
***** Nih Yak\, Emak kasih dua episodeh\, biar pade anteng! .... *****
💋💋💋💋💋💋💋💋💋💋💋💋💋💋💋💋💋💋💋
♠♠♠ THE ENCHANTED TEAM ♠♠♠ Tim Yang Gemilang
*******
Selamat membaca.......
*******
Hampir setiap hari Fania duduk termenung di ruangan para lelaki itu. Ruangan yang sepertinya digunakan untuk berkumpul, karena terdapat asbak rokok dan juga rak pendingin yang berisi aneka minuman. Duduk diatas sebuah kursi malas sambil memandangi foto – foto yang terpajang didalam sana. Selalunya meneteskan air mata kala ia duduk sendirian disana, meski tak menangis meraung.
“Momma?....” Suara seorang anak lelaki membuyarkan lamunan Fania. ia langsung menghapus sebulir air
matanya yang tadi menetes. Varen datang dengan memegang gelas berisikan susu coklat ditangannya.
“Hey, My Prince ... belum tidur?.” Fania mengkode agar Varen mendekat padanya.
“Aku belum mengantuk Momma. Ini.” Ucap Varen sambil menyodorkan gelas yang ia pegang pada Fania.
“Ini buat Momma?.” Tanya Fania yang kini sudah memangku bocah berusia sepuluh tahun kurang lebih itu.
Varen mengangguk. “Aku lihat tadi Momma makan sedikit sekali seperti biasa. Aku ga mau Momma sakit.” Ucapan
Varen membuat Fania tersenyum sambil membelai kepala putra pertama kakak gantengnya sambil meraih gelas yang disodorkan Varen padanya. “Habiskan ya Momma?. Aku sendiri yang membuatkannya untuk Momma.”
“Terima kasih sayang, Momma habiskan kalau begitu susu coklat spesial buatan pangeran ganteng!...” Ucap Fania lalu menenggak habis susu yang diberikan Varen padanya. “Delicious!. (Enak!).” Ucap Fania lagi dengan tersenyum lalu meletakkan gelas kosong diatas meja didepannya.
“Momma jangan bersedih lagi ya?. Aku akan menjaga Momma dan semua orang yang ada disini, menggantikan Dad, Poppa dan Daddy – Daddyku yang lain.”
“Oh My Prince..”
“Aku tahu, meski Mommy selalu bilang kalau Dad sedang bekerja ditempat yang jauh dan lama akan kembali, Mommy hanya sedang berbohong. Aku tahu Momma ... aku tahu kalau Dad, Poppa, Papi John, Gappa, Daddy Jeff dan Daddy Dewa tidak akan pernah kembali, kan?. Karena mereka sudah berada di surga..”
‘Varen..’ Fania erat memeluk bocah yang kini sudah menitikkan air matanya itu. Air mata Fania juga ikut turun, namun ia segera menghapusnya.
Fania kemudian melepaskan pelukannya dari Varen dan tersenyum sambil menghapus airmata bocah itu dari pipi putihnya yang sedikit kemerahan.
“Momma janji, mulai sekarang Momma ga akan bersedih lagi. Hem?.”
Varen pun mengangguk pada Fania lalu mereka berdua sama – sama tersenyum.
“Momma apa boleh aku melihat – lihat disini?.” Tanya Varen.
“Tentu.”
****
“Momma.”
“Hey, jangan bermain dengan ini sayang, berbahaya, okay?.” Fania langsung menghampiri Varen yang sedang
memegang sebuah pemantik besi dan menyalakannya sehingga api kecil nampak muncul.
“Dad juga punya pemantik seperti ini. Begitu juga Poppa dan daddy – Daddyku yang lain.”
“Oh ya?.” Tanya Fania sambil memperhatikan pemantik yang sudah ia ambil dari Varen.
I Nero Fuoco
Fania membaca tulisan yang terukir di pemantik besi tersebut. “LV?.” Gumam Fania yang melihat juga dua huruf yang terukir di pemantik besi tersebut. ‘Emang LV produksi Zippo?.’ Batin Fania mengingat sebuah Brand ternama.
“Kalau punya Dad ada inisial nama Dad, kalau yang sedang Momma pegang itu ada inisial LV. Memang siapa dalam keluarga kita yang memiliki inisial itu?. Sepertinya tidak ada diantara kita yang namanya dimulai dengan L dan V.”
“Hah?.” Fania kemudian tersadar kalau bocah berumur sepuluh tahun yang sikap dan sifatnya lebih dewasa dari umurnya itu sedang mengoceh.
“Itu pemantik yang Momma pegang, seperti milik Dad R dan para daddy yang lain.” Sahut Varen. “Tapi disitu ada inisial LV. Kalau punya Dad R, selain ada slogan bahasa Italia yang sama, punya Dad R terukir RS, means Reno Smith.”
“Benar juga ...” Fania menggumam lagi sambil membolak – balik pemantik besi ditangannya, sementara si Varen masih terus gratak.
Fania juga sedang mengingat – ngingat.
‘Iya bener ini si Varen. Gue pernah liat ini Zippo model begini di rak kaca jamnya D. Inisialnya AS berarti Andrew Smith.’ Batin Fania. ‘Lalu LV ini berarti nama seseorang kan?. Tapi siapa?. Kalo Kak John dan Kak Jeff pasti JS.’ Otak Fania mulai berpikir keras.
__ADS_1
“Look into yourself, You will find the answer. Place for you to comeback. Family.” Fania menoleh pada Varen yang sedang berdiri dan menatap sebuah dinding. Anak itu nampak sedang membaca sesuatu.
“Kamu baca apa, My Prince?.” Tanya Fania yang sudah mendekati bocah yang punya kecerdasan diatas rata – rata
bocah seumurannya. Jauh lebih pintar bahkan.
“Ini Mom tulisan dalam frame ini.” Varen menunjuk pada tulisan yang ditunjuk Varen dalam sebuah figura yang
terpampang foto Andrew dan Reno yang tersenyum namun memandang lurus dengan sorot mata yang tajam.
“Dad dan Poppa tampan bukan?.” Ucap Fania sambil tersenyum dan mengusap foto tersebut.
“Iya...” Sahut Varen. “Tapi kalimat ini seperti sebuah kode, Momma.” Ucapnya yang membuat Fania mengernyitkan
dahi, namun kemudian ia terkekeh.
“Kamu terlalu banyak nonton film detektif, My Prince.” Timpal Fania.
Tapi Fania juga pada akhirnya membaca tulisan yang ditunjukkan Varen padanya itu.
Look into yourself, You will find the answer. Place for you to comeback. Family.
Fania menghela nafasnya.
‘Tapi kalian tidak kembali pada kami... keluarga kalian...’ Fania membatin.
Ia menghela nafasnya lagi lalu berdiri memandang lurus.
‘Kenapa ada cermin disini, coba?. Oh iya, kalian kan narsis ya? ....’ Fania ingat betapa narsisnya kedua orang dalam foto didepannya itu. ‘Eh?.’
“Momma?.” Varen berdiri disamping Fania kini. “Momma pasti sedang mengagumi diri sendiri seperti Dad dan Poppa yang selalu bilang mereka tampan pada dirinya sendiri.” Cerocos Varen. Namun Fania nampak terpaku didepan kaca. “Hobi to look into the mirror (bercermin) dan mengagumi diri sendiri."
“Ulangi Varen...” Fania berucap namun ia tetap memandangi dirinya pada cermin persegi dibelakang foto diatas satu nakas disamping cermin tersebut.
“Ulangi apa Momma?.” Tanya Varen bingung.
“Yang tertulis dalam figura.” Sahut Fania.
"Look into yourself, You will find the answer. Place for you to comeback. Family."
Varen mengikuti kemauan Fania dan membaca kembali sebuah kalimat yang tertulis di figura yang mereka lihat sebelumnya.
“Look into yourself, You will find the answer. Place for you to comeback. Family.”
Mata Fania tetap mengarah ke cermin, namun ia menangkap sesuatu yang lain selain dirinya dan tembok dibelakangnya, berikut figura foto dimana terpampang foto seluruh keluarga mereka disana. Hanya satu foto itu saja, foto yang ukurannya lumayan besar, dan tidak ada yang lain lagi yang tercantel didinding selain foto tersebut.
Fania pun menoleh, dirinya merasa ada sesuatu. Benar yang dibilang Varen sepertinya kalimat dalam figura dimana ada Andrew dan Reno didalamnya itu seperti menyiratkan sesuatu.
“Family..” Fania pun berbalik dan menghampiri figura foto keluarga mereka yang tadi terpantul dicermin. Kini ia sudah berdiri didepan figura besar itu.
“Sepertinya benar dugaanku, kalau kalimat dalam frame foto Dad dan Poppa itu mengarahkan kita pada sesuatu.”
Fania menoleh pada Varen yang kini berada disampingnya. “Maksud kamu?.” Fania gagal paham maksud Varen.
“Apa Momma tidak melihat ada yang aneh pada frame ini?.”
Lagi – lagi Fania mengernyitkan dahinya.
“Memang apanya yang aneh?. Sama aja seperti frame yang lainnya.”
Fania memandangi figura foto itu baik – baik.
“Coba Momma lihat sisi kiri figura itu. Lebih menonjol daripada sisi yang lainnya. Coba Momma sentuh.”
Fania memandangi Varen sesaat.
“Kemari, mendekat pada Momma.” Fania kemudian memeluk erat Varen yang tingginya sebatas pinggang Fania.
Satu tangan Fania memegang erat Varen dan satu tangannya lagi mencoba menyentuh sisi figura yang lebih
menonjol seperti yang dibilang Varen tadi.
Fania kemudian menyentuh sisi figura yang sedikit lebih menonjol itu, mengikuti apa yang bocah itu bilang barusan. Sambil juga memegangi Varen untuk berjaga – jaga siapa tahu ada bahaya setelahnya.
Fania meneguk salivanya dan kini ia memegangi Varen dengan kedua tangannya, karena saat Fania menyentuh
sisi figura yang menonjol itu nampak dinding yang tercantel figura keluarga mereka itu bergerak.
__ADS_1
“Oh Tuhan ....” Mata Fania terbelalak, sementara mata Varen berbinar.
“Momma, kita menemukan pintu rahasia!.” Seru Varen yang kemudian melepaskan diri dari Fania dan langsung
berlari ke dalam sebuah ruangan yang terhampar didepan mereka. Ruangan yang teramat besar dan begitu terang.
“Varen!.” Fania mengejar Varen yang sudah berlari ke dalam ruangan tersebut, dan saat ia sudah masuk pintu itu tertutup lagi secara otomatis.
“Jangan khawatir Momma!.”
Varen mendekati Fania yang sedang nampak panik karena pintu tempat mereka masuk tertutup dengan rapat kembali.
Fania meraba – raba dinding itu. “Bagaimana kita keluar dari sini, Varen?!.” Serunya pada Varen.
Namun bocah yang kepinteran itu malah tersenyum jahil pada Fania.
“Itu ada tombol disampingnya, Momma. Coba saja Momma tekan pasti pintu tadi terbuka lagi.”
Varen menunjuk sebuah tombol kecil disisi dinding yang lain, Fania pun coba menekannya. Dan seperti yang bocah itu bilang, pintu pun terbuka lagi dan kemudian menutup lagi sepersekian waktu.
‘Ya ampun Kak Reno anaknya, ini dikasih makan apa bisa pinter beginiiii.’ Fania menangkup pipinya sendiri sambil memandang takjub pada Varen yang sedang senyum – senyum padanya itu.
“Aku pintar kan?.” Ucap Varen membanggakan dirinya pada Fania.
“Jenius!.”
Bocah itu pun terkekeh mendengar pujian Fania.
Kemudian keduanya berbalik lagi dan memandangi seisi ruangan rahasia yang baru saja mereka temukan itu.
“Kita seperti berada di markas secret agent 007, ya Momma?.” Ucap Varen dan Fania mengangguk cepat. Fania terkesima dengan apa yang berada dihadapannya sekarang. Beberapa macam mobil berbeda jenis yang dipastikan canggih, rak aluminium yang entah apa didalamnya. Benar yang dibilang bocah kepinteran anaknya si kakak ganteng itu. Mereka seperti berada di markas sebuah agen rahasia yang ada di film – film.
“Kita bisa keluar dari sini Varen!...” Seru Fania bersemangat dan ia mulai berkeliling.
“Pasti Momma!.” Sahut Varen. “Lihat itu!.” Varen menunjuk ke satu arah.
“Ini...” Fania memandangi sebuah kotak besar besi yang nampak seperti pintu lift. Lalu menoleh takjub lagi pada Varen. “Tapi sepertinya menggunakan password untuk membuka pintu ini, My Prince.” Fania memandangi kotak bernomor didinding samping pintu besi tersebut.
“Jika ada laptop, aku bisa membukanya, Momma!.”
“Hah?!.” Fania terkesiap dengan ucapan bocah sepuluh tahun itu.
“Ya aku bisa dengan mudah membajak sistemnya jika saja kita punya laptop ... mungkin ada didalam sini! .. ayo kita cari Momma! ...”
Varen sudah melangkahkan kakinya menjauh dari sang Momma yang sedang melongo memandangi bocah itu.
‘Ini... si Varen ape detektif Conan sih?.’ Batin Fania terlalu takjub.
“Momma! Lihat ini!.” Varen berseru dan Fania tersadar.
Anak itu mengangkat sebuah benda kotak persegi dikedua tangan kecilnya. “Laptop?!.” Ucap Fania dan matanya
kian berbinar. “Kamu sedang apa, Varen?.”
“Aku akan menyembunyikan dulu alamat IP laptop ini, just in case kalau ada yang coba melacaknya.”
Varen berkata sambil meletakkan laptop diatas sebuah meja aluminium.
“Done!.” Ucap Varen lagi. “ Sekarang waktunya membuka pintu ini, Momma!. Kita bisa mencari tahu keberadaan Dad dan yang lainnya kan, kalau kita bisa keluar dari sini?.”
Ucap Varen sambil memasangkan satu kabel usb pada laptop dan menghubungkan nya pada kotak bernomor di dinding.
Fania hanya bisa mengangguk sambil menatap takjub sekaligus tak percaya dengan bocah yang ada dihadapannya ini. Yang satu tangannya sudah bergerak lincah diatas keyboard laptop dan satu tangannya menopang laptop tipis tersebut.
Dan si Kajol hanya bisa melongo sambil mengerjap – ngerjapkan matanya. ‘Cicitnya Einstein ape die nih?.’
TIITT!
Selang beberapa menit terdengar sebuah bunyi dari kotak bernomor tersebut dan lampunya berganti hijau. Berikut tulisan unlocked.
“Sudah Momma!. Pintu ini sudah bisa terbuka. Momma tinggal tekan saja tombol berwarna hijau itu, dan pintu besi itu pasti terbuka.”
‘Abis ini gue tanya Kak Ara, si Varen die kasih makan apaan ini bocah ....”
*
To be continue ....
__ADS_1
Dua episode meluncur, jempol kalo ga dikondisikan Kelewataaaan.😃*