesra dari sebrang telepon.
“Papi dimana sih?! Kok ga pulang – pulang? Ini udah malem Pih!”
“Iya, kalau semua urusan sudah selesai aku dan Jeff segera pulang”
“Memang belum selesai ya Pih?” Tanya Mami Prita lagi.
“Sedikit lagi selesai kok. Kamu istirahat saja, hem. Jangan terlalu memikirkan aku” Jawab Papi John lagi.
“Ya wajarlah aku mikirin suami sendiri”
“Iya Suggaarr ... aku akan segera pulang jika semua sudah selesai, hem?”
“Pih ...”
“Heem?”
“Apa... Papih dan yang lain termasuk juga Abang, menghabisi orang – orang jahat itu ...”
“Membunuh mereka maksud kamu Sugar?” Sambar Papi dengan pertanyaan.
“Iya...”
“Sebagian besar iya”
Mami menghela nafasnya sedikit berat.
“Harus ya Pih ...?...”
“Harus. Karena kami tidak pernah punya toleransi pada semua yang menganggu keluarga kita”
Mami Prita terdiam.
“Apa kamu lupa tentang hal itu Sugar?”
“Engga sih ..”
“Ya sudah ya Sugar, Mami Prita sayang. Masih ada hal yang harus Papi John kerjakan. See you soon, hem?”
Mami Prita manggut – manggut seolah Papi John ada didepannya. “Iya Pih ..” Sahut Mami Prita. “Papi hati – hati ya? ..”
“Pasti Sugar”
Papi menyahut lembut dari sebrang telepon.
“Kamu tenanglah di Kediaman, sebentar lagi semuanya selesai” Sambung Papi.
“Love you Papih” Ucap Mami Prita tak kalah lembutnya.
“Love you more Sugar”
**
The Playground
“Prita?” Daddy Jeff yang baru saja mengatur ini itu tentang pembersihan ‘taman bermain’ miliknya dan para saudara lelakinya itu langsung bertanya pada Papi John setelah Papa Bear melihat Papi memutuskan sambungan teleponnya.
“Iya. Siapa lagi?”
“Masih khawatir dia?” Tanya Daddy Jeff.
“Hemmmm ..”
“Masih saja mengkhawatirkan suaminya yang sudah tua bangka ini..”
Papi John langsung mengumpat kecil. Membuat Daddy Jeff terkekeh kecil juga bersama Uncle Sean yang masih ada bersama mereka.
“Tua – tua keladi okay?!. Makin tua makin jadi nih!. Jangan sembarangan Papa Bear!” Protes Papi John.
“Ya, ya” Sahut Papa Bear dan Uncle Sean.
“Prita itu Cuma sama cantik dan ceriwisnya macam Fania. Tapi dia ga kayak kakaknya yang tahan tempur ya?”
Papi John dan Daddy Jeff manggut – manggut atas ucapan Uncle Sean.
“Fania besar di jalan. Sementara Prita adalah adik yang sekuat tenaga Fania lindungi, bahkan dari sejak istri gue itu lahir”
“Makanya, meskipun awalnya kaget setelah dia tahu lebih dalam tentang keluarga kami, terutama para pria dan lebih dari semua adalah suami dan kakaknya tapi Fania ga butuh waktu lama untuk mengerti dan paham”
Gantian Uncle Sean yang kini manggut – manggut.
“Jadi sekarang, meskipun tidak tahu secara mendetail bagaimana kami mengurus tikus – tikus yang menjadi hama untuk keluarga kami, tanpa kami bilang juga dia sudah bisa menebaknya”
“Hem. Lagian memang dia cocok jadi istrinya si Andrew. Suaminya gila! Istrinya super nekat!”
“Betul! Malah kadang lebih susah menebak isi otaknya si Fania daripada Andrew” Ucap Daddy Jeff. “Selain ga ada takutnya itu si Andrew istrinya!”
Daddy Jeff dan Papi John sama – sama terkekeh, sementara Uncle mendengus geli saja. Dan obrolan mereka pun terhenti saat Black menginterupsi berikut Ammar yang memberitahukan kalau ‘tim penyapu’ mereka sudah menyelesaikan tugasnya.
“Oke lah!”
“Gue rasa kita sudah selesai disini!”
“Atau ada lagi yang mau dibawa kesini, Hah? Mar?!”
“Kalau dari Tuan Alvarend sendiri tidak ada Tuan. Beliau sampai saat ini belum menurunkan perintah lagi, termasuk soal si kepala Panti itu”
Papi John dan Daddy Jeff manggut – manggut.
“Udahlah. Sisakan beberapa untuk gue”
Uncle Sean seolah meminta.
“Paling engga kan mereka menghabiskan seumur hidup di penjara atau dapat eksekusi mati. Semua pimpinan
mereka sudah kalian babat semua, ga mungkin ada yang menjamin juga!”
“....”
“Lagipula, gue masih harus memikirkan alibi buat ‘hilang’ nya tiga tokoh yang sudah dan akan kalian ‘makan’ itu.
Mereka yang ada di penjara bisa jadi ‘alat’ kan”
“Lihat nanti lah kalau begitu”
“Iya lihat nanti kalau soal para a*j*ngnya tiga orang itu yang masih mendekam di penjara. Tunggu Andrew atau R bahkan Abang yang maunya bagaimana nanti ‘mengurus’ a*j*ng - a*j*ng itu”
“Oke lah kalau begitu”
“By the way Ammar, si DA itu sudah mati atau gimana?”
“Saya kurang tahu kalau soal itu Tuan, terakhir orang itu dibuat melihat istrinya yang dihabisi Tuan Alva, dan dua cucunya disuntikkan dengan obat yang sama seperti yang berada di tubuh Nyonya Muda Andrea dan disuruh dimasukkan ke daftar lelang juga, dan jika tidak laku, Tuan Alva mempersilahkan anak buah Tuan Lingga untuk bersenang – senang dengan kedua cucu tua bangka itu”
Sementara Papi John dan Daddy manggut – manggut, Uncle Sean melongo mendengar penjelasa Ammar soal
kondisi laki – laki berinisial DA yang ditanyakan oleh Daddy Jeff barusan. “Sadis banget anaknya si R!”
“Anak Naga!” Sambar Papi.
__ADS_1
“Hahaha!...” Tiga orang pria berusia hampir setengah abad itu pun tertawa bersama.
“Lalu gadis diatas? ...”
“Si Abang bilang apa soal Gadis itu, Mar?”
“Belum ada perintah dari Tuan Alva terkait gadis Alexander itu Tuan”
“Ya sudah biarkan saja dulu disini”
“Hem, lagipula gadis itu ada kaitannya dengan keluarga Alexander, mungkin R punya rencana untuk gadis itu”
“Ya lo benar John!” Sahut Daddy Jeff. “Lagipula dengan kondisinya yang seperti itu, jangankan mencoba kabur, bergerak saja dia sudah tidak mampu gue rasa. Abang bahkan menyuruh Celine membuatnya tak bisa bicara untuk selamanya”
Uncle Sean, Daddy Jeff dan Papi John pun bergegas untuk segera beranjak dari ‘Playground’ para pria Adjieran Smith tersebut.
Setelah berbicara dengan dan Ammar yang memang incharge saat ini bersama mereka dalam ‘Playground’ tersebut, ketiga pria yang masih nampak gagah diusianya pun meninggalkan ‘Playground’ secara terpisah, kecuali Papi John dan Daddy Jeff yang menggunakan mobil yang sama.
****
“Kita mau balik ke Kediaman atau menyusul mereka ke ‘Heaven’ terkutuk itu, Jeff?”
Papi John bertanya pada Daddy Jeff, saat mereka akan memasuki mobil setelah Uncle Sean pergi terlebih dahulu.
Daddy Jeff nampak berpikir sejenak.
“Gue rasa sih ga perlu. Ada Dewa mabuk, Lingga juga kemungkinan besar menyusul. Ditambah si Setan Alas juga
ada ‘urusan’ di sana kan?” Ucap Daddy Jeff. “Lagipula tikus paling besar disini masih jauh dari pasukan yang si Joven jahanam itu punya. Dia saja selesai tanpa sisa! Apalagi cacing – cacing tanah itu, John!”
“Ya memang sih. Tapi gue hubungi Andrew dulu lah. Meskipun gue rasa juga mereka sanggup membuat ‘Heaven’
terkutuk itu jadi kuburan masal” Sahut Papi John yang langsung mengeluarkan ponselnya dari saku celananya.
**
A place, called ‘Heaven’ ( Di sebuah tempat, yang disebut ‘Surga’ )
“Che cosa? ( Apa? ), Kampreto???” Papa Lucca sepertinya bingung, rasanya kata kampreto tidak pernah dia dengar sejak ia lahir. “Che cosa ‘Kampreto?”
Disaat Papa Lucca kebingungan soal Kampreto, Daddy Dewa terdengar tergelak geli, sementara sudut bibir Omar berkedut dan Kafeel mendengus geli. Dan anak buah mereka yang terhubung dalam saluran komunikasi merasakan perut mereka sedikit melilit saking menahan untuk tidak tertawa.
“I never heard that word?” ( Aku tak pernah mendengar kata itu? ). Not an Italian, I guess??????.. ( Sepertinya bukan bahasa Italia??.. )"
“Suruh dia cari di kamusnya Keluarga Cemara soal Kampreto” Celetuk Daddy masih ngekeh. “Sampe mati cari
di kamus Italia ga bakal ada!”
Daddy R dan Poppa sebenarnya juga ingin terkekeh melihat wajah bingung Papa Lucca saat ini, tapi lebih berat
ke sebal pada si setan alas yang sedikit mengejutkan mereka tadi.
“Minchia!” Daddy R menjawab pertanyaan Papa Lucca dengan umpatan kasar dalam bahasa Italia.
Papa Lucca cengengesan kemudian, akibat dua naga yang sempat kaget saat ia melemparkan sebuah potongan tubuh manusia kehadapan mereka.
“Old Black Drakes ... could just surprised by that???? ( Dasar naga tua... begitu saja kaget???? ) Ckckck” Sahut Papa Lucca sembari geleng – geleng dan terkekeh.
“Cazzo!” Poppa ikut mengumpat kasar dalam bahasa Italia.
Papa Lucca masih terkekeh saja.
“Is that really her? ( Apa itu benar dia? )” Tanya Poppa pada Papa Lucca yang sudah selesai terkekeh itu.
“Anoushka?”
Papa Lucca balik bertanya.
“Hem”
Daddy R dan Poppa kompak menyahut singkat hanya dengan satu kata andalan mereka itu.
“Certo! ( Tentu saja! ). I’ll show you guys the video later .. ( Akan aku tunjukkan videonya pada kalian nanti... )” Sahut Papa Lucca sembari mengalihkan pandangannya pada Dilara dan Lais yang tak bisa digambarkan raut wajahnya antara terkejut dan ketakutan setengah mati. “Then.... ( Lalu ..... )”
Poppa menyeringai penuh arti kemudian.
***
“Masih meragukan kemampuan Zeus?”
Itu Daddy Dewa yang sudah menunggu kedatangan Poppa, Daddy R, Papa Lucca dan rombongan saat mereka telah sampai di bagian lain dalam pabrik yang nampak terbengkalai dari luar.
Tempat mereka berada semua saat ini, mirip sebuah bagian tengah sebuah Ballroom dengan void di bagian tengah atas tempat tersebut.
Letaknya lumayan jauh dari tempat Poppa dan yang lain bersitegang sebentar dengan Dilara dan Lais berikut orang – orangnya, makanya tidak ada bala bantuan yang nampak muncul untuk membantu keduanya, padahal tempat ini adalah tempat mereka.
Tetapi mungkin jika ada kesempatan bagi Dilara atau Lais untuk menggunakan ponsel, bantuan mereka diyakini akan segera datang dan baku tembak kemungkinan besar terjadi. Tapi yah, meski begitu sepertinya Dilara dan Lais kalah cepat juga, karena campur tangan Kafeel yang sudah menyusupkan beberapa orangnya The Adjieran Smith’s Hot Daddy ke tempat yang lebih dalam di pabrik terbengkalai tersebut.
Dan kini penjagaan yang diyakini sebagai tempat melakukan transaksi itu sudah di kuasai Daddy Dewa dan
beberapa orang yang bersamanya. “Lumayan untuk ukuran seorang Dewa mabuk yang sudah renta” Sahut Poppa yang melirik tumpukan beberapa jasad di salah satu sudut yang gelap.
“Itu, sudah diurus?” Tanya Daddy R sambil melirik beberapa kamera CCTV dibeberapa sudut.
“Cih! Of courselah! Kafeel juga sudah bantu soal CCTV ini” Jawab Daddy Dewa. "Kalau itu CCTV belum diurus kita sudah main perang - perangan sekarang"
Daddy R pun manggut – manggut.
Poppa, Daddy R dan Papa Lucca sedang memperhatikan tempat mereka sekarang setelah tadi dari tempat mereka membantai orang – orangnya Dilara, Kafeel membawa mereka ke tempat mereka berada sekarang ini.
Setelah memasuki lorong sepi hingga bertemu gapura lebar tak berpintu seperti pada jalan masuk pertama, mereka menuruni tangga yang dalam lorong tertutup namun cukup tinggi dan agak besar walau pencahayaannya temaram.
Tapi tempat yang sepertinya dirancang dengan sangat baik dan detail itu terlihat memang cukup bagus, seperti pintu masuk klub – klub malam eksklusif. Bedanya, tempat yang menyerupai jalan masuk klub malam eksklusif ini begitu sepi.
( Udeh kebayang belom, bijimane tempat nye? ). 😁
“What the difference of this door and that? ( Apa perbedaan pintu ini dan itu? )”
Papa Lucca bersuara, berdiri di depan salah satu pintu ramping dengan dua daun pintu berwarna hitam, namun
lapisannya terlihat juga cukup tebal.
Ada dua bagian tempat ber void seperti Ballroom itu, yang satu pintunya agak ramping dan yang satu agak lebar. “This one, is entrance for a very ‘special’ guests ( Yang ini, pintu masuk untuk tamu – tamu yang sangat ‘spesial’”
Papa Lucca manggut – manggut, setelah mendengar penjelasan Kafeel barusan.
“Perbedaan spesifik?”
“Pintu di depan Om Andrew, Reno dan Dewa adalah akses masuk biasa. Sementara pintu untuk para tamu spesial
ini, adalah akses bagi mereka yang tidak ingin diketahui identitasnya”
Empat Hot Daddies itu pun manggut – manggut.
“A different bargain? ( Tawar menawar yang berbeda? )”
Kafeel menggeleng.
“Same. But here, they can make the first bargain. Got a golden ticket you can say, for those ‘vendue’ girls, or some rare things ( Sama. Tapi mereka yang disini dapat melakukan penawaran pertama. Bisa dibilang mereka memegang tiket emas untuk melihat dan mendapatkan lebih dulu para gadis yang akan ‘dilelang’ atau beberapa barang langka )”
“I see” Ucap Papa Lucca yang tadi bertanya setelah Kafeel menjelaskan panjang lebar. “So are going inside to the same door , or we taking a different door? Cause I’m looking for a ‘friend’ here.... ( Jadi kita akan masuk kedalam pintu yang sama, atau berbeda? Karena aku sedang mencari seorang ‘teman’ disini )”
“Dimana anak gadisku?!” Dilara yang diapit dengan sangat ketat oleh snipernya Poppa dan Daddy R tadi,
termasuk juga Lais yang sama diapit ketat itu sedikit memekik.
“TACI! ( DIAM! )” Hardik Papa Lucca.
Dilara yang nampak lebih gelisah itu langsung diam setelah Papa Lucca membentaknya.
“Luther!” Papa Lucca memanggil salah satu orangnya.
“Yes Sir?” Pria sangar berbadan besar itu kemudian mendekat pada Papa Lucca.
__ADS_1
“Where do you think that Iraqi could be?. This room, or there? ( Dimana menurutmu si Irak itu berada?. Ruangan ini, atau itu? )” Ucap Papa Lucca seraya bertanya pada orangnya yang bernama Luther itu sembari menunjuk pada dua pintu berbeda.
“This one of course ( Aku yakin didalam sini )”
“Okay” Sahut Papa Lucca. “Then I go in here ( Kalau begitu aku masuk ke dalam sini )”
Poppa, Daddy R dan Daddy Dewa mengangguk.
“Three of you feel free to choose! Cause I want to ‘collect a debt’ inside here ( Kalian bertiga bebas memilih! karena aku mau ‘menagih hutang’ didalam sini )”
“Take us in Ka ( Bawa kami masuk Ka )” Ucap Poppa kemudian.
“Garvi, aku mohon.. jangan libatkan Stella dengan ini. Jika kalian ingin membunuhku silahkan saja. Tapi biarkan
Stella, Garvi.. kau tahu dia anak yang baik .. bebaskan anak gadisku, aku mohon..”
Dilara tiba – tiba menyela dan memohon dengan memelas.
“Wah, kini kau memohon?” Sambar Poppa.
“Oh”
Kafeel melirik arloji di pergelangan tangannya.
“Kenapa?”
“Sudah hampir waktu pelelangan dimulai”
“Bu, tidak perlu memohon pada mereka. Mereka belum masuk ke dalam, tidak mungkin Nona Stella bisa berada
dalam pelelangan”
Lais yang sudah nampak pucat namun masih tetap bertahan dengan luka tembakan ditangannya itu berkata pada
Bosnya.
Dilara pun menatap Lais. “Benar juga kamu, Lai” Lalu Dilara menatap satu – satu dari mulai Poppa, hingga Papa
Lucca dan menyungging miring. “Kalian ternyata hanya menggertak saja ya, yang kalian incar adalah tempat ini dan mengancamku melalui anak gadisku? Huh!”
Dilara menyepelekan.
“Paviliun para pelayan kami bahkan lebih bagus dari ini” Sambar Daddy Dewa. “Haram Jaddah kami mengincar
tempat ini untuk kami kuasai. Dasar pe**cur tua!” Sambungnya dengan sinis.
“Let Lucca do what he want to do, we stick on the first plan ( Biarkan Lucca melakukan apa yang dia mau, kita tetap pada rencana pertama )”
“Then we clean up this side ( Maka kami akan membereskan bagian sini )”
“Lo ikut kami atau ikut Lucca, Wa?”
“Biar adil, gue temani Lucca!”
“Tolong bukakan Ka”
“Aku bisa membuka pintu yang itu, tapi pintu ini hanya dia yang punya aksesnya, selain para tamu ‘spesial’ di dalam”
Poppa segera menoleh pada Dilara.
“Buka!”
Namun Dilara bergeming dan malah menyungging miring.
“Berikan dulu anak gadisku! Aku mau melihatnya jika memang dia ada disini”
Dengan nampak berani Dilara seolah menantang, setelah anak buah para Hot Daddies yang memegangi perempuan itu mendorongnya dengan kasar hingga mendekati kotak kecil di dinding samping pintu dekat Papa Lucca berdiri.
DEZIING!!
“ARGHHH!!!”
“BU!”
“Aku tidak segan melubangi setiap bagian di tubuhmu jika kau banyak tingkah”
Itu Poppa yang melepaskan satu pelurunya ke lengan Dilara dengan entengnya berikut matanya yang menyorot
tajam meski suara Poppa terdengar datar.
“Ku hitung sampai lima, jika tidak ku tambahkan satu lubang lagi, tapi tidak akan sampai mati” Sambung Poppa.
“Setidaknya kau tidak akan ku biarkan mati sebelum kubuat kau menderita melihat apa yang akan aku lakukan pada anakmu, setelah kau mengancam keselamatan kedua putri kami, dan menyebabkan satu putriku terluka”
“Kalian akan mati sebentar lagi!. Jika kalian menyabotase acara pelelangan, mereka yang berada di ‘Special Room’ akan segera keluar berikut para pengawalnya. Kalian tidak tahu saja siapa orang ....”
DEZIING!!
DEZIING!!
DEZIING!!
DEZIING!!
DEZIING!!
Lima letusan peluru dimuntahkan oleh Daddy R dari pistolnya, seiring dengan tubuh Lais yang bergetar sebelum ambruk perlahan karena mendapat tembakan beruntun dari Daddy R.
“Banyak bicara....” Ucap Daddy R dengan santainya.
“LAIISS!!...” Dilara langsung histeris sembari juga meringis menahan sakit akibat luka tembakan di lengannya.
“Bawa anak gadisnya kesini Khai!” Seru Daddy R dan sahutan di saluran telekomunikasi pun terdengar. “Aku sudah tak sabar membuat pe**cur tua ini merasakan perasaan para orang tua yang kehilangan anak – anak mereka karena perbuatan nistanya dan sindikatnya”
***
“STELLA!!” Dilara spontan berteriak setelah ia membukakan pintu yang diinginkan oleh Papa Lucca masuki dengan kode akses yang hanya dimiliki oleh orang – orang tertentu saja. Dilara mencoba mendekati seorang gadis muda yang dipanggul oleh salah seorang bertubuh besar dan berwajah sangar.
Pintu masuk ‘Spesial’ itu pun tertutup otomatis setelah Papa Lucca, Daddy Dewa dan mereka yang menyertai keduanya sudah masuk semua. Tidak terdengar apa – apa dari dalam, setelah pintu tersebut tertutup lagi. Sepertinya juga, ruangan dibalik pintu tersebut dibuat kedap suara.
“STELLAAA!!!..”
Dilara semakin histeris karena tubuhnya ditahan dengan kuat oleh dua anak buah dari empat Hot Daddies itu.
Namun gadis muda yang memang adalah anak gadis semata wayangnya Dilara itu, nampak hanya menengok lemah pada Dilara dengan wajah yang nampak tak berdaya, berikut tubuhnya yang nampak lemas.
Anak gadis Dilara langsung dibawa masuk ke dalam ruangan yang berada dibalik pintu dekat Poppa dan Daddy R
berada.
“STELLAAA!!!..”
“BEKAP MULUTNYA!” Perintah Poppa. “Pastikan dia duduk dengan tenang saat aku membuka harga untuk anaknya nanti”
“JANNGGAAAANNNN!!!! ..”
Dilara dilumpuhkan dan mulutnya kemudian disumpal, serta ikatan ditangannya pun ditambah. Namun Dilara tetap dibuat sadar.
Dilara sudah menangis saat ini, namun hanya terdengar lirihan dan air matanya yang tumpah kian deras.
Kemudian Kafeel yang tadi mengarahkan anak buah para Om nya itu dan salah satunya yang membawa anak gadis Dilara untuk masuk melalui pintu akses panggung lelang, kini sudah kembali mendekati dua omnya yang sudah berdiri di depan satu pintu pembatas lagi.
Omar dan beberapa anak buah mereka yang lain berdiri dibelakang Poppa dan Daddy R yang sudah siap masuk.
Sisanya, membawa diri mereka masing – masing ke tempat tersembunyi untuk bersiaga, jika keadaan menjadi penuh ketegangan nantinya. Sekaligus melindungi Tuan – Tuan mereka tentunya.
“Alright, let’s finish everything! ( Baiklah ayo selesaikan semuanya! )”
“Keluarkan semua yang kiranya adalah 'korban' dari sini. Jika ada perlawanan dari para ‘tamu’ nanti, sweeping
saja sampai mati”
***
__ADS_1
To be continue ..