
SUPERMASSIVE BLACK HOLE
(Lubang Hitam Yang Sangat Besar)
Part One ( 1 )
******************************************
Selamat membaca ...
**************************
Rumah Sakit .....
Ponsel Poppa berdering kala ia dan Daddy R sedang mengobrol bersama para kakek dan nenek yang berada di
Rumah Sakit. Poppa langsung meraih ponselnya yang ia atur deringnya dengan volume yang kecil berikut getar.
“Permisi sebentar”
Poppa undur diri sejenak untuk menerima panggilan telepon di luar ruang rawat Andrea.
“Yes, Sean?”
**
“................”
“Sebaiknya kau berikan apa yang dia mau, Sean. Semua yang disampaikan oleh Ammar padamu akan terwujud jika kau tidak melakukan apa yang putraku yang minta”
“................”
“Jika kau tetap keras kepala, silahkan saja. Tapi sebelum matahari terbenam, apa yang Alvarend katakan melalui Ammar, kau akan melihatnya”
“................”
“Sudah banyak yang terjadi, Sean. Tapi satu hal yang perlu kau camkan baik – baik sekarang. Putra kami itu, sedang tidak waras saat ini. Jangan menguji ketidak warasannya, sebagaimana kau tidak menguji ketidak warasan kami”
“................”
“Heemm ..”
Klik!
Poppa mematikan sambungan telepon di ponselnya.
Daddy R sudah berada di dekat Poppa, karena ia mengekori sejak melirik siapa nama pemanggil yang masuk di ponsel Poppa. Daddy R bertanya dengan gerakan kepalanya pada Poppa.
“Sean said, Abang minta dua orang yang terakhir berada bersama Little Star dikeluarkan dari penjara”
“Gadis dari keluarga Alexander itu?” Tanya Daddy R dan Poppa langsung mengangguk. “Huuumm ..”
“Dan yang pria adalah salah satu anak buah wanita laknat yang hendak melecehkan Little Star saat Abang datang”
“Ah iya. Masih hidup keparat itu?”
“Saat hendak diamankan Ammar, Sean dan kesatuannya keburu datang. Jadi anak buah wanita laknat yang di
Marina dibawa semua oleh Sean, termasuk beberapa Gadis yang ada disana. Meskipun mereka juga nampaknya korban saja. Namun ditemukan obat – obat terlarang berikut beberapa alat hisap dan suntikan”
“................”
“Gadis – gadis yang berada dalam lingkaran setan Danang, Prima dan Dilara berikut Anoushka memang sengaja
dibuat kecanduan sepertinya, agar mereka tidak kemana – mana”
Daddy R manggut – manggut.
“Persis seperti lingkaran setan milik Joven”
Gantian Poppa yang manggut – manggut.
“Hubungan gadis dari Alexander dengan Dilara sudah diketahui?” Tanya Daddy R dan Poppa mengangguk lagi. “Dua – duanya?. Ada dua orang Gadis Alexander yang ikut Dilara bukan?”
“Hanya satu. Yang satu lagi korban. Yang bernama Gita itu menjadi salah satu orang kepercayaan si wanita laknat itu juga. Si Gita itu yang menjahati Drea, adalah anak haram yang dibawa dan diakui sebagai keponakan oleh suami dari saudara tiri perempuan lo”
“Jaga omongan lo Donald Bebek!”
Daddy R menatap sinis pada Poppa yang kemudian terkekeh kecil. Iseng saja meledek Daddy R yang memang anti sekali dengan keluarga Alexander. “Sudah tua ... jangan terlalu banyak menyimpan dendam, tak baik, you know?”
“Heh!!”
***
“Dru, Ren ..”
“Ada apa Ma?”
“Itu ... Drea ....”
***
Meanwhile, somewhere under the sky .. (Sementara itu, di suatu tempat dibawah langit) ..
“Than. Tolong cari tahu siapa yang bersama Little Star sekarang” Pinta Varen pada Nathan yang sudah berada dalam perjalanan menuju ke suatu tempat bersama Ammar yang menyetir mobil. Nathan pun mengiyakan.
“Kebetulan Dad Boo – Boo chat gue nih! Sebentar gue tanya dia”
Si Abang hanya mengangguk saja.
***
“Ada Gappa, Gamma, Ake, Ene, Oma sama Nenek Yuna, Mami Prita, Mama Bear dan Via juga ada disana. Poppa sama Daddy R sama Rery juga”
“Drea bagaimana kondisinya? Dan.... janinnya, .. apa sudah diangkat?” Varen bertanya dengan sedikit tergugu.
“Kata Dad Boo – Boo udah. Drea sudah dibawa kembali ke ruang rawat. Bayi kalian..”
“Calon Than ... baru calon ...” Sambar Varen lirih.
“Iya.. maksud gue ..”
“Ba – ru calon.. dia ... baru tumbuh empat minggu Than, dan gue, .... harus mengiyakan .... untuk membunuhnya ..”
“Bang...”
“Padahal seharusnya... dalam beberapa bulan kedepan, .. gue sama Drea, .. bisa jadi orang tua.. gue sudah membayangkan, lucunya Little Star, saat perutnya besar, dan anak kami.. tumbuh dengan baik di dalamnya .. seharus – nya, gue dan Drea ..... bisa bahagia.. seharusnya.. lengkap sudah kebahagiaan gue dan Drea....”
Terbata Varen berbicara.
“Sabar...”
“Sabar?!”
Varen memekik.
“Lo bilang gue harus sabar?!”
“................”
“Gue harus memutuskan untuk mem – bunuh anak gue, dan lo bilang gue harus sabar?! Istri gue macam orang
sakit jiwa, lo bilang gue harus sabar??!! ..”
DAGG!!
Kaki Varen menendang kursi penumpang didepannya.
“AARRGGHH!!!!”
Varen menggeram setelahnya.
“Istri gue mau dijual .. tubuhnya terkontaminasi obat – obatan ilegal... kewarasan nya sampai terganggu!... dia pun sampai ga mendengarkan gue, ga mengenali gue!..... dia bahkan hampir dilecehkan! ... kalau gue ga sampai tepat wak – tu -- ..!! Aarrggghhh!!!”
Varen mencerocos tak karuan, mengeluarkan semua beban dalam perasaannya saat ini. Lalu ia tertunduk dan
menggelengkan kepalanya. Kemudian terkekeh getir dan menggerutu dalam kesalnya.
“Dan Drea hamil .. tapi gue dan dia,.. gue – harus memutuskan, untuk mem – bunuh darah daging gue sendiri,
Thaaann!!...”
“Bang!” Seru Nathan.
“Dan lo minta gue sabar ....”
“Tenangkan diri lo, Bang ......”
Nathan coba menenangkan, si Abang yang mentalnya nampak down sekarang. Sedikit nampak kurang waras, karena setelah berteriak dan menggeram sembari menendang kursi penumpang mobil didepannya, ia terkekeh meski kekehan si Abang terdengar getir, dan kemudian ia tertunduk lesu lagi, hingga ia menyeringai kini, dengan ujung matanya yang nampak basah.
“Bagaimana gue bisa sabar...” Lirih Varen sembari tertunduk dan menyeka kedua matanya dengan satu tangannya. “BAGAIMANA GUE BISA SABAR SIALAANN!!” Kaki Varen mendarat lagi di kursi penumpang, yang kini terlepas dari sanggahannya hingga menghantam kaca depan mobil yang untungnya tidak pecah.
Ammar memilih diam. Ia sendiri merasa prihatin melihat kondisi Tuan Mudanya saat ini.
__ADS_1
“Gain – the speed Am – maarr ..... (Tambah – kecepatan Am – maarr) ....”
“Baik, Tuan”
***
‘ The Playground ‘...
Nathan memperhatikan jalanan di sebelah kanannya dari balik kaca jendela mobil yang ia tumpangi bersama Abang dan Ammar.
Abang sudah kembali tenang sedari tadi. Namun seperti Nathan, Abang terdiam dan hanya memandangi kelebatan
jalanan yang ada diluar mobil.
‘Bukannya ini menuju R Corp?’
Nathan membatin sambil menautkan alisnya.
‘Kalau gue ga salah dengar tadi, bukannya Abang mau mendatangi satu laki – laki lagi sekutu Dilara di Playground nya para Dads?’
Nathan masih membatin, masih bertanya – tanya sendiri.
‘Jangan bilang kalau Perusahaan Dad R ini adalah Playground, gitu? Tapi kalau gitu, apa R Corp hanya sekedar kamuflase?’
Nathan masih bingung sendiri. Ingin bertanya pada Abang, tapi ah. Kalau ingat Abang setengah mengamuk tadi, Nathan jadi urung.
Nathan takut, kalau ucapannya akan menyulut emosi si Abang lagi. Sedikit banyak Nathan juga merasa teremat dengan sangat hatinya.
Dulu, dia dengan sengaja menghilangkan calon bayinya dan Via hanya karena enggan menanggung beban
memiliki anak diusia muda.
Tapi melihat Abang yang begitu terluka karena kehilangan calon bayinya yang meskipun juga dilakukan dengan sengaja, tapi semua karena banyak pertimbangan didepannya. Bukan karena Abang tak ingin, tetapi kebalikannya. Sungguh Nathan merasa ditusuk hatinya, sekaligus malu sendiri atas kebejatan yang pernah ia punya pada calon bayinya.
***
‘Eh?’
Nathan celingak celinguk, karena mobil yang dikendarai Ammar tidak masuk ke dalam Perusahaan.
Melainkan Ammar membawa mobilnya ke sisi luar R Corp yang Nathan kenali. ‘Sepintas gue pikir R Corp ni
kamuflase aja dari tempat yang dibilang Playground itu. Ternyata gue salah ya?’
***
Namun Nathan lagi – lagi mengernyit.
‘Loh? Ini masih R Corp kan?’ Batin Nathan mengenali tempat dimana mobil yang dikendarai Ammar masuk ke
sebuah tempat melewati gerbang besi otomatis yang letaknya sedikit tersembunyi, agak jauh dari Perusahaan.
Namun Nathan sedikit mengenali gedung yang sempat ia tengok dari balik jendela mobil ditempatnya duduk dalam mobil.
‘Asli, gue, bingung!’ Nathan membatin lagi. ‘Masih termasuk kawasan R Corp ga sih ini?’
Nathan nampak sedikit gelisah dalam duduknya. Penasaran sih tepatnya. Mau tanya Abang tapi dia galau.
Jadi kemudian, Nathan kembali diam ditempatnya. ‘Ikutin aja dulu lah ..’
***
Hanya sebentar saja Nathan diam, namun kemudian ia tercengang melihat pemandangan yang matanya tangkap
lagi. ‘Oh, Wow!. Gue inget film H & S jadinya’ Batin Nathan. ‘Demi Superman en Batman, keluarga gue ini, para Dads dan si Abang ini, Pengurus Badan Agen Rahasia kah?, Mafia kah?’
Nathan keder sendiri.
‘The Moms tahu ga?. Si Cute Girl?... Hiisshh! Kenapa gue rasanya buta dan tuli soal keluarga gue sendiriii??..’
“Lo masih bisa merubah keputusan lo sekarang Than. Gue akan meminta seseorang menjemput lo disini” Suara si Abang yang sudah menoleh padanya dan berbicara dengan nampak biasa padanya itu membuat lamunan Nathan buyar.
“Engga Bang, seperti yang gue bilang tadi, gue akan ikut sampai lo selesai walau kehadiran gue juga ga ada pengaruhnya buat lo” Sahut Nathan dengan keyakinan.
“Ya sudah”
Varen kembali meluruskan wajahnya.
“Hanya gue ingatkan. Didalam, lo ga akan bertemu ‘Abang’”
Abang kembali bicara, dan ucapannya barusan membuat Nathan sedikit bergidik ngeri. Namun ia mengangguk.
Dengan sangat pelan.
“Masuk Mar”
Pada akhirnya Tan – Tan menggaruk – garuk kepalanya sendiri. Gemes sendiri, merasa oon sendiri. Namun dia tetap diam, sampai mobil Ammar memasuki sebuah kotak yang sepertinya adalah sebuah elevator, karena pintunya yang terbuka otomatis, lalu tertutup dengan otomatis juga, setelah Ammar menekan sebuah remot di tangannya.
***
Warning!
Buat Kalian Yang Hatinya Selembut Sutra, Halus Mendayu Bak Beledu😆
Diharapkan Skip aja Ini Bagian, karena mungkin saja (mungkin loh ya) mengandung lebih banyak bad words alias umpatan, dan sedikit kengerian berikut kekejaman.
Gitu aje sekilas inpoh
*******
Nathan mengikuti Varen yang sudah melangkah turun dari mobil setelah pintu elevator terbuka dan Ammar
memberhentikan mobilnya di dekat dua mobil lain yang ada di dalam ruangan yang memang benar mirip dengan sebuah film yang ia pikirkan tadi. Hanya mungkin tidak sebesar dengan yang ada di film.
“Hey, Boy! ..”
Sudah ada Papi John disana.
Ia mendekati dan menyapa Varen sembari mengacak rambut Varen dengan tersenyum tipis. Varen hanya
menampakkan senyumnya sebentar, lalu Papi merengkuh pundaknya dan sedikit mengguncangkan nya.
“Everything gonna be alright, hem?. (Semua akan baik – baik saja, hem?)” Ucap Papi dan Varen hanya mengangguk saja sambil melipat bibir dan sedikit menghela nafasnya.
Beberapa orang berbadan tegap juga ada bersamanya, berdiri di beberapa sudut. “Wah, Jeff Junior ikut juga?”
Papi menegur Nathan yang wajahnya masih menyiratkan kebingungan. dengan cara yang sama seperti ia menyapa
Varen.
“Ini..”
“Welcome to our second Playground. (Selamat datang di Taman Bermain kita yang kedua)” Sambar Papi sebelum Nathan menyelesaikan kalimatnya.
Nathan kembali mengernyit. “Second?. (Yang kedua?)” Tanya Nathan bingung.
“The first one is in England. (Yang pertama ada di Inggris)”
“Huuummm ....”
“Tiga sebenarnya. Oh empat. Tapi yang berada di Rusia seringnya digunakan oleh Uncle Vla, dan di Italy... yah, kau tahulah siapa yang sering menggunakannya” Celoteh Papi.
Nathan manggut – manggut.
“Sebenarnya tempat ini..”
DOR!
DOR!
DOR!
DOR!
Nathan spontan berjengkit saat suara letusan kencang sebanyak empat kali terdengar bersahutan dengan kecepatan sepersekian detik.
“Sampah....”
Satu kata itu yang tak lama Nathan dengar, yang ia kenal betul siapa pemiliknya. Yang baru saja menurunkan
tangannya dengan senjata api berwarna hitam dalam genggaman.
Dimana, dihadapannya. Sedikit berjarak dari tempat si Abang berdiri, empat manusia sudah terkapar dengan
genangan warna merah pekat diatas lantai, tempat empat orang manusia itu sudah terkapar,
Tanpa nyawa.
Nathan terpaku saja ditempatnya.
Sedikit terkejut memang, tapi dia masih bisa menguasai dirinya, karena saat di sarang, Nathan sudah melihat
Abang menembak seseorang.
__ADS_1
‘Okay, mereka itu pasti orang – orang jahat yang layak mati’ Batin Nathan.
“Pria itu .....”
Kemudian Abang terdengar berbicara lagi sambil berjalan melewati tempat dimana empat orang yang kepalanya
disapa oleh peluru dari pistol yang Abang sempat genggam namun setelahnya tak lama Abang lempar ke lantai.
Dan empat orang itu sudah juga digeret oleh empat pria berbadan tegap, entah mau dibawa kemana. Papi melirik Nathan dengan tersenyum saja. “Kaget?” Tanya Papi santai pada Nathan.
“Bawa dia kehadapanku”
Abang terdengar berkata lagi.
“Sedikit” Jawab Nathan pada Papi setelah Varen berbicara. “Aku sudah melihat Abang melubangi kepala orang
sebelum ini” Sambungnya. Dan Papi manggut – manggut saja, sambil juga mengekori Varen yang berjalan didepannya dan Nathan.
“Kau ingin mencobanya?”
Nathan spontan menoleh pada Papi yang menyunggingkan senyuman padanya.
Nathan menggeleng kemudian. “Atau kau mau membantu Dad - mu?” Ucap Papi seraya bertanya dan menghentikan langkahnya, membiarkan si Abang berjalan bersama Ammar menjauh darinya Nathan.
“Membantu, Dad? ...” Jawab Nathan dengan pertanyaan.
Telunjuk papi mengarah ke satu tempat kemudian. Nathan menoleh kearah yang ditunjuk oleh Papi John.
“ Da – Dad??!!!! ...” Nathan meneguk salivanya, saat matanya menangkap sosok yang sedang memukuli seseorang
dengan membabi buta dan disisi lain tak jauh darinya ada orang yang duduk tersandar tak bergerak dengan rembesan darah di atas lantai dibawahnya.
“Hoy Daddy Jeff!” Papi berseru kencang dan seseorang yang dipanggilnya sontak menoleh.
“Woah! My Boy!”
Itu Daddy Jeff yang menyunggingkan senyum lebarnya saat melihat Nathan.
Sementara Nathan sedang terperangah dengan pemandangan yang tertangkap kedua matanya.
“Da – Dad .. kau ..” Nathan sedikit tergugu sambil matanya memandang pada sang Daddy yang kini sedang
berjalan mendekatinya.
“Aku tak menyangka kau akan datang kesini juga, Boy!”
Daddy Jeff berseru santai sembari membersihkan kedua tangannya dengan selembar handuk kecil persegi.
“A – aku menemani Abang..”
“Huuumm ..”
Daddy Jeff manggut – manggut.
“Lalu mana Abang?” Tanya Daddy Jeff.
Nathan hanya mengarahkan jarinya namun tubuhnya masih menghadap ke tempat Daddy Jeff tadi berada.
“Sudah kesana” Papi John menimpali dan Daddy Jeff manggut – manggut lagi sembari mengoper handuk yang ia
pakai untuk membersihkan tangannya pada salah satu anak buah mereka, dan handuk tersebut kini sudah terbubuhi warna merah.
Daddy Jeff menyunggingkan senyum saat matanya menangkap gerak – gerik Nathan yang nampak melirik ke arah belakang Daddy Jeff. “Jika aku tahu kau akan mampir kesini aku akan menyisakan satu untukmu Boy”
Daddy Jeff kemudian memiringkan tubuhnya sembari menyelipkan satu tangannya di saku celana, setelah
berbicara barusan.
“Dia, dan yang satu itu, sempat mencoba melecehkan Via dalam mobil mereka saat Via dibawa, apa kau tahu?”
“A – apa??!! ...”
Nathan sontak terkejut mendengarnya.
Sementara Daddy Jeff manggut – manggut lagi.
“Tapi.. Via tidak menceritakan hal itu padaku” Ucap Nathan.
“Via pasti tidak ingin membebani kami semua terutama dirimu. Kau saja belum bisa menghilangkan rasa bersalahmu atas kekhilafan mu yang sudah lalu. Kalau dia menceritakan yang dia alami belum lama ini, rasa bersalahmu akan terasa dua kali lipat. Jadi mungkin dia segan karena itu”
“Lalu.. apa .. mereka sampai menyentuh Via?”
“Heemm.. mungkin bisa dikatakan seperti itu”
Nathan terdiam kemudian, namun rahang Nathan nampak mengeras.
“Maka itu kuberikan hukuman pada mereka yang berani mengganggu dan mencoba melecehkan menantuku”
“Bagaimana Dad tahu..?”
“Aku menginterogasi kawan mereka yang satunya, untuk menanyakan gudang obat – obatan terlarang mereka,
tapi dia malah mengatakan dan menunjuk dua orang itu yang berusaha melecehkan Via di kursi belakang”
Rahang Nathan makin mengetat, tangannya terkepal disisi kiri dan kanannya. “Sejauh mana .. sejauh mana mereka sampai melecehkan Via? ..”
“Hmm..”
Daddy Jeff nampak ragu untuk menjawab.
“Katakan Dad”
“Meraba beberapa bagian tubuh Via” Ucap Daddy Jeff pelan. “Tapi kau tenang saja”
“.......”
“Yang satu, sudah ku potong tangannya”
“.......”
“Yang ini, ingin ku siksa sampai mati”
Daddy Jeff mengalihkan pandangannya sejenak, ke arah yang tadi ditunjuk Papi John tempat si Abang berada, karena ia mendengar suara keras yang terdengar seperti makian.
“Tapi nantilah ku lanjutkan..”
“........”
DHUAK!
DHUAK!
DHUAK!
Belum selesai Daddy Jeff berbicara, namun suara dentuman benda keras terdengar tak jauh darinya. Nathan juga tak lagi ada disampingnya.
Karena Nathan kini ada di tempat Daddy Jeff memukuli orang yang tergantung dengan kedua tangan terikat keatas tadi. Dan orang yang terikat itu kini sudah tersungkur di lantai.
Suara dentuman itu berasal dari arah Nathan. Yang sedang membabi buta memukuli orang yang tergantung tadi
dengan sebuah tabung berwarna merah yang tadinya tertempel di dinding.
Pekikan yang memulas telinga, berikut lirihan minta ampun yang sudah sangat lemah terdengar dari bawah Nathan.
DHUAK!
Hantaman terakhir yang diberikan Nathan pada orang yang berada di bawahnya itu sukses membuat tubuh orang yang Nathan pukuli dengan tabung pemadam api kecil itu ambruk seketika.
Sepersekian detik, cairan kental berwarna merah pun merembes dari bawah kepala orang tersebut.
Daddy Jeff tak beringsut dari tempatnya berdiri, ia memperhatikan saja sang putra yang nampak begitu geram wajahnya. Orang yang dihantam berkali – kali oleh Nathan sepertinya sudah tidak bernyawa, namun Nathan masih berdiri didekatnya.
“Sudah?” Itu saja yang keluar dari mulut Daddy Jeff sembari memperhatikan Nathan yang masih memandangi
dengan penuh kebencian tubuh yang tergolek didekat kakinya.
Nafas Nathan masih memburu, terlihat dari dadanya yang naik turun dengan sedikit cepat.
Kegeraman masih bertengger di wajah Nathan. “CIH!”
Nathan meludahi tubuh yang tergolek di bawahnya.
“Berani menyentuh istri gue! ... MATILAH!!! ..” Umpat Nathan dengan keras.
Seiring ia lemparkan tabung pemadam api yang masih ia pegang ke tubuh didekat kakinya itu dengan sangat kuat.
***
To be continue...
Teruntuk kalian yang membaca sampai akhir. Ternyata jiwa kalean cukup bar – bar 😃😃
Dan harap bersabar wahai kalian kaum bar – bar untuk part yang kedua.
__ADS_1
Ngahahaha ..
Oh iya, mohon maap hari ini very slow up, soalnye anak emak lagi kurang syehat.