
A SPLASH OF HAPPINESS # Percikan Bahagia
****************************
Selamat membaca .....
“Selamat siang Tuan Jeff, Nyonya Jihan.” Seorang dokter cantik menyapa Jeff dan Jihan saat sepasang suami istri itu sudah berada didalam ruang pemeriksaan.
“Selamat siang Dokter Clarissa.” Sapa Jeff dan Jihan pada dokter wanita yang juga dipercaya oleh pasangan Reno dan Ara serta Andrew dan Fania soal urusan kandungan untuk di Indonesia. Kalau di London ada Judith yang menjadi dokter kandungan kepercayaan Keluarga Adjieran Smith.
“Saya baik. Mari kita periksa sekarang?.”
Seorang perawat membantu Jihan untuk berbaring diatas ranjang pemeriksaan. Dan Jeff memposisikan dirinya disisi Jihan.
“Sebelumnya sudah melakukan cek dengan testpack?.”
Jeff dan Jihan mengangguk.
“Dua garisnya. Positif kan?!.” Ucap Jeff antusias.
Dokter Clarissa tersenyum dan mengangguk kemudian mengambil alat usg setelah perawat memberikan jel di perut Jihan.
“Selamat ya, Tuan Jeff, Nyonya Jihan.”
Dokter Clarissa berbicara saat alat usg sudah ditempelkan diperut Jihan dan ia menggerakkannya perlahan. Jeff dan Jihan memperhatikan layar pipih didekat mereka dengan seksama.
“Mana bayinya?.” Jeff mengernyitkan dahinya, pasalnya ia tak paham apa yang sedang terpampang dilayar saat ini. Jihan dan dokter Clarissa serta perawat yang sedang bersama mereka hanya tersenyum mendengar pertanyaan Jeff sekaligus wajahnya yang nampak bingung itu.
“Titik hitam ini bayinya, Tuan.” Tunjuk Dokter Clarissa. “Masih sangat kecil, jadi belum terlihat jelas.”
Jeff manggut – manggut, sekaligus ia terharu.
Pengalaman yang hilang saat kehamilan Nathan, kini ia bisa alami sekarang.
‘Jadi begini luar biasanya ya? Rasa bahagia R dan Andrew saat menemani Ara dan Fania saat mereka dinyatakan hamil?.’
Jeff tersenyum seraya menggenggam tangan Jihan dengan hatinya yang bahagia.
'Akhirnya gue bisa merasakan juga rasanya antar istri cek kehamilan saat gue kehilangan moment dulu saat kehamilan Nathan. Terima kasih Tuhan.'
Jeff mengusap sudut matanya yang sedikit basah dengan telunjuk.
Jihan juga merasa bahagia saat ini. Setidaknya rasa bersalah karena menyembunyikan kehamilan Nathan dari Jeff dulu sudah tertutupi dengan kehamilan anak kedua mereka ini.
“Menurut hitungan saya, kalau dihitung sesuai tanggal menstruasi Nyonya Jihan, saat ini usia kandungannya baru sekitar empat minggu.”
Kini Dokter Clarissa sudah kembali kemejanya berikut juga Jeff dan Jihan yang sudah kembali duduk bersebrangan dengannya. Kemudian Dokter Clarissa mengatakan berbagai macam hal seputar kehamilan, juga memberikan resep vitamin yang bisa dikonsumsi Jihan selama kehamilan.
“Thanks Doc!.”
Jeff menjabat tangan sang dokter, begitupun Jihan yang juga mengucapkan terima kasih padanya.
“Sama – sama. Nanti saya infokan untuk pemeriksaan berikutnya.”
Jeff dan Jihan pun mengangguk, lalu keluar dari ruang pemeriksaan dengan wajah yang sumringah, menghampiri John dan Prita di ruang tunggu.
“Bagaimana, apa semua baik – baik saja?.” Tanya John pada dua J versi couple itu.
“Alhamdulillah baik, John. Baru empat minggu usianya. Kondisinya sehat.”
“Syukurlah....” Sahut John.
“Usia kandungan aku kira – kira sudah berapa lama ya Kak?.”
“Paling hanya berbeda sedikit aja, Prita.”
“Tapi kamu lebih terlihat chubby sekarang, Sugar. Pantas aja aku perhatikan kamu sedikit lebih berisi.” John mencubit gemas pipi Prita.
“Tuan John, Nyonya Prita. Mari silahkan ....”
__ADS_1
“Baik.”
Gantian John dan Prita yang akan masuk ke ruang pemeriksaan setelah perawat yang tadi memanggil Jeff dan Jihan kini memanggil mereka.
****
John dan Prita sudah berada di ruang pemeriksaan Dokter Clarissa.
Dokter Clarissa sempat terkekeh saat John dan Prita sudah ada didekatnya. “Bisa barengan gini ya?.” Ucap Dokter Clarissa.
“Maklum nikahnya kan barengan juga.” John dan Prita juga ikut terkekeh mendengar ucapan Dokter Clarissa. Lalu Prita menjalani pemeriksaan yang sama dengan yang dilakukan oleh Jihan sebelumnya.
John dan Prita tanpa dikomando langsung menatap pada layar pipih didekat mereka saat Dokter Clarissa sudah menempelkan alat usg diperut Prita yang sebelumnya sudah dioleskan jel oleh perawat yang merupakan asisten Dokter Clarissa.
Mata John nampak berkaca – kaca saat Dokter Clarissa mengatakan kalau hasil test dari alat uji kehamilan yang dilakukan oleh Prita, benar adanya. Dokter Clarissa sudah mengkonfirmasi kalau Prita memang sudah positif hamil seperti halnya Jihan.
Prita tersenyum saat John menggenggam lalu mengecup punggung tangannya dengan mata John yang nampak
berkaca – kaca.
Memang akhir – akhir ini si bule koplak agak baper akibat efek kehamilan Prita mungkin. Tapi banyaknya yang karena bersyukur karena akhirnya Tuhan mempercayakannya dan Prita untuk memiliki keturunan.
“Hmmm.....”
Dokter Clarissa terdengar bergumam pelan, namun John menyadarinya.
“Ada apa?. Apa ada masalah?.” John nampak khawatir dan membuat Prita yang melihat gelagat suaminya itu juga
ikutan khawatir.
“Pi....”
Prita berkata pelan pada John yang masing menggenggam tangannya. Ia sedikit meremas tangan John, yang membuat suaminya itu menoleh padanya. Namun John tersenyum dan mengelus tangannya.
“Tenang ya ... bayi kita pasti sehat, kok. Iya kan?.” Ucap John pada Prita seraya bertanya pada Dokter Clarissa.
“Sepertinya .... janin di rahim Nyonya Prita...”
Pria itu kini nampak sedikit gusar dan Prita semakin meremat tangan John.
“Sepertinya .... bayi kalian...”
“Kenapa dengan bayi kami Dokter?????! ...”
“Bayi kalian ...”
Jantung John dan Prita mulai berdebar khawatir dan takut.
“Bayi kami kenapa?!.”
Dokter Clarissa malah tersenyum, yang membuat John dan Prita kemudian saling tatap. “Sepertinya bayi kalian tidak hanya satu.”
John dan Prita ternganga, masih mencerna ucapan Dokter Clarissa barusan.
“Ada dua detak jantung yang terdengar.” Ucap Dokter Clarissa. “ Sebentar ....”
Dokter Clarissa menggerakkan lagi alat usgnya sambil menatap dengan fokus pada monitor usg.
“Tuan John, Nyonya Prita, ini ya, titik hitam ini yang tadi saya tunjukkan adalah janin kalian.” Tunjuk Dokter Clarissa pada hal yang disebutkannya tadi. “Ada dua titik.” Sambungnya.
“Mak – maksudnya .....”
“Saya harus memberikan selamat dua kali pada kalian sepertinya.” Sahut Dokter Clarissa. “Selamat ya Tuan John, Nyonya Prita, kemungkinan besar bayi kalian kembar .....”
John dan Prita sampai menutup mulut mereka dengan kedua tangannya. Mata yang berkaca – kaca itu lolos menurunkan sebulir air di pipi mereka. “Kembar....???.” Ucap John haru dan Dokter Clarissa pun mengangguk dengan masih tersenyum. John lebih mendekatkan dirinya pada Prita. “Bayi kita kembar, Sugar...”
Prita yang juga terharu, manggut – manggut dengan tersenyum disela air mata bahagianya.
***
__ADS_1
Saat ini Dua J bersama istrinya masing – masing sudah kembali ke Kediaman Utama keluarga mereka yang berada di Jakarta.
“Buy one get one dong lo ya, Kak?.” Celetuk Fania saat sedang melihat hasil usg Prita setelah melihat hasil usg Jihan bersama Andrew, Michelle dan Dewa.
“Yoi Jollll!.... Keren kan gue?.”
Kedelapan orang itupun kemudian tergelak.
Dua J beserta Prita dan John memutuskan untuk menginap di Kediaman Utama. Jeff dan Jihan sendiri menunggu
Nathan dan Ibu Yuna yang sedang dijemput supir untuk ikut menginap di Kediaman Utama.
“Memang lo ada keturunan kembar, Kak?.” Tanya Fania pada John.
“Ada.” Jeff yang menyahut.
“Emang keluarga kalian ada yang kembar?.”
“Ada sih, anaknya Uncle Lewis yang di San Fransisco kembar. Memang bukan keluarga kita langsung.”
“John ini juga punya kembaran, Heart.” Celetuk Andrew.
“Memang Pi?.” Tanya Prita dan John manggut – manggut.
“Masa sih Kak?.”
“Iya gue punya kembaran, Jol. Jeannie namanya. Adik perempuan gue. Tapi dia sudah tiada.”
“Sorry ya, Kak.” Ucap Fania yang merasa tak enak.
John mengacak – acak rambut Fania sembari tersenyum. “Santai Jol ....” Sahut John.
“Tapi kok ga ada foto – fotonya, Pi?.”
“Iya Kak?. Ga pernah ada ceritanya tentang kembaran lo?.”
“Ga pernah memang sempat ada cerita tentang kembaran gue itu. Dia sudah meninggal saat akan dilahirkan setelah gue. Jadi ya memang ga ada ceritanya. Termasuk foto pun ga ada satupun. Dulu Mom gue juga punya kelainan di rahimnya. Dokter sudah menyarankan untuk tidak mempertahankan gue dan kembaran gue saat kami masih di kandungan dan masih berumur beberapa minggu.”
John mulai bercerita.
“Tapi Mom percaya keajaiban Tuhan meski dokter bilang resikonya adalah beliau juga bisa kehilangan nyawa saat melahirkan kami, atau mungkin kami yang tidak selamat. Tapi ternyata kami tumbuh dengan baik hingga waktu dilahirkan tiba. Tapi ternyata didetik – detik kelahiran kami, adik gue itu sudah ga berdetak lagi jantungnya.”
Yang lain masih mendengarkan John bercerita. Kalau para saudara lelaki John serta Michelle sudah tahu cerita soal kembaran John ini. Sementara Fania, Prita, Jihan dan Dewa belum dan baru mendengar ceritanya sekarang.
“Dia lahir setelah gue, agak tertahan sedikit makanya Dokter kesulitan untuk mempertahankan dia meski saat sudah dikeluarkan berbagai macam cara sudah dilakukan untuk menyelamatkan saudara kembar gue itu. Tapi yah, takdir berkata lain. Jeannie ga selamat. Begitu Mom dan Dad menamai adik perempuan gue yang hanya berbeda beberapa menit itu.”
John menghela nafasnya.
“Ga ada fotonya karena kembaran gue itu langsung dikebumikan oleh Dad dan Dad Anthony juga Mom Erna dan beberapa keluarga yang lain.” Yang baru mendengarkan cerita John manggut – manggut.
Prita bersandar manja pada John. “Aku akan benar – benar sekuat tenaga menjaga bayi kembar kita ini, Pi.”
John tersenyum sambil merengkuh tubuh Prita dan mencium pucuk kepala istri kecilnya itu.
“Kita jaga sama – sama.” Ucap John dan Prita mengangguk sambil tersenyum pada John.
“Yaaaaa yang paling utama adalah kalian berdua harus menjaga ... apa Wa?.”
Andrew bersuara.
“Menjaga adik kecil lo berdua tetap dalam sangkarnya selama tiga bulan ke depan.” Sahut Dewa.
“Hahaha!!!!....”
“Haish....” Dua J menepak jidat mereka.
“Ngahahaha, sian deh lu!.”
****
__ADS_1
To be continue...