THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 89


__ADS_3

^_^SOME BAD THINGS ARE GONE ^_^  Beberapa Hal Buruk Telah Berlalu


**************


Selamat membaca ...


Adjieran Smith Family Mansion, London, England


“Astaga Heart!.” Andrew berseru saat melihat lebam yang lumayan lebar di perut Fania. “How can be like this?! ( Kenapa bisa seperti ini?! ).” Andrew menaikkan sedikit lagi kaos Fania. Reno juga sama terkejutnya dengan Andrew.


“Kok bisa begini Little F?.”


“Kan gue bilang kepentok.”


“Kepentok apa sampai begini?!.” Ucap Reno. “Lo nih!... sakit?.” Reno menyentuh pelan lebam Fania.


“Dikit. Nyeri doang.”


“Theresa, bring me warm water and a towel! ( Theresa, bawakan aku air hangat dan handuk! ).”


“Yes, Sir ( Iya, Tuan ).” Theresa pun langsung sigap untuk mengambilkan apa yang diminta Andrew.


“Jujur, ini kamu kenapa?. Apa mereka memukuli kamu?.”


“Engga, ini beneran kepentok D. Kepentok lantai peron tapi.”


“Hah?!.”


Andrew dan Reno terkejut lagi. “Ya ampun Little F!.”


“Kenapa bisa kamu terbentur floor platform station ( lantai peron stasiun ) sih?!.” Tanya Andrew sambil menerima air hangat dan handuk dalam wadah dari Theresa, lalu ia mulai mengompres lebam Fania, meski Theresa sudah menawarkan diri.


“Ya aku lagi ngejar si Tyana yang nyebrangin rel, tau – taunya ada kereta mau lewat, ya aku buru – buru loncat ke lantai peron depan aku, karena menghindari kereta buru – buru ya jadinya aku kepentok agak kenceng.”


Reno dan Andrew menghela nafas frustasi.


Merasa ngeri setelah mendengarkan Fania sembari bercerita keseluruhan kejadian yang menimpanya di sebuah stasiun kereta bawah tanah di daerah Buckinghamsire. “Wanita itu juga menendang kamu dibagian sini?.”


“Aw!.”


Fania spontan melenguh saat Andrew sedikit menekan lebamnya. “Sorry.” Ucap Andrew.


“I’ll go get medicine for it ( Aku akan mengambilkan obat untuk itu ).” Ucap Theresa yang langsung berjalan cepat untuk mengambil obat.


“Ya udah lo istirahat di kamar dulu. Biar gue panggilkan Owen.” Ucap Reno.


Andrew langsung membantu Fania berdiri. “Ayo, Heart ...”


“Ga usah sih Kak. Orang Cuma lebam gini doang. Ga sakit – sakit amat juga. Mending lo istirahat sana.”


“Shh! Sudah pergi ke kamar dengan Andrew sana. Tunggu Owen datang.” Ucap Reno.


“Mister Andrew, this medicine for the bruise ( Tuan Andrew, ini obat untuk lebamnya ).” Theresa menunjukkan obat yang sudah dia ambil pada Andrew, yang langsung mengambilnya.


“Thank you Theresa.”


“You welcome, Sir ( Sama – sama, Tuan ).”


Andrew pun membawa Fania ke kamar.


**


“D ...” Fania menyambangi Andrew yang sedang nampak sibuk di meja kerjanya dalam kamar mereka berdua.


“Hey, Heart. Kenapa bangun, hem?.”


“Masih belum selesai memangnya masalah di Perusahaan, hem?.”


“Sudah. Aku hanya mengecek emails.”


“Hummm.”

__ADS_1


“Come here ( Sini ).”


Seperti biasa Andrew menepuk – nepuk pahanya agar Fania duduk di atas pangkuannya.


Fania yang sudah paham langsung duduk diatas pangkuan Andrew sambil menatap wajah suaminya itu sembari ia melingkarkan kedua tangannya di leher dan bahu Andrew.


Andrew merengkuh tubuh istrinya itu dan mengecup sekali bibir yang menjadi candu untuknya.


“Masih sakit perut kamu?.” Tanya Andrew saat menyentuh sedikit perut Fania dari luar gaun tidur yang dikenakan oleh istrinya itu. Owen juga sudah datang untuk memeriksa Fania sebelum waktu makan malam tadi.


Fania menggeleng.


“Syukurlah.”


Andrew membelai lembut wajah Fania yang kemudian menyandarkan kepalanya dengan manja di kepala Andrew sambil mengeratkan sedikit pelukannya dan Andrew selalu merasa bahagia jika Fania menunjukkan kemesraan padanya.


“There’s something I want to show you ( Ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan ke kamu ).”


“Apa?.”


“This ( Ini ).”


Andrew menunjukkan sebuah video pada Fania yang ada di komputernya.


“Oh.”


“Kalau aku ga salah, kamu hanya melihatnya sampai sini.” Ucap Andrew saat video yang sedang ia tunjukkan pada Fania berhenti diwaktu tertentu.


Fania tersenyum dengan masih bergelayut manja pada Andrew. “Kan aku udah bilang, aku ga mau mempermasalahkannya lagi, D.”


Andrew menatap Fania dan membuat istrinya itu agar juga menatapnya. “I don’t want there’s any kind of such bad thing between us ( Aku tidak ingin ada apapun yang buruk diantara kita ). Baik itu perbuatan maupun pikiran.”


“Iya, D.. aku percaya kok sama kamu. Sama Kak R juga.”


“Terima kasih sudah percaya pada aku, Heart.” Ucap Andrew. “Kedepannya, jangan ada sedikit pun keraguan didalam hati kamu. Padaku, Pada R. Pada aku terutama.”


“Iya D.” Sahut Fania. “Maaf, aku sempat galau tadi.” Sambungnya, kemudian mengecup kening Andrew.


“I love you ( Aku mencintaimu ).”


**


Esok hari sudah datang. Reno, Fania dan Andrew sudah bersiap untuk berangkat ke California menyusul keluarga mereka yang sudah lebih dulu berangkat ke negeri Paman Sam itu untuk liburan tahunan mereka yang tertuju untuk mengajak para bocah bermain di Disneyland terbesar di dunia.


“Kamu sama Kak Reno mau ke Perusahaan dulu atau ikut aku ke Garage?.” Tanya Fania saat mereka bertiga selesai sarapan.


“Sudah tidak ada yang perlu dilakukan lagi di Perusahaan sementara waktu ini. Aku sama R sudah mempercayakan segala urusan Perusahaan selama kita liburan pada Nino dan Ezra.” Sahut Andrew dan Fania manggut – manggut. “Nanti dari Garage kita bertiga langsung ke Bandara.”


“Ya udah. Kangen juga aku sama Andrea.”


“Iya.”


“Ya udah ayo siap – siap.”


“Okay!.”


****


Malibu, California, U.S.A



Reno, Fania dan Andrew sudah sampai di sebuah Kawasan Perumahan Elite di sebuah kota dekat pantai yang


terletak di bagian utara Los Angeles, California, Amerika Serikat. Keluarga Adjieran Smith memiliki satu rumah yang cukup besar di kawasan tersebut, yang seperti dengan aset – aset pemukiman mereka yang lain, biasanya akan disewakan jika memang tidak digunakan oleh keluarga tersebut.


Ketiga orang tersebut sudah sampai di depan pintu rumah bergaya abad pertengahan yang didominasi batu – batu pilihan pada dindingnya. “Yuk.” Ajak Andrew yang menggandeng tangan Fania. Dan wanita itupun berjalan masuk bersama Andrew, menyusul Reno yang sudah lebih dulu masuk ke rumah mewah yang amat sangat luas yang menghadap langsung ke laut itu.


Reno, Fania dan Andrew sampai dijam sepuluh malam waktu setempat kurang lebih. Para orang tua dan anak – anak nampaknya sudah pergi beristirahat karena saat ketiga orang tersebut datang hanya para sultan dan sultanah muda yang sedang duduk – duduk di ruang tengah kediaman mereka di kota itu, memang sengaja menunggu kedatangan tiga orang dari London tersebut.


Reno langsung menghampiri Ara yang sudah berdiri dan berjalan menyambutnya. Sementara Fania dan Andrew

__ADS_1


menghampiri tiga pasang pasutri di keluarganya itu. “Andrea mana Prit?.” Tanya Fania pada Prita.


“Di kamar bareng Varen sama Nathan. Ada Hera sama Lita juga yang jaga mereka.” Sahut Prita. “Kamar mereka


diujung sana.”


“Ya udah gue lihat Andrea dulu deh kalo gitu.”


“Aku disini dulu ya Heart, takut ganggu kalau mereka sudah tidur.”


“Iya.”


*****


“Everything about Jill Silas are all clear already? ( Semua sudah beres soal Jill Silas? ).” Tanya Jeff pada dua orang yang baru tiba dan sudah duduk santai diatas sofa itu. Reno dan Andrew mengangguk.


“Jill Silas sudah kita serahkan pada Eun Ha.” Ucap Andrew.


“Gue juga sudah suruh Nino cari tahu soal apa yang Eun Ha lakukan pada pria itu. Just in Case, kalau Eun Ha masih berbelas kasihan padanya.”


Reno menimpali ucapan Andrew.


“Atau Eun Ha terlalu bodoh untuk mempercayai si tua bangka itu lagi.” Ucap Andrew lagi. "Dan besok coba kalian cek rekening Perusahaan. Gue suruh Eun Ha yang melunasi hutang si tua bangka itu pada kita."


Dua J pun mengangguki ucapan Andrew barusan.


“Lalu soal Garage nya si Kajol?.”


“Itu juga sudah beres.” Sahut Andrew pada pertanyaan John. “Dua orang yang menipu Little F sudah diserahkan ke polisi.”


Dua J manggut – manggut.


“Tapi kalau memang kedua orang itu masuk dalam sindikat pasar gelap dan mereka berdua buka suara soal sindikat mereka itu, berarti akan otomatis akan mengusik ‘someone big’ diatas mereka.” Ucap Dewa.


“Gue dan R sudah mengantisipasi itu. Sedang gue selidiki juga siapa. Setelah tahu nanti, akan gue berikan peringatan keras.” Sahut Andrew.


“Ya sudah.” Celetuk John. “Lebih baik kita semua istirahatlah sekarang.”


Semua orang yang berada di ruang tengah mengiyakan dan langsung bangkit dari tempat mereka masing – masing. Menyiapkan tenaga untuk besok berjalan – jalan bersama para orang tua dan krucil.


***


Disneyland, California, U.S.A


Hari yang sudah ditunggu para krucil pun tiba. Seluruh Keluarga Adjieran Smith termasuk juga Keluarga Cemara, Mama Anye dan Ibu Yuna, yang merupakan ibunya Jihan sudah berada di Taman Bermain terbesar di Amerika itu.


Yah, tidak hanya tiga krucil saja yang bahagia bisa bermain di Disneyland pertama di dunia ini. Tapi para emak dan tantenya juga. Antara nostalgia dengan para tokoh Disney yang saat kecil para emak dan tante sudah tonton filmnya, sama masa kecil kurang bahagia. Terutama si Kajol dan Prita yang kecilnya Cuma sampe maen dipasar malem, naek kora – kora KW.


Baby Mika yang belum terlalu ngeh itu seneng – seneng aja didalam strollernya melihat para badut yang mungkin tertangkap dengan mata mungilnya.


Yah para Daddies juga nampaknya ikutan seneng bermain di kawasan Taman Bermain itu, sama kurang lebih bernostalgia sekaligus menemani para krucil menikmati tiap wahana yang ada di Disneyland, California ini.


Terlebih lagi mereka semua juga sudah sangat menantikan untuk melihat parade yang menampilkan semua tokoh


kartun favorit mereka.


Semua anggota keluarga tertawa geli saat Andrea menginginkan Andrew untuk memakai bando dengan pita besar ala Minnie Mouse dikepalanya yang licin itu. Meski rela ga rela, tapi berhubung si Donald Bebek adalah bapak yang sayang anak, terpaksa dia ikuti keinginan putri semata wayangnya dan Fania itu.


"Harusnya lo pakai buntut Donald Bebek, Ndrew." Celetuk John yang terkekeh geli.


"Nanti saat lo punya anak dan anak lo perempuan, lo akan merasakan seperti gue." Sahut Andrew sebal.


"Tetep ganteng kok, Poppa. Unyu - unyu." Celetuk Fania dan mereka semua terkekeh lagi.


Lalu setelahnya bermain lagi di wahana yang diinginkan oleh para krucil, sambil para emak dan nenek juga tante heboh di toko suvenir. Kaga dimane – mane. Shopping is number one.


Menikmati Wahana dan atraksi dari mulai Big Thunder Mountain Rail Road hingga ke Tomorrowland, hampir tak ada yang dilewati oleh keluarga yang cetar membahenol itu. Berbaur dengan para pengunjung yang lain dan ah beberapa bodyguard yang kasat mata juga tetap berada disekeliling keluarga itu.


Waktu tak terasa berlalu, terakhir mereka menikmati pertunjukkan kembang api yang berlokasi tepat didepan Sleeping Beauty Castle, alias kastilnya Putri Salju.


Setelahnya mereka pun kembali ke Kediaman mereka di Malibu, karena esok hari mereka akan mengunjungi Universal Studio dan berkeliling menjelajahi kota Los Angeles.

__ADS_1


Othor pengen ikut dah.***


To be continue ..


__ADS_2