
SWEET, WITH A LITTLE HEAT
(Manis, Sedikit Panas)
Selamat membaca...
Bahagia yang membuncah masih kian melekat di diri dan hati pasangan pengantin baru yang sudah menyatu tak hanya batin namun tubuh mereka. Berbagi cinta sekaligus berbagi kenikmatan seolah esok takkan ada.
Maklum pasangan muda. Hasrat yang dipicu sedikit saja bisa dengan cepat jadi membara. Untungnya, sudah halal sih.
Berkat keputusan Poppa dan Daddy R yang menyuruh mereka menikah dengan segera, meski Andrea masih terbilang sangat belia. Anti Mainstream mungkin, disaat orang tua di era modern ini kebanyakan akan menyuruh anak mereka untuk fokus pada penataan masa depan kala anak merek terbilang belia dan muda dari segi pendidikan dan pekerjaan mungkin.
Tapi Daddy R dan Poppa tak berpikir sama.
Tak salah juga sih, kalau bicara soal kemapanan dimasa depan, baik Varen dan Andrea sudah dipastikan akan mapan tujuh turunan delapan tanjakan berikut belokan.
Kalau soal pendidikan dan karir, toh banyak orang yang bisa melakukannya setelah mereka menikah juga. Jadi ya sudah, Andrea dan Varen mereka cepat - cepat nikahkan saja. Mau juga keduanya.
Tapi ya untungnya Andrea dan Varen saling cinta, jadi mereka berdua bahagia – bahagia aja.
**
Keluarga mereka mungkin tak sempurna, tak ada orang yang sempurna didunia ini bukan?. Bagi Andrea dan Varen, terlepas dari arti masing – masing secara personal, tapi tetap, keluarga mereka juga segalanya.
Tak menampik mereka punya banyak kekurangan sebagai orang beragama, masih kadang ada sikap yang mungkin
melenceng atau hal yang tak baik yang masih dilakukan, baik oleh para Daddies dan Mommies mereka.
Manusiawi.
Sekali lagi, tak ada manusia yang sempurna. Kecuali para kakek dan nenek yang sudah jauh lebih lurus daripada Daddies dan Mommies. Maklum sudah masuk tahap lansia.
Seburuk – buruknya orang tua, kebanyakan dari mereka pasti ingin yang terbaik untuk anaknya. Gappa, Gamma, Ake, Ene, Oma dan Nene dulu dan sampai sekarang juga masih terus menasehati para Dads dan Moms jika dirasa ada sesuatu yang salah.
Dan sekarang, giliran para Dads dan Moms yang punya tugas untuk mendidik dan membimbing anak – anak mereka ke jalan yang benar, setidaknya.
Meski kadang perilaku dan ucapan unfaedah dari para Dads dan Moms terlontar begitu saja. Kebanyakan itu candaan saja. Tapi terlepas dari itu semua, Andrea dan Varen begitupun Nathan, tiga cucu dalam Keluarga Adjieran Smith, tetap menjadikan para Dads dan Moms mereka panutan, yah terlepas dari kekonyolan dan kegilaan mereka.
Memberikan kehidupan yang baik, sudah. Memang secara finansial sangat mampu untuk memberikan kemewahan
pada setiap anak mereka. Memberikan pendidikan akademik yang layak, pastinya. Dari kecil selalu ada nasihat yang terselip untuk anak – anak mereka. Hingga setelah besar, nasehat itu kadang terdengar seperti wejangan.
Namun Andrea, Varen dan Nathan menerimanya dengan baik dari sejak mereka kecil.
Dua budaya yang tercampur, tidak menjadikan mereka pribadi yang menganut paham ‘bebas’ yang tak bernorma.
Tak seperti putra – putri dari kalangan atas yang banyak hilang arah, karena pongah atas kekayaan keluarga mereka. Pergaulan Andrea, Varen dan Nathan setidaknya masih dalam tahap wajar.
Para Dads dan Moms mungkin pernah melakukan kesalahan di masa muda mereka, tapi mereka tidak menutupinya. Malah diceritakan, semata – mata untuk jadi pembelajaran, agar anak – anak mereka tak mengulangi kesalahan yang sama.
Berhasil, untuk Andrea, Varen dan Nathan. Tanpa didikan yang terlalu keras, setidaknya mereka bisa mengontrol diri mereka sendiri.
Mereka tetap santai dengan para Dads dan Moms, namun paham ada saat dimana mereka harus bersikap hormat
sebagai anak pada orang tuanya.
Ada kalanya para Dads dan Moms memang memposisikan mereka sebagai anak, dan ada kalanya mereka merangkul sebagai sahabat.
Kebebasan di berikan untuk setiap orang dalam keluarga, baik buruknya yah pribadi sendiri yang menentukan.
Namun Andrea, Varen dan Nathan bisa dibilang memang anak – anak yang patuh, yang masih ada takutnya sama orang tua. Menghargai dan hormat lebih tepatnya. Toh tiga anak yang paling besar itu tidak bergaul dengan sangat bebas, seperti dulu Papi dan Daddy Jeff yang terbilang liar dalam pergaulan.
Sesuatu yang tidak bisa dijadikan contoh.
Atau Daddy Dewa yang juga sempat terlalu bebas dalam pergaulannya.
Atau Yah Poppa, yang 'menyentuh' Momma kala belum saatnya, karena tak mau ditinggalkan Momma.
Bukan juga tidak dinasehati oleh Gappa, Gamma dan saudara mereka yang lain, tapi itu kembali lagi ke pribadi masing – masing. Tapi untungnya sudah tobat sih kalau urusan perempuan setelah bertemu dengan solmed masing – masing yang menjadikan mereka pria bucin.
Selebihnya para Dads menjadi panutan, karena mereka pribadi yang tangguh dan tegas serta bertanggung jawab
untuk setiap hal yang mereka lakukan, baik atau buruk hal tersebut. Begitupun para Moms.
Andrea, Varen serta Nathan diberi kebebasan yang penuh, tapi tak serta merta terlalu memanfaatkannya. Tetap mereka akan melakukan apa yang para Dads dan Moms putuskan untuk mereka lakukan, meski tanpa paksaan.
‘Kami sudah mendidik, dan sering menasehati kalian. Selebihnya, hidup kalian ke depan adalah tanggung jawab kalian’
'Kami memberi saran, keputusan tetap pada diri kalian sendiri'
Seperti halnya tanggung jawab yang diiyakan Varen dengan yakin untuk menyetujui ia dinikahkan dengan Andrea, meski saat gadis itu belum lulus sekolah. Tak perduli dengan segala konsekuensi jika ia akan direpotkan oleh istri kecilnya yang bau kencur itu, Varen tetap mengiyakan.
Tak sulit mengurus Andrea, karena sudah kurang lebih selama tujuh belas tahun Varen lakukan.
Selain memang karena Varen mencintai Andrea dengan sangat, dengan kegilaannya, dengan caranya.
Dan inilah mereka sekarang, sudah menikah secara resmi dan sah selama beberapa bulan.
__ADS_1
Andrea sudah lulus sekolah, hanya tinggal menunggu acara kelulusan saja.
Ritual suami istri yang pernah tertunda juga sudah terlaksana. Andrea dan Varen merasa pernikahan mereka lengkap sudah, hanya tinggal menunggu acara resepsi untuk mengumumkan secara resmi pernikahan mereka, juga sambil menunggu jika Tuhan memberikan buah hati dalam waktu cepat.
****
Mata Andrea mengerjap perlahan.
Andrea kemudian mengumpulkan kesadarannya.
Hembusan nafas hangat Andrea rasakan dikulit lehernya.
Varen masih nampak terlelap dan menempel rapat dipunggungnya.
Andrea bergerak perlahan, hendak bangun dan membersihkan diri. Satu tangan Varen melingkar diperutnya.
Andrea coba menggeser tangan kokoh si Abang yang semalaman sudah menjelajah setiap inci tubuhnya. Namun tangan itu seolah bergeming dari tempatnya.
Akhirnya Andrea mengelus pelan tangan Varen yang melingkar di perutnya. “Abang ....” Ucap Andrea.
Varen malah mengeratkan rangkulannya di pinggang Andrea, sambil merapatkan lagi punggung Andrea dengan dadanya.
“Abang ....”
Kali ini Andrea menepuk – nepuk lengan Varen.
Tetap saja Varen masih mengeratkan dekapannya.
“Abang, bangun ini sudah pagi”
“Huummm ....” Varen hanya menggumam dengan mata yang masih terpejam.
“Abang, ih! Kita bukannya harus kembali ke kediaman utama?. Kita mau fitting baju resepsi sekali lagi kan?”
Tak ada sahutan, malah Varen menaikkan satu kakinya di paha Andrea yang membuat gadis itu gemas setengah mati, karena ingin buru – buru mandi.
“Resepsi masih satu minggu lagi”
“Iya memang, tapi kan kita punya banyak schedule. Masa kita ga ikut membantu untuk acara kita?”
“Huuuummmm”
Andrea mendengus sebal.
“Abang!”
Kali ini Varen membuka matanya akibat kepretan dilengannya dan ia mendengus kesal lalu membalikkan tubuh Andrea agar menghadapnya. “Membangunkan suami itu yang mesra. Bukannya dicium malah dipukul”
“Abang ini siapa kamu sekarang?” Ucap Varen seraya bertanya dengan suara parau khas bangun tidur.
“Suami Drea”
“Nah ya sudah, kenapa protes kalau Abang peluk kamu?”
“Drea mau mandi lah!” Sahut Andrea merasa badannya lengket akibat sesi panasnya dan Varen semalam, terutama
diantara sela pahanya. Yang semalam tidak sempat langsung dibersihkan akibat langsung terlelap karena begitu lelah.
“Nanti saja ....”
“Ih badan Drea sudah lengket sekali ini! ....” Protes Andrea karena Varen kembali mengunci tubuhnya. “Abang!”
“Ck!”
Abang pun berdecak sebal, dan melepaskan kuncian nya dari tubuh Andrea. Andrea pun langsung bangkit.
Perih di daerah intinya sudah tak terasa lagi. Sudah dikunjungi tiga kali, jadi sudah menyesuaikan kehadiran sosis jumbo tanpa saus disana.
Duh, kalau ingat sosis, rasanya ingin masuk lagi kedalam selimut. Namun Andrea urungkan, karena merasa sudah tak nyaman dengan tubuhnya yang terasa lengket akibat peluh semalam, selain itu tubuhnya kini baru dirasa Andrea seperti tulang yang ada didalamnya seolah remuk.
Andrea mengambil kaos Varen yang semalam ia pakai, yang tercecer dilantai. Lalu berjalan menuju kamar mandi
dengan membawa juga kain pengaman miliknya yang berbentuk kupu – kupu, tanpa ia pakai. Toh mau mandi ini.
****
“Eh iya Abang” Andrea keluar lagi dari dalam kamar mandi.
“Hemmmm?” Sahut Varen yang kini sudah mendudukkan dirinya sambil bersandar di kepala ranjang. Memperhatikan Andrea.
“Minta tolong ambilkan baju Drea di kamar Drea yang ada disini, please ....”
“Hadiahnya?”
Varen beringsut dari atas ranjang, lalu meraih celana pendeknya dan memakainya.
“Ish! Gitu aja minta hadiah!”
Andrea mengerucutkan bibirnya lalu membalikkan lagi tubuhnya untuk masuk ke kamar mandi.
****
“A – Abang mau apa ....?”
__ADS_1
Andrea sedikit terkejut kala Varen ternyata ada dibelakangnya lalu menahan tangannya yang hendak menutup pintu kamar mandi.
“Mandi lah”
Andrea menelan ludahnya sembari melongo melihat Varen yang ngeloyor masuk ke kamar mandi dengan hanya menggunakan celana pendek miliknya itu, roti sobek terpampang jelas kan dimata Andrea.
“Tapi kan Drea juga mau mandi?”
“Lalu?”
Varen tetap ngeloyor melewati Andrea yang nampak kikuk tanpa juga Andrea lihat seringai jahil diwajah Varen.
“Yaaa kalau Abang mau mandi duluan ya sudah. Drea setelah Abang selesai mandinya” Ucap Andrea kikuk.
“Ada shower dan bath tub, ga perlu saling menunggu untuk mandi”
“Yaa ri-sih kan?”
“Kenapa harus risih? Sudah sama – sama melihat tubuh masing – masing semalaman”
‘Perasaan gue ga enak sepertinya ....’
“Kamu mau mandi di bath tub atau pakai shower”
“Eeengg bath tub aja, Drea ingin berendam”
Varen kemudian menyalakan kran bath tub setelah memastikan sumpalan bath tub tertutup rapat, lalu menuangkan aroma therapy kedalamnya.
“Tapi kalau Abang mau pakai bath tub, ya ga apa Drea mandi pakai shower”
“.....”
“Jadi Abang mau berendam di bath tub atau shower?” Ucap Andrea sambil mengedarkan pandangannya.
“Ikut kamu”
‘Kan, gue bilang perasaan gue ga enak’
“Come to Abang, Little Star....”
Entah sejak kapan si Abang sudah berada di dalam bath tub.
Dan tangan Varen kini bergerak memberi isyarat agar Andrea segera mendekatinya.
‘Hmm alamat ga langsung mandi ini sih’ Batin Andrea sembari melirik celana pendek Varen yang sudah teronggok dilantai dekat bath tub.
“Miracle Andrea ....” Panggil Varen sembari menatap Andrea yang masih mematung ditempatnya.
“Mandi saja loh ya ....”
Varen tak menyahut hanya tetap menatap Andrea, yang akhirnya menurut untuk masuk ke dalam bath tub. “Ada orang mandi pakai baju?” Ucap Varen karena Andrea masuk bath tub dengan kaos yang masih menempel ditubuhnya.
“Ennggg....” Andrea menggumam kikuk.
Syut!
“Begini baru benar” Si Abang menyeringai sembari melepaskan kaos Andrea.
Ga jadi mandi ....
****
Hari resepsi....
“Ck!” Varen berdecak sebal saat matanya menangkap sosok yang rasanya ia malas untuk lihat.
“Abang kenapa?” Tanya Andrea yang mendengar kalau suaminya yang sedang berdiri bersamanya untuk menerima
ucapan selamat dari para tamu itu berdecak, berikut wajahnya yang sedikit ia tekuk.
‘Hish! Untuk apa dia datang?’
Varen membatin.
“Abang?”
“It’s okay Little Star.....”
****
🎵🎤Harusnya Aku Yang Disana, Dampingi mu dan Bukan Dia🎵🎤
“Benar – Benar cari mati!”
****
To be continue ....
Jangan Lupa LIKE Yeeee
Ga maksa Sih, kesadaran aje
Wkwkwkwk
__ADS_1