THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 163


__ADS_3

♥ KEMESRAAN ♥


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Selamat membaca .....


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


“Hey, why you look so sad, Mi Amore? (Hey, kenapa kamu terlihat sedih, Sayangku?).” Lucca merengkuh Fabiana dalam dekapannya.


“Are you really okay if I get pregnant?.. (Apa kamu benar tidak apa – apa jika aku hamil? ...).”


Lucca mengangkat dagu Fabiana yang sedang setengah tertunduk itu.


“Why you asked like that? (Kenapa bertanya seperti itu?).” Ucap Lucca.


“I’m afraid you’re not ready to be a Papa, Tesoro ... (Aku takut kamu tidak siap untuk menjadi seorang Ayah, Sayang...).”


Lucca tersenyum dan mengecup bibir Fabiana sekilas.


“Who said that? (Siapa yang bilang begitu?).” Sahut Lucca.


“Me ... (Aku...).”


Fabiana berujar pelan.


“Hey, Mrs. Fabiana Valentino... I never talked about a baby with you, it doesn’t mean I’m not ready and don’t accept your pregnancy now (Aku tidak pernah membicarakan seorang bayi denganmu, bukan berarti aku tidak siap dan tidak menerima kehamilan kamu sekarang).”


Lucca menatap Fabiana dalam – dalam.


“Ti Amo, Mi Amore .... and there’s no more happiness for me, is to have you in my life and having cute babies of us.. (Aku cinta kamu, Sayangku .. dan tidak ada kebahagiaan lain untukku, selain memilikimu dalam hidupku dan memiliki bayi – bayi lucu benih cinta kita).”


“I’m so happy Tesoro... (Aku begitu bahagia Sayang)..” Ucap Fabiana dengan matanya yang berkaca – kaca namun


wajahnya menyiratkan kebahagiaan yang teramat sangat. “Grazie Tesoro ... (Terima kasih Sayang)...” Fabiana memeluk erat – erat Lucca dengan segenap bahagia dan cintanya. Lucca pun membalas pelukan Fabiana tak kalah eratnya. “I Love you... so much... Lucca ... Tesoro...” Fabiana menciumi wajah Lucca yang tersenyum dengan lebar.


“Anch’io ti Amo, Fabiana... Senza di te la vita non ha più senso (Aku juga mencintaimu, Fabiana .. Tanpa kamu, hidupku tak berarti).”


***


Aura bahagia sedang menyelimuti Mansion Utama Keluarga Adjieran Smith saat ini. Wajah – wajah semua orang nampak sumringah, tidak hanya para Tuan – Tuan dan Nyonya – Nyonya Besar, tapi semuanya tanpa terkecuali. Betapa tidak, calon pewaris tahta akan nongol lagi, tidak hanya satu melainkan dua.


Andrew dan Fania akan menyambut anak kedua mereka, sementara Lucca dan Fabiana akan menyambut anak pertama mereka.


Andrew dan Fania bahagia, namun Lucca dan Fabiana lebih – lebih bahagia.


Yah meskipun Lucca harus mengalami Cauvade Syndrome seperti para Pangeran di Keluarga Smith yang pernah


mengalaminya, termasuk Dad saat Mom sedang mengandung Andrew dulu, namun Lucca nampak bahagia.


Pada akhirnya dia juga akan memiliki keturunan seperti para saudara laki – lakinya lain yang punya kebahagiaan lengkap, yakni istri dan anak – anak.


“Kamu ga pada ke kantor Ren?.” Tanya Papa Herman pada Reno.


“Hari ini kami akan tinggal di rumah Pa .... Bos kan bebas....” Sahut Reno sembari terkekeh kecil. Papa Herman manggut – manggut.


“Iye, iye....” Sahut Papa Herman lalu menyesap kopinya sambil matanya berkeliling. “Nah kalo senyum begitu mukanye kaga ditekuk mulu kan cakep itu orang. Keliatan gantengnya kayak kamu dan semua laki dirumah ini, termasuk Papah iye kan Ren?.” Ucap Papa Herman, setelah melihat tiga orang yang duduk tak jauh dari tempatnya dan Reno berada sekarang.


Reno yang sedang duduk mengobrol bersama Papa Herman dipinggir kolam renang sambil ngopi dan merokok itu pun terkekeh lagi dengan ucapan Papa Herman barusan. “Iya dong Pa!. Semua pria di keluarga ini mana ada yang jelek? ...” Ucap Reno dan Papa Herman juga ikutan terkekeh.


Mereka berdua sedang memandangi Lucca yang terlibat obrolan dengan Dad dan Andrew tak jauh dari tempat mereka duduk sekarang dan wajah Lucca nampak begitu bahagia, meski pagi ini dia mengalami morning sickness, namun tak separah saat dia mencium bau Owen dan Judith yang menurutnya seperti bau rumah sakit dan obat.


Meski begitu wajah si hantu yang dingin dan kaku itu kini nampak bersinar bahagia dengan senyuman lebar yang tak kunjung padam dari wajahnya.


Sementara Andrew terlihat baik – baik saja, karena mungkin anak kedua, jadi Cauvade Syndrome tak menyerangnya lagi. Entahlah apa Andrew akan mengalami Cauvade Syndrome untuk yang kedua kalinya atau tidak.


***


 “Pake ini bagus Bu!....” Prita menyodorkan sebuah gaun terusan pada Ibu Yuna.


Mereka berdua, bersama para wanita yang lain sedang mencoba gaun untuk dipakai saat acara makan malam esok hari yang diadakan di luar Mansion untuk merayakan kehamilan duo F, yakni Fania dan Fabiana.


Anak – anak juga ikut serta untuk fitting pakaian yang sudah diantarkan oleh para karyawan dari beberapa butik terkenal, termasuk dari butik milik Ara.


“Iya, itu bagus yang Prita pegang, Bu. Cocok buat Ibu.”


“Ibu coba deh kalau gitu.”


“Nah kalau Mom dan Mama Bela cocok yang ini sepertinya.”


“Widih baju sosialitah ini sih!. Mamah kalo pake ini kek istrinya si Bakri! ...”


Para wanita yang sedang berkumpul itu pun spontan terkekeh mendengar celotehan Mama Bela, kecuali Fabiana yang susah paham ucapan si Syahelah.


“Kang roti?.” Celetuk Fania.


“Bakriiii, bukan bakery!. Cakep – cakep bolot!. Istri nye Endru ape istrinya haji bolot sih kamu Jol?!.”


Fania terkekeh mendengar celotehan emaknya itu termasuk juga yang lainnya, tetep kecuali Fabiana yang hanya bisa tersenyum saja melihat semua wanita yang bersamanya itu terkekeh geli.

__ADS_1


***


“Lucca looks very happy! (Lucca terlihat sangat bahagia!).”


Michelle bersuara saat para wanita kini sudah bergeser ke ruang santai dan berkumpul untuk tea time sembari memperhatikan para pria yang juga sedang bercengkrama di area halaman belakang.


The Krucils juga sedang bersama para wanita namun mereka nampak asik sendiri.


Fabiana melihat ke arah suaminya yang sudah belakangan sejak tinggal di Mansion Utama milik Dad dan Mom ini, wajah Lucca yang biasanya datar, kini makin terlihat santai setiap harinya, dan senyumnya juga makin sering terbit.


“He is (Iya).” Sahut Fabiana dengan senyumnya.


“You can’t resist the magic of hocus pocus and the heirloom shaker now, right? (Kamu tidak bisa menyangkal keajaiban rumus dan goyangan turun temurun itu, kan sekarang?).”


“Absolutely no! (Tentu saja tidak!).”


Para wanita itu pun tergelak, gantian Mama Bela yang diem sekarang karena ora paham.


****


“Apa kamu menginginkan sesuatu, Heart?.”


Andrew yang baru datang dari halaman belakang itu langsung mendekatkan dirinya pada Fania sambil merengkuh


pelan dan mencium pipi Fania sembari tersenyum.


“Engga D ..”


“Bilang ya, kalau ada yang kamu inginkan.”


Fania mengangguk pelan sembari menoleh dan tersenyum juga pada Andrew yang seringnya selalu bersikap mesra selain m*sum.


Papa Herman dan para pria yang sudah membubarkan diri dari halaman belakang seperti halnya Andrew pun kini ikut nimbrung dengan para wanita dan anak – anak di ruang santai.


“Eh Bunda Rita diem aje! ....” Papa Herman yang melihat Mama Bela yang tak bersuara itu mulai menggoda istrinya.


“Bunda Rita???....”


Ara yang tak paham itu bersuara seraya bertanya saat Papa Herman datang dengan celetukan nya sambil menggoda Mama Bela dengan menoel dagu istrinya yang blaem – blaem itu.


“Jangan iseng Megi Jet! ..”


“Mulai dah.”


Fania geleng – geleng sambil mesam – mesem melihat kedua orang tuanya yang mulai saling meledek itu.


“Bunda Rita itu siapa?.”


“Siapa sih?.”


“Penyanyi dangdut sepanjang masa Kak Ara, noh favoritnya mereka berdua!.”


Ara pun manggut – manggut. “Sebutan untuk Mama ganti lagi dari Syahrini KW alias Syahelah jadi Bunda Rita sekarang?.”


“Kayak ga tau die orang aje, kak ....” Timpal Prita, sementara yang lain hanya mesam – mesem saja, sambil mendekat pada pasangannya masing – masing, kecuali dua jendes yang untungnya ga ngiri melihat para couple tersebut.


“Tumben kaga kedengeran suaranya dari tadi Mah?. Sariawan, ape sakit gigi?.”


Papa Herman kembali menggoda Mama Bela.


“Die pade ngomong Bahasa Inggris panjang – panjang beut, kaga pahamlah Mamah!...” Timpal Mama Bela.


“Ooo....” Papa Herman ber oh ria.


“Bulet!.”


Mama Bela kembali menimpali.


Yang lain hanya cengengesan aja melihat dua orang itu, termasuk Lucca dan Fabiana yang ikut mesam – mesem, yang meskipun tak paham pembicaraan Papa Herman dan Mama Bela, namun kelakuan dua orang yang aneh terlihat lucu dimata mereka. Belum lagi cara bicara kedua orang tua Fania dan Prita itu, termasuk volume suara mereka.


“Karokean dah, biar kaga bete!.... ada nih Papah setok lagu nye Bunda Rita di hape Papah ....” Ucap Papa Herman.


“Au ah....”


“Dih beneran ini tinggal di colok aje ke tipi ama spiker .... iye kan John?.”


“Tenang Pa, kalau mau karaoke, tinggal nyalakan saja itu Sub Woofer! ....” Sahut John sambil cekikikan.


“Nah, cakep dah itu. Hayo dah kita karokean....”


“Udeh nyalain Pi, biar Bunda Rita ama Meggy Z nyanyi noh beduaan! .... daripada ngoceh ga jelas begitu!....” Celetuk Prita pada John, yang lain masih terkekeh.


“🎵Daripada syakit hati .... lebih baik syakit gigi ini .... biar tak mengapa ..🎵” Si Kajol yang baru saja berdiri untuk mengambil cemilan itu meledek kedua orang tuanya sembari bernyanyi dan menggoyangkan tubuhnya dengan memegang piring kecil ditangannya.


“Hasek!.”


Semua orang pun terkekeh geli melihatnya. Termasuk Lucca dan Fabiana melihat kelakuan istrinya Andrew itu.


“Udeh cepet nyalain itu Sub Woofer Kak John....” Ucap Fania.

__ADS_1


“Okay Dokay!.”


“Ayo Mah!.” Ajak Papa Herman.


“Papah aje sono tuh sama si Kajol en Priwitan!.... yang karokean....”


***


“What is Ka – jool? And Prii ....(Apa itu Ka – jool? And Prii?).... I often heard Ka – jol when two J call your wife and she quite often call Fania with that too, is that part of her name? (Gue sering dengan kata Ka – Jol saat dua J memanggil istri lo and dia juga sering memanggil Fania dengan sebutan itu, apa itu bagian dari namanya?).”


Lucca berbisik pada Andrew.


"Sounds funny and weird ... (Terdengar lucu dan aneh ...)..."


“Priwitan!.” Sahut Andrew. “Kajol and Priwitan is kind of funny nick names that Fania and Prita’s have from Mama Bela (Kajol dan Priwitan itu semacam panggilan lucu – lucuan nya Fania dan Prita dari Mama Bela).”


“Hummmm.”


***


“Wa elah si Mamah suka malu – malu embe!.”


“Tau Mah, biasanye juga teriak – teriakan di kamar mandi!.”


“Ga apa Ma, karaoke tuh berdua dengan Mom.”


“Nah iye!. Ajarin tuh Nyonya Erna lagunye Bunda Rita, doyan pasti entar die bakalan!.” Celetuk Papa Herman.


“🎵Kalau Ada Makanan di Meja!....🎵” Gantian si Priwitan yang nyanyi sambil godain emaknya sambil menggoyangkan badannya di depan Mama Bela.


“Mejanya Yang Kumakan!.”


Sahut Bunda Rita. Eh, Mama Bela pada anak bontotnya yang suka gesrek itu.


“Ngahahahahahaha!.”


***


 “🎶🎶🎶”


Dua kubu sudah terbagi. Kubu yang satu sedang asik karokean bersama krucil, kubu satunya lagi masih betah mengobrol.


“Pantes aja kamu akhir – akhir ini bawaannya ngomel terus ya, Fan? ....”


“Ga ape – ape kalo ngomel doang, asal jangan ngamuk sampe ngerobohin ini istana ....”


Beberapa anggota keluarga terlibat obrolan, sementara beberapa keluarga yang lain masih asik karokean bersama para krucil.


Theresa dan para maid hanya bisa mesam mesem melihat Mom dan Dad beserta para krucil karokean sambil joged – joged ala – ala baby shark dance. Hal yang langka dimata mereka melihat Dad Anthony yang biasanya jaim itu meskipun baik dan ramah, joged joged jadi Grandpa shark yang membuat Varen, Nathan dan Andrea terlebih lagi Mika cekikikan melihat Gappa dan Gamma mereka seperti itu.


Meskipun semuanya lengkap termasuk microphone dan sebagainya untuk karaokean, tapi semua barang – barang itu hampir jarang dipakai sampai dengan hari ini.


Yah paling sering si Kajol yang pakai, itupun jarang – jarang, karena seringnya dia karaoke sendiri di kamar pribadinya dan Andrew. (Karoke beneran loh ya, nyeng nyong. Awas jangan ngeres. Emak sapuin ntar otaknye  pada).


“Dulu waktu hamil si Andrea elo kaga bisa diem Kak, coba noh anak lo udeh kek kepiting sawah campur gurita, kaga bisa beut diem!.” Celetuk Prita sambil menunjuk Andrea yang sedang mengarahkan koreo baby shark dance pada Gamma dan Gappa nya. “Sekarang lo hamil kedua ngomel – ngomel mele. Galak loh anak kedua lo entar.”


“Sembarangan lo, ngatain anak gue piting ama gurita!.”


Fania protes namun terkekeh juga dengan ucapan Prita, sementara Andrew hanya senyam – senyum saja.


“Emang bener kate si Priwitan!. Kamu kaga bisa diem waktu hamil, jadinya si Andrea hiper aktip begono.”


“Ho oh, belom lagi kecilnya tukang gigit, gegara elo suka banget nonton pelem drakula ama vampir waktu hamil die!.”


“Ye, kaga ada hubungan nye!.” Protes Fania.


“Udeh jangan pade gangguin si kakak nape sih!.” Papa Herman seolah membela Fania.


“Tau ish!.” Fania merungut pada Prita dan Mamanya.


“🎵Ayam Jago Jangan Di Adu ..🎵“


Tiba – tiba Meggi Z, eh Papa Herman mendendangkan sebaris lagu.


“Hasek tarrek Bang Herman!....” Timpal Prita pada Papanya kemudian bernyanyi dan sepertinya sedang menggoda Fania itu sambil goyang ala - ala alay. Andrew sudah juga mulai terkekeh geli melihat Papa mertua serta adik iparnya itu, sambil merengkuh santai Fania dalam dekapannya.


“🎵Kalo Di Adu Jengger nya Merah .. Ayam Jago Jangan Di Aaadu .. Kalo Di Adu Jengger nya Meraaah ..🎵“ Lanjut si Papah masih ngegodain putri sulungnya yang cekikikan liat Papa dan adiknya dengan kelakukan somplak mereka.


Dan akhirnya perhatian semua orang pun tertuju pada Papa Herman dan Prita yang lagi goyang alay itu hingga akhirnya mendekat. Mereka pun ngekeh geli aja dah ngeliat Papa Herman sama si Priwitan yang lagi nyanyi sambil goyang ga jelas godain si Kajol. Dan para krucil juga mendekati ake nya yang lagi goyang semlehoy itu.


“🎵Baju Ijo Jangan Di Ganggu, Kalo Di Ganggu Si Endru Marah ...🎵” Sambung Papa Herman menggoda Fania yang memang sedang memakai kaos berwarna hijau itu.


“Ngahahahahahahahaha!!! ....”


“🎵Baju Ijo Jangan Di Ganggu, Kalo Di Ganggu Si Endru Marah ...🎵”


***


To be continue ..

__ADS_1


Jempol Jangan Lupa, Semoga Selalu Syuka dan Setia


I Loph Yuh All


__ADS_2