THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 67


__ADS_3

🍁 YANG SUDAH DIRENCANAKAN 🍁


******


Selamat membaca ...******


Kediaman Utama Keluarga Smith, Jakarta, Indonesia ..


Jeff sedang berada di kamarnya ....


“Dimana?.” Jeff bersuara setelah ada sahutan dari sebrang ponselnya. Ia menelpon Jihan sambil membaringkan dirinya diatas ranjang.


“Di rumah.”


“Video call ke aku sekarang.”


“Iya.” Sahut Jihan cepat setelah mendengar ucapan Jeff dengan nada suaranya yang datar itu.


Tak berapa lama permintaan panggilan video dari Jihan masuk ke ponselnya. Jeff langsung menggeser ikon berwarna hijau. “Ada siapa dirumah?.”


“Seperti biasanya Jeff. Aku, Nathan dan Ibu.” Sahut Jihan.


“Mana Nathan?.”


“Sedang di halaman belakang sama ibu. Aku di kamar, sedang mengerjakan laporan aku ijin kerja hari ini.” Ucap Jihan. “Ngomong – ngomong gimana Prita?.”


“Dia sudah baik – baik saja.” Sahut Jeff.


Nampak kelegaan diwajah Jihan.


“Syukurlah.” Ucap Jeff. “Aku sudah telfon sih tadi pagi, sepertinya dia masih agak lelah, jadi aku hanya bertanya sekedarnya.”


“Mungkin sedikit masih shocked. Tapi sudah lebih baik sekarang.”


“Aku benar – benar prihatin. Ga kebayang takutnya dia semalam.”


“Hemmm. Tapi b*jingan yang sudah mengganggunya sudah mati!.”


“A – apa?..” Jihan nampak terkejut. “Ap ...”


“Sudahlah. Ga penting. Dia sudah mendapatkan ganjaran akibat mengganggu para wanita milik para pria di Keluarga Smith.” Ucap Jeff datar sambil menatap Jihan dari layar ponselnya. “Dan hal itu berlaku bagi pria manapun atau siapapun yang berani mencoba apa yang sudah kami claimed sebagai milik kami.”


Jihan nampak meneguk salivanya. Sedikit merasa ngeri.


“Besok kalian aku jemput.”


“Hah?. Besok?.”


Jeff manggut – manggut.


“Tapi besok masih jadwal kerja aku, Jeff dan aku ada event yang harus aku pimpin.”


“Kamu ga akan lagi bekerja disana.” Ucap Jeff datar dan raut wajah Jihan langsung berubah seketika.


“Jeff, kita sudah bicara soal ini, dan masalah pekerjaan aku kamu janji ga akan mencampuri.”


Jihan nampak kesal  tapi Jeff nampak biasa saja.


“Aku sudah mengambil keputusan. Soal aku yang ingin kamu tak lagi bekerja ditempat kamu sekarang, itu sudah final.”


“Engga! Aku ga mau berhenti kerja.” Protes Jihan. “Aku ....”


“Jihan Shaquita!.” Jeff keburu bersuara sebelum Jihan menyelesaikan lagi kalimatnya. “Jangan menguji kesabaran aku.” Jeff menatap tajam pada Jihan yang matanya kini berkaca – kaca. “Sebentar lagi aku akan melamar kamu secara resmi dan menikahi kamu Jihan. Tempat kamu disisi aku. Ingat itu baik – baik.”


Jihan diam tak menjawab.


“Aku sudah bicara dengan Ibu juga tadi. Besok, kalian bertiga akan aku bawa pindah ke Jakarta.” Ucap Jeff dengan wajahnya yang kembali datar. “Ya sudah, lebih baik kamu mulai beres - beres. Urusan kantor kamu aku yang handle.” Ucapnya lagi. “Ada bantahan?.”


Jihan menggeleng pelan.


“Bagus kalau kamu paham. Besok pagi aku jemput. Peluk cium aku untuk Nathan.” Jeff mematikan sambungan panggilan videonya dengan Jihan.


Jihan hanya menjawab dengan anggukan sebelum Jeff memutuskan panggilan.


**


“Mau kemana Kak Jeff?.”


“Mau jemput Jihan, Jol.”


Fania manggut – manggut.


“Jadi lo ajak mereka pindah ke Jakarta?. Rumah yang waktu itu lo liat – liat sama gue dan Andrew, jadi lo beli?.”


“Jadi Jol. Ini rencananya langsung hari ini juga mereka sudah akan tinggal disana.”

__ADS_1


“Emang udah rapih itu rumah?.” Tanya Fania sedikit heran.


“Sudah.”


“Lo jangan galak – galak si Kak, sama si Jihan.” Ucap Fania. “Kasian tau.”


“Dia bicara apa memang sama lo?.” Tanya Jeff.


“Cuma curhat aja. Cuman kalo dari cara dia cerita kayaknya dia takut sama lo.” Jawab Fania.


“Gue bukan nya galak. Hanya tegas.”


“Ya gue paham sifat lo, semua orang di keluarga ini juga gue paham sifatnya pada. Cuman gue kasih tau sama lo, si Jihan itu kan lembut orangnya Kak Jeff. Kaga bar – bar kek gue.”


Jeff terkekeh. “Sadar diri lo, Jol.”


“Sadar lah. Jadi orang kan kudu tau diri.” Sahut Fania


“Heeemmm.”


“Pokoknya lo jangan galak – galak sama si Jihan. Ngatur boleh, tapi jangan kebangetan ngatur juga.”


“Hah, dengar tuh bule gila. Jangan kebanyakan ngatur, nanti si Jihan kabur, tau rasa.” Andrew muncul bersama Andrea.


“Heleh, dulu juga kamu kebangetan ngatur akunya, D. Apa - pa ga boleh. Aku kasih pelajaran baru deh sadar.” Cebik Fania dan Andrew terkekeh.


“Iya, iya... Momma selalu benar.” Sahut Andrew. “Momma’s creepy right? ( Momma menyeramkan bukan? ).” Ucap Andrew pada Andrea yang kemudian terkekeh karena Andrew menciuminya.


“Iya, iya gue terima masukan lo Jol.” Ucap Jeff. “Tapi gue pastikan Jihan Shaquita ga akan pernah bisa kabur dari gue.”


“Bisalah. Kalo gue turun tangan?. Gue bikin si Jihan ilang dari pandangan lo.”


“Alah Jol ...” Jeff memutar bola matanya. “Iya, iya gue bakal lebih lembut sama dia.” Si bule gila tak mau coba – coba menantang ucapan bininya si Andrew. Sudah paham betul diotaknya si Kajol itu terlalu banyak ide gila yang sukar untuk ditebak.


Fania dan Andrew cekikikan. Termasuk Andrea yang juga ikut cekikikan karena melihat Poppa dan Mommanya, padahal paham juga kaga itu bocah. Wkwk ..


***


Jakarta, Indonesia..


“Selamat datang.” Ucap Jeff saat ia sudah memboyong Jihan, Nathan dan calon mertuanya ke Jakarta dan membawa mereka ke sebuah rumah yang terbilang cukup mewah. “Silahkan masuk Bu. Mulai sekarang ini rumah kalian.”


“Nak Jeff, apa rumah ini tidak terlalu berlebihan?.” Ucap ibunya Jihan.


“Tidak Bu.” Sahut Jeff dengan tersenyum. “Rumah ini seperti yang Nathan mau. Tidak terlalu besar juga, tapi ada kolam renang disamping.” Jeff mengacak – acak rambut Nathan yang berada dalam gendongannya.


“Benar dong. Kan Daddy bilang, Daddy ga pernah bohong.” Ucap Jeff. “Mau lihat?.” Tanyanya dengan tersenyum pada Nathan.


“Mauuuu! ....”


“Ayo kita lihat kolam renangnya.” Jeff langsung mengajak tiga orang yang bersamanya ke area samping rumah.


“Yey... Nathan punya rumah yang ada kolam renangnya.” Nathan nampak sangat bahagia. Membuat tiga orang dewasa yang bersamanya tersenyum lebar melihat bocah itu jijingkrakan saking kesenengan.


Jihan melirik pada Jeff saat mereka tengah berdua memperhatikan Nathan dan neneknya sedang mengitari kolam


renang. “Makasih ya.”


“Untuk?.”


“Rumah ini.”


Jeff tersenyum.


“Tak perlu berterima kasih. Sudah kewajiban aku.”


**


“Mereka yang akan membantu kamu, Ibu serta menjaga Nathan.” Jeff memperkenalkan dua asisten rumah tangga


yang sudah ia pekerjakan di rumah baru untuk Jihan dan ibunya serta Nathan.


Kedua asisten rumah tangga itupun memperkenalkan diri mereka masing – masing kepada majikan baru mereka.


Kemudian kembali melanjutkan tugas mereka.


“Terima kasih untuk semuanya ya Nak Jeff.”


“Tidak perlu berterima kasih pada saya, Bu. Saya dan Jihan akan menikah jadi otomatis Ibu adalah ibu saya juga. Dan kewajiban saya untuk memastikan kalau semua yang kalian butuhkan terpenuhi. Tolong beritahu saya jika memang masih ada yang kurang.” Sahut Jeff pada ibunya Jihan.


“Sudah Nak Jeff. Ini sudah lebih dari cukup. Ibu sudah sangat bersyukur untuk ini.”


Jeff tersenyum sambil merengkuh calon ibu mertuanya itu. “Saya yang lebih bersyukur, Bu.” Ucap Jeff tulus. Sementara Jihan hanya tersenyum melihat interaksi ibunya dan Jeff.


‘Kalau begini dia manis banget.’ Batin Jihan.

__ADS_1


“Ah iya Bu, Jihan, malam ini atau besok Dad dan yang lainnya akan datang dari London. Aku dan John akan membicarakan soal acara lamaran aku dan John juga dengan seluruh keluarga besar. Ada kemungkinan aku akan datang melamar secara resmi dalam bulan ini.”


“Ah kalo soal itu terserah kalian aja.”


“Ya sudah kalau begitu, mari aku tunjukkan kamar ibu. Sekalian kamar Nathan juga.” Jeff mengajak Jihan, ibunya


dan Nathan ke lantai dua rumah tersebut.


“Yey .. Nathan punya kamar sendiri ..” Nathan lagi – lagi kegirangan karena sekarang dia memiliki kamarnya sendiri yang sudah didesain sedemikian rupa oleh Jeff sebagaimana kamar untuk anak laki – laki berumur lima tahun. “Makasih Daddy ..”


“Sama – sama jagoan.”


“Aku temani Nathan disini.” Ucap Jihan pada Jeff saat pria itu hendak menunjukkan kamar calon ibu mertuanya.


“Baiklah.”


***


“Bu, saya titip Nathan sebentar.” Ucap Jeff pada ibunya Jihan saat dia ingin menunjukkan kamar lainnya.


Kamarnya dan Jihan kalau mereka sudah menikah nanti, tepatnya.


“Iya.”


***


“Ini....”


Cup


Jeff mengecup bibir Jihan sebelum wanita itu menyelesaikan kata – katanya saat ia sudah membawa Jihan masuk kedalam suatu kamar yang didominasi dengan warna putih itu.


Jihan yang sedikit kesal namun juga malu disaat yang bersamaan, spontan memukul pelan dada Jeff. “Kamu nih.”


Jeff mengulum senyum. “Gemas. Habis kamu cemberut aja dari tadi.” Ucap Jeff seraya menggenggam tangan Jihan. “Masih kesal aku suruh berhenti kerja?.”


“Siapa juga yang cemberut?. Biasa aja perasaan.”


“Tapi kesal iya kan?.”


“Iya sih kalau boleh jujur, aku agak kesal.”


Jeff tersenyum sambil membawa Jihan ke tengah kamar.


“Ya sudah aku minta maaf kalau sudah buat kamu kesal soal aku yang menyuruh kamu berhenti kerja dan pindah ke Jakarta. Khawatir kamu diambil orang.”


Jeff pura – pura mengedarkan pandangannya.


Jihan pada akhirnya terkekeh. “Udah tua juga. Masih aja cemburuan.”


Jeff menoleh sambil menaikkan satu alisnya.


“Enak aja tua. Hot Daddy ini.” Sahut Jeff pongah.


“Iya, iya ....” Jihan masih terkekeh dan Jeff mengacak – acak rambutnya.


“Ini kamar mandinya sekaligus connect ke walk in closet.” Jeff menjelaskan sambil membawa Jihan menelusuri tiap sudut kamar yang akan menjadi kamar mereka.


Jihan hanya manggut – manggut.


“Gimana, suka?. Nanti sambil kamu lihat kalau masih ada yang kurang, atau ada yang ingin kamu rubah dalam


kamar ini. Bilang saja.”


“Sementara ini biarkan saja begini dulu. Ini juga sudah cukup bagus kok.”


“Jadi mau yang mana duluan?.”


“Apanya yang duluan?.” Tanya Jihan bingung.


“Mau coba ranjang baru atau jacuzzi?.”


Goda Jeff sambil memainkan alisnya.


Jihan memutar bola matanya malas dan meninggalkan Jeff untuk berjalan ke balkon kamar sambil menggumam pelan namun Jeff mendengarnya.


“M*sum dasar.”


“Tapi suka kan dim*sumin sama aku?.” Goda Jeff lagi.


“Tau ah gelap!.”


Jeff terkekeh. “Tunggu malam berarti ya untuk coba ranjang baru sama jacuzzi nya sekalian?.”


***

__ADS_1


#Kak Jeeefff, sentil nih.


To be continue ....


__ADS_2