
♥ JANGAN MACEM – MACEM ♥ # 1
**************
Selamat membaca .....
***********
Kediaman Utama Keluarga Adjieran Smith, Jakarta, Indonesia.
“Kak Ren.”
“What is it Little F?. ( Kenapa Little F? ).” Sahut Reno pada Fania.
“Lo jadi balik ke London lusa?.” Tanya Fania saat mereka tengah berkumpul bersama.
“Jadi.” Jawab Reno. “Why?. ( Kenapa? ).” Reno balik bertanya.
“Ga apa – apa sih, Kak.” Jawab Fania. “Gue Cuma mau nitip tengokin kafe. Soalnya gue agak lama disini deh. Mau ngecek restoran Bunda sama mau liat perkembangan kafe yang disini.” Fania menoleh pada Andrew.
“Kok restoran Bunda lagi. Itu kan udah jadi restorannya Papa dan Mama.”
“Yah emang restorannya Bunda kan awalnya.”
“Ya kan sudah diberikan ke elo dan lo sudah memberikan pada papa dan mama. Jadi sekarang itu restorannya mereka lah.”
Fania terkekeh. “Iya ... iya ...” Fania mengalah kalau Reno udah nyerocos.
“Tapi nanti hari Jum’at aku mau ke Italy, Heart. Mau ikut?.”
“Yah kok mendadak?.”
“Ga mendadak juga, sudah ada dischedule hanya aku lupa bilang kekamu.”
Fania manggut – manggut. “Tapi aku ga bisa ikut.” Ucap Fania. “Udah janji sama mama mau ikut bantuin ngecek resto. Gimana dong?.”
Andrew tersenyum.
“Ya ga apa – apa, Heart. Asal kamu jangan macam – macam selama aku di Italy.”
“Macem – macem apaan tau.” Sahut Fania. “Ga marah kan?.” Tanya Fania. “Kalau aku ga ikut ke Italy, hem?.”
“Ya enggalah.”
“Dah ketebak dah mukanya kalo begitu.” Ucap Fania yang melirik Andrew.
“Ketebak gimana maksudnya, hem?.”
“Ketebak minta ‘pembayaran dimuka’.” Sahut Fania yang langsung mengerucutkan bibirnya.
Andrew tergelak.
“Bukan pembayaran dimuka, Momma.. Tapi pembayaran diranjang!.”
‘Dasar botak msum.’ Kakak ganteng membatin sambil geleng – geleng.
**
“Mm .. soal yang teman kamu bilang tadi, soal perasaan kamu ke Kak John. Apa benar?.” Ucap John. "Apa benar kalau Kak John ini cinta pertama kamu?."
Prita terdiam sejenak.
“... Bener ...” Ucap Prita pelan.
John menoleh sembari tersenyum. Entah kenapa debaran didadanya kian membuncah. Rasa senang sudah menyeruak disana.
“Berarti waktu Kak John ....”
“Tapi itu dulu Kak. Udah berlalu. Sekarang udah engga. Rasa spesial gue yang pernah gue punya buat lo udah hilang.”
Deg!
“Oh.” John menggerakkan kepalanya. Ia tersenyum kecut. Sementara Prita kembali mengalihkan pandangannya keluar jendela mobil.
‘Hilang ..... rasa cinta gue ke elo sudah hilang ....’ Prita melamun. ‘Benarkah ....?.’
****
John sudah sampai mengantar Prita ke rumah Keluarga Cemara.
“Lo beneran mau langsung balik, Kak?.”
“Iya.”
__ADS_1
“Lo istirahat dulu deh mendingan didalem, Kak.”
“Ga usah Prit, makasih sebelumnya. Kak John langsung pulang aja. Salam untuk papa sama mama ya?.”
“Lo ga cape emang?.” Ucap Prita yang ga tega melihat John yang nampak lelah itu.
John tersenyum tipis. “Cape memang. Tapi nanti sekalian aja istirahat di Apartemen.”
“Oh lo ga balik ke rumah Dad sama Mom?.” Tanya Prita. John menggeleng pelan.
“Lebih dekat ke Apartemen gue kalau dari sini.”
“Ya udah kalau gitu.” Sahut Prita. “Hati – hati lo, Kak. N makasih buat hari ini.”
“Sama – sama Prita. Yang penting kamu sudah ga memusuhi Kak John lagi.” Ucap John dan Prita tersenyum tipis. “Yuk, gue pulang dulu ya.” John mengangkat tangannya untuk sekilas melambai, lalu melajukan kembali mobilnya keluar dari rumah Keluarga Cemara. Membawa sedikit rasa perih dalam hatinya.
***
Restoran keluarga cemara
“Si kakak jadi kesini, Prita?.”
“Jadi Pah. Udah dijalan katanya.”
“Si Andrea dibawa kan?.”
“Bawa.”
Papa Herman manggut – manggut.
“Kakak kamu sama Endru juga?.”
Prita mengangguk sambil menyantap makanan di restoran milik keluarganya itu.
Restoran yang dulunya adalah milik bundanya Reno, yang diwariskan oleh Bunda sendiri untuk Fania dan kini Fania limpahkan pada papa dan mamanya, mengingat kebetulan Restoran itu memang restoran yang menyediakan ragam masakan Indonesia, yang mama Bela paham cara membuatnya. Sebenarnya ada beberapa juru masak yang dipekerjakan, mengingat restoran itu tidak bisa dibilang sederhana juga.
Tapi mama Bela kadang suka terjun langsung untuk membuat masakan.
“Assalamu’alaikum.”
Suara khas yang dikenal papa Herman, mama Bela dan Prita terdengar dari pintu masuk, bersamaan dengan munculnya empat orang yang mereka kenal.
“Wa’alaikumsalam.” Sahut orang – orang yang berada dalam resto. Keluarga Cemara dan karyawan mereka, karena restoran belum masuk jam buka.
Perempuan yang tidak pernah terlihat sedih setiap kali ia datang mengunjungi restoran. Perempuan super cantik yang baik, ramah dan murah hati, karena setiap datang si Kajol pasti kasih uang jajan untuk para karyawan yang bekerja di restoran milik keluarganya itu. Perempuan yang hampir tanpa cacat, kecuali kelakuan dan mulutnya yang suka gesrek dan asal jeblak itu.
“Aamiin.”
Sahut para ahli surga semua.
Fania dan Andrew menyalami papa Herman dan mama Bela, sementara Prita yang sedang asik makan itu menjeda
makannya dan menyalami juga kakak serta kakak iparnya itu. Andrea yang tadi dalam gendongan Andrew sudah juga diambil oleh ene dan ake nya.
“Pa, Ma, Andrew titip Fania dan Andrea ya?.” Ucap Andrew.
“Lah kamu mau kemana emang, Ndru?.” Tanya papa Herman.
“Mau main golf Pa. Papa mau ikut?.”
“Orang kaya olahraganya golep.” Celetuk papa Herman dan Andrew terkekeh.
“Ikut yuk Pa. Ada Dad juga kok.” Ajak Andrew. "Nanti setelah bermain golf kami semua juga akan kesini lagi."
“Iye udeh ikut sono. Biar ngarti maen golep. Taunya maen gundu doangan, kan?.” Timpal Fania.
“Boleh Ndrew, kalo Papah ikut?.”
Andrew terkekeh lagi.
“Ya boleh Pa. Sangat boleh. Andrew malah senang kalau Papa mau ikut. Biar para wanita disini.”
“Iye udeh sono.” Celetuk mama Bela.
“Ya udeh ayo dah. Papa ikut dah maen golep biar kek orang – orang.”
“Tapi inget lo Pah, jangan keganjenan ama cewe – cewe disono. Mamah mutilasi kalo macem – macem.”
****
“Mah, omset resto gimane?.” Fania dan mama Bela serta Prita sedang mengobrol disalah satu meja resto. Saat ini restoran sudah dibuka, dan sudah ada tamu yang berdatangan. Lumayan ramai, padahal baru satu jam dibuka.
“Alhamdulillah Kak, tiap hari pengunjung nambah jumlahnya. Kata mereka masakan disini enak banget. Apalagi kalo Mamah yang masak katanya. Kan kalo yang udeh langganan suka minta mamah tuh yang masakin mereka.”
__ADS_1
“Alhamdulillah deh kalo gitu sih. Mau buka cabang ga?.” Ucap Fania seraya bertanya.
“Ah kaga usah dulu deh ah. Ini juga udah cukup Kak. Jangan serakah.”
“Ye bukan serakah Syahelah. Namanya bisnis, kalo sukses disatu tempat ya buka ditempat laen jugalah.”
“Tau sih Mah. Bener itu yang Kak Fania bilang.”
Prita ikut bersuara sambil memangku Andrea, yang sedang ia suapi juga.
“Ah udeh nanti – nanti aje kalo buka cabang. Mamah sama Papah belom mikirin kesono.” Ucap mama Bela.
“Ya udeh, Fania si ..”
“Ini apa – apaan sih?!. Kalian nipu pelanggan kalau begini!.”
Fania belum menyelesaikan kalimatnya saat mereka bertiga mendengar sebuah pekikan dari salah satu meja resto.
“Kenapa itu?.” Fania kemudian berdiri.
“Udeh biarin mama aje. Kamu sama Priwitan disini aja.” Mama Bela mencegah Fania yang ingin menyambangi tamu yang memekik tadi.
Fania dan Prita mengangguk sambil terus memperhatikan tamu yang nampaknya sedang protes itu.
****
“Permisi, ada apa ini?.” Mama Bela sudah menghampiri pelanggan yang memekik tadi dan berbicara dengan sopan.
“I – ini Bu.... Ibu ini protes soal es kopyor.” Ucap karyawan resto yang merupakan pelayan.
“Ibu! Ibu! Emang saya ibu kamu!.” Wanita setengah baya itu menghardik si pelayan yang kemudian tertunduk. Mata semua pengunjung jadi memperhatikan ke arah meja tempat keributan berasal.
“Maafkan kalau karyawan saya kurang sopan. Kalau saya boleh tau, ada apa dengan es kopyornya?.”
“Ada apa?! Ini!.” Wanita itu menyentakkan gelas berisi es kopyornya dengan keras diatas meja, hingga sebagian es itu muncrat keluar. “Saya pesen es kopyor malah begini yang kalian kasih!. Nipu kalian!.”
“Nipu bagaimana ya Nyonya?.”
“Iya nipu lah! Sa – ya pesen es kopyor! Ini es kelapa campur agar – agar namanya!.” Wanita itu tetap berbicara dengan keras pada mama Bela dengan keras dari duduknya. “Mana ownernya saya mau ketemu sama pemilik restoran tukang tipu ini!.” Ucap wanita itu dengan congkaknya.
Membuat dua pasang mata sedikit mulai memerah melihat perlakuan tamu tersebut pada mama mereka.
“Restoran kami bukan restoran tukang tipu ibu.” Ucap mama Bela dengan sopan dan sabar, meski hatinya sedikit terasa perih. “Kebetulan saya pemiliknya.”
“Hah? Situ pemilik restoran jelek ini?!.”
Wanita itu tertawa mengejek.
“Pantes aja ga beres, lah wong yang punya kayak gembel!. Saya kecele sama omongan orang – orang yang bilang makanan disini enak, taunya makanan sampah yang dijual. Dan ini nih liat, saya pesen sayur asem kok kuahnya bening begini?. Mana ada kacang tanah belum dikupas dimasukin juga. Kalian bisa – bisanya ya menyajikan sampah buat orang – orang?!.”
Wanita itu kembali tertawa mengejek sambil menelisik penampilan mama Bela yang memang sederhana. Meski anaknya super kaya, tapi mama Bela tak merubah penampilannya sedemikian rupa hingga seperti wanita – wanita sosialita. Meski banyak pakaiannya yang berharga fantastis yang dibelikan oleh Fania bahkan Ara, Michelle ataupun besannya, toh mama Bela tetap hobi belanja di tanah empo dan mangga dua.
“Oke. That’s it!. ( Udah cukup! ).”
Fania meradang begitu juga Prita melihat dan mendengar mama tercinta mereka dihina dan dipermalukan sedemikian rupa.
“Berani – beraninya itu nenek peyot bentak emak kita!.”
Prita pun tersulut emosi. Ia langsung memberikan Andrea pada Hera.
“Hera! Take Andrea!. ( Pegang nih Andrea! ).”
Prita pun langsung mengekori kakaknya.
****
“Maaf Ibu, kalo ngomong bisa sopan ga?.”
Fania yang sudah menyambangi meja si ibu pembuat keributan langsung mensedekapkan tangannya dan memandang tak suka pada wanita itu. Wanita itu langsung memperhatikan Fania dan menelisik penampilan wanita muda yang nampak elegan itu.
“Situ siapa?.” Tanya wanita sombong itu. “Pemilik yang benernya ya?.”
Ia memandang pada Fania lalu memandang mama Bela bergantian. Ia juga sekilas melirik pada Prita yang belum bersuara.
“Nih ya, saya kasih tau, restoran kamu ini menipu pelanggan tau ga?. Entah kamu tahu atau tidak?. Kalau kamu ga tahu tentang gimana para karyawan kamu ini melayani pelanggan berarti kamu dibohongin sama mereka nih, karyawan – karyawan kamu yang ga berguna.” Cerocos wanita itu. “Apalagi ini nih, yang tadi ngaku – ngaku pemiliknya. Ga ngaca apa?.”
BRAKKK!!!!.
****
To be continue...
Dua episode sudah meluncur, dukungannya buat Author bisa kalleeee
__ADS_1
Tenkyu readernya othor yang blaem - blaem.