THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 213


__ADS_3

Dear All, sebelum ada komen yang nanya kenape beberapa episode belakangan, sekarang atau kedepan banyakan ceritanya si Rojali sama Juleha. Ya, untuk sementara dinikmatin aja dulu ye, otak emak isinya masih soal si Rojali ama Juleha, belum move on chemistry tentang cerita yang laen.


Mungkin nanti ditengah - tengah ada selipan, yah kaga tau juga. Kalean paham pan emak suka membawa hil - hil yang diluar dugaan.


Gitu aje deh yak, sekilas inpoh


*Enjoy ...*


✴ KEPUTUSAN* ✴


♠♠♠♠♠♠♠♠♠♠♠♠♠♠


Selamat membaca ...*


 


“Sini duduk di sampingku. Akan ku ceritakan tentang senja yang sedang malu. Saat ku tuliskan bahwa pesona terindah adalah kamu.” @AqsyaSakir


***


Varen sedang memandangi makhluk indah ciptaan Tuhan pemilik hatinya. Sumber kebahagiaannya.


“Abang...”


“Heemm?.”


Andrea dan Varen sedang duduk berdua di teras halaman belakang Kediaman Utama. Keluarga mereka memutuskan untuk langsung kembali ke rumah selepas acara Ulang Tahun ke tujuh belas Andrea sekaligus pesta pertunangan Andrea dan Varen.


Hari tengah hujan, tidak deras cukup bikin adem.


“Kenapa Abang terpikir untuk melamar Drea secepat ini?.”


“Karena Abang cinta, karena Abang ingin.”


“Hummmm”


“Drea kan sudah dengar dan lihat di rekaman video yang terputar semalam?. Tujuh belas tahun sudah cukup bagi Abang menunggu Drea. Kenapa bertanya lagi?. Drea ragu?.”


Varen menghadapkan Andrea padanya. Andrea menggeleng tanpa berpikir dua kali. Membuat Varen menghela nafasnya pelan. “Drea hanya penasaran. Ingin dengar langsung dari mulut Abang.”


“Tanyalah kalau begitu, apa yang mau Drea tanyakan. Jangan ada lagi yang mengganjal dihati Drea, agar kedepannya Drea tidak lagi meragukan Abang.”


“Oke. Drea ajukan beberapa pertanyaan, Abang jawab dengan jujur ya?.”


“Okay!.”


“Kenapa bisa jatuh cinta sama Drea?.”


“Kenapa bumi butuh matahari sementara matahari bisa membakar bumi?.”


“Dih, Abang orang Drea tanya kenapa Abang jatuh cinta sama Drea, malah balik tanya soal fisika.”


Varen terkekeh.


“Ya jawab itu dulu pertanyaan Abang, kalau Drea bisa jawab, akan Abang jawab pertanyaan Drea.”


“Ummm ..” Andrea nampak berpikir sejenak sambil memainkan bibirnya ke kiri dan ke kanan, dengan telunjuknya mengetuk dagu serta bola mata Andrea yang memandang kearah langit – langit, membuat si Abang terkekeh pelan karena ekspresi lucu yang nampak di wajah Andrea saat ini. “Ga tahu! Pertanyaan Abang susah.”


“Ya seperti itu juga. Alasan Abang jatuh cinta pada Drea. Susah dilukiskan dengan kata – kata. Tak bisa Abang jabarkan hanya bisa Abang rasa, seperti halnya darah yang mengalir didalam tubuh Abang.”


“Abang iiih!.”


Andrea menoel dagu Varen. Yang orangnya terkekeh geli saat Andrea menggodanya dengan kalimat:


“Puitis banget Bebeb Alva.”


“Varen.”


“Alvarend kan lengkapnya, nama Anda Tuaan?... Boleh dong kalau Drea panggil Abang, Bebeb Alva?.”


“Terserah kamu deh, Little Star .. asal kamu bahagia!.”


Varen menggoyangkan gemas kepala Andrea yang orangnya nyengir kuda lalu tersenyum manis tak lama kemudian.


Senyum yang selalu membuat dada si Abang bergemuruh setiap kali senyuman menggemaskan itu Andrea tunjukkan padanya. Padahal Andrea hanya tersenyum saja. Varen bisa merasa sangat bahagia. Jangankan tersenyum dengan manisnya, toh Abang bilang waktu meminta Andrea pada Poppa dan Momma kan, hanya


melihat Andrea bernafas saja Varen juga sudah sangat bahagia.


“Ayo ah Abang.” Ajak Andrea yang kemudian berdiri sambil meraih tangan Varen


“Ayo apa?.” Varen balik bertanya pada Andrea.


“Ayo kedalam. Tambah deras hujannya, Drea takut kalau ada petir sedang diluar begini.”


“Oh ..”


Jawaban Varen menyiratkan sesuatu. Maklum efek ujan. Ehem.


“Yuk.” Abang merengkuh pundak Andrea yang kemudian bergelayut manja padanya. Dan satu kecupan Varen layangkan ke pipi Andrea. Mengumbar kemesraan, tak lagi menahan rasa untuk bersikap mesra pada Andrea.


Desir saat Andrea berlaku manja saat ini sudah semakin sering membuat jantung Varen kebut – kebutan. Dulu, ia selalu senang jika Andrea bermanja dengannya, menahan diri dalam bersikap sebagaimana Abang untuk Andrea.


Kini tidak perlu lagi, mesranya Andrea padanya adalah salah satu alasan Varen untuk selalu mengurai senyumnya. Manjanya Andrea akan selalu ditunggunya. Lalu Varen akan mendekapnya, mendaratkan kecupan di area wajah Andrea jika nanti Andrea membuatnya gemas. Tak perduli jika nanti ia dibilang berlebihan.


Masa bodoh jika nanti ia akan jadi bulan – bulanan ledekan keluarganya.


Bagi Varen, Andrea adalah segalanya. Hanya tinggal selangkah lagi lalu Andrea akan benar – benar menjadi miliknya. Bisa selalu bersama, tanpa lagi mengurai rindu karena harus berjauhan.


“Abang kapan kembali ke Massachusetts?.”


“Mungkin dalam minggu – minggu depan. Kenapa, hem?.”

__ADS_1


“Ga apa – apa tanya aja.”


“Drea keberatan?.”


“Engga, sama sekali engga.”


“Jaga hati Drea buat Abang, sebagaimana Abang jaga hati Abang untuk Drea selama ini.” Ucap Varen.


“Iya Abang. Mudahan kita memang jodoh ya.”


“Kenapa Drea bicara begitu?.”


“Ya kan maut, rezeki dan jodoh ga ada yang tahu Abang.” Sahut Andrea. “Kita memang saling mencintai kan, Bang. Tapi kan bisa saja kita tidak berjodoh. Entah apa yang ada dihari esok, kan?.”


“Abang ga suka Drea bicara seperti itu.”


“Yah, hati manusia kan ga ada yang tahu Abang. Siapa tahu, Abang tiba – tiba menemukan orang lain yang bisa mengikis perasaan Abang ke Drea, atau sebaliknya.”


Varen tak menyahut. Namun kalimat Andrea barusan membuat pikiran Abang terombang – ambing, sedikit tak stabil.


"Drea mau makan Waffle buatan Abang deh!."


Varen tersenyum tipis dan mengangguk.


***


Seluruh keluarga sudah keluar satu persatu dari kamar mereka, hujannya awet hari ini, berhenti sebentar lalu turun lagi.


Biarlah, toh masih cape, habis pesta. Jadi berkumpul di rumah saja sebelum besok dan beberapa hari kedepan beberapa anggota keluarga akan kembali ke tempatnya masing – masing. Ake dan Ene akan kembali ke Bekasi, yang berdomisili di London pun akan kembali ke sana.


“Apa kita perlu membuat pesta pertunangan kalian lagi di London?.”


Mommy Ara bersuara, menoleh pada Varen dan Andrea.


Tuk!


Papi John melempar sebutir kacang Almond pada Varen yang kemudian terhenyak.


“Apa?.” Tanya Varen menatap pada Papi.


“Mikirin apa sih?. Kerjaan?. Kantor lama ditinggal?.”


“Bukan apa – apa. Tadi tanya apa?.”


“Mau buat pesta pertunangan lagi ga di London?.”


“Terserah Drea.”


Varen menyahut.


“Ga usah lah, kalau menurut aku sih. Buang – buang uang.”


“Tunanganmu itu kaya. Jangan sia – siakan uangnya.”


Varen hanya terkekeh.


“Aku mau ambil salad, ada yang mau?.”


Andrea kemudian berdiri dari tempatnya duduk.


“Boleh dong Drea, ambilkan juga untuk Mama dan Daddy Jeff ya?.”


“Oke Mam!.”


***


“What is it Fab?. (Kenapa Fab?).” Mommy Ichel menegur Fabiana yang sedang berdiri sambil menyiapkan cemilan untuk semua didalam bar mini di ruang santai keluarga.


“Nothing. Just watching Varen, like he’s thinking about something. (Ga kenapa – kenapa. Hanya memperhatikan Varen, sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu).” Sahut Fabiana yang memang masih berada di Jakarta dan akan kembali ke London nanti bersama Fania dan Andrew serta lainnya yang berdomisili di kota asap itu.


“I guess you were right. (Sepertinya kamu benar).”


Mommy Ichel manggut – manggut.


‘Dari tadi juga aku perhatikan, Abang sepertinya sering melamun saat diajak bicara.’


***


Hari beranjak malam.....


“Drea tidur duluan ya?. Ngantuk.”


Andrea berdiri dari tempatnya sambil menguap dan mereka yang masih duduk didekatnya menganggukkan kepala.


Andrea dan Varen sedang bersama para Mommies dan Daddies, juga Nathan yang nampak berleha – leha dengan


konsol game ditangannya, sedang bermain bersama Daddy R.


“Drea duluaan.. nitey nite all..”


“Nitey nite ..”


***


Varen melirik ke lantai atas. Dan berkata setelah ia merasa yakin kalau Andrea sudah masuk ke kamarnya.


“Aku ingin bicara.”


“Bicaralah.”


“Aku ingin menetapkan pernikahanku dengan Andrea.”

__ADS_1


“Memang kalian sudah membicarakannya?.”


“Belum. Keinginanku. Setelah aku bicarakan ini dengan kalian, baru aku akan bicara pada Andrea.”


Varen menghela nafasnya, menatap satu persatu para Mommies dan Daddies nya, karena para kakek dan nenek


sudah kembali ke kamar mereka. Lalu pandangan Varen terhenti pada Poppa dan Momma.


“Aku akan menikahi Andrea, saat ia lulus sekolah nanti.”


“APA?!.”


“WHAT?!.”


Para Daddies dan Mommies sontak saja kaget berjamaah, termasuk Papa Lucca dan Mama Fabi yang memang mengerti Bahasa hanya tidak terbiasa mengucapkannya.


‘Ah gila si Abang!.’


Nathan membatin, ia pun terkaget sama seperti Mommies dan Daddies saat mendengar ucapan si Abang yang sedang menatap Poppa dan Momma dengan serius.


“Apa kamu sedang mabuk?.” Celetuk Poppa.


“Apa kalian pernah melihatku menyentuh minuman keras?.”


“Are you out of your mind? (Apa kamu sudah gila?).”


Daddy R melotot padanya.


“Satu juta persen bahkan lebih, waras.” Jawab Abang datar.


“Abang, Drea itu baru tujuh belas tahun saat lulus nanti.”


“Ya, aku tahu itu.” Jawab Abang pada ucapan Momma.


“Paling tidak, kamu harus menunggu setidaknya Andrea berusia delapan atau sembilan belas tahun.”


Daddy R berdiri dihadapan Varen yang kemudian mendongak menatapnya.


“Hey, Tuan Muda. Aku menikahi Momma saat dia berusia dua puluh tahun bahkan.”


“Itu terlalu lama. Aku tak mau.”


“Tapi Andrea kan mau kuliah Abang, apa kamu tidak akan membiarkan Drea kuliah?.”


Mommy Ara ikut bersuara.


“Aku tidak pernah bilang akan melarang Andrea untuk kuliah, atau melakukan segala hal yang ingin ia


lakukan. Momma kuliah setelah menikah dengan Poppa kan, lalu apa bedanya?. Aku akan membiarkan Andrea kuliah saat kami sudah menikah nanti. Kalian bisa pegang kata – kataku.”


Daddy R menatap gemas pada anaknya yang berekspresi datar namun ya, ia nampak serius dengan setiap


ucapannya. “Entah apa yang sedang mengganggu pikiranmu. Tapi lebih baik kamu pikirkan lagi soal rencana gila mu itu. Andrea itu punya hak atas masa depannya Tuan Alvarend Aditama Smith. Apa sudah juga kamu memikirkan itu?”


“Keputusanku sudah bulat Dad.”


Varen berdiri lalu memberikan tatapan sungguh – sungguh pada sang Daddy.


“Look Boy (Dengar Nak), kamu tahu aku selalu mendukungmu tentang apapun itu. Bukan aku ingin menghalangimu


menikahi putriku. Tapi Daddy mu benar, pikirkan lagi. Andrea baru tujuh belas tahun, Abang. Kamu sendiri yang akan kerepotan jika menikahi Andrea yang masih berusia belia. Kita semua tahu dia masih terkadang bersikap kekanak – kanakan.”


Varen hembuskan nafas pelan.


“Aku tidak pernah mempermasalahkan sikap kekanak – kanakan Andrea, Poppa. Apa aku pernah protes?. Aku akan menikahi Andrea saat dia lulus nanti, dan itu sudah menjadi keputusanku.”


“Wah wah, coba lihat dia Mommy Ara. Kurasa anak kita ini sudah gila.”


“Karena menikahi gadis belia?. Umurku dan Andrea tak sampai terpaut sepuluh tahun juga. Tujuh belas tahun sudah dianggap dewasa. Bahkan ada yang menikah dibawah itu.”


“Ya memang ada. Tapi kamu akan menghalangi masa depannya Andrea. Biarkan dia meraih cita – citanya terlebih dahulu. Setidaknya tunggu hingga ia kuliah .” Daddy R gemas sekaligus ngotot menghadapi sikap putra sulungnya yang saat ini begitu keras kepala.


“Aku tidak akan menghalangi masa depannya Little Star, Dad. Karena akulah masa depannya.”


“Hish! Benar – benar ini anak!.”


Daddy R sampai menghela nafas lalu geleng – geleng, sementara Poppa memijat pelipisnya. Sisanya saling


tatap, tersenyum tipis sambil menggerakkan kepala mereka.


“Dia akan meraih cita – citanya bersamaku. Akan ku pastikan itu.” Varen berkata lagi.


“Kalian tolong berikan pengertian padanya.”


Daddy R sepertinya habis kata. Ia pun sampai mendengus frustasi. Daddy R terlihat lebih gusar pada keputusan Varen yang ingin menikahi Andrea yang mungkin hanya hitungan bulan. Poppa meletakkan satu tangannya dipinggang dan satu tangannya mengusap sedikit kasar wajahnya. Lalu mengusap kepalanya yang licin maksimal sejak dulu itu.


“Terserah jika kalian menganggapku gila. Tapi ya anggap saja begitu. Aku gila, karena aku tidak ingin ada secuil resiko kehilangan Andrea.”


“Abang..”


“Jika kalian tetap menghadang jalanku, maka akan ku tunjukkan seberapa jauh yang bisa ku lakukan, seberapa gilanya aku.”


Varen mulai melangkahkan kakinya, hendak pergi dari tempatnya berada sekarang.


“Kalian harus menyetujui keputusanku untuk menikahi Andrea saat ia lulus nanti.”


Varen menoleh dengan santainya ketempat para Daddies dan Mommiesnya berada setelah sampai didekat tangga dengan raut wajah yang tetap datar, nampak tenang.


“Karena jika tidak, akan ku hamili Andrea.”


“W!$%^(_@%^!!”

__ADS_1


**


To be continue..


__ADS_2