
Jempol dikondisikan dulu (ehem) sebelum sekerol kebawah ye
***********************************************************************
BITTER, BUT HAVE TO FEEL IT
(Pahit, Tapi Tetap Harus Merasakannya)
Selamat membaca..
*******************
“Istrinya sedang hamil.. tapi.. ada hal yang membuatnya mengambil keputusan untuk mengangkat janin dari perut istrinya, tanpa istrinya ketahui..”
“Hah?!”
“Iya itu karena ..”
“Kok bisa sih dia setega itu pada istri dan calon anaknya? ..”
“Tapi tetap saja itu ga adil tahu Bang, untuk istri dan calon bayi mereka itu”
“Iya memang, tapi..”
“Drea ga kebayang kalau itu Drea deh..”
“Little Star..”
“Oh iya Abang, meskipun kondisi Drea belum pulih tapi Drea masih boleh berenang kan? Atau berkuda, yah apalah gitu. Sama kuliah juga?”
“Kalau berenang masih boleh. Berkuda atau olahraga yang terlalu memporsir tenaga kamu jangan dulu. Kuliah cuti dulu”
Varen memilih untuk tidak melanjutkan pembahasan dari topik yang sebelumnya, karena Andrea sudah mengalihkan topik pembicaraan mereka.
“Berarti olahraga ranjang termasuk dong ya , yang tidak boleh? Kan itu cukup memporsir tenaga Drea?” Andrea terkekeh.
Varen menyunggingkan senyumnya saja.
*****
Andrea dan Varen langsung kembali ke Kediaman selepas dari Rumah Sakit.
Andrea tertawa kecil saat Varen sudah memposisikan dirinya untuk menggendong belakang Andrea.
Namun Andrea tak memberi penolakan untuk digendong belakang oleh Varen seperti yang seringnya si Abang lakukan bahkan sejak Andrea masih kecil.
**
Hanya ada beberapa orang anggota keluarga dalam Kediaman Utama Keluarga Adjieran Smith saat Varen dan
Andrea kembali dari Rumah Sakit.
“Bagaimana hasil pemeriksaan Little Star?” Daddy Dewa yang berpapasan dengan Varen dan Andrea saat ia nampak hendak keluar dari dalam Kediaman itu langsung bertanya pada keduanya.
“So far so good (Sejauh ini baik), Dad” Sahut Varen.
“Daddy Boo – Boo mau kemana?” Tanya Andrea.
“Ada sedikit hal yang mau Dad urus”
“Heeemm...”
“Ya sudah. Dad pergi dulu ya?. Kalian langsung istirahat saja”
Andrea manggut – manggut. “Ya sudah deh”
Daddy Dewa tersenyum dan mengacak pelan rambut Andrea.
“Ada siapa didalam, Dad?”
“Grandpa’s and Grandma’s ada di teras belakang. Via dan beberapa Moms kalian juga ada”
“Okay Dad...” Sahut Andrea
“Ya sudah. Dad pergi dulu”
“Sebentar Dad” Tahan Varen pada Daddy Dewa. “Little Star”
Varen sedikit menoleh pada Andrea yang masih ia gendong belakang.
“Ya, Abang?...”
Andrea menyahut lembut.
“Kamu ke ruang santai dulu ya? Aku mau bicara sebentar dengan Daddy Boo - Boo”
“Iya, Abang”
***
Kegalauan mulai melanda Varen, kala dia dan Andrea sudah berpamitan untuk kembali ke kamar pribadi mereka.
Hati si Abang sedang sedikit berperang tentang pengungkapan sebuah kebenaran dan kejujuran.
Tadinya, si Abang sudah memantapkan hati dan diri untuk mengatakan pada Andrea mengenai kebenaran bahwa
Andrea pernah mengandung saat kondisi masih sangat tidak stabil setelah insiden penculikan nya oleh Dilara dan sindikatnya.
“Kok bisa sih dia setega itu pada istri dan calon anaknya? ..”
“Dia bukannya tega Little Star...”
“Tapi tetap saja itu ga adil tahu Bang, untuk istri dan calon bayi mereka itu”
“Iya memang, tapi..”
“Drea ga kebayang kalau itu Drea deh..”
Abang menghela dengan berat nafasnya.
****
Hidup itu harus didasari oleh kejujuran, terlebih lagi hidup berumah tangga, selain yang namanya cinta dan pengertian. Namun terkadang beberapa pertimbangan membuat jalan menuju kejujuran itu sulit adanya.
Tapi yah sesulit apapun, kalo yang namanya ingin berniat baik lewat suatu kejujuran, yaaa ... keraguan mesti ditepiskan terlebih dahulu tentunya.
Karena dalam suatu ikatan, apalagi hubungan suami istri selain komunikasi yang baik ya kejujuran dalam hal
apapun baiknya diutarakan.
Tapi mungkin kembali lagi kadang jujur itu sulit, kejujuran itu ada yang menyakitkan.
But better, daripada bohong, membohongi apalagi dibohongi.
Seyogyanya, tidak ada yang namanya bohong untuk kebaikan.
Bohong ya bohong aja, gitu kiranya.
Ingin menjalani hubungan pernikahan yang baik bersama gadis tercintanya, tanpa ada kebohongan apapun di
dalamnya.
Itu yang menjadi pertimbangan Varen saat ini.
Tentang satu hal yang kebanyakan sensitif dalam suatu pernikahan.
Anak!
Bukan karena perbedaan pendapat tentang ingin menunda memiliki momongan. Tapi tentang hal yang jauh lebih sensitif dari itu.
***
Varen sudah membulatkan tekad, seiring keputusan yang dia sudah ambil apapun resikonya. Andrea pasti akan terluka dan sedih, seperti yang dikatakan Poppa.
Tapi daripada disembunyikan dan pada akhirnya Andrea tahu entah dari mana dan dari siapa nantinya, Andrea
akan jauh lebih terluka, sedih dan kecewa atas kebohongan orang – orang disekelilingnya yang ia cintai dan ia percaya.
__ADS_1
Jadi lebih baik Varen ungkapkan saja kebenaran soal calon buah hati mereka yang Varen putuskan untuk keluarkan, sebelum janin itu berbentuk dan memiliki roh karena beberapa pertimbangan.
****
“Abaang....”
“Heem?...”
“Abang kalau mau mengurus sesuatu yang lain, pekerjaan atau apapun silahkan aja.... Drea ga akan apa – apa kok”
“Gampang itu Little Star....”
“Serius Abang, lihat nih Drea baik – baik kan?. Suhu tubuh Drea normal. Jadi kalau Abang mau mengurus
pekerjaan atau mungkin mau ke Perusahaan ya silahkan aja Abang. Drea juga mau santai – santai ini”
“Perusahaan stabil, lagipula Dads kita juga masih bisa menghandle ..... toh kita juga punya beberapa orang
kepercayaan yang kompeten dan dapat diandalkan. Lagipula aku sudah berjanji tidak akan meninggalkan kamu sendirian ....”
“Kan banyak orang disini, Abang ....”
“Iya memang ... tapi selama aku masih bisa berada disisi kamu ya lebih baik aku saja yang menemani kamu ...” Sahut Varen sembari menatap Andrea dang menyunggingkan senyum.
“Abang niiiihhh... selalu memikirkan Drea terlalu – lalu sampai kadang mengabaikan diri Abang sendiri. Lihat nih, wajah Abang sendiri sudah kelihatan lelah dan banyak pikiran”
“It’s because I Love You Little Star ... (Ini karena aku mencintaimu Little Star ...)”
“Dan Drea pun begitu!”
“Little Star....” Varen mengambil jeda. “Ada yang ingin aku katakan pada kamu....”
“Kalau Abang tidak bisa hidup tanpa Drea?. Drea juga sama kok!” Celoteh Andrea dan Varen terkekeh kecil. “Nah gitu, senyum kan cakep .... muka Abang tegang banget soalnya”
Varen tersenyum dan membawa Andrea untuk lebih dekat dengannya, mendekap Andrea sesaat.
“Abang mau bicara soal apa?”
“Anak ...”
“Maksud A- ...”
“Kita ...”
“Hu’um? ...”
Tanda tanya tergambar di wajah Andrea.
“Anak kita ....?”
“Iya ....” Varen mengangguk lesu sembari menghadapkan dirinya pada Andrea yang duduk di sofa panjang dalam
kamar mereka.
“Maksud Abang anak kita ....?.....”
“Calon anak kita lebih tepatnya ...”
“........”
“Kamu pernah hamil Little Star ...”
“A-apa???....” Andrea sontak terkejut.
“Iya”
Varen mengangguk dan tersenyum tipis.
“Ta-tapi....”
“Ya, kamu pernah hamil”
“Kok...”
“Saat kamu diculik, saat itu kamu sedang mengandung ....”
“Iya ..... pernah ....” Wajah Varen nampak semakin sendu, memandangi Andrea yang kemudian berkaca – kaca sembari menutup mulut dengan kedua tangannya. "Kamu pernah hamil"
“Per-pernah ..? .. mak-maksud Abang..”
Drea menjeda kalimatnya. Ia tertunduk memandangi perutnya sembari mengelus pelan disana.
“Pernah.. pernah ada?.. berarti.. sekarang .. sudah ga ada lagi?..” Andrea tergugu.
“Maaf .. aku..”
Varen tak melanjutkan ucapannya, karena satu tangan Andrea menutup mulutnya.
Andrea menyunggingkan senyumnya sembari tersenyum. “Berhenti menyalahkan diri Abang ..”
Andrea menatap Varen lekat-lekat.
“Kalau saja Drea tahu kalau saat itu Drea sedang hamil, Drea pasti akan tidak mau ceroboh..”
Menyusuri garis wajah Varen dengan tangannya.
“Kalau Drea tahu, Drea pasti akan melawan penjahat-penjahat itu dengan lebih berhati-hati..”
“Little Star ..”
“Bisa jadi Drea ga keguguran ..”
“Bukan begitu Little ..”
“Pantas saja Drea selalu bermimpi tentang seorang anak laki – laki yang mirip Abang”
“........”
“Ternyata dia pernah ada ya?. Ya sedikit banyak meskipun itu terjadi karena Dilara dan sindikatnya yang
menargetkan Drea dan Via, tapi setidaknya sekarang Drea paham ..”
Andrea menghela nafasnya sebentar. Sejumput penyesalan terdengar dari helaan nafas Andrea.
“Bayi itu .. Anak kita yang gugur itu .. sering membayangi Drea akhir – akhir ini, pasti mau mengingatkan betapa ceroboh dan bodoh ibunya ini sampai dia tidak bisa selamat pada akhirnya..”
“No! Bukan! Bukan seperti itu!”
Varen menggenggam erat tangan Andrea.
“Bukan salah kamu hingga calon bayi kita pergi!”
Varen menatap Andrea dengan pancaran rasa bersalah di kedua netranya.
“Tapi salahku ...”
Varen tertunduk lesu kemudian.
“Abang ..” Tangan Andrea terulur dan mengangkat wajah Varen dengan lembut agar berhadapan dengan wajahnya.
“Salahku, Little Star ..”
Andrea menggeleng. Ia tersenyum.
“Stop it, Abang ..”
“Kamu .. tidak keguguran Little Star..”
“Hm? ..”
“Janin di dalam perut kamu memang sudah gugur ..”
“........”
“Tapi .. bukan karena keguguran dengan .. dengan cara yang natural ..”
“Maksudnya?..” Andrea nampak bingung.
__ADS_1
“Ingat pembicaraan kita saat perjalanan kembali kesini?”
“Tentang..”
“Tentang rekan bisnis aku yang memutuskan untuk mengangkat janin, calon buah hati mereka dari perut istrinya..”
“........”
“Rekan bisnis yang aku katakan itu .. adalah aku sendiri..”
“Ap-a, Bang.....??”
“Iya itu aku, Little Star. Yang mengiyakan persetujuan untuk mengangkat janin di perut kamu ...”
Andrea geleng – geleng. Terbentuk senyuman dengan bibirnya yang terbuka, seolah tak percaya.
“Engga..... Abang bohong kan ....??? Abang sengaja kan? Agar Drea tidak menyalahkan diri Drea karena
kecerobohan Drea yang membuat diri Drea keguguran? ..... Abang ga mungkin setega itu kan ....? ...”
“Sayangnya itu benar Little Star ..... maaf, aku .....”
“Abaaaannnggg!....”
“Little Star ... dengarkan aku dulu....”
“Abang jahaaat! .....”
“Little Star ... mungkin aku jahat, tapi janin di perut kamu, calon bayi kita, memang tidak ada harapan sayang ...”
“Tega, Abang ya??!!!”
“Bukannya aku tega Little Star .....”
“Apa namanya kalau bukan tega menghilangkan sendiri darah daging Abang?!”
“Little Star ..... please dengarkan penjelasanku dulu .... kondisinya..... kondisi janin di perut kamu tidak memungkinkan untuk dipertahankan sayang .....”
“Tega banget Abaaaannnggg.....”
Andrea sudah meraung.
“Abang Tegaaaa!!!..”
Varen menggeleng.
“Bukan seperti itu Little Star!... Pilihannya ...”
“Cukup!!!!! ..” Andrea mengangkat dan mengarahkan satu telapak tangannya pada Varen.
“Dengarkan penjelasan aku dulu Little Star!!!! ... Setelah itu apapun penilaian kamu aku terima .....”
“........”
“Janin itu bisa lahir dengan kondisi yang memprihatinkan ...dia ..... calon bayi kita sangat beresiko memiliki cacat bawaan, Little Star ...”
“Jadi Abang malu?!”
“Bukan.....”
“Abang malu punya anak cacat, meskipun itu darah daging Abang sendiri, dari istri yang katanya Abang cintai sepenuh hati??? Heh???!!!!”
“Bukan seperti ....”
“BULLSHT*!”
“Little Star!!!....” Varen mencengkram bahu Andrea yang sudah nampak histeris itu.
“Sana!” Di dorongnya tubuh Varen dengan kasar oleh Andrea.
“Maaf Little Star .....”
“........”
“Aku mengambil keputusan itu bukan karena aku malu memiliki anak yang mempunyai kekurangan nantinya.. justru
aku takut, ji-ka kelak .... andai pun dia hidup dan bertahan ... dia akan hidup dalam penderita-an..... aku lebih ga te-ga kalau harus melihat anak kita hidup menderita nantinya... dan akan melihat kamu menangis setiap detiknya ... a-ku ga akan sanggup Little Star .....”
“Tapi kenapa harus begitu cepat Abang memutus-kaaan..... bahkan Drea ga dibiarkan untuk tahu walau hanya
sebentar saja .... kalau.... kalau ternyata Tuhan memberikan Drea kesempatan untuk bahagia mengetahui .... ada nyawa dari, - buah cinta kita Abaaaannngggggg....”
“Ma-af ..... maaf Little Star.....”
“Drea juga berhak Abaanng.....”
Andrea luruh. Terisak dengan sangat dan kini tertunduk lesu dengan tangan terbuka yang sedang ia tatap.
“Meski ... meski Drea ga diberi kesempatan untuk bisa membuai nya di tangan Drea, tapi setidaknya ... setidak-nya Drea bisa sedikit aja, bahagia ... tahu kalau Drea ternyata bisa mengandung, kalau ... Drea yang ceroboh ini ... Drea yang keras kepala ini ... Drea yang belum becus jadi istri ini .....”
“Don’t talk like that, please ... (Jangan bicara seperti itu, tolong)..”
“Drea yang selalu merepotkan Abang dan banyak orang di keluarga ini, bisa berbangga diri kalau ternyata Drea
pernah punya kesempatan untuk memberi Abang seorang keturunan .... Walaupun! Walaupun, hanya nyaris Abaaaang....”
“........”
“Tapi kenapa Abang sampai hati membuat Drea merasakan kebahagiaan yang meski hanya sesaat itu????!!! .....”
“For-give me ... (Ma-afkan aku ...)”
“Kenapa Abaaaannngggggg????! ...”
Tak ada lagi kata – kata yang keluar dari mulut Andrea yang sudah menutupi wajah dengan kedua tangannya
selain isakan yang sudah pecah keluar menjadi tangisan yang terdengar pilu dan menyesakkan dada si Abang.
Membawa Andrea yang tubuhnya sudah bergetar ke dalam rengkuhannya yang dalam. Bukan hanya Andrea yang
sedihnya nampak luar biasa, namun Varen juga... air matanya sudah ikut keluar, begitu juga isakannya yang terdengar pelan sembari memeluk Andrea dan mengutuk dirinya sendiri dalam hati.
Andrea terluka, Varen pun sama.
****
“Silahkan membenciku, jika menurut Drea, Abang pantas untuk itu”
Kini, Varen sudah mengurai rengkuhannya dari Andrea. Tanpa memalingkan sedikitpun tatapannya, Varen
menghapusi buliran air mata Andrea yang belum berhenti meski tangisannya tidak keras lagi. Meski Andrea nampak seolah tidak ingin melihatnya.
“Semua itu aku lakukan karena pertimbangan atas nyawa kamu yang jadi taruhannya kelak. Dan aku, akan selalu menempatkan kamu diatas segalanya Little Star ...” Lirih Varen. “Aku bahkan tidak akan berpikir dua kali jika harus menukar nyawaku dengan nyawamu...”
Varen tersenyum getir.
“Aku mungkin jahat..... bukan mungkin, tapi iya, aku jahat”
“........”
“Membuat kamu tidak memiliki kesempatan mengetahui dan merasakan kehamilan kamu, aku jahat.....”
Dipandangi terus wajah Andrea oleh Varen lekat – lekat, masih terus menghapusi bulir air mata Andrea yang seolah tak mau berhenti.
“Mengambil keputusan untuk menghilangkan calon bayi kita, aku lebih jahat .....”
Bulir air mata lolos lagi dari celah kelopak mata Varen.
“Tapi semua itu hanya karena satu alasan, Little Star ...”
“........”
“Karena aku tidak bisa untuk hidup, bahkan mencoba pun aku tidak mau. Jika aku harus hidup .... dalam dunia..... dimana kamu tidak ada didalamnya”
****
To be continue....
__ADS_1