THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 73


__ADS_3

🍁 TENTANG HASRAT 🍁


****


Selamat membaca....


Masih di Penthouse John


Prita dan John duduk berdua di ruang tengah penthouse John.


“Lama banget sih mereka timbang mandi aja.” Ucap Prita yang sedang menunggu dua orang yang abis wik – wik dikolam renang.


Mata Prita bolak – balik melirik kearah kamar tamu. Sementara John yang masih agak blingsatan itu wajahnya masih terlihat sebal dan kesal. Pasalnya kegiatan hot pasangan bebek m*sum itu membuat dia gerah sendiri dan sekuat tenaga menjaga agar ‘adik kecilnya’ tidak betul – betul bangun, meski sempat menggeliat.


“Ck!. Mereka ga mungkin hanya sekedar mandi.” Sahut John yang paham. ‘Pasti main lagi mereka. Kelakuan.’ Batin John.


‘Ya ampun doyan bener.’ Batin Prita.


***


Mata John melirik malas pada Andrew yang cengengesan duduk santai dihadapannya itu. Sementara Prita menyambangi kakaknya yang berada di kamar. “What?. ( Apa? ).”


“Kalian berdua nih ya memang ga pernah lihat – lihat tempat.”


“Suami istri!. Sah, halal, plus ibadah.”


John berdecak.


“Ya tapi ga di apartemen gue, di kolam renang gue pula!.” Ucap John, masih dengan nada suara yang sebal pada si Donald Bebek.


“Ini gedung apartemen punya siapa?.” Ucap Andrew santai.


John berdecak lagi. “Punya lo memang!.” Sahutnya. “Tapi unit ini gue beli sama lo, okay?. Bukan minta!.”


Andrew setengah terkekeh. “Tetap saja ini gedung punya gue.” Ucap Andrew dengan santainya. “Dan lo bisa gue usir kapanpun gue mau. Gue jadikan gembel sekalian pun bisa!.”


Si Donald Bebek bicara dengan pongah.


“Lo pikir Prita mau sama cowo yang ga punya apa – apa?.”


Andrew menyesap minumannya sambil melirik John.


“Pasti mau!.” Sahut John cepat. “Dia tulus cinta sama gue.”


“Kalaupun dia mau, lo pikir Fania dan gue rela, Prita menikah dengan lo yang jatuh miskin?.” Timpal Andrew. “Lebih baik dia gue jodohkan dengan Gustav!.”


“Haish, gue lupa, gue punya saudara laki – laki yang punya kekuasaan diluar batas!.”


“Bagus kalau lo paham.”


“Ya masalahnya itu kolam renang habis gue suruh orang bersihkan kemarin. Mau ga mau harus gue bersihkan lagi gara – gara kelakuan m*sum lo dan si Kajol di sana!.” Gerutu John.


Si Donald Bebek malah tergelak. “Urusan lo itu sih. Siapa suruh lo lama datang. Gue dan Fania membunuh waktu lah. Lagipula lo tinggal panggil lagi orang untuk membersihkan kolam renang lo.”


“Membunuh waktu ...... ga ada kegiatan lain memang?.”


“Hm, itu kegiatan favorit gue dan Fania.” Si Donald Bebek bicara tanpa beban.


“Lo pikirin perasaan gue, kek!. Bagus gue sama Prita ga langsung main selonong. Coba kalau iya?. Ternoda itu mata anak perawan!.”


Dan Andrew pun tergelak lagi.


**


Sementara itu didalam kamar tamu......


Seorang wanita tersangka perbuatan wik – wik sedang santai mengeringkan rambutnya dengan hair dryer.


“Niat banget lo ya\, mau m*sum – m*suman disini. Sampe bawa hair dryer segala.” Ucap Prita.


Fania terkekeh. “Ga niat si.” Sahut Fania.


“Nah itu lo segala bawa hair dryer?.”


“Dih ini emang hair dryer sengaja gue simpen disindang.”


Prita hanya ber oh ria.


“Lagian elo sih Kak, ga liat – liat tempat begituan sama laki lo.” Ucap Prita. “Ini apartemen orang, mana maen dikolem renang lagi. Untung gue ga langsung selonong boy. Coba kalo gue maen langsung ngeloyor kesono, bisa – bisa ternoda mata perawan gue.” Sambung Prita.


Fania terkekeh lagi.


“Eleh, lo emang masih segel yang bawah.” Ucap Fania. “Tapi mata lo gue yakin ude sering nonton bokep. Apalagi lo pernah lama di New York. Video begituan tersebar bebas.” Sambungnya sambil meletakkan hair dryer lalu mencabut colokan nya. “Hayo.”


“Hahaha ...”


“Kaga usah sok – sok polos depan gue, lo.”

__ADS_1


“Lagian sih, Kak, lo berdua kaga bisa nahan apa?.”


“Ngapain ditahan – tahan?. Laki sendiri ini.”


“Ya itu sih gue paham.”


“Elo belom ngerasain aje, Priwitan. Wenak tenaannnn ..”


“Massa?.”


“Coba dah entar, nagih pasti lo.” Fania cekikikan.


“Emang lo aja yang doyan, Kak!. Sama tuh kayak laki lo. Sama m*sumnya laki bini.”


“Yah, ga percaya banget.” Ucap Fania. “Apalagi kalo udah mentok tulang. Ugh, sorga dunia.”


“Amiit ih!.” Sahut Prita. “Lo sering begituan ga sakit apa?. Secara pasti laki lo gedong itu adenya.”


“Hahaha!!.” Si Kajol ngakak. “Dih justru itu, yang gedong itu endol. Makanya gue jadi doyan dim*sumin si Donald Bebek.”


“Geblek.”


“Pokoknya entar elo pas malem pertama timbang ngucapin oh yes oh no aje, Prit.”


"Au Ah!." Sahut Prita. “Kata nye pas dip*rawanin sakit banget ye, Kak?.”


“Ngilu – ngilu sedep. Sakit – sakit endolll! ....”


Prita geleng - geleng. “Kak, gue mau nanya deh, tapi lo jangan marah.”


“Mau nanya apaan?.”


“lo sebelom nikah, pernah khilap?.”


“Mau jawaban jujur ape engga?.”


“Jujurlah!.” Sahut Prita cepat.


“Pernah.” Ucap Fania jujur. “Gue di jebolin duluan sama kakak ipar lo sebelom nikah. Gara – gara gue minta pisah sama dia.”


Prita manggut – manggut.


“Tapi hanya terjadi sekali. Sebelum gue dan Andrew nikah.” Ucap Fania sambil memandangi adiknya. “Kalo gue boleh jujur, gue ga nyesel. Tapi, gue harap, sangat berharap, lo jangan sampai melakukan kesalahan yang sama seperti gue. Meskipun melakukannya dengan orang yang lo cintai sepenuh hati dan meskipun dia calon suami lo.”


“Iya, Kak.”


Prita manggut – manggut lagi.


**


Fania dan Prita sudah keluar dari kamar dan langsung bergabung dengan Andrew dan John yang nampak sedang serius menatap pada laptop, sambil memegang beberapa berkas ditangan.


“Ada masalah di Perusahaan?. Serius banget kayaknya.” Tanya Fania.


John dan Andrew setengah mendongak setelah mendengar suara Fania. “Sedikit.” Sahut Andrew.


Fania manggut – manggut.


“Besok lah kita bahas soal ini John.”


John mengangguk dan langsung menutup laptopnya.


**


Mereka berempat pada akhirnya membahas soal pernikahan dua pasangan itu sambil membuat juga daftar tamu dari pihak John dan Prita, juga beberapa kolega dan teman – teman Fania yang kebanyakan juga mengenal John.


Setelah selesai Fania dan Andrew kemudian berpamitan untuk pulang.


“Eh iya, lo berdua jadi beli rumah?.” Tanya Fania sebelum dia dan Andrew pulang.


“Jadi sepertinya.” Sahut John.


“Terus apartemen ini lo mau jual, John?.” Gantian Andrew yang bertanya.


“Engga lah. Gue beli rumah hanya untuk investasi. Tapi nanti kalau Prita mau tinggal di sana ya terserah.”


“Lebih baik untuk investasi saja lah. Kalian berdua lebih baik tinggal di rumah utama. Kalau gue dan Fania ke London, itu rumah kan sepi.” Ucap Andrew. "Gue juga sudah bicara sama Jeff untuk tinggal disana saja."


“Iya bener yang dibilang Andrew, Kak.”


“Iya, okay. Gue terserah dia aja.” John memegang kepala Prita sambil menggoyangkan nya pelan. “Kamu mau tinggal di rumah utama?.”


“Bebas aja Prita sih!.” Sahut Prita.


“Ya udah kalo gitu. Gue sama Andrew balik dulu ya?.”


Fania dan Andrew kemudian berpamitan.

__ADS_1


“Ah iya satu lagi. Kalian mau pakai desainer sini atau mau pake jasanya si Karen seperti gue dan Andrew?. Kalau seragam keluarga kan Kak Ara yang handle.”


“Besok ajalah dibahas. Ada Jihan sama Jeff juga kan besok. Terserah para wanita aja gue sih.” Sahut John.


Fania manggut – manggut, kemudian melenggang bersama Andrew menuju pintu apartemen John. “Ya udah berarti nanti kalian pulang ke rumah utama kalau gitu. Lo juga Prit balik kesana, jadi ga ribet bolak – balik.”


“Iya, Kak.”


“Jangan lama – lama lo berdua disini. Ntar ada setan.”


Prita dan John terkekeh barengan.


“Tahan dulu sebulan lagi.”


“Iya Kajoool ...”


“Inget yang gue bilang tadi Prita.”


“Iya, Kak.”


**


“Fania bilang apa memang sama kamu, hem?.” Tanya John pada Prita saat Fania dan Andrew sudah meninggalkan apartemennya.


“Hanya obrolan antar adik dan kakak perempuan.”


“Hemmmmm.”


“Oh iya Prita.” John meraih satu tangan Prita. Ia mengeluarkan sebuah kotak dari sampingnya.


Lalu memasangkan sebuah gelang ke pergelangan tangan Prita dari kotak yang sudah John keluarkan barusan.


“Ini gelang milik almarhumah mommy aku. Tapi tidak pernah ia pakai. Dulu ia bilang, pakaikan ini pada wanita yang kelak akan mendampingi aku seumur hidup aku, wanita yang aku cintai.”


Prita tersenyum, kemudian memandangi sebuah gelang emas yang kini sudah melingkar dipergelangan tangannya. Ada sesuatu yang sedikit membuat hatinya ingin bertanya, perihal gelang emas bertabur berlian itu.


“Kenapa? Ga suka?.” Tanya John karena Prita belum berkomentar.


Prita menggeleng pelan. “Suka, Kak. Suka banget. Ini indah banget. Makasih ya.”


John tersenyum, sambil membelai kepala Prita. Ia sepertinya tahu kalau ada yang sedikit mengganggu hati Prita.


“Kalau kamu berpikir apa aku sudah pernah memberikan ini pada Aila, jawabannya tidak.” Ucap John. “Aku bahkan tidak ingat soal gelang ini saat bersama dia dulu. Mungkin memang gelang ini menunggu pemilik yang sebenarnya.” John masih tersenyum. “Itu kan yang mau kamu tanyakan, hem?.”


Prita mengangguk pelan.


“Maaf ya Kak.”


“Kenapa harus minta maaf?.” Ucap John sambil meraih dagu Prita dan membuat gadis itu menatapnya.


“Ya maaf kalau aku menduga – duga soal gelang ini.” Sahut Prita. “Karna setahu Prita kan, Kak John cinta banget sama si Aila itu.”


“Pernah.” Ucap John. “Tapi setelah aku merasakan apa yang aku rasakan pada kamu saat ini, rasanya perasaanku pada Aila hanya sebuah obsesi, bukan cinta. Jauh berbeda dengan yang saat ini aku rasa pada kamu, Prita.”


“Makasih ya Kak?.”


“Aku yang seharusnya berterima kasih, Prita.” Ucap John. “Terima kasih sudah mau menerima aku dalam kehidupan kamu, terima kasih sudah mencintai aku.”


Cup


John mencium bibir Prita sembari menangkup wajahnya.


Ciuman yang lembut pada awalnya, namun kemudian berubah intens hingga tanpa sadar kini Prita sudah berada diatas pangkuan John tanpa melepaskan ciuman mereka.


John melepaskan ciumannya saat merasa Prita sudah kekurangan asupan oksigen dimulutnya. “I’m sorry, but I can’t stop, sugar.. (Maafkan aku, tapi aku tak bisa berhenti, sayang...).”


John meraih tengkuk Prita, dan kembali menciumnya lebih intens dan dalam karena lidahnya sudah mengabsen tiap inci mulut Prita, saling bertukar saliva.


Dada John dan Prita sudah sama – sama berdebar cepat.


‘*Ah S*t!!!.’


John mengumpat dalam hati, karena sesuatu dibawah sana mulai menggeliat.


‘Oh my ..’ Dada Prita rasanya makin berdebar karena ia merasakan sesuatu yang sedikit membuat gerakan dibawahnya.


Gugup tapi juga rasanya Prita menikmati apa yang dilakukan oleh John yang kini sudah mulai menciumi lehernya.


“Kak...” Prita berkata pelan dengan suaranya yang terdengar sedikit parau saat John mulai mencumbui lehernya.


‘Oh Tuhan....’ Suara Prita bak seperti air es yang mengguyur kepalanya, mengembalikan kesadarannya. “Maafkan aku ....” John menarik diri, menghentikan cumbuannya.


Ia menempelkan dahinya pada dahi Prita.


“Ini yang membuat aku, ingin cepat – cepat menikahi kamu, Prita. Aku takut tidak kuat menahan diri ....”


**

__ADS_1


To be continue ....


__ADS_2