
TAKE A RISK
( Mengambil Resiko )
◾◾◾◾◾◾◾◾◾◾◾
Selamat membaca.....
Dalam mobil yang ditumpangi Varen dan Nathan, berikut Ammar yang menyetir.
Varen melakukan panggilan pada sahabatnya yang merupakan kekasih Marsha dan menginformasikan tentang apa
yang terjadi berdasarkan laporan Dara. Juga memberitahukan pada Rendy kalau ada beberapa orangnya yang kemungkinan akan menggeledah beberapa ruangan di panti milik Marsha.
Suara dering ponsel Ammar terdengar dalam mobil setelah Varen selesai berbicara di telepon dengan Rendy, dan
tangan kanan Varen itu langsung menerima panggilan yang kemudian ia hubungkan ke portable earphone bluetooth nya.
Sehingga panggilan telepon tersebut tidak mengganggu konsentrasi Ammar pada jalanan saat menyetir.
“Dara sepertinya dibawa sudah dibawa pergi dari Panti Tuan”
“Damned!” Varen mengumpat.
“Tapi Abi sudah menemukan orang yang kiranya diyakini sebagai kaki tangan si Kepala Panti”
“Ponsel Dara?”
“Orang kita yang sudah ada di Panti berhasil menemukannya Tuan. Sepertinya Dara membuang sembarang ponselnya dan orang yang membawanya sangat terburu – buru untuk membawa Dara jadi tak memperdulikan soal ponsel Dara”
“Sudah diperiksa isinya?. Siapa tahu Dara mengarahkan pada sesuatu dalam ponselnya”
“Sudah Tuan. Enam orang kita sudah berhasil menemukan buku catatan gadis yang bernama Lala itu. Sementara
ponselnya tidak ada. Mungkin sudah diambil oleh si Kepala Panti itu”
“Orang yang membawa Dara?”
“Kaki tangan si Kepala Panti berdasarkan laporan Abi”
“Apa mereka sudah menggeledah kamar Kepala Panti dan kaki tangannya?”
“Sedang dilakukan Tuan. Semua kamar pengurus panti yang tinggal disana sedang digeledah”
“Okay!”
“Kalau sekiranya bukti – bukti sudah banyak kita dapatkan apa kita langsung menyeret perempuan yang bernama Jessy alias Dilara itu ke jalur hukum?”
Nathan bersuara seraya bertanya.
“Jika memang semua bukti kuat menunjuk padanya, Bisa!”
“.......”
“Namun gue belum melihat secara keseluruhan apa ada bukti yang langsung menunjuk wanita itu atau engga.
Kalau hanya bukti kejahatan saja tanpa ada pembuktian akan keterlibatannya secara langsung, ga akan kuat dan dia akan masih bisa melenggang bebas”
“.......”
“Dia pasti sudah menyiapkan pion untuk menjadi tamengnya” Jelas Abang. “Seperti case yang ditangani almarhum Uncle Arya dulu. Ternyata orang yang mereka kira sebagai Bos besar itu hanya pion saja”
“Bisa jadi ini perempuan ternyata dibalik itu kasus juga?”
Abang mengangguk. “Jika iya pun kita harus mempunyai bukti itu. Dan baru dia bisa membusuk di penjara”
“Ck! Gue kok kalo inget itu perempuan sampe tega ngejual anak gadis orang padahal dia sendiri punya anak gadis, rasanya mau gue cekik dia sampe mati!”
“Seandainya benar, we have no choice for now than patience ( kita sekarang tidak punya pilihan lain selain bersabar ). Kita pun harus bisa main cantik kan?. Agar kita dapat semua sekutunya juga”
“.......”
“Feeling gue sih, dia bisa bermain bersih seperti ini, jika memang dia sesuai dengan dugaan kita, jelas dia punya backing yang besar. Entah seseorang di negeri ini atau dari luar”
Nathan mengangguk paham dan meraih ponselnya setelah Varen berhenti memberikan penjelasan yang cukup
menjadi pengetahuan juga untuk dirinya memahami cara berpikir si Abang yang kurang lebih sama seperti para Dads mereka yang punya banyak sekali pengalaman dan insting yang kuat dalam menghadapi orang – orang diluaran.
“Eh iya Bang, katanya Poppa mau menyusul Momma ke Panti bukannya?” Nathan menjeda dirinya yang tadi ingin
menelpon Kevia.
“Pasti Momma sudah menghubungi Poppa kalau mereka gue suruh putar balik ga jadi ke Panti” Sahut Varen dimana ponsel Ammar kembali berdering.
Nathan manggut – manggut dan hendak meneruskan untuk menghubungi Kevia.
“Tuan!”
Suara Ammar mengalihkan perhatian Nathan dari ponselnya karena suara Ammar terdengar seperti cemas dan panik.
“Ada apa?!” Varen pun menanggapi serius, seruan Ammar.
Ammar menepikan mobil di bahu jalan dan berhenti disana tanpa mematikan mesin mobil, lalu menoleh dengan
cepat ke belakangnya dimana dua Tuan Mudanya duduk disana, setelah Ammar melepas seat belt yang mengikat tubuhnya.
“Nona ..... Nona Kevia dibawa paksa oleh beberapa orang tidak dikenal Tuan!”
“APA?!!!”
Nathan dan Varen sama – sama berseru panik dan kaget bukan main, terlebih Nathan.
“LO BILANG APA AMMAR?!”
Nathan spontan mencengkram kerah kemeja Ammar dengan wajahnya yang panik campur geram.
“Bicara yang jelas Ammar!”
__ADS_1
Varen berseru sambil melepaskan cengkraman tangan Nathan dari kerah kemeja Ammar.
“Mereka tahu – tahu disalip dan disergap oleh beberapa orang tak dikenal. Empat diantaranya menodongkan pistol saat mereka berhasil memberhentikan mobil yang ditumpangi oleh Nona Kevia dan Nyonya Jihan”
Ammar menjelaskan garis besar kejadian yang ia terima dari laporan Teguh yang menghubunginya.
“Meissa dan Hasan tidak bisa melawan karena mereka ditodong senjata”
“Lalu apa ada yang terluka?! Nyokap gue?!” Tanya Nathan dengan kepanikan yang sudah menjalar.
“Tidak ada yang terluka, mereka hanya membawa Nona Kevia”
Nathan mengepalkan tangannya dengan kuat dengan wajahnya yang sudah memerah geram. “VIA!” Nathan histeris.
Varen meremas pelan bahu Nathan untuk menenangkan.
“Lalu Ibuku dan Momma?”
“Mereka juga tidak apa – apa. Menurut informasi Teguh karena orang – orang itu seperti memang mengincar Nona Kevia. Teguh dan Okky terhalang oleh mobil yang menyalip mobil mereka. Tapi ....”
“Tapi apa?!” Tanya Varen dan Nathan berbarengan.
“Nyonya Fania dan Nyonya Ara mengejar mobil yang membawa Nona Kevia”
“Oh Goood... ( Oh Tuhaann.... )”
Varen dan Nathan sama melirih.
****
Bogor, Jawa Barat, Indonesia ....
“Kemana mobil yang bawa Via?!”
“Itu Sweety!!” Mommy Ara menunjuk ke satu arah yang membelah.
Momma mengangguk dan langsung memutar setir mobil menuju arah yang ditunjuk Mommy Ara.
“Tapi tunggu Sweety!” Mommy Ara menyentuh cepat lengan Momma. “Turunkan kecepatan”
“Tapi Kak kita bisa kehilangan jejak mobil yang membawa Via” Sambar Momma.
“Turunkan saja sedikit kecepatan, Sweety. Percaya aku” Ucap Mommy Ara yang kemudian dijawab anggukan oleh Momma. “Hanya perhatikan jarak pandang. Aku teringat sesuatu”
Momma membiarkan Mommy Ara yang seperti sedang mengutak – atik sesuatu di layar sentuh mobil.
Momma sendiri tetap menjaga matanya untuk tetap lurus dan fokus mobil yang membawa Kevia di depan mobil yang sedang ia kendarai. “Done!. (Selesai!)”
“Apanya yang selesai Kak? ...”
Momma sedikit melirik pada Mommy Ara.
Yang orangnya kini sudah meraih ponselnya.
“Kamu ingat deh, setiap mobil di keluarga kita kan ada kamera depannya. Dan kita bisa mengatur jarak tangkap kamera. Itu yang barusan aku kerjakan, jadi kita tidak akan kehilangan jejak mereka, tapi kita tetap pada jarak aman agar mereka tidak mencurigai atau melihat kita mengikuti mereka”
“Ah iya gue ga keingetan...”
Via dan diri kita sendiri”
“.....”
“Tetap di kecepatan ini, aku sudah meng-capture mobil itu dan menyetel nomor polisi mobil yang membawa Via dan sekalipun kita tersalip mobil lain, kita tidak akan kehilangan jejak mereka”
“Oke” Momma paham.
Dan iya, Momma ingat semua yang dikatakan Mommy Ara memang benar. Tadi tak sempat terlintas dalam pemikiran Momma, kalau dalam setiap kendaraan dalam keluarga mereka sudah di lengkapi dengan beberapa perangkat canggih. Karena di otak Momma, hanya berpikir untuk segera menyelamatkan Kevia dari tangan orang - orang yang membawa menantu mereka itu.
“Aku akan menghubungi kakak kamu. Ini, dia bahkan sudah menghubungi aku dari tadi. Aku hubungi Kakak Ganteng kamu dulu. Aku yakin dia dan Andrew sudah dapat kabar soal ini”
“Iya Kak”
Momma mengangguk. Saat Mommy Ara hendak menekan nomor kontak Daddy R.
“Eh tapi Kak, kalau sampai Via dilecehkan didalam mobil itu?...”
Mommy Ara tak jadi menekan nomor kontak Daddy R dan spontan langsung menoleh pada Momma.
“Benar juga kamu Sweety” Ucap Mommy Ara cepat dan Momma hendak menekan lebih dalam pedal gas. “Tunggu!”
Mommy Ara menahan tangan kiri Momma yang sudah memegang tuas persneling. Lalu menunjuk kearah depan, pada mobil yang membawa Kevia tepatnya.
“Lihat!”
“........”
“Via dipindahkan”
“Mereka itu sebenarnya mau apa sih?!. Ini perbuatan si kepala panti itu yang punya dendam sama Via atau gimana? Atau keluarga kita punya musuh disini?!.. Tapi kenapa mereka hanya mengincar Via?”
“Turunkan sedikit kecepatan, aku mau menangkap gambar mobil yang baru datang itu” Ucap Mommy Ara.
Momma mengangguk dan melakukan sesuai yang Mommy Ara minta.
"Ini pasti berkaitan dengan wanita yang dicurigai Andrea dan Abang itu Sweety jika memang mereka hanya mengincar Kevia dan bukan kita"
"Hish! Itu si Emali pasti bener - bener terlibat disini! Awas aja nanti kalau ketangkep! Gue bejek - bejek sampe ga ada sisa!"
"Iya nanti Kak Ara bantuin!" Sahut Mommy Ara, sedikit tersenyum. “Semoga mobil yang pertama tidak putar balik. Karena jika iya, mereka mungkin mengenali mobil ini” Ucap Mommy Ara lagi.
“Sepertinya engga”
“Baguslah. Kita bisa fokus mengikuti mobil yang itu berarti” Sahut Mommy Ara. Tunggu sampai mobil yang pertama hilang di belokan setelah itu kamu tambah kecepatan”
Momma mengangguk paham.
“Kakak kamu menelpon nih!”
Mommy Ara mengangkat ponselnya dan menunjukkan layar yang terpampang tulisan ‘My Handsome Hubby’.
__ADS_1
Momma mengangguk dan matanya kembali fokus ke arah depan. Lalu melirik kaca spion tengah.
‘Mobil dibelakang, seperti sedang mengikuti’
**
‘When you at the condition under a threat, do not fight if you feel that your oppenet is stronger, bigger or you outnumbered from them (Saat kau sedang berada dalam ancaman, jangan melawan jika kau rasa lawanmu lebih kuat, besar atau kau kalah jumlah dari mereka)’
‘Make them see and feel that you are weak, then you can fight them back when they are remiss (Buat mereka melihat dan merasa dirimu lemah, lalu kau baru bisa melawan balik saat mereka lengah)’
‘Or if you in position in a tight spot , do the same thing while you predict what you will do next (Atau jika kau sedang dalam posisi terhimpit, lakukan hal yang sama sambil kau memprediksikan apa yang harus kau lakukan)’
‘Mudah – mudahan mereka hanya memukuli Niki dan meninggalkannya tanpa berbuat lebih jauh setelah mereka
membawa gue’ Andrea membatin sambil mengingat – ingat beberapa hal yang pernah Poppa ucapkan padanya.
Andrea tidak benar – benar pingsan saat tengkuknya dihantam. Keras memang, tapi orang yang berusaha menjatuhkannya hanya tahu memukul tanpa tahu titik yang tepat untuk membuat orang jatuh pingsan. Lagipula pukulan di bagian belakang tubuh Andrea yang ia terima tadi bahkan tidak menyentuh tengkuknya.
Andrea sedang menyesuaikan keadaan dengan masih berpura – pura pingsan, tangannya terikat kebelakang dan
mulutnya disumpal kain putih yang ujungnya diikatkan dibelakang kepala Andrea.
Andrea meraba ikatan tangannya yang tertutupi tubuhnya sendiri. Andrea tersenyum dalam hati. Merasa, meskipun kuatnya ikatan ditangannya tetapi ia yakin bisa membuka ikatan tersebut.
Momma pernah mengajarinya soal berbagai macam simpul ikatan, karena si Momma anak pramuka meskipun hanya sampai Penegak Laksana. Tapi ilmunya Momma soal berbagai macam sandi dan simpul ikatan cukup bisa dibilang lebih dari lumayan.
Dan Andrea masih mengingat dengan baik salah satu ilmu yang pernah diberikan sang Momma padanya itu.
Andrea, Abang dan Nathan juga mendapat ilmu dari para Dads yang berpengalaman soal berbagai macam simpul
ikatan yang biasa orang – orang jahat pakai, berikut cara melepaskannya.
‘Kalau gue lepaskan sekarang, posisi gue masih ga menguntungkan. Lebih baik gue tunggu kemana mereka mau membawa gue’ Andrea membatin. ‘Setelah itu akan gue beri pelajaran orang –rang brengsek ini, termasuk dia!’
Andrea sempat menghitung berapa orang yang tadi menyergapnya dan Niki.
“Apa kau memukulnya terlalu keras?!”
‘Jadi benar sudah dugaan gue kalau si Dilara itu wanita brengsek yang menjual gadis – gadis muda seperti gue. Dan telinga gue ga salah waktu dengar nama gue dan Via disebut sama dia waktu di panti sebelum gue dipergoki sama laki – laki brengsek ini!’
“Tidak Tuan. Hanya membuatnya pingsan”
Dan ‘dia’ yang Andrea maksud sebagai laki – laki brengsek itu, Andrea tahu persis itu siapa. Setelah tak lama dimasukkan ke dalam mobil asing, laki – laki yang kemudian mengikat dan menyumpal mulutnya itu berbicara pada salah seorang lagi yang berada di mobil yang sama.
‘Mereka memang sudah menargetkan gue dan Via sejak si Dilara itu melihat kami di Panti. Ah iya, Via!’
Andrea teringat Kevia.
‘Mudah – mudahan kamu aman’
Andrea masih tetap mempertahankan kepura – puraan pingsannya dengan sangat baik. Ada gunanya juga hobi anehnya yang pura – pura mati di dalam air, bahkan Andrea bisa menahan bola matanya tidak bergerak.
“Tapi Tuan, sepertinya gadis ini bukan dari keluarga sembarangan”
“Ibu tidak perduli. Dia hanya menginginkan gadis ini dan saudaranya itu. Mereka berdua barang bagus. Terlebih
gadis ini. Dia bisa menjadi aset Ibu di Rusia. Gadis keluarga kaya pasti sangat terawat bukan?”
“Iya Tuan”
“Rasanya jika tidak menghormati Ibu, akupun ingin bisa mencicipi gadis ini. Cantik sekali..”
‘Mimpi pun ga akan gue biarkan brengsek!’
“Apa kita akan menyelidiki keluarganya Tuan? Melihat dari penampilan dan mobilnya kurasa keluarganya cukup kaya. Mungkin saja Ibu kenal dengan keluarganya”
“Kalau kenal aku rasa tidak. Aku tidak pernah melihat wajah gadis ini dan saudaranya di lingkungan pergaulan Ibu yang aku tahu siapa saja berikut keluarga mereka. Sekalipun mobil mewah itu benar milik keluarganya, punya uang sedikit banyak bisa saja mereka kredit.”
'Sembarangan!'
"Jadi aku rasa, dia hanya anak orang kaya biasa. Mungkin hanya anak pengusaha biasa yang jauh dibawah Ibu. Tapi dia cukup sangat terawat"
“.......”
“Tambah kecepatan! Jangan sampai Ibu menunggu lama!”
“Baik Tuan!”
“Setelah sampai Marina, kau langsung jemput Stella dan Bapak di rumah dan langsung antar mereka ke Bandara”
‘Stella?’ Andrea bertanya dalam hati. ‘Apa gadis yang waktu itu dia jemput?’
Andrea tetap mempertahankan kepura – puraan pingsannya selama mobil bersama orang – orang jahat yang
membawanya itu melaju entah kemana. Andrea ingin mengintip, tapi dia tidak ingin mengambil resiko jika ternyata laki – laki disampingnya itu sedang memperhatikannya.
Nanti laki – laki itu pasti dapat mengetahui kalau dirinya tidak pingsan jika Andrea mengambil resiko dengan mencoba mengintip dengan matanya yang tertutup dengan tenang. Jadi Andrea membiarkan dulu posisinya, sambil meraba kembali tangannya yang terikat.
‘Mau menjual gue? Kalian akan menerima akibatnya!’
Andrea meraba pergelangan tangannya.
‘Tunggu saja, setelah gue aktifkan tracker di jam gue, kalian akan hancur berkeping – keping di tangan Abang dan para Dads!. Oh Tuhan, rasanya tak sabar melihat mereka dihajar habis – habisan oleh Abang dan para Dads tampanku’
**
To be continue ....
Thank you buat kalian yang masih setia.
Eeeemmmmuuaahhhh!!
Jempol dulu goyangin
Dan sesudahnya mohon maaf dengan frekuensi update yang ga seintens dulu.
Sambil nunggu update The Smith's bisa kali mampir ke Karya Terbaru Emak.
Hehehe ..😉😉😉😉
__ADS_1
Loph Loph