THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 15


__ADS_3

😘 BULE KOPLAK NGESELIN!😘


***


Selamat membaca.....


“Lo dengerin gue ya Kak, lo ga ada hak memperlakukan gue kayak gini!.” Prita berkata tajam pada John sudah


menjauhkan dirinya dan John dari Tristan. “Lo, bukan siapa – siapa gue! Ngerti lo?!.”


“I don’t care! ( Aku ga perduli! ).” John mencondongkan wajahnya pada Prita. “Kamu, ikut Kak John pulang sekarang!.”


“Gue ga mau!. Mendingan lo aja sana yang pulang.” Prita berbalik.


“Oke!.” Sahut John. “Have fun with him ( Bersenang – senanglah bersama dia ) ... Tapi....”


Prita menghentikan langkahnya, John setengah berbalik.


“Tapi jangan salahkan Kak John, kalau sampai Papa dan Mama tahu kelakuan anak bungsunya yang suka main ke


Club malam.”


*****


John sudah berada dibelakang kemudi mobilnya. Ia memasang wajah datar dan nampak fokus dibelakang kemudi,


namun dalam hati dia tertawa puas.


Ancamannya pada Prita tadi, sukses membuat gadis itu pada akhirnya ikut dengannya.


*****


Flash back on


“Tapi jangan salahkan Kak John, kalau sampai Papa dan Mama tahu kelakuan anak bungsunya yang suka main ke


Club.”


“Lo ngancem gue?.”


“...”


“Kak!.”


“...”


“Kak John tunggu!.”


“Hem?.”


“Oke, gue ikut lo pulang. Tapi gue pamit dulu sama Pa-Car gue itu!.”


“Dua menit.”


“Gila ya lo?!.”


“Mulai dari sekarang.”


Tiit..... bunyi alat penghitung dijam tangan terdengar.


“Ngeselin!.”



“Udah ayo!.”


Flash back off


******


“Ini bukan jalanan menuju rumah Dad dan Mom ataupun rumah Papa Mama.”


“Memang bukan.”


“Lo udah nge-rusak acara gue makan malem romantis gue tadi, bukannya lo ngotot ngajak gue pulang?!.”


Cerocos Prita yang sedang dalam mode kesal setengah mati.


‘Gara – gara dia gue gagal dapet pacar!.’ Batin Prita. ‘Tuh cowo baru mau nembak gue kayaknya, tapi ini sibule koplak keburu nge-rusak semuanya, lagian tau dari mana sih gue ada disana tadi?! Aarrrgh.... sialan emang!.’ Masih ngomel dalam hati. ‘T’rus ini dia mau bawa gue kemana pula?.’ Bertanya sendiri.


“Kak John lapar.”


John sudah menghentikan mobilnya didepan lobi sebuah hotel bintang lima di Jakarta. Dan seorang petugas Vallet menghampiri mobil John.


“Kalo laper ke restoran! Bukan ke Hotel!. Lagian dirumah juga bisa makan!.” Ucap Prita dengan sangat ketus.


“Kalo di hotel kan bisa makan kamu.” Ucap John datar.


“Apa?! ....”


**


Perlahan John keluar dari dari mobilnya.


“Ayo.”


Membukakan pintu mobil disamping Prita, dan gadis itu bergeming.

__ADS_1


“Ayo ....” John kembali bersuara. “Kamu belum makan juga kan?.”


“Gue ga mau!.” Sahut Prita masih duduk dan ia mensedekapkan tangannya.


“Kak John hitung sampai tiga, kalau ga bergerak Kak John gendong.” John menundukkan tubuhnya, dan kini wajahnya sudah tepat berada didepan wajah Prita.


Deg!.


“Satu.” John mulai menghitung. “Dua.”


“Iya iya! Gue turun!. Awas dulu elonya!.” Ucap Prita yang takut digendong oleh John dan ga tahan dipandangi dari jarak super dekat oleh laki – laki itu.


John mengeluarkan lagi tubuhnya yang setengah tadi ia tundukkan itu. Ia kembali berdiri tegak dan menyeringai jahil nan puas keknya tanpa dilihat Prita.


“Dah nih, puas lo?!.” Prita keluar dari mobil dan berucap ketus setengah melotot pada John yang kemudian langsung menutup pintu mobil.


“Ayo.” John menyodorkan setengah lengannya agar Prita melingkarkan tangannya disana. Dan petugas Vallet tadi mengambil alih mobil John untuk diparkirkan.


“Ngapain gue mesti gandeng – gandeng lo!. Jalan aja duluan!.” Lagi – lagi Prita bicara dengan ketus.


John tak merubah posisi tangannya. “Lingkarkan tangan kamu disini.” Ucap John dengan nada bicara yang biasa.


“Ogah!. Ntar disangka gue cabe – cabean yang mau cek in sama langganan!.” Sahut Prita.


“Taruh tangan kamu disini, atau Kak John gendong.”


‘Ish ni orang....’


Batin Prita menggerutu, tapi pada akhirnya dia melakukan juga apa yang John suruh. Melingkarkan satu tangannya disela lengan John.


Lagi – lagi John menyunggingkan satu bibirnya keatas. Batinnya tersenyum lebar.


***


“Kenapa duduk disitu?.” Ucap John saat ia sudah membawa Prita kedalam salah satu restoran Italia didalam hotel tersebut.


Prita diam saja, tak menyahut. Gadis itu sedang menahan dongkolnya.


“Prita....”


“Gue mau duduk dimana itu urusan gue.”


John menarik satu sudut bibirnya lagi. “Ya sudah.”


“Ih, apaan sih lo?.” Protes Prita yang sedikit terkejut karena John pindah untuk duduk disampingnya.


“Buonasera Signore John, Signorina .. ( Selamat malam, Tuan John, Nona ).”


Seorang pelayan menyapa John dan Prita dengan ramah.


 “Si Signore ( Iya Tuan ).”


“Tell him to make me my favorite food ( Bilang padanya untuk membuatkan makanan favoritku ).” Ucap John dengan Bahasa Inggris.


“Ce n'è un altro? ( Apa ada yang lain lagi? ).”


“Kamu mau pesan apa Prita?.” Tanya John pada Prita.


“Gue ga laper.”


“Due porzioni per il mio ordine prima ( Dua porsi untuk makanan yang ku pesan tadi ).”


‘Wuih jago.’ Batin Prita takjub pada sibule koplak disela dongkolnya.


“Si Signore ( Baik Tuan ). Mi scusi ( Permisi ).”


"Biasa aja ngeliatinnya.” John menoleh pada Prita yang sedang menatapnya itu.


“Pede!.” Prita membuang pandangannya, John terkekeh. Keduanya saling diam, hingga makanan yang dipesan John datang dan Chefnya sendiri yang menyajikan nya pada John dan Prita.


“Mau pesan lagi?.” Tanya John pada Prita saat ia sudah menghabiskan makanannya. Prita menggeleng. “Ya sudah ayo kita pulang.” John mengangkat tangannya pada pelayan dan kemudian meminta bill dan beranjak setelah selesai.


“Apaan?.” Prita menatap John yang sudah berdiri namun belum bergerak berjalan.


“Ga lihat tangan Kak John.” Ucap John sambil melirik kearah lengannya yang sudah diposisikan seperti saat pertama ia dan Prita datang.


“Ogah!.” Prita menolak.


“Satu.” John berucap.


“Ish!.” Prita mendengus kesal, tapi dia akhirnya melingkarkan tangannya dilengan John. “Lo nih, ya. Orang – orang yang ngeliat gelendotan begini sama lo, pasti mereka ngira gue ini sugar baby lo, tau ga?!.”


Prita setengah berbisik dengan ketus. Namun John malah me-nyunggging-kan senyum nya.


‘Eh?.’ Prita terkejut karena John melepaskan tangan Prita yang melingkar dilengannya namun kini ia merangkul pinggang si Priwitan. “Lo apaan sih?.”


“Kalau sugar baby harusnya dirangkul seperti ini kan?.”


“Lo nih ya!!!.....” Geram Prita pelan. ‘Pengen gue cekek rasanya ini om – om.’


‘Hahaha.’ John tak menjawab protes Prita dan tetap berjalan.


**


“Kak! Udah ya cukup!.” Prita menatap John dengan intens dengan wajahnya tidak senangnya, saat John sudah melajukan mobilnya.


“Untuk?.” Jawab John santai.

__ADS_1


“Untuk apa lo bilang?!.” Sahut Prita ketus. “Ya untuk apa yang lo udah lakukan malam ini!.”


“Kenapa?.” John masih santai menanggapi.


“Kenapa lo bilang?!. Lo udah menghancurkan acara gue bareng Tristan malam ini, dan lo udah bikin gue malu di cloud tadi!. Masih lo tanya kenapa?!.” Prita mengeluarkan unek – uneknya.


Namun John tak menyahut. Prita mendengus kesal.


“Kak! Lo denger ga yang gue bilang?!.”


“Dengar.” Sahut John masih santai sembari mengemudi.


“Mau lo apa sih?!. Hah?!.”Prita spontan menoyor lengan John, membuat laki – laki itu menoleh.


“Kamu tanya mau Kak John apa?.”


“Iya apa?!.”


“Kamu berhenti bersikap seperti ini sama Kak John!.” Suara John meninggi. Ia mencari tempat untuk menepikan mobilnya.


“Emang sikap gue kayak apa sama lo?. Biasa aja kan?!.”


“Biasa?!. Sikap kamu yang se-ketus ini sama Kak John, kamu bilang biasa?!.”


Prita VS John.


“Ini udah sikap gue yang paling biasa ya sama lo!.”


“Bisa kamu turunkan nada bicara kamu?.”


“Kenapa lo ga suka?! JANGAN NGOMONG SAMA GUE!.”


“Kak John bilang turunkan nada bicara kamu!.” Suara John ikut meninggi sambil menatap tajam pada Prita yang nampak kaget mendengar John seperti membentaknya. “Bisa?. Bicara dengan nada yang biasa?.”


Prita tak menjawab. Ia membuang pandangannya. Matanya sudah berkaca – kaca. John menghela nafasnya.


“Hobi lo ngebentak gue, belom ilang juga ternyata.”


“Prita bukan begitu maksud Kak John, sorry, Kak John ga ada maksud membentak kamu tadi.”


“Mau lo apa?.”


Prita berkata lirih sambil mengusap kasar sebulir air mata dipipinya. John memperhatikannya.


“Kak John tahu kalau Kak John udah salah waktu itu karena membentak kamu, menjudge kamu, membuat kamu merasa dipermalukan saat itu. Kak John hanya ingin minta maaf Prita ....”


John membelai kepala Prita yang membuang pandangannya ke arah luar jendela mobil disampingnya.


“Basi.” Sahut Prita. Ketus, tapi pelan.


“Ya karena kamu ga pernah memberikan Kak John kesempatan untuk meminta maaf.” Ucap John. “Hampir dua tahun Prita, kamu acuhkan Kak John. Memusuhi lebih tepatnya. Jangankan meminta maaf secara langsung, kamu bahkan memblok Kak John dari semua akses komunikasi, menghindari Kak John, seolah – olah Kak John ini musuh terburuk kamu.”


“Gue sakit hati lo tau ga?!.”


“Iya Prita, Kak John tahu Prita sakit hati sama Kak John.” Ucap John yang kini meraih kedua lengan Prita dan membuat mereka saling berhadapan. “Hampir dua tahun Kak John mengejar maaf kamu. Kamu tahu ga perasaan Kak John kayak apa, hem?. Kak John hanya mau minta maaf. Itu saja.”


Prita membuang pandangannya. Sebulir air matanya turun lagi dan ia langsung menghapusnya.


“Maafin Kak John ya?.” Ucap John sembari mengusap pipi Prita yang sedikit basah itu.


“Udah gue maafin dari kapan tau.”


“Nah terus kenapa memusuhi Kak John sampai selama itu?.”


“Karena kesel gue belom ilang!.” Ucap Prita menatap John kini dengan suara dan wajah ketusnya.


Dada Prita nampak naik turun menahan kesal.


“Ya udah Kak John harus gimana, biar kesal kamu hilang selama hampir dua tahun ini hilang, hem?.” Sahut John dengan tersenyum.


“Tau!.” Timpal Prita ketus membuang lagi pandangannya. ‘Sialan, pake senyum kek gitu segala. Rasa pengen gue sosor!.’ Batin Prita bermonolog.


“Mau Kak John cium?.”


“Jangan macem – macem lo!.”


Prita mendelik lalu menyandarkan dirinya dengan kasar di sandaran jok yang sedang ia duduki.


“Hahahaha.” Si John malah tergelak.


“Pulang!.” Perintah Prita sambil mensedekapkan tangannya.


“Iya, iya Nona Muda.” John menstarter kembali mobilnya. “Baikan dulu kalau gitu dong.” John meyodorkan tangannya untuk berjabat. Prita berdecak.


“Norak!.”


“Salaman dulu dong biar afdol baikan nya.” Ucap John.


“Jangan ge-er lo. Yang bilang gue mau baikan sama lo, siapa?.”


“Ya sudah, kalau cium mau?.” John memainkan alisnya.


“Ih Najis!.” Prita meliriknya sinis. ‘Bule koplak ngeselin bikin hati gue deg – deg – an. Mau si kalo dicium mah.’


**


To be continue....

__ADS_1


__ADS_2