THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 311


__ADS_3

‘P L A Y’


( Main )


♦♦♦♦♦♦♦


Selamat membaca.....


♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦


Di tempat dimana sedang dilakukan usaha penyelamatan...


“Tuan! satu yacht yang berada Nona Kevia di dalamnya sudah bergerak!”


Adi berbicara lagi setelah mendapat informasi disaluran yang terhubung pada alat komunikasinya.


“Ah sial!”


“Kenapa Dad?!”


“Buat pengalihan agar bisa segera masuk!”


Varen terdengar gusar setelah mendengar Daddy Dewa mengumpat disaluran komunikasi mereka.


“Yacht yang membawa Via bergerak!”


“S**T!!!!!”


Terdengar dua umpatan dari Varen dan Nathan.


“Kenapa Dad?!”


“Yacht yang membawa Via bergerak!”


“S**T!!!!!”


Varen dan Nathan serta merta spontan mengumpat setelah mendengar apa yang barusan Papi John beritahukan.


“LANGSUNG MASUK SAJA MAR!!!!!” “


“Baik Tuan!”


Suara Varen yang memerintahkan Ammar untuk menerobos masuk ke dalam Marina pribadi di titik mereka sekarang terdengar keras di alat komunikasi Daddy Dewa dan Papi John.


“BERGERAK SEKARANG!!” Papi John menurunkan perintah sembari mulai berlari mendekat pada Marina bersama


Daddy Dewa dengan senjata yang pelurunya sudah siap diletuskan.


**


DORR! DORR! DORR!


Tiga peluru dengan cepat Varen muntahkan dari senjata apinya pada tiga penjaga di pintu masuk yang mengejar mereka sembari melepaskan tembakan juga.


Dari jarak Varen sekarang, masih terasa mudah untuk membidik sasaran. Tiga orang itu terkena tembakan Varen dengan tepat satu peluru bersarang di masing – masing mereka.


Meski tak membidik bagian vital, namun tiga orang yang tadi mengejar itu tetap saja ambruk seketika, kala peluru Varen bersarang di tubuh mereka. “LEBIH MENDEKAT KE FENDER MAR!”


“BAIK TUAN!”


Ammar yang cekatan dibalik kemudi langsung dengan cepat mengarahkan mobil ke bagian yang tadi disebut Varen.


DORR! DORR! DORR!


“ARAH JAM ENAM TUAN!!!!”


Ada serangan tembakan dari belakang mobil yang dikemudikan Ammar.


“TINGGALKAN ATAU BERESKAN?!”


“BERESKAN!!”


Varen dan Ammar bercakap dengan cepat setelah Varen melihat di bagian lain juga ada baku tembak antara tim yang bersama Papi John dan Daddy Dewa di bagian lain Marina.


“Let’s play ( Ayo kita main )”


***


“Dua – Dua Tan!” Pekik Varen dengan cepat pada Nathan yang juga mengangguk cepat tanpa bersuara kemudian mengambil posisi seperti aba – aba sang Abang, setelah Ammar kembali membanting setir dan menukik tajam hingga jarak ban mobil dan pinggiran pantai begitu tipis.


DORR! DORR!


DORR! DORR!


Varen dan Nathan masing – masing merobohkan dua orang yang menembaki dari arah resort dengan peluru dari pistol mereka.


Empat orang tersebut langsung ambruk. Ditambah Ammar memposisikan lagi mobil dengan cepat lalu bergerak mundur menabrak ke empatnya.


“Check tempat itu Mar!”


Varen menunjuk pada Resort yang berada didalam Marina tersebut.


Ammar mengangguk, sementara Rendy masih di posisinya dengan raut wajah yang sulit diartikan karena berada


dalam situasi baku tembak sungguhan.


Varen dan Nathan hendak keluar dari mobil dengan kesigapan mata mereka.


“Ada lagi yang datang Tuan!” Ucap Ammar setelah ia melihat beberapa orang lagi mendekat dari arah Resort melalui spion kanannya.


Varen dan Nathan saling mengkode dengan mata dan anggukan.


“Cover us Mar! ( Lindungi kami Mar! )”


**


Di tempat lain


Pada sebuah gedung pencakar langit sebuah Perusahaan Multi Nasional


“Koalisi apa ini?! Kalian dikirim seseorang untuk mencoba mengusik saya?!”


“Ya. Seseorang mengirimku” Sahut Daddy R.


“Siapa?!”


Danang nampak menantang.


“Malaikat maut”


Daddy R masih dengan nampak santai menjawab, memandang pada Danang dengan raut wajah datar.


Danang nampak sempat terkesiap mendengar ucapan Daddy R barusan. Yang gestur dan nada suara yang nampak santai dan datar, namun pandangan mata Daddy R cukup memandang Danang dengan tajam.


Namun sekali lagi, Danang menunjukkan arogansi dan sikap pongahnya didepan Daddy R dan Lingga. “Serapah


sekali mulut anda!” Pekik Danang.


“Memang”

__ADS_1


Daddy R lagi – lagi menyahut dengan santainya, sementara Lingga sedikit menarik satu sudut bibirnya.


“Jangan kau pikir aku takut akan ancamanmu! Kau!” Danang mengarahkan telunjuknya pada Daddy R dengan geram. “Sudah seenaknya masuk ke dalam gedung kantorku ini, membuat keributan, dan mengancamku! Kau tidak tahu apa yang sedang menunggumu!”


“Tahu!” Sahut Daddy R dengan cepat. “Keluargaku” Sambungnya seolah mengolok Danang.


“Kau....!”


Danang mengepalkan tangannya sementara si asisten pribadinya sudah berdiri dibelakang Danang, dan para peserta rapat yang bersamanya juga sudah berdiri dari duduk mereka, hanya mereka tak berkutik karena aksi Lingga yang sempat menembak salah satu dari mereka tadi.


Tak ada juga yang mencoba keluar, karena pasukan Lingga seolah menghalangi jalan, dan orang - orang Danang itu juga sedang bimbang dan sedang berpikir soal apa yang harus mereka lakukan sekarang.


“Kau sudah cukup menyita waktuku” Ucap Daddy R sambil melirik arloji ditangannya.


“KAU YANG SUDAH MENYITA WAKTUKU!”


Daddy R menggaruk dalam telinganya.


“Jika maksudmu adalah waktu untuk bekerja, aku rasa kau tidak membutuhkannya”


Daddy R menjentik kan jarinya, dan satu anak buah Lingga langsung mendekat padanya sembari menyerahkan sebuah map pada Daddy R.


“Karena kau sudah tidak punya apa – apa” Daddy R melempar map ke muka Danang dengan asal yang berisikan


beberapa lembar kertas yang kemudian terserak sebagian ke lantai.


“Kurang ajar sekali kau!” Danang hendak mendaratkan pukulan, namun di hadang oleh satu tangan Lingga yang


kemudian mendorongnya sedikit kasar.


Asisten Danang dan orang yang berada didekat pria itu mengambil berkas yang berserakan lalu mengumpulkannya dan asisten Danang membacanya.


Wajah asisten Danang yang bernama Armin itu nampak menjadi pucat.


“P-ak, ini...” Ucap Armin dengan takut – takut sembari menyodorkan berkas yang sudah dikumpulkannya pada


Danang, yang masih menatap Daddy R dengan geram.


“Apa ini?!”


Danang merampas berkas tersebut dengan kasar dari tangan Armin dan kemudian membacanya.


Danang nampak sangat terperangah setelah membaca berkas – berkas yang tadi di lemparkan Daddy R ke wajahnya.


“Ap-pa .. apaan ini??...”


“Kau hanya seorang gembel sekarang! Di luar posisimu saat ini Tuan Danang Arsyad”


Daddy R tersenyum miring.


“CEK SEMUA ARMIN!”


Danang menurunkan perintah dengan tergesa.


“KAU DAN KAU! BANTU DIA!”


Menunjuk pada dua orang untuk membantu Armin mengecek sesuatu.


***


Untuk beberapa saat Daddy R memberikan kesempatan pada Danang yang gusar untuk menyuruh para anak buahnya mengecek sesuatu yang berhubungan dengan berkas – berkas yang dilemparkan Daddy R padanya.


Dan tak berapa lama, asisten Danang bersuara, dan suaranya terdengar bergetar.


“P-ak .. ini... ini semua benar.... semua saham bapak anjlok... Dan perusahaan ini juga sudah diakusisi total oleh suatu perusahaan raksasa di Erop dan tercatat kalau bapak memiliki hutang yang sangat besar pada mereka”


“A-pa??!! ...” Danang nampak tak percaya pada ucapan asistennya. Dia berjalan cepat dan meraih laptop yang


“Tidak ada yang tersisa Pak... bahkan rekening anda di BS pun kosong ...”


“APA?! BAGAIMANA BISA???!!...”


Armin yang kerah kemejanya dicengkram kuat oleh Danang itu hanya menggeleng pelan, lalu melirik pada Daddy


R yang kini tersenyum lebar.


Danang panik, terlalu panik bahkan.


Ia sampai tidak berpikir untuk bertanya nama Perusahan yang sudah mengambil alih Perusahaannya dan menyelidiki lebih lanjut mengapa semua harta kekayaan dan semua asetnya bisa raib begitu saja.


“Si-siapa kau sebenarnya, hah? Apa maumu?. Kita tidak pernah berurusan sebelumnya! Kenapa mengusikku?!”


“Karna kau, Prima, Dilara alias Jessy Tabita, telah lebih dulu mengusik keluargaku. Dan ini, bayaran yang aku ambil darimu”


Wajah Danang tidak lagi segarang tadi. Ia meneguk keras salivanya. Kini wajahnya mulai nampak khawatir.


Entah bagaimana bisa semua miliknya hilang dalam sekejap mata, bagai angin yang menyapu debu.


Tak habis pikir, jika ini perbuatan orang yang tadi ia remehkan, bagaimana bisa dia melakukannya sampai sedetail ini. Hubungan kerjasama pun rasanya tak pernah ada dengan si pria ‘pembuat onar’ tersebut.


“Kau sudah membahayakan dua putriku untuk kau jual pada Anoushka!”


Daddy R menunjukkan gambar yang sudah ia buka dalam ponselnya. Ada foto Via dan Drea disana.


“Me-mereka ..”


“Kalian mengambil gadis yang salah” Daddy R memandang tajam pada Danang. “Dan itu kesalahan yang teramat


fatal bagimu, berikut semua orang yang terlibat didalamnya”


“...........”


“Menghancurkan kalian menjadi berkeping – keping sampai tanpa sisa, semudah kami membalikkan tangan”


“...........”


“Ku titipkan dia padamu”


Daddy R menoleh pada Lingga.


“Siap!” Sahut Lingga cepat dan tegas.


**


“Berhenti kau!”


Danang menghardik Daddy R yang sudah mengayunkan langkahnya untuk keluar dari ruangan tempatnya berada


sekarang.


“Kau tidak punya kuasa untuk membawaku pergi! Hanya otoritas tertentu yang bisa menyentuhku! Kau tahu?!”


Daddy R memang menghentikan langkahnya dan berbalik. Namun dia tidak menyahut.


“Ayo, aku sudah menyiapkan kendaraan terbaikku untuk anda Tuan Danang Arsyad” Ucap Lingga dengan senyuman yang mengarah pada senyuman mengejek. Namun Danang, bergeming.


“Kau Lingga Aditya! Atas dasar apa kau membawaku, hah?! Aku akan membuat perhitungan denganmu!”


Danang menunjuk geram pada Lingga sekarang.

__ADS_1


“Dengan senang hati” Sahut Lingga dengan santainya.


“Kalian jangan diam saja!” Danang menoleh pada mereka yang tadi rapat dengannya. “Disini aku punya otoritas! Kalian tidak perlu takut padanya dan pasukan sampahnya ini sekarang!”


Tingkat emosi dan kepanikan Danang kian bertambah. Orang – orangnya yang memang masing – masing memiliki


senjata api itu saling lempar tatap satu sama lain.


“Jangan bertindak gegabah dengan melawan kami, kalian tahu bagaimana kami bukan?” Lingga memberi peringatan dengan senyuman namun ia memandang tajam pada orang – orangnya Danang.


Nampak mereka semua tergugu dalam diam mereka. Dan anak buah Lingga sudah mulai mengepung anak buah Danang, bahkan yang kakinya ditembak Lingga tadi dibiarkan begitu saja, hingga orang itu kemudian nampak tak sadarkan diri setelah mengaduh lirih tanpa henti.


“LUCUTI!” Lingga menurunkan perintah pada anak buahnya yang dengan begitu cepat menggeledah satu satu anak buah Danang yang diminta mengangkat tangan mereka, lalu merampas setiap senjata api yang dimiliki oleh anak buah Danang tersebut dan mengamankannya.


“Berikan dia tempat yang terbaik untuk beristirahat sejenak Bapak Lingga Aditya yang terhormat” Ucap Daddy R sebelum ia meneruskan langkahnya.


“KALIAN TIDAK BISA MEMAKSAKU! KALIAN BUTUH BUKTI SERTA SURAT UNTUK MENANGKAPKU!” Danang berteriak frustasi saat dua anak buah Lingga akan mendekatinya.


“Ah iya, berikan dia makanan yang terbaik juga. Senangkan dia.... Sebelum aku mengoyaknya”


Dan Daddy R pun berlalu dari tempatnya.


“Jangan berani menyentuhku!” Pekik Danang dengan kesal. “Dan kau! Lingga! Perbuatanmu padaku akan dengan


cepat terendus!”


Daddy R menyungging miring lalu pergi melenggang santai dari ruangan tersebut. Sedikit puas sudah menjatuhkan orang dan melihat keputus asaan salah seorang yang mencoba bermain main dengannya dan keluarganya. Sementara Lingga sendiri sudah menyeringai pada Danang.


“Sepertinya anda lupa ya Tuan Danang Arsyad. Keberadaan pasukanku, bahkan negara pun menutupinya” Ucap


Lingga sembari tetap menyeringai pada Danang.


Kemudian dengan cepat wajah Lingga berubah dingin dan nampak serius dengan rahangnya mengetat.


“Apapun yang terjadi padamu hari ini, akan dianggap tidak pernah terjadi. Kau akan dianggap hilang ditelan bumi”


“K-kau..”


“LUMPUHKAN DAN BAWA MEREKA SEMUA!”


“SIAP LAKSANAKAN!”


“Setidaknya kita punya ‘mainan’”


Lingga kembali menyeringai.


***


Kembali ke Laptop eh Ke Marina maksudnya


“Ada lagi yang datang Tuan!” Ucap Ammar setelah ia melihat beberapa orang lagi mendekat dari arah Resort melalui spion kanannya.


Varen dan Nathan saling mengkode dengan mata dan anggukan.


“Cover us Mar! ( Lindungi kami Mar! )”


Varen bergerak cepat keluar mobil seraya menutup pintu dengan cepat dan keras, diikuti Nathan dari sisi berbeda.


Lalu Varen bergerak mendekati kap mobil. Nathan mengikuti setiap pergerakan si Abang dan Rendy serta Ammar


masih berada di dalam mobil.


DAK! DAK!


Varen memukul kap mobil dua kali dan meski mulut Varen tertutup rapat, tetapi Ammar seolah tahu apa yang


dimaksudkan oleh salah Tuan Mudanya itu.


Ammar memundurkan mobilnya, sementara Varen kemudian melesat ke sisi samping Rendy dengan mata yang nampak lurus dan senjata yang sudah diposisikan dengan sedemikian rupa di tangan Varen.


Rendy masih terus mengingat perkataan Varen sebelum Ammar membawa mobil yang ia kemudikan menerobos masuk ke dalam Marina pribadi yang mereka datangi itu.


Namun berhubung Ammar masih berada di belakang setir, jadi Rendy tetap duduk di tempatnya.


Pria itu masih menguasai dirinya yang tak percaya jika dia sedang berada di dalam situasi seperti saat ini. Situasi yang tidak menyenangkan dan menegangkan untuknya.


Rendy memandang pada Varen yang ada di luar pintu pada sisi kirinya.


Memperhatikan sahabatnya yang kini pembawaannya begitu berbeda. Yang Rendy tahu kalau Varen hanyalah


temannya yang memiliki kecerdasan di atas rata – rata dan penerus utama kerajaan Adjieran Smith yang biasanya berada di balik meja kerja.


Bergelung dengan berkas dan data berikut angka – angka. Tapi sekarang, sahabatnya itu sudah memegang


senjata. Ada pertanyaan juga yang sempat terbersit dalam kepala Rendy, mengapa Varen dan Nathan nampak akrab dengan senjata.


Yah selain memang mereka berdua sering latihan menembak, tapi sikapnya seolah mereka sudah siap dengan


keadaan seperti ini.


Belum lagi orang di sampingnya, yang Rendy tahu adalah orang kepercayaan Varen. Lalu dua orang pria yang samar – samar sosoknya semakin dekat sambil setengah berlari juga memegang senjata dan orang – orang yang datang mendekat bersama dua sosok tersebut.


Papi John dan Daddy Dewa yang sedang mendekat.


Rendy dan orang tuanya mengenal baik Varen dan keluarganya memang.


Tapi sisi ini baru Rendy lihat. Senjata Varen yang sempat Rendy perhatikan bukan seperti senjata api biasa kelihatannya.


Dan semua orang yang bersama Varen, Nathan serta dua Daddy mereka juga bersenjata, termasuk Ammar  yang pistol di balik jasnya sempat terlihat oleh Rendy.


Namun Rendy sedang tidak ingin berpikir lebih panjang.


Nanti saja Rendy akan iseng bertanya pada Varen setelah situasi aman dan semuanya selesai. Agar dirinya bisa segera keluar dari situasi yang membuat jantungnya cenat – cenut tak karuan.


Jangan sampe Dokter Jantung punya penyakit jantung gara – gara si Dokter bukannya berada di rumah sakit


tetapi berada di tengah baku tembak. – Pikir Rendy.


Suara desingan senjata api yang terdengar sedikit lebih dekat di telinga Rendy dan kembali ia tersadar dalam situasinya sekarang.


Meski ia hanya duduk diam di kursinya namun kini ia merasa perlu melakukan sesuatu.


Rendy melepas sabuk pengamannya lalu menoleh arah belakang, kemudian beringsut ke kursi tengah mobil.


Lalu ia kembali lagi ke kursi penumpang depan sembari sedikit membuka kaca jendela mobil di sisi kirinya.


“Banyak orang yang mengarah kesini dari Resort yang ada di sebelah kiri, Va!” Seru Rendy. Varen tidak menoleh atau melirik padanya, namun Varen mengangguk.


“Kau pergilah kejar mereka dan selamatkan segera Little Star dan Via!” Daddy Dewa berseru pada Varen setelah ia juga mendengar apa yang barusan Rendy katakan.


“Bagian sana sudah kami bereskan! Cepat kau pergi selamatkan Little Star dan Via!”


Papi John menimpali dengan cepat setelah Daddy Dewa berseru.


Varen pun mengangguk dan memundurkan kakinya lalu berbalik dan berlari ke arah fender dermaga dalam Marina.


“Sepertinya ada seseorang di dalam air yang sedang berenang menuju kesini Tuan!”


**

__ADS_1


To be continue...


__ADS_2