THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 364


__ADS_3

Jempol dikondisikan dulu (ehem) sebelum sekerol kebawah ye


**************************************************************************


MENCENGANGKAN


***************************


Selamat membaca ...


Kebahagiaan Keluarga Adjieran Smith beserta seluruh kerabat mereka yang ikut berpesiar dalam liburan kali ini yang didanai sepenuhnya oleh keluarga nan cetar membahenol itu diliputi kebahagiaan yang berlimpah.


Selama kurang lebih satu bulan telah dilalui oleh mereka yang sedang liburan berpesiar itu.


Tidak hanya menghabiskan waktu di atas kapal yang mewah dan lengkap fasilitas itu, tetapi juga menghabiskan waktu mereka melakukan banyak hal menyenangkan di setiap rute destinasi dimana kapal pesiar milik keluarga The Adjieran Smith itu singgah.


Sudah puluhan hari liburan itu berlangsung, kini The Adjieran Smith berikut kerabat mereka itupun sedang


berada di sebuah negara yang secara geografi terletak di pegunungan Alpen, di Eropa barat-tengah. Switzerland.


Dimana saat ini sedang musim dingin di negara tersebut, dan sederet kegiatan yang ingin dilakukan oleh mereka yang sedang liburan panjang berpesiar ini sudah disusun rapih dalam daftar. Mendaki, bermain salju, ski, makan di restoran di puncak gunung dengan pemandangan yang amazing, hingga snowboarding ( seluncur salju ).


Mereka semua akan tinggal selama beberapa hari di Switzerland, dan melakukan banyak hal menyenangkan


bersama di negara tersebut.


Kini rombongan para sultan dan sultanah The Adjieran Smith berikut kerabat mereka tanpa terkecuali sudah


berada di sebuah daerah pegunungan yang paling banyak difoto di dunia. Yang merupakan destinasi populer di Switzerland, berada tidak jauh dari sebuah kota yang bernama Zermatt.


****


Gunung Matterhorn, Switzerland ...


“Wow! Awesome Rery! ( Rery, kamu keren sekali! )”


Itu Ann yang terkagum – kagum pada Rery yang baru saja melakukan snowboarding dengan aksi seperti seorang atlit Paralimpiade dimana Rery menuruni tempat miring yang diselimuti salju di pegunungan tersebut, sambil berdiri diatas papan salju dan nampak Rery begitu menguasainya.


Bakat yang Rery punya akibat sering melihat video sang Poppa yang dulunya sering melakukan olahraga ekstrim,


jadinya Rery suka bermain snowboarding yang mendapat ilmu dari Poppa. Juga Rery mempelajari beberapa teknik secara otodidak.


“I am! ( Memang aku keren! )”


“I want to try! ( Aku mau coba! )” Seru Ann.


“Oh No!” Tukas Rery yang melarang dengan cepat.


“But why???.. ( Tapi kenapa???.. )” Tanya Ann. “I also quite often to play this! ( Aku juga sudah cukup sering bermain ini! )”


“It’s different than we played snowboarding at London ( Ini berbeda dari bermain papan seluncur di  London ) , Ann!..” Jawab Rery.


“What’s the difference? ( Apa bedanya? )”


“Here, is quite high and steep ( Disini, lebih tinggi dan curam ). Lihat kan?”


“Tapi aku tidak takut!”


“No, Aann..”


Rery sama ber-sikukuhnya dengan Ann yang langsung merasa jengkel dan merungut.


“Can you see that, huh? How steep it is????.... ( Bisa kamu lihat kan, huh? Betapa curamnya itu??? ) ....”


“I still  want to do it .. ( Aku tetap masih ingin melakukannya )...”


Ann masih bersikeras.


“No Annn!! Cannot.. ( Tidak Annn!! Tidak bisa ) ..”


“Hish!”


Ann mendesis kesal sambil mensedekapkan tangannya.


“Rery pelit!”


“Rery was right, Dolcezza ( Rery benar, Sayang ). Tempat ini cukup berbahaya bagimu untuk bermain


snowboarding. You’re not shrewd as Rery who had a good grip of this sport, so it can be dangerous for you, Ann... ( Kamu tidak selihai Rery yang sudah menguasai beberapa teknik olahraga ini, jadi kemungkinan akan berbahaya


untukmu, Ann ... )”


Daddy Dewa yang juga sedang berada bersama Rery, Ann berikut Mom Ichel dan Alisha yang sudah mengenakan


sepatu boots khusus ski, alat ski berikut tongkat ski yang mampir untuk melihat Rery melakukan aksinya dengan sang Poppa yang masih nampak jago ber-snowboarding meski usia Poppa tak lagi muda.


Momma, Daddy R dan Mommy Ara juga ada bersama mereka. Sementara yang lainnya sudah berpencar di setiap


bagian gunung wisata yang mereka singgahi untuk menikmati waktu saat ini.


Daddy Dewa, Poppa dan Daddy R, sama seperti Rery yang memilih snowboarding untuk bermain di Gunung Matterhorn ini, sementara Mommy Ara, sama seperti Mom Ichel, Ann dan Alisha yang menggunakan perlengkapan bermain ski.


Hanya saja, Mommy Ara seperti halnya Mom Ichel dan Alisha, berhenti sebentar bermain ski demi melihat aksi tiga Daddy dan satu bocah tampan yang merupakan anak kedua pasangan bebek.


Sementara Ann, meski ia menggunakan perlengkapan bermain ski, namun seperti biasanya, Ann selalu mengekori Rery yang malah bermain snowboarding itu, bukannya bermain ski di bagian lain, sejak awal Ann disuruh mengenakan peralatan ski yang sudah melekat ditubuhnya itu.


Ann sebenarnya sejak tadi merengek untuk ikut disewakan papan snowboarding, namu Rery melarangnya.


Jadi Ann, meski memakai peralatan ski, namun ia sama sekali belum nampak bermain salah satu olahraga salju tersebut. Ia terus mengekori Rery yang nampak tidak terlihat risih sama sekali pada Ann yang selalu menempel padanya sejak kecil itu.


Yah, Ann itu macam sang kakak perempuan kandung Rery yang selalu menempel pada si Abang dari sejak kakak perempuannya itu kecil.


“Lagipula olahraga ini kurang cocok untuk anak perempuan Ann ..” Ucap Rery.


“Tapi itu Momma?!” An mengarahkan telunjuknya pada Momma yang memang sedang melakukan aksi


snowboarding seperti para pria kebanyakan.


“Your Momma is different ( Momma kalian itu berbeda ), Ann” Timpal Daddy R.

__ADS_1


Ann sontak menoleh pada Daddy R yang sudah berjongkok disampingnya seraya memeluk tubuh Ann, yang


kemudian Daddy R sandarkan pada dirinya.


“How can I and Momma are different? ... ( Mengapa bisa aku dan Momma berbeda?.. )” Tanya Ann. “Me and Momma are woman ... ( Aku dan Momma sama – sama wanita )..”


Daddy R dan para orang dewasa yang bersamanya selain Poppa yang sedang mengekori Momma yang sedang


asik ber-snowboarding itu mendengus geli pada ucapan Ann yang polos itu barusan.


“You were right, Dolcezza. You are a woman, same as Momma. Mommy Ara, Mom Ichel and Alisha. But, Momma, I


can say that she is one of a kind woman ..... ( Kamu benar, Sayang. Kamu wanita, sama seperti Momma. Mommy Ara, Mom Ichel dan Alisha. Tapi, Momma itu, bisa dibilang bahwa dia wanita yang langka.. )”


Daddy R mencoba memberikan penjelasan pada Ann yang memang kritis anaknya.


“Beside, Momma was had a lot of time practicing, you know? ( Lagipula, Momma sudah sering berlatih


sebelumnya, kau tahu? )”


“You can do snowboarding, but in the safe place for now. Maybe later after we go back to London. Consider


that you do a practice before you are eligible to do snowboarding here, which it can make yourself get hurt...”


“( Kamu bisa melakukan seluncur salju, tapi di tempat yang aman untuk sekarang ini. Mungkin nanti saat kita kembali ke London. Anggap saja kamu berlatih dulu sampai dianggap mampu untuk bermain seluncur salju di tempat seperti ini, yang dapat membuat diri kamu terluka... )”


Daddy Dewa dan Daddy R sama-sama memberikan pengertian pada Ann.


“I see ... ( Aku mengerti ) ..” Ann manggut-manggut. Daddy Dewa dan Daddy R juga Mommy Ara dan Mom Ichel


tersenyum kemudian.


“Lagipula Ann, kamu masih harus banyak belajar jika ingin seperti Momma” Celetuk Rery. “Selain memiliki nyali yang besar, kamu juga harus tahu dulu bakat kamu kan Ann?” Tambah Rery dan Ann manggut-manggut lagi.


Lalu Daddy R berdiri setelah Poppa dan Momma yang sepertinya sudah puas ber-snowboarding ria itu datang


menghampiri mereka.


“Poppa..”


“Yes, Dolcezza?.. ( Ya, Sayang ) ..”


Poppa menghampiri Ann yang memanggilnya.


“Do you love Momma that much because Momma can do a lot of things? ..”


“( Apa Poppa sangat mencintai Momma karena Momma dapat melakukan banyak hal? )”


“Heemm.. can say like that ( bisa dikatakan seperti itu )”


“Seperti yang aku bilang Ann, Momma itu bahkan bisa melakukan banyak hal yang pria bisa lakukan”


“Apa sih Rery? Sok you know deh anak bebek! ..” Timpal Momma yang menggoyangkan kepala Rery sembari terkekeh kecil.


“Memang benar kan? ..”


“Apanya yang benar, hem?”


Momma dan para orang dewasa spontan terkekeh mendengar cerocosan Rery.


“Makanya Poppa bucin akut pada Momma, ya kan?”


“Hahahaha!!!..”


“Berani mengataiku bocah tengik??!!! ..”


“Memang seperti itu kenyataannya..” Celoteh Rery Pada Poppa yang memitingnya gemas. “Poppa bucin akut pada Momma”


Mereka semua terkekeh saja, sembari berjalan mengikuti Poppa bebek yang sedang menggeret anaknya menjauh


dari area snowboarding.


‘Aku pasti bisa seperti Momma saat aku dewasa nanti!’ Ann membatin seraya bibirnya mengurai senyum dan


melirik pada Momma yang berjalan sambil memeluknya itu.


“Iya kan Mommaa??? .. Poppa kan bucin akut pada Momma, iya kaaann?? ..”


‘Jika aku bisa seperti Momma yang pandai dalam banyak hal, saat dewasa nanti Rery akan bucin akut juga


padaku seperti halnya Poppa pada Momma, bukan begitu?’


**


“Aku ingin naik kereta gantung!” Itu Ares yang merengek seraya menarik tangan sang Daddy yang sudah


bergabung bersamanya dan beberapa orang termasuk para asisten dan baby sitter yang diperintahkan menjaga Ares dan juga Aina ekstra ketat akibat insiden tertinggalnya dua pewaris paling junior dalam keluarga mereka tersebut.


Meskipun ada anggota keluarga mereka yang lain, tetap saja dua bocil itu mendapatkan pengawasan ekstra selain dari para keluarga juga kerabat. Dan sekarang sebagian besar mereka sudah berada di kawasan gletser Klein Matterhorn setelah tadi sempat bermain ski dan toboggan terlebih dahulu. Ares, Aina dan para bocil lain seusia


mereka sudah ribut untuk segera menaiki kereta gantung salju yang tertinggi di dunia itu.


“Daaadd ayooo!!...”


“Okay! Okay!”


Daddy Dewa mengimbangi anak keduanya dan Mom Ichel yang super duper aktif itu,


Sama seperti para kakak-kakaknya, Ares seperti juga tidak ada takutnya untuk mencoba beragam hal.


**


Hampir semua dari mereka, yakni rombongan The Adjieran Smith berikut kerabat mereka sudah berkumpul untuk naik kereta gantung tertinggi di dunia tersebut yang satu gerbongnya bisa menampung sekitar dua puluh delapan orang.


“Tunggu ..”


Rery yang hendak masuk ke dalam kereta gantung di gerbong belakang dari satu gerbong yang dinaiki keluarga berikut kerabat mereka dengan Avaro disisinya itu celingukan.


“Kenapa Rery?”

__ADS_1


Avaro yang menyadari seperti Rery sedang mencari sesuatu itu spontan bertanya.


“Ann mana?..”


“Tadi kan sama Papa Lucca dan Mama Fabi, Alisha dan Val serta Mika bukannya?”


“Mana mereka?” Tanya Rery sembari tetap celingukan. Dan para kakak yang berada di dekat Rery berikut para


kakak lain dari kerabat mereka juga ikut celingukan pada akhirnya, karena memang sepertinya belum melihat Papa Lucca dan mereka yang bersamanya.


“Hey! Cepat kalian masuk!” Itu Daddy Jeff yang berseru dari kereta depan. “Kalian menunggu apa??” Seru Daddy Jeff lagi seraya bertanya.


“Papa Lucca dan yang tadi bersamanya ada bersama kalian??..” Itu Varen yang balik bertanya. Dan Daddy Jeff langsung mengabsen orang-orang yang berada dalam gerbong kereta gantung yang sama dengannya.


“Mereka tidak ada disini!” Seru Daddy Jeff yang kemudian celingukan dan beberapa pria juga ikut keluar pada akhirnya.


“Itu mereka!” Tunjuk Varo. Dan memang Papa Lucca dan Mama Fabi terlihat sedang berjalan bergandengan


menuju ke arah mereka yang sudah standby di dekat kereta gantung bahkan beberapa sudah masuk ke dalam gerbong.


**


“Ann mana Papa?” Rery langsung bertanya menggunakan bahasa Indonesia pada Papa Lucca yang sudah paham


dengan bahasa tersebut, meski jarang sekali melafalkannya.


Bukan tanpa sebab Rery bertanya, karena Ann tidak terlihat ada bersama orang-orang yang baru datang itu yang tadi terlihat bersama Ann sebelum Rery memisahkan diri dengan anak laki-laki seusianya untuk bermain ski dan langsung menuju ke stasiun kereta gantung karena melihat sebagian besar rombongannya berjalan menuju ke arah


stasiun kereta gantung tersebut.


Rery pikir juga selain Ann, seluruh keluarga intinya sudah berkumpul untuk naik kereta gantung. Namun


berhubung Rery belum melihat Ann jadi dia mencari-cari keberadaan Ann yang selalunya menempel padanya itu.


Kalau menurut mereka yang melihat Ann termasuk kata Varo kan, katanya tadi bermain bersama Papa Lucca, Mama Fabi, Alisha, Val dan Mika.


Nah lima orang yang tadi disebutkan itu sudah muncul  namun Ann tidak nampak bersama mereka. “Ann not here?! ... ( Tidak disini? )” Papa Lucca balik bertanya.


Rery serta lainnya menggeleng.


“But she said that she’s going to catch you Rery ( Tapi dia bilang tadi dia hendak menyusulmu Rery )”


“No, Papa”


Rery menyahut cepat.


“Ann tidak menyusulku ... Tanya saja Varo dan Felix, Ann tidak menyusul kami ...”


“Haishh!!!” Papa Lucca mendesis. “Where that Little Devil be? ( Kemana si Setan Kecil itu? )”


Papa Lucca kemudian celingukan. Diikuti oleh hampir semua kerabat pada akhirnya yang celingukan mencari Ann.


“Mungkin Ann sudah lebih dulu naik kereta?” Celetuk Mika.


“It is way impossible if Ann want to blend with the general tourist. Like you guys don’t know, Ann .... ( Tidak


mungkin dia mau berbaur dengan turis umum. Macam tidak tahu Ann saja.... )”


Itu Mama Fabi yang bersuara karena paham betul tabiat putrinya yang sangat mirip dengan Papa Lucca yang


tidak suka berada bersama mereka yang tidak dikenalnya. Dan memang satu baris stasiun disewa khusus oleh The Adjieran agar mereka sedikit lebih leluasa menggunakan area stasiun kereta gantung salju yang hendak dinaiki itu.


Ketidak beradaan Ann ditengah-tengah keluarga dan kerabatnya sedikit membuat gusar sebenarnya. Namun


kasihan juga pada para bocil yang sudah ribut meminta agar kereta gantung yang mereka naiki segera berjalan.


Dan untuk itu, akhirnya seluruh bocil seusia Ares dan Aina berikut para kakak wanita dan wanita dewasa


dipersilahkan untuk menikmati wahana kereta gantung tertinggi di dunia tersebut, dengan jumlah orang yang hanya setengah dari batas maksimal isi satu gerbong kereta.


Ditiap gerbong ditempatkan beberapa pria dewasa serta bodyguard untuk membantu para wanita menjaga


anak-anak. Sementara para Dads berikut para kakak lelaki dan beberapa kerabat pria sudah melangkah meninggalkan stasiun kereta gantung untuk mencari Ann, termasuk juga mengarahkan para pengawal pribadi yang ikut bersama mereka saat ini, untuk menemukan keberadaan Ann.


Rery serta Varo juga ikut bergabung dengan para pria dewasa lainnya untuk mencari Ann.


Rery yang paling merasa cemas saat ini, karena Rery memang paling dekat dengan Ann.


Meski Ann selalu menempel padanya dan over posesif serta cerewetnya minta ampun kalau pada Rery.


Mereka yang mencari Ann sudah berpencar, namun nihil karena tidak melihat keberadaan Ann, di beberapa tempat bermain salju bahkan di kedai-kedai untuk beristirahat disana.


Hingga salah seorang pengawal pribadi mereka datang dengan tergesa ke arah Rery yang berkelompok dengan Daddy Dewa, Varo dan Papa Lucca.


“Sir!”


“You guys find her? ( Kalian menemukan keberadaannya? )”


“Yes, Sir ( Iya, Tuan )”


Salah seorang pengawal pribadi itu menjawab dengan nafasnya yang sedikit tersengal.


“Then why don’t you guys bring her here? ( Lalu mengapa kalian tidak langsung membawanya kesini?)”


Mereka yang berpencar dengan berkelompok akhirnya menyambangi dimana Papa Lucca berada karena melihat salah seorang pengawal pribadi mereka sedang bicara dan mungkin Ann sudah ditemukan.


“I’m sorry Sir, but someone has said that he saw Miss Ann was join some of people to go skiing at the higher foothills. The longest descent ski in this mountain Sir ( Maaf Tuan, tetapi seseorang mengatakan kalau melihat Nona Ann bergabung bersama sekelompok orang untuk bermain ski di kaki gunung tertinggi. Di bagian turunan ski terpanjang di gunung ini Tuan )”


“SHE WHATT??!!! ( DIA APAAA??!! )”


“Oh Goodd!!... ( Oh Tuhaaann!! ) ....”


***


To be continue..


Menuju Akhir Episode-Road to an End


Jangan lupa tinggalkan jejak

__ADS_1


Loph Loph


__ADS_2