
Jempol dikondisikan dulu (ehem) sebelum sekerol kebawah ye
*************************************************************************
MASALAH ANAK-ANAK
Selamat membaca ..
************************
“Stoopp!!..”
Poppa melerai dengan suara ngebas miliknya itu seraya berdiri diantara dua bocah perempuan yang wajah dan
pakaiannya sudah kacau.
“What this is all about?! ( Tentang apa ini?! )”
Dua bocah yang masih nampak bersemangat untuk berseteru itu akhirnya diam setelah Poppa menatap satu-satu
mereka.
Poppa sih tidak memberikan tatapan tajam pada keduanya, namun rata-rata bocah yang kenal Poppa akan
langsung diam jika Poppa bilang kalau mereka harus diam.
“Ann? Mel?.....”
“Mereka memperebutkan Rery!”
Itu Mika yang nyeletuk dari belakang sofa.
“Whaaaattt???!!!!!!”
Paduan suara para orang dewasa pun terdengar.
Berikut dengan wajah mereka yang kesemuanya melongo.
Ya ampun.
Pikir para orang dewasa dan para kakak, termasuk juga para tetua yang mendengar celetukan Mika barusan itu.
Yang tak habis pikir, pada dua bocah perempuan yang umurnya bahkan baru akan mencapai usia belasan itu, sudah sampai berseteru karena satu bocah laki – laki tampan anak kedua pasangan bebek.
Poppa geleng – geleng hingga akhirnya ia ikut terkekeh seperti para orang dewasa lainnya. Sementara Rery sibuk mengelap wajahnya yang belepotan krim kue dan juga serpihan kuenya sekalian.
Anak jaman now!.
**
Dua bocah perempuan yang berseteru itu akhirnya didudukkan bersama.
Dengan para orang dewasa, juga mereka yang sebaya dengan dua bocah perempuan yang sama-sama sedang
merungut itu yang kini sudah berada di sekeliling keduanya.
“Now tell, how can you both fight like that? ( Sekarang katakan, mengapa kalian berdua sampai bertengkar seperti tadi? )”
“Ann who started it! ( Ann yang mulai! )”
Melly, putri Uncle Ezra mengarahkan telunjuknya pada Adrieanna.
“Her fault! ( Salahnya! )”
Adrieanna juga mengarahkan telunjuknya pada Melly.
Para orang tua menghela nafasnya.
“What Ann has started? And what is Melly’s fault? ( Apa yang Ann mulai? Dan apa kesalahan Melly? )”
Uncle Ezra meminta klarifikasi dua bocah perempuan tersebut.
“She throw my face with those cupcakes and others and also grab my hair! ( Dia melemparkan beberapa cupcake dan kue lain ke wajahku juga menarik rambutku! )”
Melly memekik sembari kembali mengarahkan telunjuknya pada Adrieanna.
“That because you ignore my warn! ( Itu karena kau mengabaikan peringatanku! )”
Adrieanna juga tidak mau kalah berargumen. Melotot pada Melly.
“I told you so many times that Rery is mine! ( Aku kan sudah sering bilang kalau Rery itu milikku! )”
“Oh my! ... ( Ya ampun! ) ..”
Para orang dewasa kompak menggumam dan saling lempar tatap kemudian cengengesan memandang pada Papa Lucca yang geleng-geleng sembari memijat pelan pelipisnya.
“And you’re so kittenish to Rery! ( Dan kamu genit sekali pada Rery! )” Tuding Adrieanna.
“Ann!”
__ADS_1
Mama Fabi dan Papa Lucca sama-sama berseru pada putri semata wayang mereka itu.
“She is ... ( Memang iya dia genit ... )” Gerutu Adrieanna sembari bersedekap. “Right Rery, Melly is so kittenish to you, isn’t she?! ( Benar kan Rery, Melly sangat genit padamu kan? )”
Adrieanna meminta dukungan Rery yang sedang sibuk membersihkan wajahnya dengan dibantu oleh Momma yang
cekikikan pada anaknya yang menjadi rebutan dua ciwi-ciwi gumush itu.
“I am not! ( Aku ga genit! )”
Melly langsung membela dirinya dari tudingan Adrieanna, sebelum Rery sempat menjawab ucapan Adrieanna.
“It’s you who selfish! ( Kamu saja yang egois! )”
“I am not! ( Engga! )”
“Yes you are! ( Iya kamu egois! )”
“Haish!!!..” Kedua orang tua bocah perempuan itu pun sama-sama mendengus, dan sisanya masih cengengesan,
terutama pasangan bebek yang rasa-rasanya anak laki-laki mereka itu sudah jadi rebutan bahkan disaat usianya saja belum menginjak belasan.
Seperti inikah pertumbuhan bocah jaman now?.
Mengapa bocah-bocah perempuan yang masih bau kencur jaman sekarang sudah begitu terang-terangan
menunjukkan ketertarikan mereka pada lawan jenis, bahkan dari sejak jaman si Juleha masih kecil itu.
Entahlah, yang jelas sedikit bikin puyeng.
******
“Alright, alright!. Let’s forget about this, okay? ( Baiklah, Baiklah! Ayo kita lupakan tentang ini, oke? )”
Daddy R menengahi.
“You guys are friend. Sister also, remember? ( Kalian berdua kan teman. Saudara perempuan juga, ingat? )”
Daddy R menambahi.
"Not anymore! ( Tidak lagi! )" Dua bocah perempuan yang masing bersedekap itu kompak menyahut lalu saling membuang muka.
Membuat Daddy R memijat pelan pelipisnya dan sedikit meringis.
“Ann must apologize to me at the first time. She’s the one who attack me first ( Ann harus meminta maaf
padaku lebih dulu. Dia kan yang menyerangku duluan )” Pinta Melly.
“See? Ann is selfish! ( Lihat kan? Ann itu egois! )” Seru Melly.
“Whatever! ( Terserah! )” Sahut Adrieanna.
“Ann!”
Mama Fabi sudah nampak spanneng pada putrinya dan Papa Lucca itu.
“Whereas Rery likes me, right Rery? ( Padahal kan Rery menyukaiku, iya kan Rery? )”
“Wakkss?!” Para orang dewasa pun cukup tercengang, namun yah terkekeh lagi kemudian.
Tapi sebentar saja mereka terkekeh, karena ....
DUG!
Adrieanna yang lepas penjagaan itu dengan entengnya memukul kepala Melly dengan kepalan tangannya.
Cukup keras, kalau diprediksi dari bunyi kepalan tangan Adrieanna yang mendarat di kepala Melly dengan mulusnya dan putri Uncle Ezra itu langsung menangis kemudian merasakan kepalanya yang sakit karena pukulan Adrieanna.
“ADRIEANNA!”
Mama Fabi dan Papa Lucca langsung saja sama-sama memekik dan mendelik dengan spontan pada putrinya itu.
Uncle Ezra dan istrinya hanya mesam-mesem saja sembari menenangkan putri mereka, namun tak sedikitpun
rona kemarahan atau tidak senang ada di wajah keduanya, bahkan di hati pun tidak.
“You are a rude girl! ( Kamu gadis yang kasar! )”
Melly berseru sembari terisak.
“I am! And I don’t care! ( Iya memang! Dan aku tidak perduli! )”
Adrieanna menjawab sembari bersedekap dengan menaikkan dagunya.
“ADRIEANNA!”
Nah, emosi Mama Fabi nampak sudah di ubun-ubun, karena selain sudah melotot horor pada Adrieanna, Mama Fabi juga sudah berkacak pinggang.
Dan Mama Fabi tidak bisa menahan dirinya untuk tidak menjewer telinga putrinya dan Papa Lucca yang super
__ADS_1
duper keras kepala itu. Namun Adrieanna tidak nampak terganggu dengan jeweran dari sang Mama yang lumayan kencang ditelinganya. Adrieanna nampak woles saja.
***
“Fabi, don’t be like that ( Jangan seperti itu )” Istri Uncle Ezra malah yang tidak tega melihat Adrieanna di jewer dengan keras oleh sang mama, dan wanita itu langsung menjauhkan tangan Mama Fabi dari telinga Adrieanna.
Istri Uncle Ezra yang baik hati dan super sabar itu mengelus pelan telinga Adrieanna.
“Is it hurt, baby? ( Apa itu sakit, sayang? )”
“No Aunty ( Tidak kok Bibi )” Jawab Adrieanna dengan sangat sopan bahkan tersenyum pada ibunya sang rival.
“Now both of you, how about shake hand so you both can got to take a bath and clean up yourself, ya? ( Sekarang kalian berdua, bagaimana jika berjabat tangan jadi kalian bisa pergi mandi dan membersihkan diri kalian, ya? )”
“Apologize to Melly, Ann! ( Minta maaf pada Melly, Ann! )” Sambar Mama Fabi yang memberikan perintah dengan
tegas pada putrinya dan Papa Lucca itu.
“No I don’t want! ( Tidak aku tidak mau! )”
Adrieanna menolak dengan cepat perintah mamanya itu.
“Ann! This how the way you behave? This is how the way we taught you?! ( Apa seperti ini caramu bersikap?!
Apa seperti ini kami mengajarimu?! )” Mama Fabi dan emosinya yang kian meninggi menghadapi sikap Adrieanna.
“Ann....”
Papa Lucca menyenggol pelan lengan Mama Fabi dan ia yang kini maju untuk membujuk putrinya yang sudah membuat Papa Lucca menghembuskan nafas lelahnya, sadar dengan ke-keras kepala-an putrinya, akibat dia dan para Dad yang lain lebih memanjakan anak-anak di generasinya Adrieanna sampai ke Aina.
“Who am I? ( Siapa aku? )” Ucap Papa Lucca seraya bertanya pada Adrieanna.
“My Papa ( Papaku )” Sahut Adrieanna.
“You ever promise to hear and do everything I say, right? ( Kamu pernah berjanji akan mendengarkan dan
melakukan apapun yang aku minta, benar begitu? )”
Adrieanna mengangguk.
“Now apologize to Melly ( Sekarang minta maaflah pada Melly )”
“But Papa ... ( Tapi Papa ... )”
“Was it you who attack her first, right? ( Kamu kan yang menyerangnya duluan? )”
“I am, but... ( Iya, tetapi... )”
“Apologize, Ann... ( Minta maaf, Ann ... )”
“Only if Melly made a promise to me... ( Hanya jika Melly berjanji padaku ... )”
Kembali Papa Lucca menghela nafasnya setengah frustasi.
“Haish, what is it?... ( Apa itu? )...” Tanya Papa Lucca yang suda malas pusing, sementara yang lain masih
cengengesan saja.
Beberapa sedang menenangkan Mama Fabi yang nampak spannengnya belum hilang pada Adrieanna.
“It’s all because of you spoiled her too much! ( Ini semua karena kalian terlalu memanjakannya! )”
Mama Fabi menyambar dengan suaranya yang masih terdengar kesal, mengingat selain keras kepala, Adrieanna
cukup ringan tangan juga. Lebih parah dari Andrea saat kecil.
“Take it easy Fabi ...”
“So what promise that you want from Melly?”
“( Jadi janji apa yang kamu inginkan dari Melly? )”
Gappa yang bertanya pada Adrieanna.
“Melly has to make a promise that she will stay away from Rery since now on! ( Melly harus janji kalau dia akan jauh-jauh dari Rery mulai dari sekarang! )”
Adrieanna dengan tuntutannya.
"Because Rery only can get close with me! ( Karena Rery hanya boleh dekat dengan aku aja! )"
Membuat semua orang tercengang atas ucapan bocah perempuan anak setan - Ups! - anak Papa Lucca itu maksudnya.
“Oh my... should I purpose Rery for Ann, now? ( Ya ampun... apakah aku perlu melamar Rery untuk Ann, sekarang? )”
Papa Lucca menggumam sembari memijat pelipisnya melirik pada Poppa yang cekikikan berjamaah bersama yang
lainnya, setelah mendengar gumaman Papa Lucca barusan.
****
__ADS_1
To be continue ..
Menuju Akhir cerita – Road to End